
Apa yang Ku lakukan hari ini untuk masa depan. Begitu juga apa yang Ku lakukan di masa lalu sejatinya untuk hari ini tapi justru masa lalu yang Ku rajut agar berbahagia di masa kini sempat hancur berantakan.
Itulah rencana, Kita hanya bisa merencanakan kemudian melakukan sebaik yang kita bisa tapi terkadang kuasa di atas membelokkan. Siapa *****sangka***** *justru hal tidak diencanakan merupakan jalan terbaik untuk kita.
Anggrek Maharani*
********************************************
Aku menatap bangunan di depan Ku dengan kebahagiaan membuncah. Masih membutuhkan waktu lagi agar sesuai dengan keinginan Ku.
Rangka yang sudah ada menggambarkan apa yang Ku impikan. Inilah rumah pertama yang Ku miliki. Jika di usia 24 tahun lalu Aku tidak berhasil memiliki pasangan hidup setidaknya di usia 25 tahun Aku memiliki aset dari hasil jerih payah sendiri.
Aku masih teringat ekspresi Adiwarna ketika mendengar penolakan Ku. Matanya memancar ketidakpercayaan. Aku tersenyum sinis mengingat tingkah laku Adiwarna . Selama setahun ini dia selalu membayangi kehidupan Ku. Sungguh aneh apa yang diinginkan pria ini sebenarnya. Apakah hanya menginginkan Aku kembali menjadi partner usahanya atau ada maksud lain.
Andai saja dulu usaha yang dijalankan bersama Adiwarna merupakan usaha kerjasama profesional. Tentu pada saat hubungan kami kandas akan ada pembagian yang seharusnya milikku tapi justru Cahya lah yang menikmati hasil ini. Aku tidak bisa menuntut karena hubungan kami bukan pernikahan. Sejujurnya Aku tidak memperdulikan hal itu karena dengan pemikiran dan tekat yang Ku miliki. Aku bisa meraih semua keinginan Ku.
Setelah menjalankan usaha sendiri barulah Aku menyadari bahwa selama ini diperalat oleh dia. Bekerja untuk mengembangkan usaha Adiwarna. Cinta memang terkadang membuat seseorang menjadi bodoh.
Dulu Aku menyusun menu untuk kafe Adiwarna, menyeleksi chef, membantu penerimaan pegawai, menyebarkan pamflet, brosur, membuat konsep promo ke kantor. Semua tanpa bayaran Ku lakukan tanpa pamrih.
Selama bersama Adiwarna Aku menyicil mobil second dari gaji sebagai karyawan. Berbeda dengan Cahya Kumala yang sudah gonta ganti mobil premium walau kini Adiwarna baru menyadari siapa otak di balik usahanya tapi sudah terlambat. Aku enggan untuk berpaling kembali.
Lamunan Ku buyar ketika ada pesan suara dari apalikasi hijau.
"Bebs, ngopi yuk". Sejak menikah Natasha lebih sering memanggil dengan sebutan bebs. Lebay banget tuh anak sudah kayak bocah.
"Di tempat Ku, hyung?"
"Hyung.. hyung.. bukan bebs tempat lain donk". Aku ngakak pasti dia gedek kalo ngopi ditempat Ku karena lebih sering Aku tinggal memantau karyawan .
"Oke deh, Kamu aj bebs yang pilih tempatnya".
"Sipp bebs di 'Kopi Tentang Jiwa' , ya".
"Siap". Aku segera meluncur ke kopi 'Tentang Jiwa' untuk ketemuan dengan Natasha.
Nat sudah tiba terlebih dahulu tiba. Pipinya tampak lebih berisi, Jangan-jangan ..
"Kamu ngisi ya?"
"Aamiin kalo ngisi".
"Kirain udah, maaf ya Aku gak tau". Aku rada gak enak karena masalah hamil termasuk sensitif bagi beberapa orang. Nat ngekek.
"Apaan sih kayak orang lain saja, duduk dulu yuk. Aku masih pacaran ma Gege nih mentang-mentang gemukan dikira hamidun". Nat pura-pura manyun gemesin.
__ADS_1
"Yey siapa tahu aja".
"Nggrek, Aku mau bisnis nih tapi bisnis apa lagi ya selama pademi ini penjualan pakaian Ku rada merosot sih walau tetap ada yang pesan "
"Aku kan sudah bilang dari kemarin perbanyak pakaian daily dan rumahan yang harganya bisa jauh lebih murah daripad pakaian pesta atau hangout".
"Itu untuk lahan mu saja".
Aku memang join dengan Natasha untuk butik jika fokus pakaian Ku lebih ke arah outfit dengan tubuh seperti diriku yang rada big.Natasha lebih ke arah size ideal sehingga market dia terbatas sedangkan market pasar Ku luas bisa ke tubuh ideal atau big. Ibu-ibu muda atau lebih senior bisa menggunakan pakaian Ku.
"Tidak apa-apa sama Nat kan kamu bisa merancang atau membuat pakaian daily kekinian" .
"Ntar Aku pikirkan".
"Ya udah terserah kamu aja deh yang terbaik lah". Aku menyeruput kopi hitam yang baru datang. Mata Ku melihat seorang pria putih, tinggi, ramping. Dia begitu menarik dalam balutan kemeja biru muda dan celana kerja hitam.
"Ganteng banget say rada mirip Lee Joon Gi". Aku menunjuk menggunakan bibir ke arah pria yang menarik atensi Ku.
"Uh.. Matamu jeli kalau melihat yang bening". Nat terkekeh meledek.
