
Tahun berganti akankah ada perubahan untuk tahun ini. Mari cari tahu.
Caption instagram Anggrek di tahun baru
********
Zona merah kemudian melandai ke zona hijau. Selain gawai yang merupakan barang wajib di tas sekarang bertambah dengan hand sanitizer dan masker cadangan.
Aku bangun pagi sekali hari ini segera ke ruang makan. Perut Ku meminta isi. Di meja makan tersedia nasi uduk, tempe orek, telur balado, mentimun, sambal dan kerupuk. Susu coklat dan kopi pun tersedia, di pinggir meja makan ad jeruk dan pisang. Sarapan lokal kesukaan kami satu rumah.
Papa dan Dewo sudah rapi dengan seragam masing-masing. Suatu keadaan yang tidak pernah ada dalam pemikiran kebanyakan orang akan beraktivitas dalam rumah sekolah dan kerja. Menggunakan seragam lalu ke ruangan dan mulai beraktivitas dari balik layar.
Mama menuangkan nasi uduk di piring Papa. Dewo lebih memilih makan buah dulu. Kebiasaan berbeda tiap keluarga.
"Hari ini akan keluar Anggrek?"
"Iya Ma mau ke Miepa dan Butik".
"Iya hati-hati ya jangan lupa gunakan masker serta perlengkapan lain"
"Siap Ma"
****************************************
Aku memastikan hand sanitizer, masker telah ada dalam tas baru berangkat ke butik dan Miepa. Sudah berapa bulan lalu Aku memesan daster kaos nyaman untuk penggunaan sehari-hari ternyata respon sangat baik dari ibu-ibu muda. Harga yang murah dengan kualitas jahitan baik membuat penjualan daster daily pun laris.
Di Miepa dan booth pentol unyu. Pentol kemasan frozen laris manis. Pentol kemasan frozen diproduksi sendiri berbeda dengan pentol yang telah di bumbui Aku masih memesan dengan rekanan.
"Hai Anggrek". Aku melihat Doni baru keluar dari Miepa. Dia menggenggam kopi original.
"Hai, Don baru kelar makan?". Aku bertanya karena Doni sudah keluar menuju parkiran.
" Iya Anggrek, oh ya besok Aku mau ke Bandung lagi menyelesaikan kemarin. Ada yang mau dititipin?".
"Hmm makasih Don tapi sepertinya tidak ada. Hati-hati ya". Doni tersenyum sebelum berlalu. Aku memperhatikan sampai bayangan dia hilang dari pandangan.
"Siapa dia?". Aku memekik kaget ketika Bian sudah ada di samping Ku. Sejak kapan dia ada di Miepa.
__ADS_1
"Kamu koq disini?".
"Aku beli mie ayam dan kopi. Memangnya tidak boleh?". Dia menatap Ku dengan pandangan heran. Aku tersenyum karena tidak tahu harus menjawab apa. Entah memikirkan apa sih sampai kaget ketika melihat orang yang dikenal makan di Miepa.
" Pesanan mu sudah ada?".
"Tidak tahu tadi sedang menunggu pesanan Aku melihat kamu diparkiran berdiri memandang cowok itu. Siapa dia?".
"Teman, masuk dulu ya ntar pesanan mu sudah tiba".
Bian mengikuti langkah Ku kemudian dia menuju meja kasir membayar pesanannya.
"Bang Danar yang pesan".
"Pesanan Kamu mana, Bian?".
"Gak ada". Bian lalu melenggang pulang tidak memperdulikan tatapan heran Ku.
Aku menghela napas menyikapi sikap Bian. Pagi ini diawali bertemu dengan Doni dan Bian. Entah apa yang menyebabkan keduanya bisa datang bersamaan.
Aku mulai melakukan aktivitas rutin seperti biasa. Pembeli mulai datang menggunakan masker masing-masing. Aku pun mengisi waktu dengan memeriksa sosial media dan memantau butik dari gawai. CCTV yang tersambung dengan android memudahkan pengawasan. Butik tidak terlalu ramai pengunjung.
Semoga keadaan membaik untuk tahun ini. Sekarang waktunya mengisi hari dengan berbagai kegiatan positif. Jika mencari jodoh serumit mencari jarum di jerami maka lebih baik Aku menyibukkan diri dengan mencari uang.
Ketika melihat kearah luar Miepa, Netra Ku menangkap dua orang anak sedang istirahat di sebelah karung yang kelihatan penuh.
Aku menghampiri kedua anak yang dengan pipi yang tampak kotor. Mereka melihat kearah Ku dengan ekspresi penuh harap.
