
...Terkadang seseorang tidak menyadari...
...sesuatu itu berharga...
...karena ia selalu ada di dekatmu...
...kamu baru menyadari...
...betapa penting dan berharganya...
...ketika dia telah menjauh darimu...
...Menjauh, hilang dan tak akan pernah kembali...
Suara hati Anggrek ketika melihat seseorang dari masa lalunya.
********
Memang ini rencana cadangan tapi tetap harus dijajaki. Kalau keadaan memaksa maka Miepa cabang kedua lah yang dijadikan sementara sebagai cabang utama.
Kira memberi ide untuk memasang pemberitahuan di story sosial media. Sudah banyak yang menawarkan lokasi tapi belum ada yang dekat dengan jalan Thamrin.
"Kak Anggrek nanti kita harus beritahu Ari dan Riko juga ya biasanya mereka mengantarkan keripik di cabang utama"
"Iya benar berarti mereka mengantarkan lebih jauh kalo di cabang kedua"
"Biasanya ibu mereka mengantar naik sepeda kalau Ari dan Riko sekolah"
"Tekat mereka memang kuat ya, Aku selalu suka sama orang-orang yang bersemangat menjalankan kehidupan. Menginspirasi sekali"
"Kak Anggrek juga menginspirasi aku"
"Kamu bisa aja, Rika"
Aku memarkirkan mobil di halaman cabang kedua. Budi menghampiri kami, Pegawai ku yang pada awal bekerja masih kesulitan meracik rasa pada mie ayam.
Lokasi cabang kedua tidak terlalu besar, Aku menarik napas melihat space di cabang kedua. Harus menata ulang jika ingin menggunakan sementara sebagai cabang utama.
Melihat kondisi yang ada aku memikirkan alternatif menyewa ruko lain walau kemungkinan lebih jauh dari jalan Thamrin.
"Kak Anggrek itu Adiwarna bukan?"
Rika menunjuk ke arah parkiran tampak Adiwarna baru turun dari Jeep memasuki ruko. Dia memilih kursi di sudut ruangan.
Adiwarna merasa diperhatikan, Dia menoleh ke arah aku dan Rika. Tanpa ekspresi dia menatap ke arah kami lalu kembali acuh. Sibuk dengan handphone ditangannya.
Aku tahu ekspresi Adi ini, Dia sedang dalam masalah. Ketika terlalu lelah dengan keadaan maka sebagian orang memilih diam. Mengacuhkan keadaan sekitar untuk menenangkan pikiran. Adiwarna termasuk tipe seperti itu.
"Adiwarna sering kesini, Bu"
Budi sudah berdiri di samping aku dan Rika. Dia memperhatikan kami yang tampak menaruh minat kepada Adiwarna.
"Oh ya untuk apa dia kesini?"
__ADS_1
"Untuk makan, Bu" Jawaban Budi memang benar tapi aku sedikit jengkel karena ada selintas prasangka di hati maksud kedatangan Adi.
Aku tahu tidak boleh berpikir negatif dengan orang lain tapi Adi adalah pengecualian. Ketika dia memanfaatkan hubungan kami kemudian mengambil pegawai pada usaha pertama ku. Membuat aku memasang alarm waspada pada dirinya.
Apakah Adi di balik masalah dari sewa ruko ini? Aku ingat die pernah membuka usaha yang sama dengan booth pentol ku dulu. Mengambil pegawai ku lalu memori di kepala mengingatkan perkataan Bang Ipul, Adiwarna berbahaya.
"Hai, Adi apa kabar?" Adiwarna mengalihkan pandangan dari handphone ke wajah ku. Dia tersenyum canggung. Aku sengaja menghampiri Adi berniat untuk mencari tahu.
"Baik, Tumben kamu ada disini, Nggrek."
"Aku sering kontrol pagi dan malam hari disini. Terkadang karyawan ku yang kesini."
"Iya" Dia menyahut sambil tersenyum terpaksa. Kerutan di sudut mata Adiwarna membuat dia tampak lebih tua dari usianya.
"Pesanan mu sudah datang?" Aku mengutuk diri dengan basa-basi yang ku katakan tadi karena jelas di meja Adi belum ada apapun.
"Bentar lagi mungkin, Nggrek."
"Adiwarna bagaimana usahamu?" Aku berusaha memancing Adi untuk bicara lebih banyak.
"Beberapa berjalan baik dan berapa lagi tersendat" Dia kembali mengacuhkan ku ketika seporsi mie ayam diletakkan Budi di meja.
"Di, Lanjutkan makan saja ya. Aku masih ada urusan di belakang"
"Iya, Nggrek"
Adiwarna seperti orang yang kehilangan semangat menjalankan hidup. Ditambah perkataannya mengenai ada usaha dia yang tersendat. Menandakan pendapatannya belum bisa dikatakan stabil. Aku sudah berburuk sangka pada Adiwarna kali ini.
