
Selalu ada cerita cinta di setiap jaman
*La**mbang ikonik Taj Mahal*
Tanda cinta Shah Jahan kepada Mumtaz Mahal
*Pa**ngeran Charles dan Camilla Bowles*
Seluruh dunia jaman modern mengetahui Perjuangan Charles untuk Camilla
Segelintir cerita cinta menjadi kisah yang diturunkan dari generasi ke generasi seiring perjalanan jaman.
*******
Kisah cinta sama tuanya dengan umur dunia. Jika seseorang memiliki pengaruh di dunia ini maka perjuangan cinta rumitnya menjadi abadi untuk dikenang.
Cinta adalah perkara hati terkadang untuk orang tertentu mereka lebih memilih menjalankan sesuatu yang pasti tapi suara hati memang sulit dilawan. Menuntut untuk di penuhi tak perduli apa yang akan ditempuh.
Kami baru dari rumah untuk menjemput Dewo. Dia sempat terkejut ketika kaosnya diam-diam ku tarik dari belakang. Bisa-bisanya Dewo mau duduk di depan bersama Bian.
Aku malu mengakui kepada Bian tapi sebenarnya hati ini merindukan dia karena sudah berapa hari tidak bersua.
"Aduh.. Kakak!" Dewo spontan mengaduh kaget. Aku mengedipkan mata berkali-kali kode agar dia diam.
"Kenapa sih kak Anggrek, Kremi ya?" Dia meniru bahasa mama jika mata kami berkedip-kedip.
"Ada apa?" Bian bertanya heran ketika aku duduk dengan terburu-buru di kursi depan. Menggeser Dewo yang mau masuk duluan. Bian heran melihat aku rebutan dengan Dewo masuk dari pintu depan.
"Tidak ada apa-apa" Aku tersenyum manja kepada Bian. Dari belakang dengusan kesal Dewo terdengar jelas. Aku sama sekali tidak menyangka saingan ku selain Danar adalah Dewo. Mereka berdua sepertinya tidak ikhlas kalau Bian berada di dekat ku.
Kami sudah tiba di rumah ku. Bangunan rumah yang mungil menyisakan halaman yang cukup untuk menambahkan dapur dan parkiran mobil. Sebelah kanan rumah ada jalan buntu yang didalamnya terdapat beberapa rumah. Sebelah kiri ada ruko bimbingan belajar yang terpasang di plang depan ruko.
Depan rumah merupakan jalan yang bisa dilalui dua mobil. Harga rumah ini termasuk dibawah harga pasaran karena pemiliknya menjual cepat untuk pembagian harta gono gini.
Perceraian memang memiliki kisah dibaliknya seperti kisah Doni. Seharusnya pertimbangan matang dibutuhkan sebelum menikah tapi siapa yang bisa menebak pasti perjalanan pernikahan di masa depan.
"Kakak mau tinggal di sini sendirian?" Dewo menemui ku dan Bian kembali setelah sebelumnya dia mengitari seisi rumah.
"Rencana awalnya iya tapi sepertinya aku berubah pikiran. Rumah ini akan di fokuskan untuk dapur Miepa karena dapur rumah mama sudah sesak kalau mau menambah produk lain"
"Syukurlah karena kakak masih tinggal di rumah mama saja, Ketemu sama kita hanya pagi dan malam. Apalagi kalau tinggal sendirian"
"Tapi suatu hari nanti kakakmu juga akan meninggalkan rumah kalau sudah menikah, Dewo" Suara Bian membuat kami memalingkan wajah ke arahnya.
"Kak Bian dan Kak Anggrek mau menikah kan baru saja kenal?"
"Setiap hubungan pria dan wanita dewasa pasti ada akhirnya. Kalau Kak Bian sih pasti mau berakhir bahagia" Bian melirik ke arah ku tiba-tiba Dewo merangkul Bian. Tubuh jangkung adik ABG ku nih memang tidak terpaut jauh dengan Bian.
"Tenang saja Dewo merestui nanti aku bisa tinggal sama kalian kan, Haha. Sekarang Kak Bian bantu aku untuk menggunakan tool aplikasi ini ya"
Aku meninggalkan mereka berdua. Puyeng kalau Dewo dekat dengan Bian, Dia akan mendominasi Bian. Dewo seperti menemukan sosok kakak laki-laki yang tidak dia punya di dalam diri Bian.
