
Seorang pemberani
bukan lah orang yang tidak punya rasa takut
tapi seseorang yang bisa mengatasi
*dan me**nghadapi rasa takut*
itu sendiri
Kata yang sering di dengar Anggrek dalam kartun anak-anak ketika menemani Dewo kecil menonton.
*******
Kami masih dalam ruangan yang sama ketika Bian berdiri pulang dan berpamitan. Bian berjalan mendahului ku ke pintu tapi saat dia meraih handle pintu. Tiba-tiba Bian berbalik dan mendaratkan kecupan di kening ku.
"Aku pulang dulu ya sayang, Baik-baik dan jaga kesehatan"
"Iya kamu juga"
"Sampai ketemu nanti aku akan menjemputmu"
"Iya hati-hati sayang"
Bian mengelus pipiku sebelum akhirnya dia keluar dari pintu. Astaga dia main nyosor saja apa jadinya jika karyawan ku melihatnya.
Tidak lama setelah Bian keluar dari pintu aku mendapat notifikasi pesan hijau dari Bian.
"Aku merindukan mu dari berapa hari lalu"
"Iya sayang aku juga"
"Kamu jaga kesehatan selalu ya Anggrek. Akhir-akhir ini kamu banyak bekerja, Sayang"
"Makasih Bian"
Aku menutup gawai sambil mengerutkan kening. Bian tidak seperti biasanya apakah dia bahagia akan berjumpa dengan ibunya karena aku pun akan bersikap sama jika terpisah berapa lama dengan orangtua. Kemudian akhirnya bersua kembali.
Hari menjelang siang aku segera bersiap pulang ke rumah. Sebelumnya aku menghampiri Rika yang sedang mencatat stok bahan di dapur.
"Rika, Aku pulang dulu ya kalau ada keperluan kamu telpon atau kirim pesan saja ya"
"Baik Kak Anggrek. Oh ya kak, Dua bulan lagi kontrak sewa ini akan habis"
"Iya nanti kamu ingatkan aku kembali ya, Rika"
"Baik Kak Anggrek"
Sejak Rika memegang tiga Miepa tugas ku lebih ringan dan bisa memaksimalkan konsentrasi mengerjakan pekerjaan ku yang lain.
Aku tetap memegang kontrol utama tapi sangat terbantu karena pengerjaan dari awal sudah dipegang oleh Rika.
*******
Tidak ada yang perlu ku takutkan bertemu mama Bian. Jika ada masalah yang terjadi akan ku atasi bukan kah masalah mengiringi perjalanan kehidupan.
Dari tadi kata-kata tersebut ku sebutkan berulang di hati. Memberi sugesti diri berpikir positif.
Ternyata berat badan ku turun cukup banyak. Kesibukan bekerja dan mengatur pola makan selama ini menyumbang pengaruh dalam penurunan berat badan. Sedikit lagi mencapai berat ideal.
Imbasnya pakaian yang di lemari kebesaran semua. Aku berkali-kali ganti pakaian sampai akhirnya menemukan pakaian yang ku rasa pas padahal itu merupakan pakaian pertama yang ku pakai sebelumnya.
Tidak lupa aku memulas makeup natural andalan yang pengerjaannya tidak natural.
"Maaf menunggu lama ya, Bian"
"Tidak kok, Nggrek" Sekarang kita ke bandara langsung ya.
"Baik sayang"
Bian menggenggam telapak tangan ku tepat ketika kami keluar dari pintu, Berpapasan dengan Dewo dan Rio.
"Mau menyebrang jalan ya sampai gandengan tangan?"
Seloroh Dewo disambut tawa Rio yang merasa geli melihat aku dan Bian. Sigap aku melepas tangan ku, Bian menepuk bahu Dewo dan Rio.
"Pamitan dulu ya"
"Hati-hati ya kak"
Aku bisa melihat senyum di wajah Bian. Dia memang manis sekali hari ini. Sepertinya kedatangan mamanya sudah lama di nanti.
"Kak Danar tidak ikut menjemput?"
"Tidak, Dia ada kerjaan untuk proyeknya"
"Jadi nanti dari bandara langsung ke rumah atau gimana?
"Rencananya mama mau ke coffe shop kak Danar nanti kita ketemuan kak Danar di sana. Lalu makan malam dan jalan sebentar ya Anggrek. Bisa kan sayang?"
