Viral

Viral
110. Lamaran


__ADS_3

Seperti yang ku katakan dulu


impian ku sederhana


hmm... salah satu impian ku


karena aku banyak impian sekarang


Menikah dengan orang yang ku cinta


sekarang impian itu


tinggal menghitung hari


******


H-2


Setelah berapa tahun bekerja kantor dan memulai usaha, Untuk kali pertama aku menghabiskan waktu tanpa mengerjakan apa pun. Mama tidak memperbolehkan pergi keluar dari rumah.


Setahu ku biasanya dilakukan sebelum pernikahan, Itu juga bagi sebagian orang tidak berlaku.


Saat di kantor dulu, Beberapa rekan justru berapa hari sebelum hari-H masih kerja. Mereka memilih lebih lama cuti setelah menikah, Agar mempunyai waktu lama untuk honeymoon.


"Natasha, Ada referensi drama korea yang bagus enggak? bosen di rumah. Mama aneh ih, Harusnya sebelum nikah gak boleh kemana-mana. Ini kan baru lamaran," keluh ku ketika menelpon Natasha.


"Wajar saja, Nggrek. Kalau aku jadi emak mu justru bakalan aku ikat biar gak kelayapan. Kan gawat nanti pulang kelayapan, Calon lakinya beda orang lagi," balas Natasha membuat ku gemas. Dia masih ceplas-ceplos.


"Ah, Parah kamu Natasha. Nyebelin tau!"


"Haha... Emangnya kamu gak nyebelin? baru acara nikahan si Tania kemaren lho pacaran sama Kenzo. Pas kamu ke rumah mengundang buat acara lamaran, Eh Bian yang digandeng. Aku sama Nadia, Shock tau!"


"Namanya jodoh, Nat hehe...,"


"Sudah make-up trial belum? sebenarnya buat nikahan sih tapi daripada kamu uring-uringan mending make-up trial buat acara lamaran nanti,"


"Buat apa? iseng banget,"


"Make-up trialĀ itu kesempatan bagi MUA untuk mengenal struktur wajah calon pengantin, sekaligus mendengar masukan dari kita maunya seperti apa, Coba hubungi Laura. Siapa tahu dia ada waktu luang,"


"Okelah ntar aku coba hubungin, Laura,"


......__--___--___---__--......


Aku sudah di depan cermin dengan Laura di samping. Ternyata dia cantik alami walau dengan riasan tipis hari ini. Laura mengeluarkan pallete make-up, Di samping ada Natasha yang sengaja mengunjungi ku.


"Aku mau yang flawless tapi masih cetar ya, Laura,"


"Siap, Anggrek. Kebaya mu warna apa untuk lamaran supaya bisa di sesuaikan dengan riasan,"


"Warna dusty, Laura,"


"Kenzo tahu kamu lamaran gak, Nggrek?" tanya Natasha.


"Ya enggak lah Nat, Ini juga acaranya tertutup nanti jangan di posting di sosial media ya," jawab ku sedikit khawatir karena latar keluarga Bian. Nanti bisa heboh sebelum waktunya kalau followers ku kepo mencari tahu.


"Eh iya tapi Kenzo ganteng sih, Dia pasti cepat dapat pengganti lagi, Hihi...," komen Natasha untuk kesekian kalinya dia memuji Kenzo.


"Ken tidak semudah itu mencari pengganti, Dia jomblo berkualitas. Kelihatan gampang di dekati karena humble dengan setiap orang. Padahal beuuhh...," ucap Laura menerbitkan senyuman di bibir ku. Tak banyak yang tahu betapa perfeksionis Kenzo. Dia menyukai wanita yang bisa memahaminya.


Laura mulai membersihkan wajahku, "Anggrek kamu tahu kabar Adiwarna?" tanyanya.


"Enggak tahu, Laura. Sudah lama tidak mendengar kabar Adi,"

__ADS_1


"Dia selingkuh dengan karyawannya, Berapa waktu lalu heboh kok. Cahya melabrak karyawati Adi. Sempat di sosial media Cahya, Foto Adi hilang,"


"Lucu banget ya, Giliran dia di selingkuh malah main labrak. Kamu kemarin gak mau labrak Cahya, Nggrek?" canda Natasha sambil nyengir lebar.


"Ogah, Ambil saja," jawab ku sambil mengibaskan rambut.


"Haha... Aku suka gaya mu, Nggrek. Dulu aku pernah ngemis minta balikan sama mantan yang selingkuh. Tahunya dia milih selingkuhannya. Nyesek banget," ujar Laura.


