
Selamat pagi..
satu kesempatan hadir lagi
membuka lembaran kosong kembali
memberi kesempatan diri
menorehkan cerita hari ini
Caption Anggrek dengan foto outfit of the day serba baru dari kepala sampai kaki. Hasil belanja sama Natasha kemarin.
*****
Aku menyelesaikan sarapan bersama keluarga. Berkunjung ke rumah Natasha mengingatkan ku pada suatu saat nanti. Ketika aku mulai berumah tangga akan ada kebiasaan yang berubah.
Kebersamaan dengan Papa, Mama dan Dewo tidak akan ku rasakan setiap hari. Mungkin pada momen tertentu ketika aku berkunjung.
Ada suatu masa anak-anak akan melepas diri dari orangtua memulai kehidupan dan ceritanya sendiri tentang keluarga.
"Ma, Pa. Anggrek berangkat kerja dulu ya." Aku mencium kedua tangan orangtua ku. Dewo menyalami dan aku mengucek rambutnya. Suatu saat adik laki-laki ini juga akan dewasa dan memiliki perempuan lain sebagai istrinya.
"Hati-hati ya Anggrek."
"Iya, Pa."
Hati ku menjadi melow pagi ini membayangkan suatu saat akan meninggalkan rumah masa kecil ku. Beruntung karena aku tinggal di kota yang sama dengan kedua orang tua ku sehingga bisa menghabiskan banyak waktu bersama mereka.
Trrttttt.. Trrrtt.
Notifikasi dari Doni menyadarkan kembali ke kenyataan saat ini. Doni memastikan untuk bertemu pukul 10:00. Sekarang masih jam setengah delapan. Masih ada waktu untuk ke Miepa, butik dan booth.
Aku mengontrol bahan mie ayam, pentol. Ketersediaan keripik pedas, jus lemon, kopi juga boba di Miepa. Memeriksa barang dagangan di pickup yang akan mengantar ke cabang Miepa dan booth. Terakhir memeriksa kesiapan buka warung.
Setelah itu aku ke butik dan ijin sebentar dengan Natasha untuk bertemu Doni.
"Nat, Aku keluar sebentar bertemu Doni ya."
"Untuk apa, Nggrek."
"Masalah rumah yang kemarin aku ceritakan."
"Oh iya moga lancar ya."
"Baik makasih ya, Dah."
Aku meluncur ke arah rumah ku yang belum selesai tapi akan berpindah tangan. Motor Doni sudah terparkir di halaman rumah. Aku memarkir mobil bergegas memasuki rumah.
Tukang rumah mengucapkan terimakasih atas makanan dan kopi yang ku bawa. Selain menghampiri Doni, Aku juga membayar upah mingguan ke mandornya.
"Hai, Don. Sudah lihat ke dalam belum?".
__ADS_1
"Belum masih menunggumu." Doni hari ini menggunakan oblong putih, jeans belel dan kets. Santai sekali penampilannya, Siapa mengira dia seorang ayah dengan satu orang putra. Masih tampak seperti pria lajang yang tampan.
"Yuk masuk, Aku tunjukkan ruangan dan rencana ke depannya tapi pasti kamu juga sudah mempunyai rencana sendiri untuk rumah ini.".
Kami memasuki rumah sambil melakukan negoisasi harga. Akhirnya tercapai kesepakatan akad jual beli akan kami lakukan di kantor notaris setelah ada kepastian dari Pak Sayudi sebagai penjual rumah yang akan ku beli.
Aku dan Doni keluar dari rumah. Setiba di halaman netra ku melihat sosok jangkung dengan mata bening dinginnya menatap ku dan Doni. Bian, Sejak kapan dia ada disini?.
"Bian kapan datang?" Aku bertanya heran, Pancarannya matanya yang tidak bersahabat semakin kentara karena masker yang menutup sebagian wajahnya sehingga fokus langsung tertuju ke mata Bian.
"Barusan aku menghubungi handphone mu tapi tidak ada jawaban, Ke Miepa kamu enggak ada. Akhirnya aku ke butik dan Natasha yang memberitahu kamu kesini, Yang."
Bian menegaskan kata sayang yang membuat ekspresi wajah Doni berubah. Ekspresi Doni semakin tidak keruan ketika Bian tiba-tiba berdiri di tengah kami. Sedikit menggeser Doni menjauh dari ku.
Aku menatap Bian dengan pandangan protes karena ulahnya. Beberapa tukang senyum-senyum geli melihat kami.