"Aku tidak pernah jodoh sama yang ganteng. Kamu sibuk honeymoon sih jadi gak tau perkembangan kisah cinta Ku yang keburu ambyar sebelum jadian"
"Sama siapa? ngenes banget"
"Oh gitu ternyata Kamu udah biasa deketin laki orang!".
Aku dan Nat terkesiap kaget ketika mendengar suara cempreng disebelah kami terlebih ketika dari siapa suara itu muncul. Cahya Kumala, kenapa tiba-tiba suara merdunya jadi cempreng dan sejak kapan dia menguping tanpa kami sadari.
"Hati-hati ya bicara, Anggrek gak mungkin seperti itu"
"Lah dia sendiri yang bilang pantesan sudah ditinggal kawin masih mengejar suami orang".
Beberapa pengunjung mulai memperhatikan kearah kami sebagian memegang gawai menyorot ke arah Aku dan Cahya. Aku tidak bisa diam saja kalau begini.
"Siapa mengejar suami kamu, Cahya. Kamu menikung saja Aku tidak perduli apalagi merebutnya. Laki-laki bukan cuma sebiji". Aku berkata dengan nada tegas. Wajah cantik Cahya merendahkan. Dia tersenyum sinis.
"Kamu pikir Aku gak tahu berapa kali Adi ke tempat mu".
"Dia ke tempat Ku menawarkan pekerjaan ya Cahya".
"Kamu pikir Aku tolol".
"Iya kamu tolol". Natasha menyambar dengan tangkas.
"Ohh ada lagi j***ng".
__ADS_1
"Hei jaga bicaramu, Cahya". Aku menatap Cahya.
"Kalian berani keroyokan".
"Keroyokan? Kamu bukan manusia penting untuk kami urus dan tolong ya sampaikan ke suami mu untuk tidak menemui Ku lagi. Suamimu itu dijaga nyonya biar tidak kelayapan mengunjungi wanita lain". Aku menunjuk Cahya.
"Dasar murahan sudah jelek, gendut mau deketin laki orang. Gak tau diri". Cahya berkacak pinggang persis emak-emak yang suka berkelahi sama tetangga. Wajah Ku memerah menahan amarah.
"Kamu menyindir dirimu sendiri, Cahya". Wajah Cahya memerah mendengar kalimat Ku barusan.
"Usaha kalian ke depannya tidak akan berkembang kalau istrinya kayak kamu". Natasha menunjuk kearah wajah cantik Cahya. Selanjutnya Nat berdiri berjalan menjauhi Cahya, Aku pun mengikuti langkah Natasha. Aku tahu kalau mengikuti emosi tentu dia sudah menampar wajah Cahya.
Waitress serta security sudah mendekati kami dan gawai pun semakin terangkat menyoroti kearah kami. Aku tersadar Cahya sengaja memancing keributan ini.
"Malu ya ketauan? Sekarang mau kabur?". Cahya menghalangi langkah Ku dan Nat. Aku menahan tangan Nat jika Kami berkelahi disini kemenangan akan menjadi milik Cahya. Dia tidak membutuhkan nama baik tapi kami tentu saja membutuhkan itu.
"Maaf ya Ibu-ibu jika ada permasalahan dengan kalian jangan disini". Si Lee Joon Gi tiba-tiba muncul.
"Ibu-ibu enak saja. Aku masih muda". Suara Cahya melengking tinggi. Aku berusaha tetap tenang ketika mendengar lengkingan suara Cahya.
"Dia itu wanita murahan". Cahya menunjuk wajah Ku.
"Memangnya kamu mahal Cahya. Ingat bagaimana kamu memperoleh suami seperti maling. Murah". Aku tertawa kecil ke arah Cahya.
"Maaf Ibu sekali lagi kalau ada masalah. Silakan keluar dari sini".
"Iya Kami bayar dulu". Natasha berlalu dari hadapan Cahya dan Aku mengekori.
"Dasar cewek gila". Kami berlalu sesegera mungkin ke kasir dan segera menuju parkiran dari kejauhan suara Cahya masih terdengar menyumpahi. Benar-benar suram hari ini.
Aku berpisah dengan Natasha di parkiran. Dia menolak untuk diantar dan memilih menaiki taksi online. Apes ketika memasuki mobil kaki Ku menginjak genangan air yang berada tepat dibawah ban mobil. Rupanya tadi saat di dalam kafe sempat turun hujan. Aku sampai tidak memperhatikan keadaan sekitar karena masih shock dengan ulah Cahya. Sepatu Ku jadi lecek ketika hendak menutup pintu ada tangan menahan pintu mobil. Lee Joon Gi mengikuti Ku rupanya.
"Apa maksud kalian". Dia menatap Ku tajam
"Maksudnya apa?". Aku terbengong, wajahnya tampan dengan sorot mata tajam membuat diriku terhinoptis. Fokus Anggrek suara hati Ku membisikkan kenyataan yang ada.
"Kalian sengaja membuat kerusuhan di tempat Ku, Kamu pemilik Miepa bukan?". Sorot mata itu bertambah tajam dan dingin ketika menyebut kalimat tersebut.
Aku terdiam astaga dia pemilik kopi 'Tentang Jiwa' rupanya. Apalagi ini mengapa pria tampan selalu menimbulkan masalah untuk Ku.
"Iya tapi ini tidak ada kaitannya sama sekali".
" Tentu saja ada".
Dia menatap Ku tajam dengan perasaan tidak suka yang membuat hati ini bertanya kesalahan apa yang Ku lakukan selain terlibat adu mulut dengan Cahya tadi.
__ADS_1