Viral

Viral
31. Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

Terkadang karena takut tersakiti mencoba untuk bersama terasa enggan,


Membangun 'perisai diri' menjaga agar jarak tetap terjaga


*******


Aku berada di belakang Dewo dan Bian. Dari awal perjalanan aku bisa mendengar Dewo mendominasi pembicaraan.


Kami telah tiba kembali di alun-alun. Sebagai 'amatir' jarak yang kami tempuh tidak terlalu jauh. Dimulai dari alun-alun mengitari trotoar Jalan Sudirman yang belum terlalu padat di pagi hari lalu kembali lagi ke alun-alun.


Sekarang yang aku pikirkan jelas bukan kami tapi Bian. Bukan kah dia berada di warung bubur ayam pengkolan, menurut Dewo karena dia menanyakan dimana Dewo berada. Berarti dia sengaja menemui kami. Jadi Bian mulai lari paginya darimana?. Belum lagi tiba-tiba nongol kakak kembarnya.


"Bian tadi mulai larinya darimana?"


"Dari alun-alun." Bian menjawab tanpa mengalihkan fokus dari layar gawai di tangannya.


"Memangnya pergi kesini gak barengan sama Danar dan Diandra?"


"Bareng kok."


"Tapi tadi kalian ke warung gak barengan."


"Aku lari duluan."


Ingin ku ambil alih gawai di genggamannya. Dia kembali irit dengan kata-kata dan aku seperti seorang kakak bertanya dengan adik kecilnya yang baru belajar bicara.


"Terus tadi kan Danar dan Diandra masih belum datang pesanannya. Mereka berarti masih makan di warung pengkolan. Kamu mau menunggu mereka disini ya?"


Bian mengalihkan pandangan dari gawai kearah ku lalu dia menatap Dewo. Wajah Bian yang tertutup masker membuat pancaran matanya lebih jelas. Entah perasaan ku atau bukan tapi aku merasa ada kontak pandangan terjalin antara Bian dan Dewo.


"Kami pulang dulu ya, Bian."


Aku baru hendak beranjak dari sini dan menuju parkiran ketika celetukan Dewo menghentikan langkah ku.


"Pulang sama kami saja, Kak Bian." Aku mendelik ke arah Dewo.


"Tidak, makasih Dewo. Aku menunggu Kak Danar dan Kak Diandra disini saja."


"Kalau begitu kami permisi pulang dulu ya." Aku baru saja mau melangkah ketika Dewo menarik lengan ku.


"Kak Bian yang aku pesan kemarin barangnya sudah ada?"


"Sudah ada di rumah."


"Pesan apa sih?." Aku bertanya tidak sabar, ingin melarikan diri dari Bian.


"Kak Anggrek kalau aku jelaskan pasti tidak tahu. Tambahan aksesoris kamera ku kemarin, jadi pesan sama kak Bian."


"Iya ntar aku antar ke rumah mu, Dewo." Aku mencium ada indikasi penolakan Dewo disini.


"Kelamaan kalo di antar, Aku ambil sekarang! Kak Anggrek kita ke rumah Kak Bian ambil barang ya?"


Aku baru mau membuka mulut untuk menolak. Mereka berdua sudah mendahului ku berjalan ke arah parkiran. Sekarang disini lah aku berada sendirian di kursi belakang mobil. Sebenarnya aku bisa saja menolak dengan keras tadi tapi ada sisi lain hatiku yang membiarkan ini terjadi.

__ADS_1


Kami telah tiba di rumah Bian, Aku menunggu di dalam mobil enggan untuk memasuki rumah. Dewo dan Bian masuk kedalam rumah untuk mengambil pesanan Dewo. Batin ku bertanya apakah Dewo akan bertemu orang tua Bian.


Aku mengamati lingkungan sekitar rumah. Asri dan adem, kelihatannya tenang. Konsep perumahan minimalis yang menarik. Latar perumahan pemandangan Bukit Asri. Pengamatan ku terhenti ketika ada suara ketukan di jendela ternyata Diandra. Mereka ternyata telah pulang dari alun-alun . Aku pun menurunkan kaca jendela.


"Masuk dulu yuk, Anggrek."


"Makasih Kak Diandra tapi maaf ini mau langsung saja kebetulan adik saya cuma mau mengambil pesanan sama Bian jadi tidak lama."