"Kami ada urusan mengenai rumah ini." Sebenarnya tidak ada salah dari perkataan Doni tapi reaksi yang Bian berikan membuat ku menepuk jidat.
"Kami?" Wajahnya tidak senang dengan penggunaan kata kami.
"Iya aku dan Doni ada urusan mengenai rumah ini. Rencananya dia akan membeli rumah aku ini, Bian."
"Oh.. " Bian tampak melunak. Doni langsung berpamitan untuk ke peternakan ayam miliknya. Sedangkan aku dan Bian melaju dengan mobil masing-masing. Menuju ke butik, Setelah dari butik aku memarkir mobil dan menaiki mobil antik Bian mencari tempat makan.
***
Kami memilih warung seafood tempat aku makan pertama bersama Bian dan Dewo.
"Iya Bian, Aku juga tidak menceritakan akan bertemu dengan Doni karena pertemuan ini membahas penjualan rumah jadi aku tidak memberitahu mu."
Pengalaman ku dengan Adiwarna seakan menghalangi ku untuk membicarakan urusan usaha ku dengan Bian. Sebuah perasaan yang sepertinya berasal atas pengalaman sakit di masa lalu.
"Aku tahu itu memang hak mu untuk memberitahu pada ku atau bukan. Anggrek, Hari ini aku mau membahas pertemuan dengan keluarga ku."
"Iya, Bian." Aku mempercepat menulis pesanan dan memanggil waitress untuk mengambilnya.
"Anggrek, Aku akan menceritakan hubungan ku dengan Kak Diandra dan Danar karena awal semuanya terhubung ke mereka berdua."
Aku mengernyitkan kening mendengar perkataan Bian.
"Kak Danar dan Diandra merupakan kakak sekandung ayah tapi berbeda ibu. Mama Kak Danar dan Diandra adalah mendiang mama Laura, Istri pertama papa sedangkan aku adalah anak istri kedua Papa. Aku dan Kakak kembar terpaut lima tahun."
"Jadi Kak Danar dan Diandra berusia 31 tahun?" Aku cukup heran mengapa Danar yang berusia 31 tahun belum dijodohkan. Mengapa harus Bian yang berusia lebih muda.
"Iya benar, 31 tahun. Mama Laura merupakan anak tunggal dari pengusaha kaya 'Danny Anugrah'. Dia wanita yang pintar dan cantik. Papaku merupakan rekan satu kantor mama Laura di perusahaan 'Danny Anugrah Company'. Papa pintar dan cerdas sehingga karirnya naik dengan cepat dan akhirnya menjadi kepercayaan orangtua Mama Laura"
Bian diam sesaat lalu dia kembali melanjutkan ceritanya. Sebuah cerita yang membuat aku tahu kaitan antara Danar, Diandra dan Bian. Tiga bersaudara rupawan yang masing-masing membawa kisah mereka sendiri di dunia ini.
Pertemuan setiap hari dengan Mama Laura menumbuhkan benih cinta lalu keduanya menikah dan melahirkan si kembar Danar dan Diandra. Papa mereka lalu menjalankan anak perusahaan keluarga 'DAC (Danny Anugrah Company)' yang lain.
Sedangkan Tante Lusi (Mama Bian) bekerja sebagai sekretaris Mama Laura di DAC utama. Ketika usia Danar dan Diandra 1,5 tahun. Mama Laura di vonis menderita kanker usus stadium akhir.
__ADS_1
Saat itu Mama Laura tetap bekerja sembari menjalankan pengobatan. Sebagai sekretaris Mama Laura, Tante Lusi menjadi penghubung urusan kantor saat wanita tersebut menjalani pengobatan. Simpati sebagai sesama wanita atas sakit yang diderita mendekatkan kedua wanita tersebut.
Ketika sakit yang dideritanya tidak menunjukkan harapan lagi. Mama Laura sering mengajak Tante Lusi untuk mengunjungi dirinya di rumah. Bertemu Danar dan Diandra. Diam-diam wanita tersebut menyiapkan Tante Lusi menggantikan posisinya ketika tiada nanti.
Kedua orangtua mama Laura mengetahui niat putrinya. Awalnya mereka menentang bagi mereka dengan kakek dan neneknya yang masih ada. Cukuplah untuk mendampingi tumbuh Danar dan Diandra.