Pagar pembatas rumah ini hanya sepinggang ku. Rumah mungilnya terawat dengan baik. Sisa tanaman yang tidak terawat menandakan dulunya ada taman kecil disini.
__ADS_1
"Anggrek, Kamu Anggrek kan?" Aku terkejut ketika ada yang menyapa. Seorang wanita bersama anak kecilnya berdiri di luar pagar rumah ku.
"Mila bukan? Kita satu SMA kan?" Aku mengenali Mila teman SMA ku dulu. Dia tampak lebih gemuk di bandingkan masa sekolah dulu.
"Iya benar. Kamu sekarang berubah Anggrek lebih cantik dan modis"
Aku tersenyum sungkan mendengar pujiannya. Apakah benar penilaian Mila karena aku jarang mendapatkan pujian mengenai penampilan fisik.
"Kamu yang membeli rumah ini, Nggrek?'
"Iya Mila, Kamu tinggal dimana? Ayo masuk dulu" Kami berbincang dengan dibatasi pagar pembatas rumah ku dan jalan buntu.
"Nanti saja, Nggrek. Anak ku sudah rewel biasa minta jajan jadi kita ke toko sebentar. Aku tinggal di ujung jalan buntu jadi tetanggaan dong"
"Iya Mila tapi aku belum pindah. Ini juga rencananya mau direnovasi dulu"
"Oh gitu, Kamu beruntung membeli rumah ini karena yang punya dulunya merawat dengan baik. Sayang mereka harus bercerai."
"Hmm karena apa ya, Mil? Sepertinya Pak Sayudi dan istrinya kelihatan baik" Aku mengingat mereka yang aku temui di kantor notaris untuk akad jual beli.
"Setahu ku dari awal menikah keluarga suaminya sering turut campur tapi entahlah hanya mereka yang tahu. Kamu sudah menikah?"
"Belum Mila" Tidak lama kemudian anak Mila yang gempal menggemaskan mulai menangis.
"Aku pulang dulu ya, Nggrek. Nanti kalau kamu sudah pindah kita ketemu ya? Rumah ku paling ujung warna pink"
"Iya Mil, Daaahh dedek" Aku mencoba menggoda anak Mila tetapi dia malah tambah histeris menangis.
Pembicaraan dengan Mila menyisakan bekas di hatiku. Faktor keluarga yang turut campur menyumbang andil dalam perceraian ini. Sebuah alasan yang terdengar klise tapi bagi yang mengalami bukan perkara mudah pastinya.
"Mila teman SMA ku dulu rupanya dia tinggal di ujung jalan buntu itu. Dewo mana?"
"Dewo ada di dalam rumah. Anggrek, Aku mau melanjutkan mengenai pembicaraan dengan mama sebelum dia menelpon mu tadi. Aku tidak leluasa bicara ditempat Kak Danar"
"Tentang apa? Eh Kita masuk dulu, yuk sayang."
Aku tidak nyaman berbicara sambil berdiri di halaman. Kami lalu memilih duduk di ruang tamu yang menyisakan dua kursi plastik. Sedangkan Dewo asyik duduk di dapur sambil memainkan gawainya.
"Pernikahan." Bian menjawab singkat.
"Pernikahan siapa?" Bian menatap mata ku mendengar pertanyaan barusan.
"Pernikahan kita" Aku terperanjat kaget mendengar hal ini. Bian bahkan belum mengatakan apapun tentang pernikahan kepada ku tetapi dia sudah membicarakan dengan mamanya. Aku jadi mempercayai 100 persen mengenai kegelisahan Bian yang disampaikan Danar.
"Oh aku pikir pernikahan Danar" Sebenarnya memang itulah yang sempat terlintas di kepala ku.
"Mama sudah lelah menasehati Kak Danar untuk menikah. Kenapa Anggrek kamu masih meragukan hubungan kita?" Aku menatap Bian, Menyusun kata untuk memperjelas yang ku rasakan.
"Bian bagaimana dengan papamu, Diandra, kakek Danny dan nenek?"
"Aku adalah laki-laki dewasa, Nggrek tanpa mereka pernikahan bisa dilangsungkan. Mama dan Kak Danar merestui kita hanya saja untuk lamaran aku tidak yakin papa akan ikut serta tapi mama setuju untuk datang"
Bibir ku berkali-kali bergerak untuk bicara tapi lidah terasa kelu menyampaikan apa yang ku rasakan.
