Viral

Viral
Part Tambahan ( POV Adiwarna)


__ADS_3

Berita seperti amoeba, Membelah diri lalu beredar. Seperti berita kali ini, Mengenai seorang pengusaha lokal yang memikat putra seorang crazy rich. Satu berita yang membelah diri, Lalu semua memberitakan hal sama.


"Memuakkan melihat pemberitaan yang sama sepanjang waktu!" aku mengambil remote bermaksud mengganti channel TV.


"Jangan ganti! kenapa? kamu menyesal sekarang meninggalkan Anggrek?!" tuding mama tanpa basa-basi.


Aku melempar diri ke sofa, Memaksakan mendengar berita yang sama dengan timeline media digital di handphone. Hanya menunjukkan kepada mama, Bahwa dia salah menilai.


Setiap hari mama mengulang hal yang sama, dan aku jelas mengelak tudingan mama.


Aku tidak menyesal tapi sangat...sangat menyesal. "Sial, Aku menukar berlian dengan beling. Aku melarat karenanya!" makian ini terus merongrong hati, sesak.


Pernikahan mereka yang di gadang-gadang seperti negeri dongeng. Memenuhi layar handphone dan televisi. Mempelai pria tampan dan wanita yang sangat ku kenal, karena dia pernah mengisi 5 tahun dalam kehidupan.


"Lihat Anggrek, Adi. Dia melesat dan bersinar seperti bintang. Bandingkan dengan Cahya kehidupan mu," cibir mama merujuk pada istri ku yang belum bangun. Padahal jarum pendek sudah di angka sembilan, pagi ini. Anak kami pun sudah di mandikan mama.


"Mama tahu? dia mendapatkan usahanya dari pria itu," jawab ku enggan menyebutkan nama suami Anggrek.


"Tidak, Dia mendapatkan sendiri. Mama pernah mengunjungi Anggrek ketika kamu menikah dengan Cahya. Dia baru memulai usahanya, Anggrek pandai berbisnis,"


"Tahu apa mama tentang bisnis," sanggah ku. Membuat mama menatap tajam.


"Kamu masih keras kepala bahkan ketika telah jatuh. Tanpa Anggrek usahamu tak bergerak," hela napas wanita itu terdengar. Sedetik kemudian matanya menerawang jauh.


Aku tahu mama benar, tapi gengsi yang ada terlalu tinggi untuk mengakui itu. Sangat tidak bisa di percaya dari booth pentol, Dia bisa membuka pabrik.


Kembali aku teringat pada tahun bersama Anggrek. Seorang gadis dengan tubuh gempal, Mata yang bersemangat, selalu berapi-api ketika menceritakan idenya.


Dia membuat ku tertarik pada perkenalan pertama. Tak banyak teman wanita yang mau mendekati ku, Aku pun minder dengan mereka.


Pada awalnya aku sama bersemangat dengan Anggrek. Dia selalu membantu ku memberikan ide cemerlang. Semangat Anggrek, Membuat ku jatuh cinta di awal kami berkenalan.


Dia selalu mendukung ku. Dari menjual keripik pedas buatan mama, juga ketika aku membuka warung nasi goreng.


Dia memberi ide, membuka paketan harga dengan menu mahasiwa. Tidak lama kemudian ketika mulai bertambah menu dan mampu menggaji karyawan.


Anggrek lalu mencetak brosur mengedarkan ke karyawan. Menu makan siang dengan harga terjangkau, Mendekatkan diri pada office boy kantor untuk memuluskan idenya.


Anggrek tak malu ketika diabaikan para calon pembeli, saat dia menawarkan paket makanan dagangan ku. Dia selalu ceria, Bahkan kami sering menggunakan mobil orangtuanya membawa cemilan buatan mama.


Tanpa sungkan Anggrek menawarkan jualan ke teman kampus. Aku jelas menghindari berjualan dengan teman kampus, Gengsi.


Dari warung nasi goreng, Menjelma menjadi kafe. Saat itu karena saingan kafe yang menjamur. Kafe itu pun sepi, Anggrek menawarkan ide untuk mengundang teman kami.


Seakan-akan kafe itu ramai, Semua teman yang datang diminta menggunakan kendaraan pribadi. Mereka boleh makan dengan diskon 75 persen, Memang mengalami kerugian di awal.


Kafe yang selalu ramai dengan kendaraan dan pengunjung. Membuat banyak orang penasaran, Berselang dari itu. Kafe milik ku menjadi ramai bahkan harus menggunakan waiting list.


Anggrek memiliki lidah sensitif atas rasa. Dia lah yang memilih chef untuk kafe. Sebagai pencicip awal, Dia lah yang menentukan kelayakan sajian untuk dimasukkan dalam daftar menu.

