Viral

Viral
25. Siapakah mereka berdua?


__ADS_3

Melihat ke atas untuk bersikap optimis, melihat kebawah mengajarkan tentang bersyukur, melihat ke depan untuk mengisi hari menata masa depan


Melihat ke belakang terus menerus akan terjatuh karena kamu tidak memperhatikan jalan terbentang yang ada dihadapan mu


*********


"Anggrek ke studio Rian, yuk. Temani aku melihat pemotretan maternity Nat dan Gege". Telpon dari Nadia mengejutkan ku.


"Lho memangnya Nat hamil?".


"Iya baru delapan minggu".


"Kok tidak memberitahu ku ya?. Apa tidak kecepatan foto maternity di kehamilan sekarang". Aku sedikit kecewa karena Nat dan Gege tidak memberitahu kabar ini.


"Sebenarnya cuma foto pamer testpack doang. Udah ah, aku jemput sekarang". Nadia terkekeh geli.


Kami telah tiba di studio Rian ternyata ada Bian di sana. Nat dan Gege sudah selesai melakukan foto maternity.


"Kamu kok gak kasih tahu kabar gembira ini. Aunty kan senang dengar kabar ini". Aku mengelus perut Nadia.


"Baru delapan minggu jadi belum mengabarkan ke siapa pun. Kemarin juga kamu masih perawatan setelah diet lalu sibuk di Miepa jadi aku menunda dulu memberi kabar".


"Tapi Nadia dikasih tahu". Aku pura-pura ngambek. Natasha melirik ke arah Rian memberi kode sepertinya Nadia ada sesuatu antara Rian dan Nadia yang menyebabkan dia hadir di studio Rian.


"Kalian semua kapan nyusul kami nih". Gege berkata lantang kepada kami berempat.


"Iya jodohnya belum datang kalau sudah ada nanti aku langsung mengundang kalian". Aku berkata ngenes membayangkan jodoh ku yang menghilang.

__ADS_1


"Aku juga tidak sabar mempunyai istri dan mengambil foto maternity". Bian melirik kearah ku tapi lirikan Bian membuat ku langsung teringat lemak diperut yang lebih besar dari perut Nat.


"Ini lemak ya bukan hamil". Aku manyun sambil melirik ke arah perut. Ke-empatnya tertawa melihat reaksi ku hanya Bian yang tetap diam.


Aku melihat Nadia dan Rian saling mencuri pandang lalu tidak lama kemudian Rian berkata.


"Kami dalam waktu dekat akan menikah juga". Rian melihat ke arah Nadia yang menunduk malu-malu. Wajah Nadia memerah seperti kepiting baru direbus.


"Waduh cepat banget". Spontan aku berkata karena selain Nat yang sedang hamil. Rian dan Nadia pun akan segera menikah. Kapan mereka menjalin hubungan bahkan aku tidak tahu kalau Rian dan Nadia saling mengenal.


"Kami dikenalkan oleh Bian dan orangtua Ku melarang untuk berpacaran jika memang sudah ada kecocokan lebih baik dilakukan pernikahan. Usia ku kan sudah 27 tahun. Sudah matang untuk menikah". Rian mewakili Nadia.


Aku nyengir kaku ucapan itu mengingatkan hubungan lima tahun ku yang kandas. Ditinggal menikah setelah lima tahun menjalin kasih. Lama masa pacaran tenyata tidak menjamin akan ke pelaminan. Perumpamaan menjaga jodoh orang pantas ku sandang.


Menjaga, merawat kemudian 'mengantarkan' menjadi milik orang lain. Ketika memikirkan itu sakit di hati terasa berkurang. Apakah sekarang aku telah mengikhlaskan garis takdir yang berbelok ini.


"Nat nanti foto maternity ini langsung dicetak atau posting dulu?". Aku mengalihkan pembicaraan yang membuat jengah.


"Calon bapak yang baik. Aku akan menjadi om yang menyaksikan perjalanan dari pernikahan kalian". Bian menepuk pundak Gege sepertinya dia sedikit terharu karena dipercayakan untuk menjadi bagian perjalanan dokumentasi Nat dan Gege.


