Viral

Viral
53. Pendekatan Keluarga


__ADS_3

...Aku mencintaimu...


...Aku menyayangimu...


...Aku merindukanmu...


...Untaian kata demi kata...


...Hanya kata...


...Tapi percayalah...


...Jika di ucapkan oleh orang yang kau nanti...


...Selaksa sejuta bahagia mengalir dalam nadi...


Caption Anggrek malam ini dengan foto tangan dia dan Bian dengan arloji yang sama saling berdampingan di dashboard mobil antik Bian.


***********


Mobil Bian memasuki halaman rumah ketika akan berpamitan dengan papa dan mama, Kedua orangtua ku sudah tidur rupanya.


"Anggrek sampaikan salam ku pada papa dan mama kamu ya, Sayang


"Baik kak Bian nanti akan ku sampaikan"


"Sampai besok lagi ya Anggrek. Aku akan menjemputmu"


"Iya sayang nanti jemput di Miepa saja, ya. Aku harus memeriksa persiapan Rika dan team Miepa lainnya"


"Aku akan mengantarmu"


"Baiklah kak Bian"


Bian mengelus kepala ku tapi segera dia menarik tangannya ketika deru motor Dewo memasuki halaman.


Aku memasuki kamar sambil senyum-senyum sendiri. Kata cinta, sayang dan sebuket bunga anggrek darimu membuat ku menggila dalam bahagia.


Jemari ku memegang arloji dan gelang dari anak dan Ibu yang melingkar di pergelangan tangan.


Aku meraih boneka pisang di ranjang, Mendekap erat untuk menemani ku tidur. Boneka pisang yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta ku. Saksi ketika air mata tertumpah atas pengkhianatan cinta adi dan cahya. Sekarang menjadi saksi kebahagiaan hatiku.


Aku tahu mama Bian berada dalam dilema. Sisi lain menginginkan patuh kepada suaminya. Di sisi lain dia menginginkan kebahagiaan putranya.


Cinta beliau kepada putra lah yang memilih dia mendukung Bian. Setelah sebelumnya mencoba untuk mengikuti suaminya dan ternyata dia kalah pada teguhnya pendirian Bian.


Walaupun aku tahu, Tante Lusi tetap memilih aman karena mengatakan "Tante mendukung kalian hanya itu yang bisa tante berikan". Dengan kata lain dia memberi dukungan tapi tidak untuk memperjuangkan ke keluarganya.


Setidaknya aku tetap berterimakasih karena sama halnya dengan Danar. Mendukung Bian tapi tetap menjaga jarak dengan ku agar tidak terjadi konflik di keluarganya.


"Benarkah jadi sekarang kamu akan menjadi wanita ku. Milikku yang akan ku perjuangkan?"


Kata-kata Bian di hari ketika hati kami bertaut ternyata di buktikan olehnya. Dia memperjuangkan aku untuk masuk dalam keluarganya.


Jika tadi mama Bian menanyakan seistimewa apa seorang Anggrek. Seharusnya aku katakan putra beliau lah yang membuat aku menjadi istimewa.


Malam yang membahagiakan membuat aku tertidur lelap dengan mimpi indah.


*******


Pagi sekali aku sudah mandi dan rapi, Bersama mama melihat pekerja Miepa di dapur. Setelah itu kami bergabung bersama papa dan Dewo di meja makan.


"Ma, Lusa nanti aku akan memindahkan aktivitas semuanya di dapur Miepa?"


"Iya nanti mama bantu mengatur jasa pengangkutan dan memberitahu ke pegawai perihal kerja mereka yang di alihkan ke tempat baru"


"Anggrek juga sudah sampaikan ke bang Ipul dan Agus. Rencananya mereka yang akan menempati rumah. Selama ini mereka kan masih kost"


"Jadi kamu batal menempati rumah barumu? Sekarang untuk karyawan ya?"


"Benar, ma. Anggrek masih ingin tinggal bersama mama, papa dan Dewo"


"Bian itu asli mana, Anggrek?" Papa yang telah bertemu Bian akhirnya menanyakan kekasihku.


"Mamanya asli sini tapi papanya Jakarta. Keluarga mereka tinggal di Jakarta. Kecuali Kakak pertama dan Bian yang disini"


Aku menjawab sambil memperhatikan perubahan pada papa.


"Pa, Kulitnya tampak lebih hitam dan gosong"


"Iya papamu ini pas weekend mancing ke laut sama Doni"


"Hah" Sesaat kemudian kalimat Bian terlintas dalam ingatan.


