Viral

Viral
34. Siapkah Jika Perempuan itu Kamu, Anggrek?


__ADS_3

Satu kalimat yang mengacaukan harimu..


**********


Satu kalimat yang di ucapkan Bian kemarin sore masih tergiang di telinga. Wajah ku memerah sendiri. Tanpa sadar menuangkan kecap pada roti tawar, mencampur garam pada cangkir teh membuat seisi rumah muncrat ketika meminumnya.


"Kamu nyuruh tensi Papa naik ya, Nggrek. Teh kok di campur garam."


"Iya Pa tadi Dewo lihat kak Anggrek menggunakan kecap di roti tawarnya. Dewo pikir mungkin Kak Anggrek mau mencoba gaya baru makan roti tawar dengan kearifan lokal taunya dia mual sendiri pas makannya."


"Anggrek kok sukulen Mama ada dikamar mu. Ini sukulen asli lho bukan yang artifisial. Mama sudah bilang yang dikamar mu pakai artifisial saja. Kamu suka malas siram tanaman Mama. Sukulen tetap butuh air walau tidak setiap hari."


"Iya.. iya semua maaf ya. Anggrek pamit dulu." Aku menyalami Papa,Mama, Dewo. Bergegas menuju butik sebelum mereka menyemprot atas keteledoran ku pagi ini.


Setelah memberikan instruksi pada pegawai ku di tiga cabang Miepa. Aku menuju butik untuk membahas sesuatu dengan Natasha.


Langkah ku terasa ringan memasuki lantai dua butik. Aku mengetuk pintu ruang pribadi Ku dan Nat ketika suara Natasha mengizinkan masuk. Aku segera memasuki ruangan. Natasha tampak lebih gemuk dan perutnya mulai kelihatan membesar.


"Aiissshh bumil moga cepat nular." Aku menggosok perut Natasha.


"Hussh cari laki dulu baru bisa hamil"


"Iya ntar aku cariin." Aku manyun sambil menarik kursi. Duduk di depan Natasha yang dibatasi meja. Di atas meja ada buku berisikan barisan nomor telpon.


"Nggrek, Gimana ya kalo kita menggunakan brand sendiri untuk butik?"


"Aku sempat kepikiran tapi bingung mencari penjahitnya." Aku memandang serius pada Natasha.


"Sebenarnya kita bisa mengambil dari pabrik yang memproduksi dalam skala besar. Mereka tidak memberi label pada produknya tapi sistem ini akan menyebabkan banyak kesamaan pakaian kita dengan toko lain."


Aku mengetahui yang disampaikan Natasha karena ketika kita belanja online. Sering menemukan pakaian yang sama persis dengan merek berbeda.


"Brand kita nanti tidak ekslusif." Aku mengetukkan pensil pada kening.


"Belajar dari usaha teman ku, Kita bisa menggunakan jasa penjahit yang menyediakan bahan pakaian dan bisa menerima pesanan sesuai model yang kita inginkan. Kekurangannya dari sistem ini model pakaiannya standar. Seperti kemeja, outer, tunik."


"Menurut ku ini sesuai dengan kemampuan butik Kita. Jadi nantinya kita bermain dengan motif kain. Bukankah ada pabrik konveksi yang bisa mencetak sesuai kita inginkan." Aku menyetujui gagasan Natasha. Usaha kami tergolong baru sehingga kami memilih mencari yang memudahkan untuk kelancaran usaha.


"Jadi sistem ini ya? Deal ya? Aku sudah mendapatkan nomor dari beberapa jasa penjahit. Mereka bisa memberi contoh hasil yang kita mau. Nanti kita akan compare mana yang memiliki jahitan paling rapi dan model menarik."


"Deal." Aku menyetujui Natasha.


Kalau begitu kita membutuhkan admin untuk memegang penjualan online. Mencatat dan membalas order karena tidak bisa terpaku pada toko offline saja. Siapa ya yang bisa?". Otak ku berpikir mencari teman yang bisa melakukannya.


"Tania! Aku mendapat kabar kalau dia bergiliran masuk kerja di hotel. Mereka sudah menggunakan shift hari dan gajinya pun mengalami pemotongan. Sejak pademi hotel mereka sepi jadi dia memiliki waktu luang."

__ADS_1


Akhirnya kesepakatan itu kami ambil. Mencoba hal baru itu menyenangkan. Tania yang akan memegang admin butik kami. Langkah awal untuk mengembangkan usaha di tengah pademi ini.


"Eh arloji baru ya, wuiih keren." Tania menyentil pergelangan tangan ku. Aku cuma nyengir belum siap untuk menceritakan semua hal yang ku temui selama tidak berdua dengan Natasha. Mungkin berapa waktu ke depan lagi.


*********


"Siang Nggrek, Jangan lupa makan."


"Makasih, Bian. Kamu juga ya."


"Iya, Anggrek sedang dimana?"


"Kontrol rumah ku yang sedang dibangun."


"Wah selamat ya. Hati-hati."


"Baik Bian, Terimakasih ya."


"Sama-sama. Jaga kesehatan selalu semoga diberikan kelancaran ya Anggrek."


"Iya Bian."


Aku menutup pesan hijau dengan hati berbunga-bunga lalu mengambil gambar rumah ku. Ada perasaan bahagia ketika bangunan mulai terlihat. Bangunan rumah tidak terlalu besar tetapi space halaman yang tersisa cukup luas.


Rumah ku masuk jalan kecil yang bisa dilewati satu mobil. Sebelah rumah ku, Kebun jambu air milik orang lain. Sedangkan sebelah lagi rumah tua yang sudah lama kosong. Di seberang rumah sudah banyak rumah penduduk. Tidak jauh dari area sini terdapat banyak perumahan. Baik perumahan komersil atau perumahan subsidi.