"Iya tapi daripada menunggu di dalam mobil lebih baik masuk dulu. Kan ada aku dan anak ku di rumah. Sekalian mau memberikan bolen pisang buatan ku dari pisang yang Anggrek berikan kemarin."


Aku masih ragu tapi Diandra masih tetap kekeuh berdiri di samping mobil membuat ku sungkan untuk menolak ajakannya.


Interior rumah keluarga Bian di dominasi hitam dan putih. Ada sesuatu yang menarik atensi ku di rumah ini. Keberadaan tanaman 'anthurium regale'. Aku pernah ikut Mama ke pameran tanaman dan harga "anthurium regale" ini menurut saldo ku termasuk mahal.


Satu daun saja waktu itu dijual seharga 15 juta, Di rumah Bian ada lima pot 'anthurium regale' yang di letakkan di teras samping dibatasi pintu kaca sebagai pemisah antara ruang makan dan teras.


Selain anturium ada juga beberapa aglonema. Aku yakin harga aglonema ini berada dalam range yang harga tidak jauh dengan anthurium regale. Otak ku langsung berubah jadi kalkulator mengkalkulasi harga tanaman di rumah Bian.


Mata ku memindai sekilas isi rumah Bian, Semua barang dirumahnya berkualitas tinggi. Sebenarnya ini diluar kebiasaan ku menilai keadaan rumah orang saat berkunjung tapi bukankah aku tidak mengenal keluarga Bian.


Memasuki rumah ini mengusik Keingintahuan secara menyeluruh. Mata ku mencari foto keluarga tetapi yang ditemukan pajangan dan lukisan bernilai seni tinggi. Bian memang tidak pernah menceritakan keluarganya. Dia hanya tertarik pada apa yang ada di diriku.


Jika Bian dan Doni diandaikan sebuah buku. Maka Doni adalah buku yang sebagian besar isinya sudah ku baca, bab berikutnya tinggal menunggu waktu untuk mengetahui isinya.


Sedangkan Bian hanya sebuah buku yang ku ketahui dari cover depannya saja. Aku tidak tahu siapa orangtuanya, masa lalu Bian, darimana dia berasal. Dia masih sebuah buku yang bahkan bab pertama pun belum tuntas ku baca.


Diandra muncul dengan sepiring bolen pisang di tangannya. Gara-gara Dewo dan Bian lama jadi ketemu dengan Diandra dan Danar.


"Abang?? Maksudmu Dia memanggil ku, Abang?" Aku memalingkan wajah jengkel. Siapa pula yang berminat memanggil dia abang.


Danar belum usai menggerutu "Iyalah dibuat bolen, masa makan gitu aja sampai setandan. Dipikirnya keluarga kita monyet dikasih setandan pisang gede gitu."


"Diar, Dior sini kenalkan tante Anggrek." Diandra mengacuhkan kembarannya.


Aku terpesona melihat Diar dan Dior. Keluarga mereka memang di anugrah keberuntungan terlahir dengan rupa rupawan. Kedua anak tersebut berusia sekitar enam dan delapan tahun. Diar seorang anak laki-laki gempal yang ganteng, Dior anak perempuan yang cantik.


"Ini anak-anak ku."


"Halo kenalkan tante Anggrek." Aku menyapa ramah yang disambut senyum sumringah keduanya. Setelah mengalami ku, Kedua keponakan Bian itu masuk kembali ke dalam melanjutkan permainannya


"Nggrek." Suara Diandra berubah serius.


"Ya Kak."


"Kamu ada hubungan apa dengan Bian?".


"Aku dan Bian sebatas teman, kak karena sering menggunakan jasa Bian untuk pemotretan jadi kami berteman baik." Aku tersenyum meyakinkan Diandra.


"Oh begitu.. Danar sudah menyampaikan tentang perjodohan Bian."


"Sudah, Kak."


"Kamu juga sudah tahu Bian 'melarikan' diri ke kota ini untuk menghindari perjodohan?". Aku menggeleng kepala. Apakah Danar dan Diandra berpikir Bian sudah menceritakan semuanya?. Aku bahkan tidak tahu usia adik mereka.

