Viral

Viral
39. Hari Ini Di Bandara


__ADS_3

Seperti puzzle belum utuh


itulah hubungan yang baru dimulai ini


ada potongan yang harus dicari


untuk disusun kembali


Aku tahu ini tidak akan mudah


tapi ini jalan yang ku pilih


aku akan terus berusaha menggapai


kebahagiaan


*********


Aku menuju Miepa dengan hati riang. Telpon Bian membangunkan ku subuh tadi menjadi booster untuk menjalani hari ini.


Tampak raut Rika, Bang Ipul dan Andi sedikit heran. Apakah begitu kentara perubahan sikap ku yang lebih ceria.


"Kak Anggrek, Cantik hari ini." Rika hari ini mengenakan pakaian merah menyala seperti paprika merah. Dia sepertinya tidak kenal warna netral karena semua pakaiannya berwarna mencolok.


"Biasanya jelek ya?" Aku menggodanya, Rika jadi salah tingkah. Dia sepertinya takut salah bicara.


"Bukan begitu, Bu. Biasanya Ibu jarang tersenyum pagi hari." Andi memperjelas maksud Rika.


"Jadi kalian suka kalau aku tidak tersenyum?"


"Suka tersenyum dong, Bu." Serentak mereka menjawab membuat ku geli.


Aku memberikan instruksi pada team dapur Miepa Cabang untuk hari ini. Aku suka cara Rika dan Andi memahami instruksi yang ku berikan. Mereka mudah menganalisa perintah yang ku minta.


Setelah menyelesaikan urusan di Miepa. Aku menuju booth pentol di minimarket lalu melaju ke butik. Aku memastikan semua usaha ku berjalan baik hari ini karena setelah makan siang aku mau ke bandara menemui Bian.


Natasha sedang makan rujak buah ketika aku datang. Aku merasakan ngilu di gigi melihat dia mengunyah mangga muda di pagi hari.


"Ngidam mu bukannya sudah lewat,Nat?"


"Memang sudah tapi mulut ku masih ada asamnya. Eh bagaimana perkembangan dengan Bian." Wajah ku memanas mendengar pertanyaan Natasha.


"Malam tadi aku memberanikan diri untuk menerima Bian, Natasha."


"Asyikkkk.. Jadi gimana selanjutnya."


"Bian mau ke Jakarta hari ini. Dia akan bicara sama orangtuanya mengenai hubungan kami. Aku masih menunggu cerita selanjutnya."


"Aku juga masih menunggu Bian kalo gitu untuk foto maternity"


"Iya juga ya." Aku melihat perut Natasha yang mulai menyembul.


"Nat nanti setelah makan siang. Aku ijin bentar bentar ya, mau ke bandara?"


"Boleh, Pergi saja sekarang kan sudah ada Tania yang handle untuk penjualan online. Untuk saat ini pembelian offline belum terlalu ramai."

__ADS_1


"Makasih Nat. Oh ya untuk minimarket mu bagaimana cara menjalankannya?".


"Itu kan sudah dari kakek ku yang merintisnya. Sudah ada karyawan yang memegang satu area. Aku tinggal kontrol saja."


"Ke depannya aku juga berpikir untuk mempercayai satu orang sebagai pengontrol jadi tinggal menerima laporan dan memeriksanya bukan secara keseluruhan aku yang pegang."


"Iya bisa keteteran kalau semua dikerjakan sendirian. Oh ya, Anggrek hari ini kamu lebih ceria dan fresh. Gitu dong penampilan lebih rapi, Wajah dirawat biar tidak kuyu". Natasha memang jeli dia bisa melihat wajah ku yang dipoles make-up tipis.


"Sekarang kan aku sudah mempunyai waktu untuk memperhatikan penampilan."


"Dulu juga punya tapi emang dasar kamunya aja." Pembicaraan kami terhenti karena ada pembeli yang masuk ke butik. Aku melihat gawai ku berkedip ada notifikasi pesan hijau.


"Pagi, Sayang. Nanti aku bisa jemput kamu untuk makan siang?".


"Bukannya mau berangkat hari ini?"


"Makan siangnya di kafe area bandara saja?"


"Boleh, jemput di butik ya sayang."


"Baik, see u."


******


Pukul 10:45 ketika Natasha menghampiri ku di lantai dua.


"Ada Bian dibawah, Nggrek. Kali ini dia menolak ku suruh ke atas. Natasha terkekeh dia masih ingat wajah malu Bian saat dipaksa menemui ku dilantai dua berapa hari lalu.


"Iya Nat, Kami lebih awal ke bandaranya. Maaf ya."


Aku menjumpai Bian yang menunggu di luar butik. Dia mengandeng ku menuju ke mobil Innova. Ternyata Bian menaiki taksi online. Dia membuka pintu belakang mobil untuk ku tidak lama setelah aku duduk. Bian menyusul duduk disebelah ku.


"Jadi langsung ke bandara?". Aku tersedak ketika melihat siapa yang membawa mobil. Ku pikir tadi taksi online ternyata Danar. Dia menoleh menatapku dengan pandangan membunuh.


"Langsung saja Kak Danar. Lebih baik menunggu di bandara jadi tidak perlu terburu-buru." Bian berkata santai sambil menyender diri di kursi. Aku menendang kakinya sebagai kode karena membiarkan kakaknya duduk didepan sendirian.


"Sakit, Anggrek." Bian malah memperkeras suaranya. Aku jadi dongkol seingat ku Danar mengendarai Jeep. Seleranya hampir sama dengan Adiwarna. Sepanjang perjalanan hanya lantunan musik menemani kami. Aku memilih diam daripada mencari masalah dengan sang sopir.