Kamu tahu kadang setiap orang mendekati calon pasangan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mendekati keluarga calon pasangannya.


"Ma, Anggrek nanti boleh mengajak Bian makan bersama di rumah?"


"Untuk apa?" Papa bertanya heran. Aku menjawab dalam hati. Untuk mendekatkan kalian dengan pilihan ku tentunya.


"Berkenalan dengan papa dan mama. Boleh?"


"Boleh saja nanti beritahu mama kalau mau datang"


"Baik, ma"

__ADS_1


Aku menyelesaikan sarapan lebih cepat dari biasanya dan menunggu di teras rumah. Tidak lama kemudian Bian datang menjemput ku.


"Kak Bian pamitan sama orangtua ku ya. Mumpung papa belum pergi kerja"


"Baik, Sayang"


****************


Bian sudah berusaha mengenalkan ku pada mama dan kakaknya. Aku justru kurang memiliki inisiatif mengenalkan kepada papa dan mama. Bian memang dekat dengan Dewo tapi jarang mempunyai kesempatan bersama papa dan mama.


Berbeda dengan Doni karena dia biasa mengantarkan pasokan ayam potong ke rumah justru lebih sering bertemu kedua orangtua ku


Mobil antik Bian menembus jalanan pagi menuju Miepa. Setelah memastikan Rika mengerjakan dengan benar lalu kami melanjutkan perjalanan.


Aku lalu meminta Bian berhenti di toko cendramata membelikan buah tangan untuk tante Lusi. Walaupun aku tak mampu membeli barang mahal seperti yang beliau berikan setidaknya menunjukkan perhatian ku kepadanya.


"Kak Bian kita kemana. Rumah kalian atau ke tempat Kak Danar?"


"Jemput mama dan kak Danar di 'Tentang Jiwa'.


"Dulunya kamu memanggil Danar dengan Bang Danar sekarang mengapa jadi Kak Danar?"


"Karena mantannya memanggil sebutan Bang Danar. Entah mengapa dia jadi enggan dipanggil Bang Danar ketika mereka putus. Dia kan suka-suka gitulah orangnya"


Aku jadi tertawa mendengar penjelasan Bian. Kak Danar memang unik. Kami menjemput Tante Lusi dan Kak Danar. Mobil pun melaju ke pantai kota, Tempat dimana Bian menceritakan keluarganya.


"Tante hari ini akan kembali ke Jakarta lagi, Nggrek. Semoga kita bisa bertemu kembali"


"Iya, Tante. Sayang hanya sebentar disini pasti banyak tempat yang belum tante kunjungi"


"Benar ke ruko sudirman saja baru pagi tadi pergi sama, Danar. Oh ya kata Bian disini ada warung seafood enak. Kita makan disitu saja ya"


Di parkiran warung seafood, Aku mendengar percakapan santai Danar dan tante Lusi yang berjalan di depan kami.


"Ma, Kenapa tidak menggunakan pesawat pribadi?"


Ringan saja Danar bertanya dengan nada bicara seperti aku bertanya dengan Natasha kenapa tidak menggunakan taksi online.


"Perjalanan biasa kok Danar bukan perjalanan bisnis. Mama rasa tidak perlu apalagi papa tidak ikut"


Aku meningkatkan konsentrasi mendengarkan percakapan mereka. Sewa pesawat pribadi jelas tidak murah bukan untuk kalangan biasa tapi cara Danar menanyakan seakan hal itu sudah sering mereka lakukan.


"Kenapa papa tidak ikut?"


"Ada kerjaan, Oh ya kapan kamu balik ke Jakarta lagi?"


"Belum dalam waktu dekat karena ada yang harus Danar kerjakan disini"


Aku mengagumi cara tante Lusi makan seafood. Sama sekali tidak meninggalkan keanggunan yang dimilikinya.


"Kita langsung ke bandara saja, ya. Makanan disini enak semua. Mama bisa naik berat badan dalam sekejap kalau lebih lama"


Danar dan Bian tertawa, Mereka mengatakan mamanya selalu panik jika timbangan naik. Kami lalu melanjutkan perjalanan ke bandara.


Serba salah kalau berjalan dengan orang yang lebih tinggi. Menggunakan high heel membuat betis lekas pegal. Menggunakan kets, Tinggi hanya sebatas dada.