__ADS_1


"Bian tidak menyukai perjodohan yang kami lakukan dan kemungkinan dia sengaja mendekati perempuan lain. Tipe perempuan yang bukan standar keluarga kami inginkan. Sebuah kesengajaan yang akan membuat keluarga kami marah."


"Aku bukan perempuan itu." Suara ku tiba-tiba mencicit. Ada sakit menyerang di dada.


"Aku harap juga begitu. Jodoh Bian seorang wanita cantik dari keluarga terpandang. Dia teman kecil Bian dan gadis itu mencintai Bian."


"Aku harap Bian akan segera bertemu dengan jodohnya. Oh ya, sebaiknya kami pulang dulu." Aku bergegas berdiri. Bersamaan Bian dan Dewo muncul menghampiri kami.


"Kami permisi dulu ya." Aku memberi kode kepada Dewo dan berusaha untuk tidak melihat ke arah Bian.


"Tunggu Anggrek, ini bolen pisang untuk mu." Diandra terenyum manis membuat ku merinding. Berapa saat yang lalu dia mengeluarkan kata-kata tajam sekarang dia bisa memberi senyuman yang menawan. Dia lebih mengerikan dari Danar.


Gelang dari brand Perancis di pergelangan tangan Diandra mencuri perhatian ku. Cincin simple dengan berlian kecil tampak elegan di jari-jari mulus Diandra. Astaga mata ku hari benar-benar jeli memindai apa yang ada di rumah keluarga Bian.


Aku berjalan dengan langkah cepat. Membuat Dewo harus sedikit berlari.


"Hati-hati Kak ntar menggelundung." Dewo berkata santai tanpa merasa bersalah. Bian melangkah cepat membuka pintu mobil.


"Makasih Bian." Aku melirik di belakang Bian. Kakak kembar Bian tidak terlihat. Apalagi orang tuanya. Apakah memang dia tidak tinggal dengan orangtuanya?. Aku tidak mau berpikir lagi segera menyalakan mobil dan kedua kalinya secepat kilat aku kabur dari rumah ini.


"Kak, Dewo mau nanya tentang Kak Bian?". Apalagi yang mau ditanyakan Dewo. Hari ini aku tidak luput dari pertanyaan tentang Bian.


"Iya apa?" tanya ku.


"Kak sepertinya Kak Bian menyukai kakak. Aku juga menyukai Kak Bian. Dia jauh lebih baik dari kak Adi warna."


Deg....


"Alasannya apa kamu bilang Bian baik?" Jantung ku berdegup mencoba tetap fokus dengan jalanan di depan.


"Mama dan Papa pernah bilang kak Adi tidak pernah dekat dengan keluarga kita padahal pernikahan itu menyatukan dua keluarga. Saat Papa dan Dewo sedang sakit, Dia tidak pernah besuk padahal ketika Mama Kak Adi sakit yang merawat kan Kak Anggrek di rumah sakit."


"Kamu kan baru kenal sama Bian," kata ku lugas


"Justru baru kenal saja Dewo sudah melihat cara dia mendekati keluarga kita," bela adik ku.


"Hmmm begitu ya," Aku malas menanggapi celotehan Dewo Sepertinya dia menyukai Bian.


"Kak," panggil Dewo.


"Iya."


"Tadi Kak Bian memang sengaja mengajak kita ke rumah. Ada yang mau dia berikan ke kakak tapi dia lupa menaruhnya jadi Dewo membantu mencarinya. Saat kami keluar ternyata sudah ada kakak kembar dia lagi ngobrol sama Kak Anggrek."


"Apa yang mau diberikan," tanya ku penasaran.


"Belum ketemu, mungkin di main ponakannya. Di rumah kan ada pengasuh dan ponakannya. Hanya saja Kak Bian gak enak kakak menunggu lama jadi dia mengajak keluar menemui kakak."


Aku diam tidak menanggapi lagi ucapan Dewo. Andai dia tahu belum melangkah untuk dekat dengan Bian, sudah ada rintangan menghadang apalagi ketika jalinan itu terjalin.


Aku lebih baik menjauh. Tidak mau tersakiti lagi, membangun 'perisai diri' menjaga jarak pada dia yang mendekat adalah keputusan tepat yang akan ku ambil.


*********

__ADS_1


__ADS_2