Aku tetap pada sikap diam, Ketika kami bertiga telah tiba di bandara dan menuju kafe di rest area. Kami langsung memesan makanan untuk bertiga walau Danar rupanya memilih duduk terpisah di kafe.


"Kamu tidak beritahu kalau barengan sama Danar." Mataku menatap menuduh ke arah Bian.


"Dia memaksa ikut nanti dia bisa mengantar mu pulang."


"Tidak, Aku lebih baik pulang naik taksi online. Danar tidak ikut ke Jakarta?". Aku masih canggung memanggil Danar dengan sebutan kakak.


"Dia berangkat menaiki pesawat paling pagi besok. Kak Danar itu sebenarnya baik kok, Anggrek." Aku hanya tersenyum kecil tidak tahu harus merespon apa. Bagaimanapun itu saudara Bian.


"Danar yang memberitahu kalau kamu sudah dijodohkan dan meminta aku menjauhi mu."


"Iya, Aku tahu tapi itu hanya gertak sambal. Kak Diandra lah yang melaporkan hubungan kita." Ada raut tidak suka yang ditunjukkan Danar ketika menyebut nama Diandra.


"Kak Diandra awalnya aku pikir seorang yang hangat dan ramah."


"Begitu kah?" Bian tampak enggan merespon pembicaraan tentang Diandra.

__ADS_1


"Bian aku khawatir mengenai perjodohan mu dengan Tasya."


"Kenapa harus khawatir? Aku sudah dari awal menolaknya. Seharusnya bukan sesuatu yang mengagetkan kalau aku kembali menolak."


"Kenapa kamu menolak Tasya. Kata Kak Diandra, Dia gadis cantik dan dari keluarga terpandang."


"Jika aku menyukainya. Ini bukan masalah tapi aku hanya menganggap dia seorang teman. Sejujurnya keluarga kami lebih complicated dibandingkan dengan keluarga kamu. Makanya kenapa sampai ada perjodohan ini."


"Kenapa bukan dijodohkan dengan Danar?. Usianya diatasmu bukan?" Aku menunjuk dengan dagu ke arah pria yang sedang santai dengan gawainya.


"Dia playboy". Aku langsung memahami maksud Bian. Tasya mungkin menolak disandingkan dengan Danar. Seketika aku kembali teringat dengan kekasih Danar.


"Bian kata Kak Danar kamu patah hati karena kekasih Danar memilih dia."


"Iya di waktu usia ku lebih muda. Aku memperhatikan wanita dari visualnya termasuk kekasih kak Danar tetapi ketika dia mengetahui siapa Danar dan siapa aku. Dia memilih Danar..."


"Anggrek!!!!. Pembicaraan kami terpotong ketika ada seorang pria menyapa ku. Dia tampan dengan penampilan highend. Gigi veneernya berkilauan putih seperti mutiara.


"Kenzo." Aku kaget sudah lama tidak berdua dengan mantan Cahya ketika kami double date dimasa kuliah.


"Kamu langsing sekarang dulunya gendut." Aku menyeringai dengan kejujuran Kenzo.


"Sendirian ya, Ken? Kenalkan ini Bian. Bian perkenalkan ini Kenzo teman ku saat kuliah." Kenzo menganggukan kepala ke arah Bian. Dia lalu memperbaiki masker yang berada di dagunya.


"Iya sendirian. Anggrek, Cahya menikah dengan Adiwarna ya?"


"Iya benar.. Kamu tahu darimana?".


"Dari sosial media kalian yang heboh waktu lalu. Bearti saat kita dulu double date sebenarnya kita menemani mereka." Kenzo tergelak tak urung membuat ku ikut tertawa. Baru kali ini aku bisa menertawakan mereka berdua.


"Eh Aku duluan ya. Mau check in, Mari Anggrek dan Bian"


"Siapa sih? Akur banget." Bian menatap ku tidak suka. Sepertinya dia terganggu dengan interaksi aku bersama Kenzo.


"Mantan Cahya, Dulunya Aku dan Adi pernah double date bersama Cahya dan Kenzo. Eh Cahya dan Adi yang menikah."


"Oh tapi sekarang ada aku kan."


"Iya dong sayang." Aku tersenyum manis ke arah Bian. Dua orang waitress menghampiri kami mengantar pesanan makanan.


Selepas menghabiskan makan siang dan bicara sebentar. Aku dan Danar mengantarkan Bian ke pintu masuk.


"Sampai ketemu lagi ya, Sayang."


"Hati-hati ya, Bian."


Kami berada dalam pengawasan Danar untuk bicara lebih intens. Dia memang abang yang begitu protektif. Aku langsung berbalik ke arah pintu keluar bandara ketika Bian sudah tidak terlihat lagi.


"Kamu mau kemana?" Danar mensejejeri langkah ku.


"Pulang naik taksi." Aku menegaskan kalimat itu.


"Baguslah." Danar melenggang santai di depan ku. Mengingat Danar aku merasa apa yang ku takutkan tentang keluarga Bian tidak seperti yang ku duga tapi ketika mengingat Diandra. Pikiran itu langsung lenyap.


Apakah maksud Bian kalo keluarga dia complicated? Entahlah aku belum memahami sampai ada penjelasan lagi ketika Bian pulang dari Jakarta.

__ADS_1


Kepingan puzzle ini belum tuntas disusun. Aku harus menunggu kembali kali ini..


__ADS_2