Mama Laura bersikeras pada pendiriannya karena dia memahami sebagai laki-laki normal. Suaminya suatu saat nanti akan menikah kembali. Mama Laura menginginkan wanita yang dia kenal baik untuk mengasuh Danar serta Diandra.
Jika Danar dan Diandra diasuh oleh kakek neneknya maka mereka akan kehilangan ayah dan ibu di usia masih sangat muda. Mama Laura tidak mau itu terjadi.
Akhirnya orangtua Mama Laura menyetujui rencana putrinya. Tante Lusi pun pada awalnya menolak tetapi ketika mendengarkan permintaan mama Laura akhirnya dia luluh dan menyetujuinya.
Tidak lama ketika mama Laura wafat, Papa mereka dan Tante Lusi menikah. Saat itu usia Danar dan Diandra menginjak 4 tahun. Setahun kemudian tante Lusi melahirkan Bian.
Orangtua mendiang Mama Laura menginginkan Papa dan tante Lusi atau Mama Bian tetap tinggal bersama mereka agar dapat mengawasi dan turut mengasuh Danar dan Diandra karena hanya Danar dan Diandra yang mereka punya setelah anak tunggalnya meninggal.
Rumah keluarga Bian berdampingan dengan rumah kakek dan nenek Danar dan Diandra. Papa mereka pun sampai sekarang masih bekerja di DAC.
Kekayaan keluarga mereka berasal dari Danny Anugrah yang merupakan kakek si kembar Danar dan Diandra. Sejak menikah dengan Papa mereka. Tante Lusi atau Mama Bian tidak bekerja dia merawat dan mengurus Danar, Diandra dan Bian dengan baik.
Diandra lah sekarang ini bekerja di DAC. Dia memegang posisi penting karena selain cucu kandung pemilik perusahaan. Diandra pintar dan cekatan seperti Mama Laura.
Sedangkan Bian dari awal menolak bergabung bersama DAC. Dia hanya mau mengelola usaha dari pendapatan murni orangtuanya sendiri. Salah satunya ruko di jalan sudirman tempat dimana studio Rian berada.
Danar juga memegang salah satu anak perusahan DAC. Perumahan Bukit Asri Hijau merupakan perusahaan di bawah DAC.
Tasya yang merupakan jodoh Bian masih kerabat Danny Anugrah.Dengan perjodohan ini, Bian yang merupakan anak istri kedua Papanya dan bukan keturunan dari Danny Anugrah akan diharapkan berada dalam satu garis keluarga besar Danny Anugrah.
Bian menolak karena sebagai putra dari istri kedua Papanya sedari kecil dia sudah merasakan ketimpangan kasih sayang kakek dan neneknya. Kakek dan neneknya jelas menyayangi cucu dari putri kandung mereka.
Bian sering merasa terasing ketika keluarga besar berkumpul. Jika Danar dan Diandra adalah pusat perhatian, Bian dan Mamanya hanya dianggap beruntung bisa memasuki keluarga Danny Anugrah.
Hal inilah yang membuat dia tumbuh menjadi dingin dan cenderung acuh pada orang lain. Penolakan perjodohan ini juga membuat kakek dan nenek Danar dan Diandra murka. Mereka menganggap Bian sebagai cucu yang tidak tahu diri. Kemarahan yang sama juga harus dihadapi Bian dari Papanya.
"Mama dan Kak Danar lah yang mendukung pilihan ku, Anggrek."
"Kak Danar?"
"Iya, Kak Danar. Sedari kecil dia dekat dengan mama ku. Dia juga selalu melindungi aku dari sepupu lain yang kadang masih menganggap mama sebagai 'orang asing'. Papa merupakan menantu dari Danny Anugrah dan mamaku istri kedua dari Papa. Aku bukan keturunan Danny Anugrah. Berbeda dengan Kak Danar dan Diandra yang merupakan cucu kandung kakek nenek."
"Complicated sekali." Anggrek menghela napas dan membayangkan drama yang selalu ditontonnya sekarang dia harus menghadapi hal ini.
"Aku berharap kamu akan tetap bersamaku. Mama mencintai Papa dan bertahan karena cintanya."
Aku tersenyum menatap Bian dengan hati yang sulit ku redam emosinya. Mengapa kehidupan cintaku tidak semulus Natasha dan Gege bahkan lebih lancar Adi dan Cahya dibanding kisah ku.
Mampu kah aku bertahan??
*******
Like dan komen ya readers 😍🥰❤❤❤
__ADS_1