"Rumah siapa Nggrek, Familiar bagiku karena sering melewati jalan depan rumah ini. Jalan pintas menuju rumah ku ketika mau ke rumah Paman."


"Punya Ku, Don."


"Oh gitu, Nggrek boleh aku mampir ada yang mau ku bicarakan. Kebetulan aku sedang berada tidak jauh dari lokasi rumahmu."


"Oke, Don."


15 menit kemudian Doni datang menggunakan motornya. Dia masih atletis dan tampak maskulin di atas motornya.


"Siang Nggrek, Maaf menganggu."


"Iya.. Santai saja aku sedang mengawasi tukang kok."


"Nggrek, Ada yang ingin ku sampaikan berkenaan dengan rumah ini."


Bulu kuduk ku meremang mendengar perkataan Doni. Sebelah rumah ku kebun jambu air yang cukup luas, sebelah lagi rumah tua. Jangan-jangan ada kejadian mistik.


"Kamu pucat, Nggrek." Doni tampak khawatir.

__ADS_1


"Tidak, Aku baik- baik saja. Apa yang mau kamu sampaikan, Don?"


"Hmmm.. Kamu ada niat tidak ya menjual rumah ini? Lokasinya sesuai dengan usaha ku. Rencananya ke depan aku mau mencari tempat yang bisa dijadikan lokasi menjual ayam potong ku dan pusat sayur mayur serta sembako. Di daerah sini padat perumahan. Pasti banyak keluarga tinggal disini."


Aku menarik napas lega. Pikiran ku sudah mengembara memikirkan para makhluk astral dan sahabatnya.


"Aku juga rencananya untuk dapur dagangan ku, Don. Maaf ya Don karena mencari lahan yang cukup luas tapi tidak terlalu jauh dari jalan besar cukup susah."


"Iya kamu benar, Nggrek. Lokasi rumah ini juga lebih tinggi dari jalan jadi adem ya." Rambut Doni tersibak angin menarik ku dimasa kami SMP. Duduk di bangku semen depan sekolah menunggu jemputan orangtua.


"Bener, Don." Aku membenarkan helaian rambut yang menutup mata karena dipermainkan angin. Aku melihat Doni memperhatikan pergelangan tanganku.


"Arloji yang bagus." Ada tarikan senyuman dengan sedikit sudut ke atas.


"Oh iya kah? Makasih Don." Aku tidak tahu mesti menanggapi apa tapi kata Mama mengucapkan terimakasih saat dipuji menandakan sopan santun.


"Arloji mu couple dengan Bian ya?"


"Haahh." Aku menyampirkan rambut di belakang telinga memastikan pendengaran ku tidak salah.


"Iya, Aku pernah melihat arloji yang sama digunakan oleh Bian saat dia mengantarkan ku pulang." Doni mengamati lekat arloji ditangan ku.


Tanpa sadar aku memainkan arloji pemberian Bian. Kok bisa ya aku tidak jeli melihat apa yang digunakan Bian, Apa karena dia suka berganti arloji karena aku pernah melihat dia menggunakan arloji berbeda. Doni bahkan lebih tahu dari ku.


"Ini edisi limited edition, Anggrek. Makanya Aku ingat pernah digunakan oleh Bian. Apakah Bian pacar mu?". Intonasi suara Doni lebih pelan dari biasanya.


"Tidak, Dia teman ku."


"Oh iya kah." Ada sunggingan dalam senyuman kecil di bibir Doni.


"Iya." Aku menjawab pelan. Sebuah ketidakpastian dalam hubungan Aku dan Bian ke depan membuat ku saat ini membiarkan mengalir dulu. Menikmati rasa yang enggan ku tinggal tetapi terlalu sulit bersatu.


"Bian masih lajang. Dia masih bebas menentukan pilihan Sedangkan aku seorang duda tidak mudah bagi perempuan menjadi istri sekaligus ibu dari anak yang bukan darah dagingnya." Mata Doni menerawang ke depan.


"Pasti suatu hari ada perempuan itu Doni. Kamu menarik, baik, ulet. Tinggal menunggu waktu saja."


"Oh ya?". Doni menoleh kearah Ku. Wajahnya masih seganteng dulu ketika jantung ku selalu berdegup ketika dia memandang di saat SMP.


"Iya aku yakin itu." Aku tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala. Menegaskan apa yang Ku yakini.


"Apakah kalau perempuan itu adalah kamu yang ku maksud? Kamu cinta pertama ku saat SMP, Nggrek tapi jarak memisahkan kita tetapi rasa itu hadir kembali ketika aku bertemu mu lagi. Siapkah kamu kalau sekarang, Nggrek?" Doni menatap ku lekat. Aku langsung gelagapan tidak siap dengan pertanyaan itu.


"Bahkan kamu pun belum tentu mau. Aku pulang dulu ya, Nggrek. Aku harap tidak merubah apapun karena hal ini. Aku tetap ingin berhubungan baik dengan mu." Wajah itu tampak terluka sebelum dia melaju pergi dengan motornya.


Jantung ku kembali berdegup. Sebuah rasa dan asa dari masa lalu kembali hadir mengusik hati ku.

__ADS_1


*******


Pernah gak mendengar istilah saat jomblo ada masa tidak ada satu pun orang tertarik sama kita tetapi ada masa ketika kita bingung memilih karena saat bersamaan ada yang menyukai kita.. Jadi tetapkan pilihan sama yang serius sajalah.😂


__ADS_2