"Kak, mau beli singkong?". Salah satu anak tersebut berinisiatif membuka karung dan menunjukkan isinya.
"Berapa?". Aku menggeser sedikit karung di sebelah salah satu anak dan karung tersebut terasa berat.
"Sekilo Rp 5.000 , Kak".
"Kakak ambil semuanya, berapa?". Aku terharu melihat keduanya. Karung ini berat untuk anak yang Ku taksir berusia sembilan atau sepuluh tahun. Mata mereka berdua berbinar penuh semangat.
"Semuanya Rp 50.000, Kak. Ada sepuluh kilo".
__ADS_1
"Aku memeriksa karung yang berisikan sepuluh plastik singkong. Mereka telah mengemas masing-masing ke dalam plastik satu kiloan".
" Sudah di timbang dari rumah, Kak". Salah satu dari mereka kelihatan khawatir kalo Aku ragu mengenai beratnya.
"Iya bisa bantu Kakak bawa ke dalam ruko depan. Kakak mau ambil dompet didalam?". Aku menunjuk ke arah Miepa.
Dengan cepat mereka mengangguk setuju. Aku membantu keduanya membawa karung singkong. Betapa mandirinya kedua anak ini. Aku merencanakan memberi mereka sarapan pagi ini.
Aku menyodorkan uang lima puluh ribu. Kedua mata polos itu berbinar ceria.
"Terimakasih, Kak". Kata Anak cowok yang lebih tinggi.
"Sudah sarapan? kalau belum sarapan dulu yuk?".
"Tidak perlu,Kak". Aku melihat anak yang lebih pendek melihat ke arah daftar menu yang terpampang di dinding. Sepertinya dia melihat harga yang tercantum.
"Kakak traktir kali ini". Mereka berdua tidak berkata apapun tapi melihat ekspresinya Aku tahu betapa senangnya mereka.
Anak yang lebih tinggi bernama Riko. Lebih pendek bernama Ari. Selama pademi dan sekolah daring mereka mengisi hari dengan berjualan singkong dari kebun tetangga.
Orangtua Riko bekerja sebagai pemulung. Sedangkan Riki tidak memiliki Ayah, Ibunya bekerja sebagai pembantu. Ibu Riko dan Ari merupakan dua bersaudara. Aku bisa melihat keceriaan khas anak-anak ketika melihat mereka menyantap mie dan pentol.
Kedua anak ini membuat Ku terpikirkan sesuatu. Selama ini Aku belum pernah rutin sedekah. Kedatangan mereka pagi ini menyadarkan kewajiban untuk berbagi yang terlewati selama ini.
Aku diberkahi rejeki selama setahun terakhir tetapi nyaris tidak pernah berbagi. Kesedihan karena pengkhianatan Adi dan Cahya membuat Ku seakan hidup Ku merana melupakan bahwa ada yang lebih menderita dari diriku.
"Kenapa kalian tidak mengolah singkong menjadi keripik kan bisa dijual lebih tinggi".
"Kemarin begitu Kak tapi harga cabai cukup tinggi untuk saat ini jadi sementara dihentikan dulu". Aku mengangguk memang Pentol pedas original pun kemarin sempat kami tiadakan.
"Kalau dibuat kue tradisional?".
"Rencananya begitu sekarang Ibu kami sedang mengumpulkan modal dan peralatan". Seketika Aku mendapat ide.
"Bagaimana kalau mulai besok kalian jual singkong ke Kakak saja. Sepuluh kilo setiap hari akan Kakak tambah dengan memberikan sarapan kepada kalian.
" Terimakasih Kak". Keduanya tampak bersemangat. Sebenarnya Aku bisa memberikan mereka langsung sejumlah yang dibutuhkan tetapi lebih baik memberi umpan daripada ikan. Jika Aku memberi ikan mereka tidak belajar untuk proses mencari apa yang dibutuhkan tetapi jika memberi umpan mereka akan belajar dan berpikir bagaimana cara mencari kebutuhan.
__ADS_1
Kehidupan terus berlangsung kita tidak bisa terus menerus mencukupi kebutuhan orang yang memang membutuhkan tetapi dengan membantu mereka mendapatkan penghasilan otomatis bisa menjadi jalan bagi mereka untuk mempunyai penghasilan secara mandiri nantinya.
Aku berencana setelah tiga hari mereka mengantarkan singkong akan segera Ku cukupkan untuk modal orang tua mereka membuka usaha. Seketika hari ini Aku begitu bahagia ternyata bisa membantu orang membuat hidup Ku berharga.