"Bu, Adiwarna mencari ibu" Budi menghampiri ku yang duduk di belakang ruko mencari pencerahan atas masalah ini. Aku segera menghampiri Adi.
"Tentang apa?"
"Cahya mendapatkan tawaran untuk membuka usaha di jalan Thamrin. Lokasinya persis sama dengan tempat usahamu"
"Ruko Bu Lisa dengan blok yang sama dengan ku?"
"Aku tidak tahu persisnya, Nggrek. Orang yang menawarkan Cahya mengatakan bahwa dia cukup menjalankan saja karena semua sudah di siapkan"
"Siapa orang itu, Adi?
"Kami tidak mengenalnya?"
"Lalu?"
"Mama mengetahui pembicaraan Cahya dengan ku kebetulan saat itu ada mama di rumah. Aku belum pernah melihat mama semarah itu. Dia menolak keras kami menerima tawaran tersebut.Secara pribadi aku menolak tawaran tersebut. Entah dengan Cahya"
"Mengapa dengan Cahya"
"Cahya dan aku berbeda pendapat mengenai tawaran ini, kemungkinan besar Cahya pasti terpaksa menolak karena aku tidak berminat. Dia enggan menjalankannya"
"Kenapa kamu mengatakan ini?"
"Aku sepertinya tidak mau berurusan dengan mu lagi saat ini aku fokus pada usaha ku sendiri dan belum tertarik membuka usaha baru"
__ADS_1
"Tumben" Aku menyindir Adiwarna.
"Aku pulang dulu, Nggrek" Adiwarna mengabaikan sindiran ku. Dia berjalan pulang menuju jeepnya.
Adiwarna tampak gontai dan tidak bersemangat. Apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka, Hanya mereka lah yang tahu.
Apakah hubungan yang dimulai dengan ketertarikan fisik cantik pada sosok wanita dan mapan pada sosok pria akan bertahan lama?.
Kita tahu sang waktu perlahan merenggut apa yang menjadi kebanggaan. Wajah cantik akan memudar, Kekayaan bisa hilang. Ketika daya tarik pemikat itu telah hilang. Mampukah hati bertahan?
Aku tahu walaupun ada yang tetap bertahan dengan kecantikan dan kekayaan tapi biasanya mereka berjuang sendiri untuk mempertahankan.
Adiwarna selama ini menjalankan usahanya dengan bantuan ku dan Cahya merawat fisiknya dengan kemampuan finansial dari pasangannya. Mereka bergantung pada orang lain.
"Kak Anggrek baik-baik saja?"
"Iya, Memangnya kenapa?
"Kakak berdiri melihat parkiran saja dari tadi"
Aku baru tersadar dari tadi merenung perubahan Adiwarna dan menebak apa yang terjadi sampai lupa poin utama yang disampaikan oleh Adiwarna.
Aku harus menemui Bu lisa kali ini. Dia pasti tahu siapa yang menjadi penyewa ruko miliknya dan menawarkan usaha yang sama.
Siapa kah pria tersebut, Mengapa dia memilih menghubungi Cahya bukan Adiwarna.
Padahal aku tahu Cahya pasti enggan bekerja. Dia hanya mau menikmati hasil. Cahya meminta Adi menjalankan usahanya tapi Adi tidak mau mengambil resiko menjalankan usaha baru. Di saat usahanya membutuhkan perhatian
Lebih baik aku menghubungi Bu Lisa kali ini. Daripada aku datang sendiri seperti kemarin dan menghabiskan waktu menunggunya.
"Halo" Dia langsung mengangkat telpon pada panggilan pertama
"Bu Lisa, Saya mendapatkan informasi bahwa blok ruko yang saya sewa sudah di sewa oleh orang lain. Kenapa ibu tidak melakukan konfirmasi dengan saya dulu? Mengapa langsung di alihkan ke orang lain"
"Informasi yang kamu dapatkan tidak benar karena Itu dibeli dengan harga tinggi bukan disewa.
Betapa dongkol nya hatiku mendengarkan penjelasan Bu Lisa.
" Mendadak sekali"
"Saya membutuhkan dana segar karena selama pademi berapa usaha saya terkena imbasnya. Mengapa saya tidak mengambil kesempatan, Blok yang saya jual cuma satu. Saya masih memiliki empat lainnya"
"Siapa yang membelinya?"
"Rahasia perusahaan Anggrek. Hal ini bukan urusan mu"
Bu Lisa menutup telpon menyisakan rasa penasaran yang mendesak ingin keluar. Mengapa ada yang melakukan persaingan dengan cara curang seperti ini?. Terlebih dia sengaja meminta Cahya menjalankan usaha di blok ku.
Niat banget ingin menyakiti hati ini. Aku merasa tidak memiliki musuh.
Masih ada waktu 1,5 bulan lagi untuk mencari tempat baru. Aku tidak akan menyerah dan memberikan kemenangan pada yang mencurangi ku.
Siapa pun dia, Aku akan mempertahankan apa yang ku raih.
__ADS_1
*******