"Tentu bisa sayang. Aku pun senang bertemu dengan mamamu tapi aku tidak tahu bagaimana mama mu. Apakah dia akan senang bertemu dengan ku?"
"Mama ku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mu, sayang"
Semoga aku berkata dalam hati. Mobil antik Bian melaju menembus jalanan menuju ke bandara. Tempat dimana pertemuan dan perpisahan terjadi setiap hari.
******
__ADS_1
Kami tiba di bandara yang tampak lengang, Tidak seramai ketika pademi belum menyapu bumi ini.
Jantung ku berdebar kencang, Sesekali memperbaiki masker di wajah. Ekspresi ku terselamatkan oleh masker sehingga tidak kentara kalau aku begitu gugup.
Salah satu kebiasaan ketika aku gugup adalah mendadak kebelet. Aku permisi ke toilet sebentar ke Bian sekalian memastikan penampilan ku tetap terjaga.
Pengumuman informasi tentang pendaratan pesawat dengan nomor yang dinaiki Mama Bian terdengar.
Setelah bercermin dan memastikan penampilan ku sudah rapi dan cantik versi ku sendiri. Segera aku keluar untuk menemui Bian.
Netra ku menangkap Bian dengan seorang wanita yang cantik. Bayangan Sophia Latjuba otomatis berada dalam pikiran ku. Ini kali pertama bertemu langsung dengan mama Bian. Dia wanita berusia setengah abad yang tampak cantik dan muda.
Bian menunjuk ku yang berjalan ke arah mereka. Senyum wanita itu mengembang.
"Ya Tuhan berkah dunia mengiringi mereka semua. Betapa rupawan keluarga ini"
Aku berkata dalam hati dan menurunkan masker ketika berada di hadapan mama Bian. Aku segera memberi salam takzim kepada wanita yang telah melahirkan kekasih ku.
"Akhirnya kita bertemu ya Anggrek. Kemarin hanya lewat video call"
"Iya, Tante"
"Panggil saya, Tante Lusi ya"
"Iya, Tante"
"Bian sudah banyak menceritakan tentang Anggrek kepada tante"
"Iya Tante"
Dari tadi aku hanya mampu mengeluarkan dua kata karena grogi dan minder yang menguasai. Bian sepertinya paham kondisi ku. Dia berinisiatif untuk mengajak keluar dari bandara.
Tidak lama kemudian kami telah berada dalam mobil antik Bian.
Sepanjang perjalanan mamanya menceritakan kota ini yang sudah banyak mengalami perubahan.
"Jadi tante Lusi sekolah disini sampai SMA?
"Iya benar lalu tante kuliah dan bekerja di Jakarta. Bertemu papa Bian juga di tempat kerja tante"
Tante Lusi bercerita dengan ramah. Senyuman terus tersungging di wajah cantiknya. Dia tidak menceritakan keseluruhan pertemuan dengan papa Bian.
"Ma kita langsung ke tempat kak Danar ya?"
"Iya, Apakah Danar masih dengan pacarnya yang lama?"
"Sudah tidak lagi"
"Baguslah, Mama tidak menyukainya"
Aku menarik napas dari spion mobil memperhatikan ekspresi datar mama Bian ketika mengatakan itu.
************
Aku yang masih 20an sudah jelas kalah menawan dengan tante Lusi tiba-tiba Bian yang berjalan didepan berhenti dan menarik tangan ku untuk berjalan ke sampingnya.
"Kenapa kamu berjalan di belakang kami, Nggrek?"
"Supaya kamu bisa leluasa berbicara dengan mamamu?"
"Tapi nanti orang bisa menganggap mu, Asisten kami"
Aku mencubit Bian pelan. Tante Lusi tampak mengetahui interaksi kami tapi dia mengabaikannya. Danar sudah menunggu diruang kerjanya. Dia mencium tangan tante Lusi dengan hormat.
"Coffe shop mu cukup bagus, Danar"
"Makasih ma, Keren kan seperti pemiliknya"
Tante Lusi tersenyum kecil lalu dia mengambil posisi duduk di sofa ruangan Danar. Aku yang masih canggung memilih duduk di stool sebelah sofa.
"Anggrek kesini duduk di sebelah tante"
"Iya, Tante"
"Kalian berdua bisa keluar sekarang. Mama mau bicara dengan Anggrek. Pembicaraan wanita tentunya"
"Tapi Ma," Bian tampak keberatan tapi Danar menepuk pundaknya meminta dia mengikuti Danar keluar ruangan. Hati ku menjerit berharap Bian memilih tetap di ruangan.