Aku tahu berapa kali Bian iseng menutup pandangan dengan berdiri di depan ku. Punggung atau dada bidangnya berada tepat di depan wajah. Awalnya aku masih menahan diri untuk tidak protes. Akhirnya aku kesal juga.


"Bian!" Aku sengaja menanggalkan panggilan kakak.


"Apaaa!"


"Minggir!"


"Ada apa sih kalian berdua?" Danar yang berjalan di depan kami bertanya risih. Tante Lusi tersenyum kecil melihat kami.


"Anggrek tante pamitan dulu ya. Tante akan selalu mendukung hubungan mu dengan Bian tapi kamu juga harus berusaha juga karena hanya sebatas itu yang bisa tante lakukan"


"Terimakasih tante, Hati-hati di jalan ya. Semoga bisa bertemu kembali. Anggrek punya sesuatu untuk tante. Semoga berkenan menerimanya"


"Oh Anggrek, Tante senang sekali" Dia tersenyum lebar menerima pemberian ku. Membuat hati terasa lega.


Aku menyalami tante Lusi selagi Danar dan Bian sibuk mengurusi barang bawaan tante ke porter.


Kali ini satu kepingan sudah ku temukan.Setidaknya aku tahu satu lagi dari anggota keluarga Setya mendukung ku.


********


Setelah mengantar Danar. Kami menuju ke butik karena aku belum ke sana hari ini.


"Kak Bian nanti makan malam di rumah bersama keluarga ku, ya? Bisa kan?" Senyum Bian tampak mengembang.


"Bisa sayang nanti aku menjemput mu dan langsung ke rumahmu"


"Iya"


Kami adalah pria dan wanita dewasa yang memiliki impian sama. Menginginkan hubungan ini ke jenjang lebih tinggi tanpa meninggalkan peran keluarga kami disini.


Aku bermaksud mendekatkan Bian dengan keluarga ku. Sama seperti yang dia usahakan. Bian mengantarkan ke butik dan akan menjemput nanti.


Baru saja aku duduk di samping Natasha ketika handphone ku berdering.


"Iya, Rika ada apa?"


"Kak Anggrek tadi ada pemilik ruko datang. Dia menanyakan kak Anggrek. Katanya mau ketemu kakak untuk bicara sewa ruko"

__ADS_1


"Oh iya nanti aku hubungi Bu Lisa"


"Tapi kak... Hmmmm Bu Lisa minta disampaikan ke kak Anggrek kalau kontrak tidak diperpanjang"


"Lho alasannya apa Rika?"


"Rika kurang paham kak Anggrek"


"Baik, Rika makasih informasinya"


"Ada apa Anggrek, Kontrak Miepa tidak bisa diperpanjang?" Natasha pasti mendengarkan percakapan ku barusan.


"Iya, Sungguh aneh entah apa alasannya tidak mau diperpanjang. Aku boleh pinjam mobil mu, Nat. Lebih baik bicara langsung dengan Bu Lisa daripada menghubungi lewat telpon.


"Aku gak bawa mobil tadi diantar Gege sejak hamil dia menyarankan untuk mengurangi mengendarai mobil"


"Kalau begitu aku pinjam motor Tania saja"


Sudah jarang aku menggunakan motor tapi hari ini ku pacu dengan kecepatan tinggi motor matic Tania. Baru saja aku lega pertemuan dengan mama Bian berjalan lancar sekarang harus berurusan dengan sewa ruko Miepa.


Tidak membutuhkan waktu lama aku tiba di kediaman Bu Lisa karena tidak menghubungi beliau akan kedatangan ku. Bu Lisa tidak ada di tempat tapi aku ngotot menunggunya.Setelah hampir dua jam, Wanita mungil itu baru tiba di rumahnya.Wajahnya tampak tidak ramah


"Bu Lisa, Saya mendapatkan informasi mengenai sewa ruko yang tidak diperpanjang. Kalau boleh tahu alasannya apa?"


"Saya mau menggunakan ruko tersebut"


"Saya memahami karena bu Lisa pemilik dari ruko ini tapi sebagai penyewa rencananya ke depan akan memperpanjang masa sewa"


"Kamu baru mengatakannya. Sayang sekali sudah terlambat"


"Bukankah masih dua bulan lagi?"


"Iya tapi biasanya penyewa lain sebelumnya dua bulan sudah memberitahu untuk perpanjangan"


Aku tahu ada kebohongan, Penjelasannya jelas tidak masuk akal. Hanya saja aku berada dalam posisi membutuhkan.


