Viral

Viral
62.Optimis dan positif?


__ADS_3

Hari demi hari terlewati


waktu melangkah pasti


meninggalkan kisah


yang tertinggal


*******


Hari ini Bian mengikuti semua kegiatan ku sampai terakhir ke Miepa. Malam mulai menjelang ketika kami hampir tiba di rumah. Telpon dari Kira memecahkan keheningan yang tercipta.


Trrttttt.. Trrttt..


"Halo, Kak Anggrek."


"Iya, Kira."


"Ada yang menawarkan ruko di jalan Thamrin tapi masih menunggu kepastian dari penyewa."


"Kenapa harus menunggu kepastian?"


"Jadi penyewa sudah habis sewanya satu bulan lalu tapi sampai sekarang belum pindah juga. Pemilik ruko sudah memberi peringatan. Bayar sekarang atau mereka harus hengkang saat ini juga."


"Terus?"


"Penyewanya minta di kasih tenggang waktu sekitar satu bulan untuk mengumpulkan dana. Pemilik ruko tidak mau ribut jadi diberi batas waktu segitu"


"Jadi sekarang masih menunggu kabar selanjutnya?"


"Iya benar kak Anggrek."


"Oke, makasih infonya Kira."


Aku menutup telpon, Di sisi lain ada yang melanggar perjanjian tapi masih diberikan toleransi.


Kalau aku tidak mau pindah seperti yang dilakukan oleh penyewa tadi. Entah apa jadinya, Mungkin Kursi dan meja serta gerobak bisa jungkir balik di depan jalan.


"Ada apa? Bian menoleh ke arah ku. Dia lalu kembali mengalihkan pandangan ke depan. Memasuki halaman rumah.


"Ada kabar dari Kira mengenai ruko tapi belum pasti karena penyewa yang menunggak meminta waktu satu bulan untuk membayar sewa baru"


"Maaf ya sayang, Semua harus begini" Bian mengusap punggung tangan ku.


"Tidak apa-apa" Aku mencoba kembali untuk tersenyum hari ini.


...Tidak apa-apa...


...Aku baik-baik saja...


...Tidak apa-apa...


...Jangan pikirkan...


...Tidak apa-apa...


...Aku kuat...


...Benarkah tidak apa-apa?...


Kami sudah memasuki halaman, Bian memarkir mobil ku di sebelah mobilnya. Setelah berpamitan dengan papa dan mama. Lelaki ku lalu pergi dengan mobil antiknya menuju pulang ke rumah.

__ADS_1


...Bian Prasetya putra dari Setya Prasetya...


...Putra dari dia yang telah mengacaukan usaha ku...


Aku bergumam menyebutkan kalimat yang terlintas begitu saja dipikiran.


Tubuh Penat dan lelah sudah menjadi hal yang biasa, Memanjakan diri di kursi pijat yang ku beli saat sale akhir tahun sembari menikmati segelas kopi hitam. Biasanya sudah memulihkan energi tubuh yang terkuras seharian.


Hanya ketika pikiran penat dan lelah. Segelas kopi hitam pun sulit meredakan. Bukankah sumber dari penyakit adalah pikiran juga. 'Jauhkan stress agar hidup sehat'. Slogan dari sebuah kegiatan saat jalan sehat di alun-alun yang pernah ku baca.


Layar handphone ku berkedip. Menampilkan pesan hijau dari Bian.


"Sayang, Maafkan yang terjadi. Aku adalah bagian dari masalah yang sedang dihadapi."


Permintaan maaf dari Bian untuk ke sekian kalinya hari ini.


"Jangan memusatkan pada masalah tetapi penyelesaiannya, Sayang, Jika ketemu ruko baru semua sudah teratasi."


"Kamu selalu berpikir positif dan optimis."


"Mengapa harus berpikir pesimis dan negatif?."


"Tidak semua orang bisa melakukannya"


"Kadang aku pun tak bisa hanya memaksakan diri melakukannya"


"Aku mencintaimu, Anggrek Maharani"


"Terimakasih atas cintamu"


"Selamat tidur sayang"


Aku meletakkan handphone di atas nakas, Dibawah naungan temaram lampu tidur. Di sebelah dua cangkir sisa dari secangkir kopi hitam dan secangkir coklat hangat.


...Optimis dan berpikir positif?...


Aku menghela napas, Begitu kah pandangan mu? Aroma minyak kayu putih dan essensial oil menguar dari kamar ku. Bantal pisang sudah dalam pelukan sekarang tinggal berharap kantuk dan lelap menjemput saat ini.