__ADS_1


Selanjutnya aku memilih menikmati penghasilan yang masuk. Daripada memikirkan operasional berjalan, Apalagi harus ber-inovasi dengan berbagai cara untuk menarik minat pengunjung.


Aku lebih suka memutar uang ke bisnis lain. Dengan ide dan bantuan Anggrek, Aku tinggal mengerjakan sisa dan mendapatkan penghasilan dari itu.


Sampai ketika kami membuka minuman coklat 'Angdiwarna'. Saat itulah aku bertemu Cahya, Dia cantik sekali. Bersinar dan memukau.


Sial, Saat itu ternyata dia pacar Kenzo. Teman SMP ku dulu. Aku pura-pura tidak mengenalnya, Kenzo tahu masa lalu ku. Kami sempat kaya sebelum jatuh bangkrut.


Kenzo yang tampan dan kaya jelas bukan saingan seorang Adiwarna. Aku baru menyadarinya, Sejak itu aku memperbaiki penampilan. Membeli mobil dan rumah yang mumpuni.


Perasaan ku berubah saat itu. Selera mulai tinggi, Aku menyukai penampilan dan aroma wangi Cahya. Dia tampak mempesona. Rasanya malas sekali bersama Anggrek.


Tapi aku membutuhkan dia, Anggrek mudah di manipulasi. Mulut ku bermanis ria, Menyatakan apa yang dilakukan hal besar pada usaha ku tapi masih banyak kekurangan. Semakin ku katakan, Semakin Anggrek terpacu untuk memperbaiki kekurangan.


Dia semangat membantu ku, Jelas aku pura-pura bersikap sama, karena dia yang turun mengerjakan. Sedangkan aku cukup sisanya saja. Bagian menikmati hasil dari promo gencar Anggrek.


Aku tahu Anggrek lelah membagi waktu antara kuliah dan membantu ku, Tapi tak mengapa. Cukup rayuan cinta dia berbalik.


Sampai ketika Kenzo memutuskan Cahya, Ketika gadis itu merasakan kebencian karena tercampak. Diam-diam aku mendekatinya. Awalnya Cahya enggan menoleh, Tapi dengan penampilan dan apa yang ku punya dia tertarik.


Aku memanjakan Cahya dengan memenuhi keinginannya. Bahkan satu mobil ku belikan pada hari ulang tahunnya.


Di belakang Anggrek, Kami bersenang-senang. Menginap dari hotel satu ke hotel lain. Melupakan semua hal, Sampai ketika mama tahu. Dia marah besar. Aku tak perduli, Keuangan dan usaha ku sudah stabil. Anggrek tak dibutuhkan lagi.


Aku menikahi Cahya tanpa perlu memberitahu Anggrek, Masa bodoh dengan semuanya. Bukan kah aku tak pernah memohon dia membantu ku?


Cahya mengamuk berusaha mengikuti jejak Anggrek tapi gagal.


Ku pikir Anggrek masih gadis yang sama, ketika meminta dia bekerja kembali ketika usaha kami menurun.


Ternyata dia berubah, Raut wajah datar dan tatapan tegas jelas menandakan aku kehilangan kendali pada sosok ini. Dia tidak mudah dimanipulasi lagi.


Ketika Anggrek keluar, Aku tak biasa menjalankan marketing dan manajemen karyawan. Chef kami keluar, diikuti karyawan lain. Pademi yang datang memukul telak saat bersamaan.


Semua menjadi kacau, Ah tololnya aku malah terlena bersenang-senang dengan Cahya.


Kami menjadi geram dengan penolakan Anggrek Dan bermaksud menjatuhkan dia. Sengaja menarik karyawan Anggrek dan membuka booth yang sama. Nyatanya tidak bertahan lama, Toni pun kami depak.


Cahya mencibir ketika Anggrek membuka outlet mie ayam dan boba, yang dia berikan nama Miepa. Tapi cibiran itu berhenti ketika cabang kedua Anggrek berdiri tidak jauh dari rumah kami. Di ikuti cabang ketiga.


Aku bisa melihat Anggrek menggandeng Bian, Pria itu biasa saja. Dia tampan dan menggunakan mobil butut, Kami bisa menertawakan Anggrek saat itu.


Ya... hanya seorang pria bermodalkan tampang ganteng. Memikat hati Anggrek, Bukan hal menarik untuk membuat iri.


Usaha Anggrek berkembang, Terbalik dengan ku. Gaya hidup kami tidak seimbang pendapatan. Ditambah pademi yang datang, Kami tidak siap.


Cahya semakin sering marah-marah, Dia bahkan menolak ide ku untuk meminta bekerja kantoran. Ijazah kuliahnya bisa digunakan untuk melamar pekerjaan. Begitu pula ketika meminta dia bergabung dalam usaha ku.