"Ibu mau menambahkan biaya sewa. Saya siap menambahkan"


"Tidak, Saya tetap pada keputusan yang telah disampaikan. Saya cukup baik menginformasikan sebelum dua bulan. Setidaknya anda masih punya waktu untuk berbenah meninggalkan ruko"


Bu Lisa berjalan meninggalkan ku masuk ke dalam rumah. Menyisakan rasa sesak di dada. Begitu saja cara dia memperlakukan aku. Sungguh menyakitkan hati.


Aku kembali memacu motor matic Tania. Menikmati air mata ku yang mengering sendiri terkena hembusan angin. Rasa sesak yang menimbulkan kemarahan membuat ku menangis.


Miepa cabang utama selama ini menyokong pendapatan paling besar. Selain tempatnya strategis juga merupakan tempat dimana dagangan ku paling lengkap dijual di sana.


Ruko Miepa cabang utama lebih besar dari dua cabang lainnya dan pertimbangan aku membangun dapur Miepa di rumah baru karena lokasi rumah tersebut dekat dengan ruko Miepa utama.


"Bagaimana" Nat menanyakan dengan khawatir. Tampang ku pasti kusut terkena air mata yang mengering di tambah debu jalanan karena dengan sengaja aku tidak menutup kaca helm.


"Tidak diperpanjang dengan alasan tidak jelas"


"Aneh sekali kamu sudah melakukan negoisasi mungkin mau menaikkan biaya sewa"


"Sudah aku tawarkan tapi dia menolak"


"Sabar ya, Nggrek. Tenangkan dulu dirimu pasti ada jalan. Masih ada waktu untuk mencarikan ruko lain"


"Terimakasih Nat"


Sepanjang hari ini mood ku menurun. Pikiran ku terasa penuh membayangkan mencari tempat lain yang memadai. Sepanjang ingatan ku daerah Miepa cabang utama tidak terdapat ruko kosong.


Bian menjemput ku, Dia sudah rapi dengan kemeja dan rambut yang masih sedikit basah. Tercium aroma wangi menenangkan dari dirinya. Aku menyempatkan diri untuk memoles makeup tipis sebelum bertemu.


"Kenapa sayang sepertinya ada masalah" Dia menatap ku ketika berada dalam mobil.


"Tidak ada apa-apa hanya aku merasa lelah saja" Aku menyenderkan diri di kursi mobil sambil memejam mata dan mengurut kening.


Pikiran ku berputar mengingat ruko kosong di daerah Miepa. Nama Bu Indah melintas dalam pikiran, Apakah harus menghubungi dia. Mungkin ada kenalan yang mempunyai ruko tidak jauh dari Miepa.


Berarti aku harus menunda pemindahan produksi Miepa dari rumah mama ke rumah baru ku. Sampai ada kejelasan untuk lokasi ruko Miepa yang baru.


Aku masih memejamkan mata dengan segala pikiran yang melintas ketika ada udara hangat terasa di hidung dan bibir ku.


Refleks aku membuka mata dan yang pertama terlihat wajah tampan Bian dalam jarak dekat. Aku langsung beringsut menjauh tapi tertahan oleh sebelah tangan Bian.


"Kamu mau menceritakan masalah mu atau tetap berada di posisi ini sampai orang tua mu keluar rumah?"


Alarm panik langsung di posisi On. Mata ku melihat ke luar jendela ternyata kami sudah tiba dihalaman. Terlalu banyak memikirkan masalah ruko membuat tidak sadar sudah tiba di rumah.


"Baik.. Baiikkkkk aku akan menceritakan tapi kita turun dulu ya"


Aku mendorong tubuh Bian menjauh tapi dia tetap pada posisinya.


"Jangan bebankan dirimu dengan masalah. Berbagi lah dengan ku"


"Baikk!! Tapi segera menjauh dulu dariku jangan sampai orangtua ku tahu"


"Baiklah tapi aku akan melakukan lagi jika kamu masih menyimpan kesusahan sendiri" Bibir Bian menyunggingkan senyuman lebar melihat ku turun keluar dari mobil dengan langkah lebar.


Wajah ku memerah ketika meninggalkan mobil. Dia memang buku yang akan segera ku baca tuntas. Sifatnya dari dingin menjadi hangat lalu berubah jahil di luar dugaan ku.


"Kamu tidak akan mengenal ku jika terus menjauh dari ku"


Iya kali ini aku bertekat akan menuntaskan buku satu ini.

__ADS_1


************


__ADS_2