***********


Alarm pagi membangunkan tidur ku. Kantong mata tampak jelas seakan unjuk diri kalau pemilik tubuh ini kurang istirahat. Aku harus menggantikan eyecream baru karena menggantikan pikiran baru tidak mungkin ku lakukan.


Kira memberikan draft penawaran endorse yang segera ku terima. Beberapa penawaran seperti obat atau skincare yang belum jelas BPOM sudah di eliminasi Kira. Begitu pula online shop yang tidak jelas sudah disingkirkan dari list.


Selain menggenjot penjualan frozen food, Aku berniat meningkatkan pendapatan dari endorse. Hari ini kami sudah menyelesaikan beberapa foto untuk kebutuhan endorse produk.


Dewo pun membuat content baru bersama ku. Menjelang sore aku ke Miepa, booth pentol dan terakhir ke butik.


"Wah tumben dandan maksimal hari ini" Natasha melihat riasan ku yang lebih tebal dari biasanya. Aku memang belum menghapusnya.


"Baru kelar menjemput rejeki dari sosial media"


"Giat amat cari duit mau kawin?"


"Haha, Nikah ah. Gak enak amat dengarnya, Kawin"


"Artinya bisa beda pula ya?'


"Nah itu dia"


"Nggrek, Ini kan ada beberapa produk baru datang. Lebih cocok untuk remaja dan anak kuliahan. Apa sebaiknya kita menggunakan jasa selebgram remaja ya?"

__ADS_1


"Kenapa gak aku saja. Remaja"


"Remaja tua, Kita sudah lewat Nggrek. 1/4 abad"


"Aku baru saja merasakan sekolah tahunya sudah seperempat abad"


Masa remaja yang ku rindukan akhir-akhir ini ketika yang ku pusingkan cuma mata pelajaran fisika,kimia matematika berada di hari yang sama.


Satu lagi kulit remaja yang ku rindukan adalah kulit kenyal tanpa perlu menggunakan skincare terlalu banyak tidak seperti sekarang ketika kantung mata dan kulit ku begitu rewel.


Aku kembali ke Miepa ketika malam telah tiba. Penjualan semuanya habis untuk hari ini. Rejeki yang membuat ku bersyukur di sisi lain membuat masygul.


Tidak lama lagi kami akan pindah dari ruko Miepa pertama ke tempat lain. Dimana usaha kedua ku setelah booth pentol berjalan.


Rasanya baru saja aku melakukan negoisasi dengan Bang Ipul ketika mama meragukan untuk menjadikan Bang Ipul sebagai juru masak kami. Mama khawatir ketika telah laris Bang Ipul membuka cabang sendiri.


Nyatanya Bang Ipul tidak mau dipusingkan dengan operasional. Mengurusi karyawan, sewa, pegawai, Biaya lain seperti listrik, retribusi dan segala macam ceritanya.


Dia lebih senang memasak dan menikmati hasil setiap bulan untuk dikirimkan ke keluarga di kampung.


Telpon ku berdering ada panggilan masuk dari Bian.


"Malam sayang"


"Sibuk kah, Nggrek"


"Tidak, Sudah mau pulang. Ada apa Kak Bian?"


"Aku menunda sehari keberangkatan. Besok bisa ketemu, Sayang"


"Baiklah, Bisa. Dimana?"


"Di pantai tempat kalian menginap lalu"


"Hmmm mengapa bukan di pantai kota saja. Lebih dekat"


"Miepa dan Booth pentol kan libur besok, Sayang atau ada kegiatan lainnya"


"Tidak ada sih"


"Kalau begitu bisa kan sayang? Aku mohon"


"Hahaa, Jangan sampai memohon segala. Baiklah"


"Makasih sayang, Sampai ketemu besok"


"Baik kak Bian"


"Aku mencintaimu, Anggrek Maharani"


"Aku juga mencintaimu, Bian Prasetya."


Aku menutup telpon dan merasakan ada yang mau disampaikan Bian besok. Entah apa yang ingin diceritakan olehnya. Bian sepertinya menyukai pantai tempat dimana dia memilih menceritakan kehidupannya.


Tentang keluarga dan dirinya seakan deburan ombak, hembusan angin, aroma khas pantai memberikan ketenangan baginya untuk bercerita.


Satu hari kembali terlewati hari ini. Aku mengambil handuk kecil, kapas wajah dan barisan botol skincare. Wajah ku membutuhkan perawatan setelah berapa hari banyak hal yang harus diselesaikan.


Masih ada hari esok untuk melanjutkan kisah ini. Aku hanya perlu bersiap menghadapi kisahnya lagi.


***********

__ADS_1


__ADS_2