Aku sama sekali tidak menyangka secantik Laura pernah diselingkuhin dan mengemis cinta. Ah, Dalam kasus ku lebih baik menghabiskan waktu dengan meningkatkan kualitas dan potensi diri daripada berharap dengan orang yang tidak menghargai arti kesetiaan.


Setelah berapa kali trial akhirnya aku mendapatkan make-up yang ku inginkan. Make-up natural dengan sapuan blush on berwarna pink dengan lipstik nuansa dusty rose sesuai warna kebaya.


"Cantik," puji Natasha dan Laura.


......___--___---__......


H-1


Mama dan tante Ima, Bolak-balik ke hotel Citra Nusa memastikan kesiapan acara. Papa dan Dewo sedang menuju ke rumah kakek dan nenek untuk menjemput mereka.


Rumah ku mulai ramai dengan kedatangan saudara kami dari luar kota. Sebagian menginap di rumah, Sebagian besar di hotel Citra Nusa tempat acara berlangsung.


"Kenapa tidak di langsungkan di rumah saja? tanya kakek kepada mama.


"Ruangan maupun halaman yang ada kurang memadai, yah untuk melangsungkan lamaran," jawab mama. Kakek dan nenek mengiyakan juga melihat kondisi rumah kami.


Trrtt...trrttt


Dering telpon memberitahu pesan masuk dari Bian.


"Sedang apa sayang?"


"Lagi ngbrol sama kakek, nenek dan saudara. Kamu sedang apa, Kak?"


"Menemani papa dan kak Danar meninjau lokasi proyek, Keluarga ku sudah datang malam kemarin,"


"Di tempat kamu dan Dion minum kelapa berdua,"


"Aduh...,"


"Sakit, hehe? gak sabar besok sayang,"


"Sama, sayang,"


"Sampai ketemu besok, Sayang. Miss you, Anggrek,"


"Miss you too, Kak,"


Aku menutup layar handphone dan kembali bergabung bersama saudara mama dan papa.


......__-------__------___......


Jumat (Prosesi Lamaran)


Pagi ini, Kesibukan mulai terasa. Keluarga ku mulai bersiap untuk acara malam nanti. Sebagai pemeran utama tentu saja aku mendapatkan perlakuan spesial, Menjelang siang kami menuju ke hotel Citra Nusa.


Hari terasa begitu cepat seiring debaran jantung yang terasa kuat berdetak. Aku sampai khawatir terdengar karena kebahagiaan ini akhirnya menghampiri ku.


Laura menyemprotkan face mist ke wajah 'mengunci' make-up. Semua sahabat mengelilingi ku. Tania, Natasha dan Nadia yang semula tidak hadir tenyata menyempatkan diri untuk datang,


Mereka merapikan rambut, kebaya panjang dan kain ku. Kami bersama keluarga berjalan menuju tempat prosesi lamaran.


Ballroom hotel Citra Nusa memiliki tata ruang artistik sehingga tak memerlukan banyak dekorasi tambahan. Kami menunggu kedatangan mempelai pria.

__ADS_1


Prosesi lamaran di mulai.


Keluarga Bian memasuki Ballroom ruangan. Dari belakang samar-samar aku mendengar suara keluarga kami, Memuji paras menawan mereka.


Master of ceremony mulai memandu acara. Acara dimulai dengan doa lalu pihak keluarga Bian yang di wakilkan om Reinald papa Tasya, Menyampaikan maksud kedatangan mereka.


Netra ku bertubrukan dengan kekasih hati, Calon suami ku. Dia dalam balutan batik begitu tampan dan menawan hati. Aku tak akan pernah rela melepaskan lagi.


Selanjutnya MC mempersilahkan perwakilan keluarga kami, Di wakilkan oleh Om Afgan yang merupakan kakak papa. Menyatakan bahwa lamaran diterima. Aku memandang ekspresi Setya dan tante Lusi, Calon mertua ku.


Entah terbawa perasaan yang sedang bahagia, Aku merasa om Setya tampak terharu.


Acara selanjutnya beralih ke penyerahan seserahan. Kak Diandra dan Tasya memang tak pernah gagal tampil memukau. Mereka lah yang mewakilkan keluarga menyerahkan seserahan.


"Emasnya satu kilo ya?" bisik-bisik sepupu ku.


"Iya 1000gr, 10 batang emas, . Ada anting dan gelang berlian merek 'T*ffany' juga," jawab sepupu ku yang lainnya. Aku melirik ke arah mereka membuat keduanya cengegesan.