Pintu ruangan tertutup dari luar. Tante Lusi memalingkan wajahnya ke arah ku. Ada sedikit kemiripan wajahnya dengan Bian.
"Tante penasaran dengan mu, Anggrek. Dari awal Danar menceritakan Bian mendekati seorang wanita sudah menggugah rasa ingin tahu, Tante"
"Iya, Tante. Bian pun menceritakan tentang mamanya kepada Anggrek"
"Oh ya tentang apa?"
"Tante yang berasal dari kota ini dan orang tua serta kakak tante yang dulunya tinggal disini"
"Iya bisa dikatakan tante pulang ke kampung halaman setiap berada di kota ini. Bian sudah menceritakan tentang keluarga kami?"
Aku diam karena bingung harus mengatakan sebenarnya atau tetap memilih berpura-pura tidak tahu.
"Iya ada yang di ceritakan Bian tentang keluarganya kepada Anggrek"
"Anak itu akhirnya dia memilih kehidupannya sendiri"
Tante Lusi menatap ku tajam tapi tidak lama seulas senyuman hadir di wajahnya.
__ADS_1
"Anggrek seandainya tante meminta kamu memutuskan Bian. Apakah kamu bersedia?" Aku terhenyak mendengar pertanyaan tante Lusi.
Tante Lusi tertawa kecil lalu menambahkan "Tentu saja tidak karena Bian pasti tidak bersedia kamu memutuskannya begitu saja karena tante sudah berapa kali meminta dia meninggalkan mu"
Baiklah sekarang tekat ku tidak seberani sebelum bertemu tante Lusi setelah mendengar penuturannya.
"Anak ku begitu menyukaimu dan membuat tante ingin tahu seistimewa apa seorang Anggrek"
"Maaf tante Lusi yang memilih dan meminta Anggrek mendampinginya adalah Bian" Aku memberanikan diri menatap tante Lusi. Dia tidak bisa mengintimidasi ku seperti ini.
"Apa alasanmu menerima Bian? Karena dia tampan atau mapan?"
"Aku bahkan tidak tahu latar belakang keluarga Bian saat menerimanya"
Aku mulai merasa ini berlebihan, Bian dengan mobil antiknya. Siapa yang menduga dia berasal dari keluarga berada.
Tante Lusi menarik tangan ku lalu meletakkan di pangkuannya. Dia tersenyum kembali sambil memainkan arloji di tangan ku.
"Berapa tahun lalu kami menghabiskan liburan di Swiss. Bian membeli sepasang arloji dan mengatakan akan memberikan kepada wanita yang dicintainya"
Tante Lusi diam lalu menambahkan kembali, "Arloji menunjukkan waktu dan manusia tidak pernah lepas dari waktu. Dia ingin wanita yang dicintainya mengingat dirinya setiap waktu"
Aku mencoba menarik tangan ku dari pangkuan tante Lusi tapi dia menahannya. Jujur saja dari awal diberikan Bian sama sekali aku tidak menduga kalau arloji tersebut original. Aku berpikir itu barang palsu karena merupakan brand terkenal di dunia.
"Anggrek, Sekuat apapun kami menolak pilihan Bian. Sekeras itu pula dia mempertahankannya. Tante akhirnya meminta Danar untuk menyelidiki mu secara keseluruhan"
"Keseluruhan maksudnya tante?"
"Keluarga, Profesi semua tentang mu dan sebagian aktivitas yang kamu lakukan selalu tante pantau di sosial media milikmu"
Aku meneguk saliva untuk kesekian kalinya. Apakah harus sedetail itu. Sekalian saja mereka meminta ku membuatkan daftar riwayat hidup. Tante Lusi mengalihkan pandangan dari arloji ke wajahku.
"Kamu gadis yang manis, baik dan pekerja keras. Bahkan saking sibuk bekerja terkadang melupakan Bian. Tante akhirnya mengalah, Apa yang menjadi pilihan Bian akan mendapatkan dukungan Tante"
Danar melaporkan sampai sedetail itu. Aku bukan mengabaikan Bian ketika bekerja. Seharusnya mereka tahu kehidupan ku bukan saja berpusat pada hubungan ku dan Bian. Ada masa depan yang harus aku rajut.