__ADS_1
Aku adalah anak perempuan pertama. Kedua orangtua ku pasti menginginkan anak gadisnya dilamar secara baik dan menikah dengan baik-baik pula.
Ditambah obrolan dengan Mila tadi masih membekas dalam pikiran ku. Pernikahan pak Sayudi dan istrinya kandas karena faktor keluarga yang turut campur apalagi hubungan ku dari awal sudah ditentang sebagian anggota keluarga Bian.
"Bian, Aku sangat senang mendengar ini tapi apakah tidak terlalu terburu-buru. Bukankah lebih baik jika kita menyelesaikan apa yang menjadi masalah dalam hubungan ini"
"Aku sudah lama enggan berbicara dengan Papa sejak dia selalu kecewa terhadap keputusan yang ku ambil. Papa tidak mendukung kegiatan fotografi yang Ku suka. Aku memiliki usaha bersama teman tetapi dia juga tidak menyukainya. Semua karena aku menolak bergabung dengan DAC"
Ditambah kamu menolak secara terang-terangan perjodohan dengan Tasya. Aku menambahkan dalam hati.
"Kamu harus mencoba memperbaiki hubungan dengan papamu, Bian" Aku memberanikan diri mengelus lengannya untuk menenangkan Bian yang tampak emosi ketika menceritakan papanya.
"Papa tidak menyukai apa yang ku lakukan. Sulit bagiku membangun komunikasi"
Aku menelan saliva sebenarnya ada dugaan ku yang benar. Bian memberontak atas dikte keluarga dalam kehidupannya. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa berusaha sendiri tanpa bantuan papa dan kakek Danny.
"Sayang maafkan aku tapi dari awal kamu membicarakan hal ini dari sisi keluarga mu. Kamu tidak bertanya dari sisi keluarga ku. Orangtua ku bisa keberatan Bian kalau tahu duduk masalahnya apalagi jika tiba-tiba kamu datang melamar"
Bian meraih tangan ku dan mengenggamnya erat, Wajah tampannya tampak pias.
"Maafkan aku, Sayang. Aku egois hanya memikirkan diri sendiri tapi.. Itu karena aku ingin memiliki mu seutuhnya"
"Kita masih ada waktu ya sayang. Aku tetap disini bersama mu"
Bian mengenggam tanganku dan mengecup perlahan tiba-tiba Dewo masuk. Secepat kilat Bian melepasnya membuat ku hampir terjungkal. Astaga aku harus menyalahkan siapa untuk ini.
"Kak Anggrek tolong angkat telpon ini"
"Dari siapa?"
"Teman SMA Ku"
Aku mengangkat telpon terdengar suara perempuan yang heran karena aku yang mengangkatnya.
"Maaf ini siapa ya?"
"Aku pacar Dewo" Aku menjawab asal.
"Oh maaf ya". Telpon ditutup dari seberang disambut ekspresi panik Bian.
"Kakak kok bilang gitu. Ini cewek yang sudah lama aku sukai. Dewo tadi panik dan grogi maksud Dewo, Kakak memberitahu kalau aku lagi tidak ada ditempat atau gimana lah"
"Ya kamu gak bilang sih. Kamu juga kan masih ABG, Tidak usah pacar-pacaran" Aku berkacak pinggang dan Dewo berlalu dengan merengut seperti balita ditinggalnya emaknya ke toko.
"Ternyata kamu mirip Kak Danar juga. Kakak yang protektif"
Bian berbisik ditelinga yang segera ku sambut dengan cubitan di lengannya. Dia menangkap tangan ku dan tertawa hangat melihat ku kesal.
Aku menikmati hari ini walau ada kegusaran di hati mengenai mama Bian yang menghubungi melalui video call dan mengatakan akan bertemu aku nanti. Ternyata ada kaitan antara percakapan Bian dan mamanya.
Aku tahu Bian mencoba melangkah satu langkah ke depan tapi aku tahu bagaimana pun langkah yang diambil tetap harus memperhatikan jalan di depan. Jangan sampai gegabah karena akan terperosok dalam kubangan nantinya.
******
__ADS_1
Like dan komen ya readers. Sehat selalu untuk semuanya karena author sempat sakit gigi dan flu🤭🤗❤❤