
Usia hanya lah angka yang tertulis, usia tidak menentukan seberapa besar kedewasaan. Menurut ku tempaan kehidupan lah yang menentukan 'kedewasaan' .
Caption Anggrek hari ini dalam usia 1/4 abad
************
Aku sudah menginjak usia 25 tahun. Beberapa teman ku sudah menikah dan mempunyai anak di usia 25 tahun. Sedangkan diri ku masih di dalam mobil bersama pria yang membuat hati panas dingin. Kami diam sepanjang perjalanan karena tidak tahu harus berbicara apa.
"Kita gak bisa cepat ya, Nggrek". Bian memecahkan keheningan yang tercipta.
"Eh iya". Sedari tadi kecepatan mobil Bian memang dalam keadaan sedang. Aku sih tidak mempermasalahkannya.
Selanjutnya kami kembali diam sibuk dalam pikiran masing-masing tapi untuk sesaat kemudian Aku baru menyadari bukan kah Bian belum pernah ke rumah.
"Kamu tahu rumah Ku?"
"Gak". Bian menjawab santai.
"Haaaah?" Aku melongo kaget ke arah Bian. Tampang Bian masih tampak santai dan asyik mengetuk jemarinya di stir mobil.
"Aku belum pernah ke rumah kamu kan, Ngrek?".
Aku menelan saliva mendengar pertanyaan Bian. Dia yang berinisiatif mengantarkan aku pulang lalu aku yang mengiyakan dan langsung ikut masuk ke dalam mobil.
Jadi disini siapa yang salah? Bian yang tidak pernah menanyakan dimana rumah ku atau justru aku yang tidak terpikirkan kalau Bian pasti tidak tahu dimana aku tinggal karena memang dia belum pernah berkunjung ke rumah..
"Maaf Bian tadi aku gak beritahu alamatnya. Aku pandu aja ya jalannya. Kita melewati jalan pintas saja biar gak terlalu lama. Kamu kan harus kembali lagi ke acara Nat dan Gege"
"Oke". Bian kembali menjawab singkat.
"Kita masuk ke Jalan Sudirman nanti perempatan tower TJ Megah belok kanan menuju ke arah Bukit Jaya. Dari Bukit Jaya nanti masuk ke perumahan Asri Permai".
"Oke".
"Ihh kamu kayak RCTI aj, oke mulu". Bian tampak kaget melihat reaksi Ku.
"Eh maaf ya bercanda kok". Dia mengangguk tersenyum tipis membuat lekuk lesungnya menyembul menawan.
"Suka mobil antik." Aku bertanya basa basi.
"Suka". Bian menjawab irit.
"Bagus ya". Aku menepuk-nepuk dashboard mobil berharap empu yang punya mobil bisa menjawab lebih dari satu kata.
"Kalau foto pakai mobil ini keren kali ya ".
"Mau?." Bian menoleh ke arah Ku.
"Hah?." Aku menajamkan pendengaran. Dia menanyakan apa ya tadi.
"Maksud Ku, kamu mau foto dengan mobil ini"
"Jadi malu." Aku tersenyum kecil kepada Bian.
__ADS_1
"Kenapa malu? Kamu kan sudah terbiasa difoto. Oh ya, Kamu juga pernah menggunakan jasa teman-teman Ku ya,Nggrek."
Aku menoleh tercengang. Oalah pantesan si ganteng ini mau nganterin aku. Dasar dodol aku aja yang GR ternyata dia cuma pendekatan untuk mendapatkan job.
"Eh iya bener juga hehe. Nanti aku juga bisa menggunakan jasa mu ya, Bian?. Boleh di kirimkan price list untuk pemotretan."
Bian menoleh sambil menyungging senyum tanpa memberi jawaban.
"Blok berapa?"
Aku menoleh ke jendela ternyata sudah memasuki perumahan tempat tinggal Ku.
"Blok A nomor 9."
Bian memarkirkan mobil didepan rumah tapi dia menolak untuk masuk dan Aku pun melepas mobil antik yang berjalan menjauhi ku dengan hati masygul.
Aduh cowok ganteng bukan jodoh ku kali ya. Apa mesti operasi plastik dulu biar cantik dan menarik.
***************************************
Aku sedang di butik sembari mengedit beberapa foto pakaian jualan butik kami. Pengunjung tidak terlalu ramai seperti biasanya. Kadang aku berpikir ketika pertama kali membuka butik bersama Natasha apakah akan ada yang membeli pakaian setiap hari. Ternyata selalu ada orang yang membeli pakaian kami baik secara online maupun yang langsung datang berkunjung.
Bahkan di era pademi ini selalu ada orang-orang yang pandai memanfaatkan situasi sehingga tetap menghasilkan. Seperti pelanggan kami Juwi selama Pademi ini dia menjual minuman kesehatan dari Jus lemon, makanan sehat, berbagai jamu dari rempah. Ada juga penjahit kami yang beralih menerima orderan masker juga katanya teman dia jualan masker selama pademi sekarang semakin maju usahanya.
