
Setiap pagi adalah hari yang baru, sebuah lembaran kosong kembali tersedia siap ditulis. Ayo bangun dan nikmatin hari..
******
"Hai".
Aku menautkan alis mencoba mengingat pria yang menyapa di depan club yoga.
"Masih ingat gak sama Aku, Anggrek? Aku Doni teman SMP kamu, kita pernah satu kelas di kelas satu dan dua.
"Astaga Doni ya? Iya Aku masih ingat. Oh ya bukan kah kamu pindah ke Bandung?"
"Hehe.. Iya kirain lupa"
"Udah balik sini lagi?." Aku sedikit gugup ketika mengetahui siapa pria atletis yang menyapa ku ini. Seseorang dari masa lalu yang pernah hadir mengisi impian gadis remaja bernama Anggrek.
"Belum full sih masih bolak-balik tapi karena masih covid 19 ini jadi ya gitulah. Nahan dulu untuk balik ke Bandung. Orang tua sudah disini lagi".
Aku manggut-manggut seperti mainan dashboard di mobil. Sampai tidak menyadari kedatangan Natasha.
"Belum masuk kelas, Nggrek?".
"Iya ini baru mau masuk. Oh ya Doni kenalkan ini teman Ku, Natasha. Natasha ini Doni"
Natasha tersenyum, sedikit menganggukkan kepala.
"Yuk, Nggrek bentar lagi mulai". Natasha melirik ke arah arloji di pergelangan tangannya.
"Eh udahan Don, Aku mau yoga dulu".
Natasha tersenyum ke arah Doni sebelum menggamit paksa Aku. Natasha datang pada saat kurang tepat ketika aku dan Doni baru mulai berbincang dan jantung ku berdegup seperti ada konser didalamnya.
"Siapa sih?"
"Teman SMP"
" Oh.. ganteng ya hihiii"
"Apaan sih Nat, ingat Gege"
" Sesekali-kali cuci mata"
"Cuci mata pakai air biar segar". Aku mencebik ke arah Natasha.
******
Doni masih ramah seperti waktu dulu tiba-tiba wajah ku memanas teringat kenangan saat SMP. Doni adalah pria yang selalu membela ketika ada yang meledek fisik dan penampilan ku.
Doni merupakan atlet karate di sekolah kami. Dia disegani teman-teman. Postur tubuhnya tinggi dibandingkan anak seusianya selain atlet karate, Doni juga drummer di grup band sekolah.
Band sekolah yang digawangi Doni saat itu begitu populer dikalangan anak sekolah. Gabungan dari siswa SMP dan SMA. Kebaikan Doni membuat angan ku menjulang tinggi, ya dia cinta pertama ku sedangkan Adiwarna merupakan kekasih pertama yang ku cintai.
Usia kami masih terlalu muda di bangku SMP untuk menjalin kasih walaupun beberapa teman sudah berpacaran tapi sepertinya Doni bukan salah satu dari mereka begitu pula Aku.
Melihat kepopuleran Doni Aku juga tidak berharap lebih. Bisa berteman dengan dia sudah menjadi kebahagiaan bagi ku.Selain itu juga Doni bukan pria yang bisa ku jangkau. Aku tidak pantas bersanding dengannya.
Kenaikan kelas tiga SMP. Doni pindah ke luar kota mengikuti Ayahnya yang pindah tugas. Dia memberikan ku pin powerpuff girl katanya aku harus kuat dan berani seperti powerpuff girl. Lucunya masa itu.
__ADS_1
Kelar kelas yoga ketika sedang berganti pakaian dengan Natasha. Aku teringat sesuatu.
"Ah, Kamu Nat"
"Apaan?" Nat menoleh heran sambil menyeka keringat di leher dan ketiaknya.
"Doni jadi gak nanya nomor telpon Ku"
"Lha Kok Aku yang disalah?" Nat melongo heran.
"Iya harusnya kamu gak muncul saat kami sedang berbicara sehingga memberi kesempatan dia menanyakan nomor telpon ku"
"Hahaaa.. Tau dari mana neng dia bakal nanya nomor handphone mu? diihh jangan-jangan naksir ya?." Natasha mencolek hidung Ku dengan telunjuk lentiknya.
"Apaan sih"
"Nah kan wajahmu merah, Nggrek. Kalau dia mau nanti bisa DM kan katanya selebgram"
"Sudah kali tapi aku gak baca". Aku menjawab kesal.
"Kepedean nih bocah tapi ngomong-ngomong dia ganteng ya. Postur tubuhnya tinggi atletis".
"Iya." Aku menjawab pendek karena masih dongkol dengan Natasha. Padahal kalau dipikirkan Nat gak salah-salah banget.
Natasha mencebik melihat ku menjawab singkat tapi Aku justru lebih dongkol sama dia harusnya bisa berbicara lebih lama dengan Doni. Kami keluar dari kelas yoga bersama-sama.
"Anggrek, itu Doni". Natasha berbisik ke arah Ku.
Di depan tempat fitness yang hanya dipisahkan oleh restoran ayam geprek. Doni sedang di parkiran menaiki motor gedenya. Dia melihat kearah ku dan menganggukkan kepala sebelum menggunakan helm dan pergi begitu saja.
"Lho dia pergi gak nyamperin kamu, Nggrek".
"Kok Aku?"
"Pokoknya semua salahmu." Aku berkata ngotot.
"Yaaaa Aku yang disalahin. Eh mau boba? ". Aku mengulum senyum. Natasha tahu memang sulit bagi Ku untuk menolak segelas boba dingin kelar menghabiskan keringat saat yoga.
