
Bian menarik tangan Ku duduk di kursi sebelahnya. Posisi kami dan Cahya berhadapan.
"Aku dan Anggrek saat ini berada dalam hubungan..".
"Hubungan yang baik, Cahya. Kamu mau memesan apa, Bian?". Aku memotong omongan Bian rasanya Aku tak sanggup mendengar kalimat lanjutan Bian walaupun Aku tak tahu apa yang akan dikatakannya.
"Sudah Ku duga tak mungkin dia pacar mu?". Cahya menyeruput kopi dihadapannya dengan pandangan puas.
"Kamu sok tahu". Bian menyenderkan tubuhnya di kursi, kedua lengannya bersidekap. Dia menatap tajam ke arah Cahya.
Cahya memandang kami berdua lalu dia berdiri. Sepertinya dia tidak perduli pada kata ketus Bian. Cahya mengambil tasnya dengan penuh gaya harus Ku akui untuk masalah menjaga berat badannya Cahya masih juara. Tubuhnya tetap ramping seperti di masa lajang. Sedikit rasa iri menyeruak memikirkan lemak di pinggang.
"Sebaiknya Aku pulang dulu mungkin saat ini kamu belum memerlukan pekerjaan tapi siapa tahu hari besok". Cahya menyunggingkan senyum penuh arti. Berlalu dari hadapan Aku dan Bian. Paksaan Cahya dan Adiwarna untuk Aku bekerja kembali dengan mereka membuat Ku geli. Mereka pikir Aku adalah peri yang bisa membantu kesulitan usaha mereka saat ini.
Mata Ku menerawang mecoba mengingat semua usaha Adiwarna. Mengapa mereka begitu yakin keterlibatan Ku akan memberikan jalan keluar pada usaha Adiwarna. Bukankah waktu dulu Aku dan Adiwarna merintis usaha dengan porsi Adiwarna lebih banyak.
Lamunan Ku buyar ketika pegawai datang mengantar pesanan Bian. Mie ayam dan kopi hitam, Aku terlalu hanyut dalam pemikiran Cahya dan Adiwarna sehingga melupakan Bian.
"Nah kan apa Ku bilang kamu pasti nagih minum kopi disini?". Bian menoleh ke arah Ku.
"Kamu bilang Danar yang akan ketagihan bukan Aku, Nggrek". Bian menjawab datar ternyata dia memiliki ingatan yang baik.
"Hehee maaf".
"Itu Cahya, sahabat mu. Jadi kamu mau kembali bekerjasama dengan mereka?". Bian menatap kedua mata Ku mencari jawaban di dalamnya sepertinya dia tipikal yang mempercayai mata tidak bisa berbohong. Aku pun enggan menanyakan darimana dia tahu permasalahan Aku dan Cahya.
Sejak kasus viral berapa waktu lalu. Aku enggan mencari tahu orang-orang yang tahu kehidupan pribadi Ku. Berbagi kehidupan pribadi kami di sosial media sedikit banyak juga membuat privasi tidak terjaga seperti dulu lagi.
"Tentu tidak". Aku menjawab singkat memalingkan wajah dari Bian lalu beranjak hendak meninggalkan kursi. Bian menarik tangan membuat Ku terhenyak.
"Kamu menarik Ku dari pintu masuk, menyeret di hadapan Cahya lalu dengan santai meninggalkan Ku begitu saja. Duduk dan temani Aku". Bian mengeluarkan kalimat perintah.
Aku melongo sekian detik mendengar kalimat panjang dari mulut diam Bian. Aku menghempaskan diri di kursi. Iya Bian benar rasanya tidak sopan meninggalkan dia begitu saja.
__ADS_1
"Anggrek, kenapa tadi kamu menjawab pertanyaan Cahya saat dia menanyakan siapa Aku?".
"Biar tidak ada kesalahpahaman saja". Aku menjawab singkat. Entah kenapa hari ini harus berurusan dengan pertanyaan dan pertanyaan. Bebas dari Cahya harus berurusan dengan Bian.
"Aku tak masalah jika kamu mengakui Aku sebagai pacar mu, Nggrek". Bian menatap Ku yang masih menentramkan jantung yang berdetak tak karuan. Sadar Nggrek dia hanya membantu mu. Jangan GR.
"Aku gak bisa bohong, Bian. Kita kan cuma teman".
"Bukan teman juga tidak apa-apa. Sudahlah lupakan saja omongan Ku barusan". Bian melambaikan tangan seakan kalimat tadi hanya berupa pernyataan tanpa arti.
Aku tersenyum canggung terlebih beberapa pegawai dan pengunjung tampak berminat melihat Aku dan Bian. Paras tampan Bian begitu mencolok bersanding dengan diriku".
"Sepertinya mantan mu belum terbiasa dengan ritme kerja sendirian". Bian mengambil sumpit lalu dengan santai memberikan Aku sumpit dan tisu.