Penikmat digital juga seperti haus akan konten yang kreatif,lucu dan update. Kota yang masih zona merah memaksa penduduknya untuk tetap dalam rumah sehingga mencari hiburan tanpa harus berada di luar rumah.
Aku memasang beberapa foto pakaian kami di sosial media dan membalas beberapa respon yang masuk.
Pesan hijau di gawai pribadi berbunyi. Aku memang menggunakan dua nomor, Gawai pribadi ku hanya berisikan kenalan saja. Nomor tersebut tidak di kenal tetapi ketika membuka pesan yang masuk ternyata dari Doni.
"Siang, Nggrek sudah makan belum?".
"Belum Don masih ada kerjaan".
"Jangan telat makan percuma dong rajin olahraga kalo pola makannya berantakan".
"Hehe.. iya Don bentar lagi "
"Makan dimana?"
"Belum tahu mungkin aku pulang,Don".
"Hmm kamu sibuk ya?"
"Enggak juga Don, ada apa?".
"Makan diluar yuk ntar aku jemput." Aku tidak membalas pesan tersebut. Ada kegamangan dihati.
"Gak bisa ya?"
"Bisa kok Don ntar jemput aja ya di butik ku". Aku menulis alamat butik setelah memikirkan kalau Doni hanya menganggap ku sebagai teman lama.
"Iya satu jam lagi ya".
__ADS_1
"Oke, Don".
Aku segera ke lantai atas butik dimana tempat ini ada satu space yang ku khususkan untuk ruangan pribadi jadi ketika penat mengurusi butik. Aku bisa bersantai disini.
Ruangan ini berukuran 4x3 meter. Aku dan Natasha menyewa jasa interior sehingga bisa memaksimalkan ruangan ini. Aku mengambil posisi duduk dan mulai menggunakan peralatan makeup.Beruntung hidup di jaman sekarang walau wajah ku tidak cantik tapi dengan make-up rapi dan kulit yang sehat. Menunjang penampilan yang segar dilihat.
Doni datang lebih awal dari yang dijanjikan. Aku bergegas turun ke bawah menghampiri dia.
"Makan di mana?"
"Rumah makan Sari Segar yuk. Dia spesial makanan rumahan"
"Boleh Aku belum hapal tempat disini". Doni mengikuti langkah ku keluar dari butik.
Doni hari ini membawa mobil bukan motornya. Setidaknya aku tidak perlu merasa tidak enakan karena motor sport tidak memungkinkan untuk 'social distancing'. Aku bisa risih nantinya.
Kami duduk di sudut rumah makan Sari Segar. Interior rumah makan ini biasa saja tapi rasanya yang luar biasa membuat aku selalu kepincut untuk mampir.
"Nggrek kalau makan sama aku nanti tidak masalah kan?"
"Masalah gimana?"
"Ntar ada yang marah misalnya?". Aku tergelak kayak ABG saja pertanyaan Doni.
"Ya enggaklah." Aku menjawab sambil menggelengkan kepala.
"Pacar mu?." Ada nyeri di hati ketika Doni menanyakan hal itu. Pertanyaan yang mengingatkan Ku pada sosok Adi.
"Enggak punya." Aku menjawab singkat dan Doni cuma mengangguk.
"Kalau kamu?". Aku balik bertanya.
"Eh Aku ya? Enggak ada yang marah kok ,Nggrek".
"Jomblo bahagia dong kita ya." Aku tertawa lepas merespon jawaban Doni.
"Nyaris"
"Haah maksud mu nyaris jomblo"
"Aku sudah menikah, Nggrek tapi saat ini hubungan kami sedang dalam proses perceraian. Kemarin aku ke Bandung untuk menghadiri sidang karena masih ada kendala perebutan hak asuh anak"
Aku tersedak mendengar jawaban Doni. Berarti saat ini sedang aku sedang makan bersama suami orang karena putusan pengadilan belum resmi keluar.
"Kok kamu gak bilang,Don. Aku kan jadi gak enak makan bersama suami orang kan belum resmi cerai". Aku berkata gusar.
"Maaf Nggrek tapi kita kan bukan di Bandung. Tidak ada yang tahu juga. Maaf ya aku belum cerita, kita juga kan baru bertemu kemarin. Masa Aku cerita masalah pribadi"
Aku menghela napas. Ya ampun Mama ada aja problem cowok yang mendekati Ku.
Berarti Doni sudah memiliki anak. Usia berapa anak Doni dan mengapa dia cerai dengan istrinya. Doni sebaya dengan ku dan memiliki seorang anak sebentar lagi akan menyandang status duda.
Aku ingin menanyakan hal tersebut kepada Doni tapi kemudian ku urungkan juga. Belum saatnya untuk bertanya apalagi status kami hanya teman lama. Tepat ketika suasana menjadi canggung waitress datang mengantarkan pesanan. Setidaknya bisa menyelamatkan suasana saat ini.
__ADS_1