Selang berapa lama aku dan Nadia berpamitan untuk pulang. Baru tiba di parkiran Nadia baru ingat handphonenya ketinggalan di studio jadi dia kembali lagi untuk mengambil handphonenya.


Aku menyender di mobil sambil menunggu Nadia. Ketika ada suara memanggil aku menoleh tapi ketika melihat siapa yang memanggil rasanya pengen masuk mobil dan kabur sayangnya itu tidak bisa dilakukan karena kunci ada di Nadia.


"Kamu masih tidak mendengarkan peringatan ku!". Danar menatap tajam seakan hendak menguliti ku.


"Aku menemani teman ku foto di studio Rian, mana aku tahu ada Bian disana". Tentu saja aku tidak mengetahui ada Bian di studio Rian. Bukankah Nadia yang mengajak ku.

__ADS_1


"Kamu pikir aku percaya?".


"Kamu pikir aku perduli kalau kamu percaya atau tidak? mengapa juga kamu ada disini? mengikuti ku?". Aku bisa melihat Danar mengatupkan giginya. Dia geram sekali mendengar jawaban ku. Tipikal Adi dan Cahya. Memerintah tak ingin dibantah.


Jika masih anggrek yang dulu dalam posisi seperti ini aku bisa menangis karena merasa terluka. Untuk sekarang mental ku sedikit terlatih menghadapi orang seperti Danar.


"Bangunan ruko ini kepunyaan keluarga kami dan Rian menyewa salah satunya untuk studio foto. Wajar saja aku disini karena usaha ku juga ada di salah satu ruko. Sayang harus ketemu kamu".


Aku melihat sekilas deretan ruko yang berjajar di belakang kami. Terletak di bilangan jalan Sudirman, harga sewa ruko ini terbilang cukup mahal apa lagi harga jualnya.


"Kamu belum tahu kalau kekasih ku adalah wanita yang dicintai Bian tapi dia lebih memilih ku". Danar memandang ku menunggu reaksi yang akan di berikan sepertinya dia menyukai untuk melempar perkataan mengejutkan untuk melihat respon yang diberikan lawan bicaranya.


"Dan kamu tega mengambil wanita yang dicintai oleh adikmu?". Pengakuan Danar itu cukup mengejutkan ku. Bagaimanapun besar kemungkinan Danar yang meminta wanita cantik itu menjadi kekasihnya. Kenapa dia tega melakukannya ketika tahu adiknya mencintai wanita tersebut.


"Aku tentu saja tidak tahu kekasih ku wanita yang di cinta Bian. Sampai suatu hal yang membuat ku mengetahui hal ini. Asal kamu tahu saja aku yakin Bian hanya menjadikan mu pelampiasan kecewa hanya saja aku heran mengapa bukan Natasha atau Nadia yang dipilih. Mereka jauh lebih cantik dan menarik".


Danar mengatakan panjang lebar seakan dia tidak perlu memikirkan perasaan ku. Danar kebalikan dari kepribadian Bian. Andai aku belum pernah tersakiti oleh Adi dan Cahya, pernyataan seperti ini bisa membuat ku menangis dalam keterpurukan dan kepercayaan diri yang menghilang.


Hanya saja aku pernah merasakan sakit atas perlakuan Adi dan Cahya dan baru berapa hari lalu harus istirahat karena diet sembarangan yang ku lakukan akibat kata-kata netizen atas penampilan fisik ku. Perkataan kasar kali ini Danar masih bisa ku tolerir.


Akhirnya Nadia datang memutuskan pembicaraan ku dan Danar. Pria jangkung itu pun meninggalkan kami.


"Dia siapa, Nggrek?" tanya Nadia dengan nada penasaran.


"Abangnya Bian," Aku menjawab singkat.


"Ganteng banget, emaknya siapa sampai punya anak seperti mereka." ujar Nadia.

__ADS_1


Perkataan Nadia memaksa aku berpikir. Siapakah orangtua mereka sepertinya aku harus menghindar Bian sebelum ada masalah lagi. Aku belum siap untuk menerima masalah setelah berapa saat ketenangan ku rasakan.


****


__ADS_2