Atensi kami teralihkan ketika master of ceremony meminta aku dan Bian maju. Kami saling mengenal hampir tiga tahun tapi perasaan malu hadir kali ini.


Wajah ku terasa merona ketika cincin berlian di sematkan Bian di jari manis ku. Tangan Bian terasa dingin dan bergetar sempat dia salah memasukkan cincinnya, Dia grogi.


Sampai di penghujung acara setelah di tutup dengan doa. Keluarga kami saling mengenal, Aku dan Bian bergabung bersama orangtua kami.


Perubahan drastis pada om Setya dan Diandra, Mereka tampak berbincang akrab dengan papa dan mama. Bahkan suami kak Diandra yang hanya diam saat jamuan makan siang di rumah Bian, Aktif bicara banyak hal.


"Kak, Papa mu dan Kak Diandra tampak lebih welcome?" tanya ku ketika kami ada kesempatan berdua di tengah keramaian.


"Iya setelah mendapatkan teguran keras dari kakek Danny, Kamu masih ingat kan? silsilah keluarga kami kalau aku bukan darah daging keluarga Anugrah. Sebenarnya dari pihak kakek Danny dan Denny Anugrah, Mereka menebus rasa bersalah, sekaligus tanda terimakasih karena membantu Tasya" jelas Bian.


Dia menurunkan intonasi suaranya, "Mereka merasa selama ini kurang memberi kasih sayang pada ku. Tidak seperti kak Danar dan Diandra yang merupakan cucu kandung, Jadi setelah aku membantu Tasya lalu. Kakek dan orangtua Tasya memang menjanjikan untuk membantu ku kalau membutuhkan pertolongan,"


"Dan kamu meminta bantuan untuk melunakkan orangtua mu,"


"Iya sayang makanya kamu bisa bayangkan jika kita gagal menikah. Seperti apa hancurnya aku, Setelah apa yang ku lakukan untuk meminta persetujuan mereka,"


"Pssttt... Sudah sayang, Kita kan sudah bersama sekarang," ucap ku sambil memamerkan cincin yang di sematkan Bian.


"Cincin yang bagus, Anggrek," puji seseorang membuat ku menoleh, Cleo.


"Cleo!"


"Aku hanya bertugas mengurus keperluan pak Bian," ujarnya sambil berlalu dengan senyuman penuh arti.


Tidak terasa prosesi lamaran selesai. Keluarga kami memutuskan untuk pernikahan dilangsungkan dua bulan lagi. Berarti kami harus menyiapkan semua kebutuhan mulai besok.


Aku bersalaman dengan keluarga Bian yang menyambut hangat. Setelah sebagian besar keluarga Bian meninggalkan gedung, Tasya menghampiri ku dan Bian.


"Bi dan Anggrek, Untuk acara nikahan nanti menggunakan kebaya atau gaun?" tanya Tasya.


"Aku masih bingung, Tasya. Mungkin keduanya, Kebaya untuk akad dan gaun resepsi,"


"Sebaiknya cepat putuskan, Nggrek karena Zannah Jovanka tidak bisa di pesan mendadak. Aku bisa membantu mu tapi ya tetap tak bisa mepet," saran Tasya.


"Hmmm... Apa tidak terlalu mahal ya buat rancangan Zannah?" tanya ku yang justru di sambut tawa Tasya.


"Haha... Kamu merendahkan calon suami mu, Nggrek. Memangnya kamu tidak tahu pekerjaan Bian? dia jauh lebih sanggup dari yang kamu perkirakan untuk membelinya, Beliin donk, Bi," Tasya menyenggol lengan Bian yang menampilkan ekspresi berbeda.


"Iya sayang, Kamu bisa mempercayai Tasya mengatur semuanya. Apa pun yang kamu perlukan katakan saja, Mulai hari ini kamu akan menjadi tanggung jawab ku," kata Bian sambil menatap manik mata ku.


"Tuh kan, Kamu hanya tahu pekerjaan dia disini, Nggrek," Tasya masih menyembunyikan tawanya.


"Baiklah,"

__ADS_1


Ah, Calon suami ku memang tak pernah dapat di duga. Aku tahu selain fotografer studio di daerah seperti kami, Dia juga produser eksekutif. Rupanya Bian memiliki pekerjaan lain lagi.


Dia memang 'buku' kesayangan ku yang meminta untuk dibaca sampai tuntas. Kali ini aku sudah membuka sebagiannya, Selanjutnya sekarang jauh menjadi lebih mudah untuk 'dibaca'.


__ADS_2