Viral

Viral
97. Semakin mendekati Grand Opening


__ADS_3

...Memantapkan pilihan hati...


...apakah merupakan ujian...


...sebelum pernikahan?...


...Jika iya aku tinggal...


...menata hati untuk...


...memegang teguh pilihan yang ku ambil...


******


Aku dan Ken memasuki kafe Black and White, Dia masih menggandeng ku. Beberapa waitress menyambut kedatangan kami. Sebenarnya tidak salah dengan greeting standar kafe ini yang salah perasaan saja.


Saat keluar dari ruangan Danar ketika bertemu Bian. Aku berpapasan dengan beberapa waitress, Walau tidak ingat yang mana waitress-nya. Aku merasa mereka tahu apa yang terjadi dulu saat bertemu dengan Bian, Sebuah perasaan saja yang timbul tanpa ku minta.


"Sayang, Aku tidak ikutan menghampiri Danar ya? tangan ku menarik Kenzo. Dia berhenti lalu mengarahkan untuk duduk. Seorang waitress menghampiri kami sambil membawa menu.


"Kenapa? aku sudah menghubungi dia sebelumnya untuk bertemu" tanya Ken ketika kami sudah duduk di meja dalam kafe.


"Kamu datang mewakili organisasi mu, Menurut pendapat ku. Sebagai pihak di luar organisasi. Aku tidak perlu bertemu Danar juga," jelas ku, Ken menulis pesanan lalu dia menyodorkan kepada ku.


"Iya, Kamu benar. Pesan saja dulu, Aku yang akan bertemu Danar," jawab Ken sambil mengambil handphone.


"Kamu masih disini? kenapa tidak ke ruangan Danar" tanya ku tanpa sadar. Ya, Aku tidak menyadari pertanyaan tersebut akan menjadi bumerang


"Ruangan? aku tidak tahu ruangan Danar dimana?"


"Tidak jauh dari pintu keluar di samping kafe, Berada di depan koridor menuju toilet, Aku bisa mengantar mu tapi hanya di depan pintu saja ya," jelas ku dan untuk detik berikutnya rasa sesal menghantam hati.


Ken meletakkan handphonenya, Kedua tangannya sekarang berada di atas meja, Jarinya bertautan. Dia memejamkan mata untuk sesaat, lalu ketika kedua matanya terbuka. Manik coklat Ken menatap tajam ke arah mata ku, Mencari sebuah kebenaran.


"Kamu tahu sekali ruangan Danar. Kamu pernah masuk ke ruangan itu? kapan?" sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban.


Aku tahu sekarang sedang terpojok. Ken adalah pemimpin sebuah organisasi. Dia memiliki kemampuan ber-diplomasi. Betapa bodohnya aku, Terjebak pada alur pengaruh Ken untuk mencari tahu keterlibatan Bian dalam hidup ku.


"Ya, Pernah saat menandatangani perjanjian sewa dengan Bian," aku tak bisa menyembunyikan lagi kali ini.


"Kenapa tidak di notaris, Anggrek?!


"Perjanjian sewa dibawah tangan, Ken. Bukan perjanjian notariil,"


"Berapa harga sewa pertahunnya," tanya Ken dan detik berikutnya kedua manik coklat dibalik kacamata itu menyala, Ketika mendengar aku menyebutkan nominal harga sewanya.

__ADS_1


"Harganya jauh sekali di bawah pasaran. Tidak masuk akal, Di bilangan Sudirman dengan lokasi gedung sebesar itu. Ditambah renovasi ditanggung pihak penyewa...." dia menggeleng sambil menatap ku "Aku bahkan nyaris tidak heran jika dia memberikan secara cuma-cuma pada mu,"


"Ken, Aku tidak pernah mencampuri pekerjaanmu. Kenapa kali ini kamu mencari tahu sedetail ini,"


"Karena gedung itu milik mantan mu, Aku tidak mencampuri urusan pekerjaan tapi urusan hubungan kita, Aku berhak untuk menjaga hubungan kita dari pihak lain,"


"Aku tetap memegang komitmen kita dan kesetiaan ku tidak perlu diragukan lagi," tegas ku dengan keras kepala.


"Apalagi kerjasama yang kalian lakukan?" selidik Kenzo dengan terang.


Aku menghela napas "Bian akan mendokumentasikan grand opening nanti, Kalau kamu tidak berkenan. Aku akan membatalkannya,"


"Tidak apa-apa sayang. Sudah terlanjur," jawab Ken melunak dengan senyuman tersungging di wajah tampannya. Matanya melirik ke belakang ku, Aku menoleh. Pria jangkung dengan hoodie hitam menghampiri kami.


"Selamat siang, Pak. Maaf sudah menunggu!" Danar menyalami Kenzo dan aku. "Sudah lama tidak bertemu, Anggrek,"


"Belum terlalu lama menunggu. Kami baru saja tiba," Ken melirik ku. Dia masih menganalisa interaksi ku dengan Danar. Seharusnya Ken tahu, Barusan tadi sapaan teramah Danar selama kami kenal.


"Ya, Danar, Maaf aku tinggalkan dulu ya. Kalian bisa selesaikan urusan dulu,"


Aku meninggalkan keduanya di meja lalu beralih ke tempat lain. Menjauh dari keduanya, Menenangkan hati.