"Eh maksudnya apa ini?". Aku memandang heran pada sumpit dan tisu yang berada di hadapan Ku saat ini.
"Ya di lap dong, Nggrek. Aku sudah bantu kamu". Aku bersungut mengambil sumpit dan tisu. Sikapnya barusan membuat Ku lupa kalau pria dia hadapan Ku ini bisa bersikap sekehendak jidat.
"Pertanyaan mu tentang ritme kerja itu. Mana Aku tahu tentang itu. Adiwarna tidak mengatakan apapun kalau kamu mau tahu tanyakan sendiri sama dia".
"Baiklah nanti Aku tanyakan". Aku terkekeh mendengar jawaban Bian. Wajah itu kembali datar, dia memang aneh padahal tadi kami berada dalam percakapan akrab.
********
Sepanjang hari ini Aku melakukan kesalahan teringat tentang Cahya dan Bian. Sikap Adiwarna dan Cahya memaksa Ku bergabung dengan mereka membuat Ku heran. Mereka terlalu tinggi berharap bahwa keterlibatan Ku dalam usaha mereka akan mengembalikan kestabilan usaha.
Selama bersama Adiwarna, Aku banyak membantu usaha Cafe Adiwarna. Dulu saat merintis awal rumah makan 'Suasana tradisional', salah satu usaha Adiwarna dengan menu masakan tradisional.
Adi cuma mengontrak pelataran teras sebuah ruko. Ruko tersebut pada pagi dan siang hari dipergunakan untuk kursus belajar anak-anak. Malam hari pelataran ruko tersebut digunakan untuk gerobak nasi goreng. Saat itu hanya ada meja dan tikar yang digelar serta beberapa meja dan kursi.
Di sela kesibukan Aku kuliah, Aku menemani Adi ke pasar lalu membantu Ibunya menyortir sayuran yang layak dan tidak. Saat itu kami sedang kuliah, di kampus Aku gencar mempromosikan ke teman-teman.
Harga bersahabat sesuai kantong mahasiswa membuat usaha tersebut laris. Aku jugalah yang mencari juru masak nasi goreng, bersama juru masaknya kami meracik bumbu yang enak.
__ADS_1
Adiwarna lalu menyewa sebuah kontrakan kecil yang memiliki halaman besar. Dari situlah warung makan tersebut dirintis. Awalnya berupa tempat makan sederhana dengan menu nasi goreng lalu semakin ramai pengunjung menu pun bertambah dengan berbagai varian.
Saat itu Adiwarna sudah lulus kuliah. Dia lebih cepat menamatkan strata satunya. Adi memang cerdas.
Begitu juga dengan toko makanan ringan Adiwarna. Dari keripik pedas, Aku lah paling giat mendorong dan mendampingi Adiwarna mengikuti pameran. membantu Ibu Adiwarna mencari pegawai di dapur.
Usaha Adiwarna memang dimulai dari usaha sederhana tapi kepiawaian Adiwarna mengatur keuangan membuat usahanya kecilnya semakin berkembang.
"Bu.. Saya boleh ijin pulang dulu. Sedang tidak enakan". Andi salah satu pegawai Ku membuyarkan lamunan ingatan tentang Adiwarna.
"Oh iya Andi. Sakit?".
"Sepertinya Bu kalau besok belum baikan Saya izin tidak masuk kerja dulu ya , Bu".
"Iya nanti kabarin saja ya besok".
"Baik Bu". Aku memperhatikan punggung Andi sampai menghilang keluar dari pintu dapur menuju ke halaman belakang ruko.
Kondisi seperti ini terkadang membuat Ku khawatir. Saat ini gejala apapun harus diwaspadai. Suara deheman membuat Ku memalingkan diri.
"Mau bayar". Suara seorang pelanggan tampak tidak ramah dari depan kasir. Aku sedang berada di posisi antara pintu pembatas ruangan dapur dan meja kasir. Segera Aku menuju meja kasir yang kosong. Andi petugas kasir sudah ijin pulang. Seharian ini posisi dia akan Ku gantikan.
Bergegas Aku melayani pelanggan dengan wajah tidak ramah ini. Tertutup setengah masker pun wajahnya masih tampak tidak bersahabat.
"Pak maaf ini pesanan yang dibungkus ketinggalan". Dia memandang Ku lalu berkata ketus
" Buang saja".
Aku shock, ya ampun hari ini kacau banget. Baru saja melihat pelanggan itu makan dengan lahap lalu menambah porsi untuk dibungkus dan dibawa pulang. Eh sekarang pesanannya suruh di buang.
Aku mendengus. Ada-ada saja hari ini, berinteraksi dengan banyak orang maka makin banyak karakter dan sifat individu yang Ku lihat.
Satu hari sudah terlewati, Aku pulang kerumah dengan tubuh lelah. Kamar pink Ku sudah memanggil. Sebuah tempat yang akan memulihkan energi Ku yang habis di penghujung hari.
__ADS_1