"Bian sudah menentukan pilihan, Tante tidak bisa menjaga dia seumur hidup. Saat ini dia memilihmu akan tante titipkan separuh kehidupan kepadamu"
"Iya, Tante"
"Sekarang Tante menghargai pilihan Bian. Dia mempunyai pendirian dan kemandirian untuk berdiri di kakinya sendiri. Menggunakan semua potensi diri tanpa bergantung kepada orang lain. Kalian memiliki kesamaan untuk itu"
"Terimakasih tante atas penilaian terhadap Anggrek"
"Siapapun pilihan Bian ketika dia menikah nanti akan tante anggap sebagai anak perempuan, Tante"
Tante Lusi mencari sesuatu di dalam tasnya. Tangan Ku masih berada di pangkuannya. Dia membuka sebuah kotak perhiasan dengan ukiran merek perhiasan yang sama dengan Diandra.
"Hadiah kecil untukmu, Anggrek. Tante harap kamu senang menerimanya," Tante Lusi memasang gelang di pergelangan ku.
"Tante ini sangat indah. Ini untuk ku? Terimakasih banyak ya tante"
"Bukan, Untuk Danar! Tentu saja untukmu" Dia kembali menyunggingkan senyuman. Entah bagaimana tante Lusi bisa melakukan permainan merubah ekspresi secepat kilat.
Perpaduan dari Danar, Diandra yang merupakan anak tirinya bercampur dengan Bian berada dalam diri tante Lusi. Aku mengingatkan diri bahwa satu lagi anggota keluarga Prasetya ku temui dengan kepribadian menarik.
Kreett.. Pintu ruangan terbuka dengan cepat Bian memasuki ruangan dan duduk di sofa. Dia melihat tangan ku yang masih berada di atas pangkuan tante Lusi.
"Apakah begitu caramu memasuki ruangan, Bian Prasetya?" Sepasang mata dinaungi bulu mata lentik tante Lusi menatap tajam ke arah Bian.
"Maafkan Bian, Ma tapi hari sudah menjelang malam. Apakah kita akan ke rumah dulu atau langsung ke restoran?"
"Sebaiknya kita pergi makan saja. Mama selalu memiliki energi ketika berada disini"
Bian membantu ku berdiri dari sofa. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu dia lakukan karena aku bisa berdiri sendiri.
************
Kami melewati makan malam di restoran bersama tante Lusi yang tampak tenang di samping ku. Seseorang yang belum bisa ku raba kepribadiannya.
"Danar kamu kapan menikah bahkan Diandra sudah memiliki anak"
"Pernikahan bukan perlombaan, Ma. Lebih baik aku menemukan pasangan yang tepat daripada harus terburu-buru menikah dengan orang yang salah"
Aku ingin berteriak ke kakak Danar. Baru berapa hari lalu dia mengatakan "Apa susahnya sih menjalankan pernikahan,Cinta akan datang belakangan"
"Entah harus berapa wanita yang kamu pacari sebelum menemukan yang tepat" Tante Lusi menggeleng kepalanya melihat ke Danar.
Setelah makan malam bersama, Tante Lusi meminta diantarkan keliling kota dulu. Dia ingin melihat perkembangan kota dimana dirinya dilahirkan.
Perjalanan kami berakhir di kediaman keluarga Bian. Aku tidak terlalu lama berada di sana setelahnya Bian berpamitan mengantarkan ku pulang.
"Sayang, Mama bicara apa saja?
"Berbicara mengenai hubungan kita. Intinya mamamu mendukung apapun pilihan yang kamu ambil dan lihat lah gelang ini. Hadiah dari mamamu"
"Aku sempat khawatir tadi mama membicarakan hal yang membuatmu merasa tidak nyaman. Besok mama mau ke pantai sebentar lalu ke bandara. Kamu bisa ikut?"
"Sepertinya bisa"
"Anggrek satu lagi boleh aku memintamu melakukan sesuatu?"
"Iya, Bian ada apa?"
"Panggil aku kakak Bian ya jangan memanggil nama. Selain usia ku lebih tua darimu, Kamu juga kekasihku"
Aku memandang Bian, Hari ini dia memang tampak berbeda. Apa perasaan ku saja atau emang ada perubahan.
__ADS_1
"Iya baiklah kak Bian sayang. Sekarang fokus menyetirnya"
***********