Trrtttt.. trtttttt


"I see u, Anggrek," mataku mencari keberadaan cctv.


"Aku ada di ruangan Danar, Sayang Danar melarang pacarmu bertemu disini. Aku ingin bertemu dengannya,"


"Kak jangan menganggu hubungan kami. Aku serius kali ini,"


"Hmm.."


Aku memasukkan handphone di dalam tas. Pantasan saja Danar menerima Kenzo disini, Sedang ada Bian di ruangan Danar.


Atensi ku teralihkan ketika seorang waitress mengantarkan pesanan. Kenzo sengaja mengajak ku ke sini, Membuka apa yang tidak ku ceritakan padanya.


Apakah dia sengaja memperlihatkan kemampuannya mencari tahu?


Kali ini waktu terasa begitu lama. Akhirnya Kenzo dan Danar selesai dengan urusan mereka. Aku tidak tertarik menanyakan apapun. Saat ini aku hanya ingin Ken mengantar kembali ke restoran.


......____----_____---_____---___......


H-3


Sabtu pagi, Kami sekeluarga menghadiri undangan pernikahan Doni dan Tania. Acara di laksanakan di gedung 'Asri Hijau', Tidak jauh dari Bukit Asri. Pernikahan mereka menggunakan konsep semi outdoor.

__ADS_1


Gedung 'Asri Hijau' termasuk dalam lingkungan perumahan milik keluarga Bian. Memang sering digunakan untuk acara pernikahan. Keunikan dari gedung pernikahan ini adalah ballroom-nya yang terintegrasi dengan area semi outdoor yang romantis.


Pemandangan bukit hijau dapat dinikmati tamu, Asri dan membuat syahdu acara sakral ini. Gedung pernikahan yang sempat trending pada saat pembukaan. Tanpa bertanya aku tahu gedung ini milik keluarga Bian.


Doni dan Tania tampak berbahagia, Bahkan Tania mengucapkan terimakasih di telinga ku. Ada rasa sesak, Saking fokus dengan Miepa. Bahkan aku tidak bertemu sahabat sendiri menjelang hari pernikahannya.


Apakah Ken benar kalau pekerjaan telah mengambil alih kehidupan ku, Menyita kehidupan sosial.


Aku memisahkan diri dari papa, mama dan Dewo. Ketika netra ku melihat Natasha dan Nadia. Aku berjalan menghampiri mereka.


"Apa kabar, Anggrek? lama tak bersua. Seabad mungkin!" canda Natasha dan Nadia memeluk ku erat.


"Kamu tidak mengajak pacar barumu?" tanya Natasha sambil terkekeh melihat wajah ku memerah.


"Siapa pacarnya?" tanya Nadia heran. Perutnya sudah tampak besar sepertinya tidak lama lagi dia lahiran.


"Kenzo, Anak dokter Melinda," Natasha menepuk pundak Nadia.


"Ganteng itu, Ih Anggrek kalau urusan cowok. Pinter banget," Mereka saling cekikikan. Ya ampun aku merindukan suasana ini.


"Kalian ya! Tania tidak menggunakan bridesmaid ya? tanya ku karena kali ini tidak ada undangan untuk itu.


"Awalnya dia mau kita jadi bridesmaid tapi melihat keadaan aku hamil tua dan Natasha sedang sibuk ma babyboy-nya, yang lengket banget gak mau sama orang lain. Jadi kita sebagai undangan saja, Apalagi kamu, Nggrek. Lihat batang hidungnya susah minta ampun,"


"Sama Gege juga tidak mau?" tanya ku sambil menunjuk dengan dagu ke arah Gege yang lahap dengan sate.


"Gak mau sama papinya, Dengan babysitter saja kadang tidak mau. Jadi aku tidak mengajaknya. Mungkin sedang usianya saja ya," Natasha mengayun putranya tapi ketika aku mengambil putra Natasha dari gendongan. Dia segera menyambutnya.


"Eh sama Anggrek mau ya, Berarti gak lama lagi kamu married," ucap Natasha yang di sambut anggukkan Nadia. Mereka begitu berisik menggoda ku.


"Anggrek, Bian sepertinya mengambil foto mu. Dia berada di sudut utara. Jangan lihat dulu ya, Pura-pura gak tahu," ujar Natasha sambil tetap menikmati makanannya. Kebiasaan kami dulunya.


"Memang ada Bian?" aku tidak berani menoleh sesuai pesan Nat.


"Iya, Tania kan menggunakan jasa foto Rian, Suami ku," jawab Nadia.


Aku mengangguk dan segera mengalihkan pembicaraan. Mengundang mereka ke restoran Miepa. Membicarakan grand opening restoran ku lebih menyenangkan daripada membicarakan Bian


Kami lalu terlibat pembicaraan banyak hal. Setelah dewasa dan berkeluarga, Kadang momen pertemuan justru terjadi dalam acara seperti ini.


Sahabat ku kembali menikah hari ini. Momen peralihan kehidupan dan tanggung jawab. Sebuah komitmen jangka panjang akan mereka jalani.


Aku pun akan berada dalam fase ini. Tinggal menghitung hari untuk berada dalam fase yang ku impikan.


*******

__ADS_1


__ADS_2