Kehidupan konsumtif Cahya dan hangout bersama rekan sosialita terus berjalan. Memaksa keuangan turun drastis.

__ADS_1


Aku jelas menolak ketika mendapatkan tawaran membuka usaha yang sama dengan Anggrek, Dari orang yang tidak dikenal. Usaha ku juga membutuhkan perhatian, Sedangkan Cahya tidak mau menjalankan. Dia hanya mau menerima hasil. "Pemalas," rutuk mama.


Cahya tak pernah sudi menjalankan apapun, Sekedar membereskan rumah. Dia bisa mengamuk histeris kalau dirumah tidak ada art. Bahkan sekarang pun mama lebih banyak berperan mengatur urusan domestik.


Anggrek semakin meninggalkan kami. Dia cemerlang, Berbalik dengan kami. Tingkah Cahya semakin tidak terkendali, Dia memaki menyesal menikah dengan ku.


"Kau pikir aku tidak menyesal menikah dengan mu!"


"Tak ada wanita yang sudi menikah dengan mu," Cahya melempar semua kartu kredit dan debet ke wajah ku. Di depan anak kami, Dia benci ketika Kartu-kartu itu tak bisa digunakan untuk hidup konsumtifnya.


Jelas jiwa kelakian ku terusik, Aku sengaja berselingkuh dengan seorang karyawan muda. Dia cantik masih segar, Cahya mengamuk dan aku tertawa.


"Lihat, Aku bahkan bisa mendapatkan yang lebih dari mu!"


Di belakang ku, Cahya berselingkuh membalas perbuatan ku. Sayang dia cukup tolol karena selingkuhan ternyata memiliki istri di kota lain.


Di damprat lah Cahya, Aku nyaris mengajukan cerai tapi mama melarang.


"Kamu sama buruknya dengan istrimu, Bimbinglah dia," kata mama dengan nada datar. Dia cukup lelah dengan polah kami.


Sosial media Cahya hanya berisikan cacian dari para followers-nya, Buruk.


Semakin buruk ketika Anggrek terang-terangan menggandeng Kenzo. Dia mengamuk dan hendak menghajar Anggrek, Justru Kenzo membela. Aku hanya melihat kejadian, Hati ku sesak.


Anggrek sekarang berbeda, Dia bahagia dengan kehidupan barunya. Aura terang membuat Anggrek menjadi menarik dalam usia dewasanya. Wanita pertengahan 20an, Cerdas dan menjadi pengusaha muda.


Hati ku menjadi sakit, Bahkan ketika Cahya menertawakan Anggrek yang putus dengan Kenzo dan kembali ke Bian. Aku hanya diam, Ada yang salah dalam pernikahan aku dan Cahya.


Kenyataan siapa Bian jelas memukul aku dan Cahya, Selain produser eksekutif. Dia seorang CEO muda yang masuk dalam daftar “30 Under 30 Asia” versi majalah Forbe. Bersama CEO muda Indonesia lainnya.


Usaha ku yang seret di tambah kebutuhan menghidupi keluarga, Memaksa mendapatkan penghasilan tetap.


Sesal, Bodoh dan semua umpatan yang ku layangkan pada diri sendiri. Rasa malu menarik ku pada mereka. Ketika mereka datang mengantar undangan, dan Bian mengenal ku sebagai pelamar di posisi manager.


Ya... Aku melamar pada hotel King milik keluarga Bian. Hotel yang proses pembangunan sedang berjalan. Ternyata milik keluarga suami Anggrek, Gadis yang pernah ku campakkan karena istri ku lebih menarik.


Hanya karena terpikat penampilan fisik Cahya, aku membuang seorang tulus seperti dia.Wanita cerdas dan bertekat kuat, dia ulet dan baik hati. Seorang yang menarik dengan caranya sendiri.


Aku mendengus membatin dalam hati, "terlambat dan sesal itu satu paket, pada kasus ku. Di tambah kebodohan bersamanya,"


"Aku rasa Anggrek itu menggunakan pelet," tiba-tiba Cahya duduk di samping ku. Ikut menyimak berita, Dia belum mandi dan baru bangun jam 10 pagi.


"Pelet?"


"Iya, Tidak masuk akal seorang Bian tertarik pada Anggrek, Seharusnya aku tidak menikah dengan mu! dan memilih pria mapan seperti itu," dengus Cahya.


"Seharusnya, Aku mengirimkan mu ke rumah sakit jiwa, Cahya Kumala!" maki ku pada Cahya yang membalas dengan makian tanpa arti. Mengamuk dan mengamuk seakan 'oksigen' dalam hidup Cahya.


Andai waktu bisa berputar tak akan ku ulangi kesalahan ini, tapi semua terlambat...

__ADS_1


__ADS_2