******************************************
"Kamu ngapain, Anggrek?". Mama berteriak kencang ketika melihat Ku mengacak lemari diruang keluarga.
"Mama lihat pin powerpuff girl jaman Aku SMP".
"Ya ampun mana Mama tahu itu sudah belasan tahun lalu".
"Mama kan masih menyimpan foto burik jaman Aku SMP".
"Oh itu sengaja biar kalau kamu lagi males cari duit lihat foto jaman SMP betapa buriknya. Kamu langsung tersadar buat rajin lagi biar bisa beli skincare ma perawatan salon".
"Mamaaaa".
Aku menghempas diri di kasur. Kemana ya pin powerpuff girl. Seharian Doni menyita pikiran ku. Berapa kali Aku salah menghitung pemasukan pentol unyu dan nyaris salah memasukkan caption di feed.
Doni tidak memiliki sosial media sungguh aneh di jaman sekarang ada orang yang tidak memiliki sosial media. Aku sudah memasuki namanya di pencarian tetapi tidak pernah berhasil menemukan Doni. Dia pun tidak masuk dalam grup alumni SMP di pesan hijau.
Bahkan teman-teman tidak ada yang tahu kabar Doni sampai hari ini Aku dipertemukan kembali dengan Doni.
__ADS_1
Eh bukan kah tadi Doni di depan tempat fitness. Apakah sekarang dia menjadi member disitu. Tempat fitness itu memang belum lama buka setelah sempat vakum saat covid 19 ini. Apakah Aku harus mencoba fitness tapi Aku tidak percaya diri kalau sendirian mesti ada teman yang menemani.
*****************************************
Natasha mengikuti langkah Ku dengan cemberut.
"Kenapa mesti fitness sih? ".
"Ntar Kamu juga tahu".
"Uh pasti karena teman SMP mu. Dia gak ada disini. Apa tidak lebih baik kamu tanyakan langsung sama orang-orang disini? ".
"Jangan kita gak boleh terlihat terlalu agresif".
"Kita? Aku sudah punya calon suami tau". Nat mencubit pinggang Ku.
Aku mendelik sewot memberi tanda diam kepada Natasha. Sedang treadmill saja dia masih bawel.
Sampai selesai fitness belum ada tanda keberadaan Doni di ruangan ini. Kemana dia harusnya Aku tahu jadwal Fitness Doni jadi gak pulang dengan tangan hampa begini.
Hari ini minggu kedua Aku fitness. Natasha tidak ikut dia lebih memilih perawatan di salon menjelang pernikahan yang akan di langsungkan akhir bulan ini. Mau tampil cantik prima katanya.
Doni belum kelihatan juga bahkan ketika Aku menyelesaikan sesi hari ini. Saat menuju pintu keluar, seseorang menyapa Ku.
"Anggrek".
"Eh Doni". Aku pura-pura kaget padahal girang.
"Ketemu lagi? ".
"Iya". Aku menjawab singkat tapi mencoba memberikan senyuman termanis yang Ku punya sambil berdoa semoga wajah Ku menarik seperti di filter snapgram.
"Eh baru lihat kamu fitness bukan kah kemarin kamu yoga? ".
"Hehe.. iyaa. Aku juga baru lihat kamu? Fitness juga? ". Dia menganggukkan kepalanya.
"Aku balik ke Bandung lagi setelah kita ketemuan terakhir jadi pulang kemarin Aku swab dan karantina mandiri dulu". Doni menjelaskan tanpa ditanya. Dia merapikan rambutnya yang sukses membuat Aku hangat dingin kayak dispenser.
"Oh ada kerjaan ya di Bandunh? ".
"Gak juga ada urusan saja, eh Anggrek maaf boleh minta nomor handphone mu? ".
"Boleh saja". Doni menyodorkan gawai miliknya agak aneh juga dia meminta Ku mengetik sendiri nomor di handphonenya padahal musim covid 19 ini biasanya Aku menjaga jarak tapi rasanya aman saja. Dia kan baru swab dan karantina.
"Makasih ya Anggrek, boleh ya kapan-kapan Aku hubungin kamu".
Aku menganggukkan kepala karena kerongkongan Ku mendadak tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
Sepanjang perjalanan Aku senyum sendiri. Mobil disalip orang Aku tetap tersenyum bahkan mengerem mendadak karena ketemu Emak-emak sein kiri belok kanan Aku tetap senyum. Sebahagia inikah. Seakan Aku ABG yang baru pertama kali jatuh cinta.. eh jatuh cinta. Ah konyol tidak secepat itu.
Mobil Ku memasuki halaman rumah. Di teras dibalik rimbun tanama tampak Mama sedang berbincang dengan seseorang yang posisinya membelakangi Ku.
"Anggrek sudah pulang sayang". Tamu tersebut menoleh ketika Mama menyapa Ku. Aku terkesiap ketika melihat siapa yang datang. Ibu Adiwarna yang menatap Ku dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak banyak berubah seperti saat Aku pertama kali bertemu. Masih sederhana dengan matanya teduh yang menenangkan setiap melihat dirinya. Terlukis kan kesabaran seorang wanita di dalamnya.
Adiwarna sudah ditinggalkan Ayahnya sedari kecil. Ibunya berjuang membesarkan Adiwarna. Semua pekerjaan pernah dilakoni Ibu Adiwarna untuk membesarkan putra tunggalnya. Tangan kasar dengan urat di ujung jari menandakan betapa keras kehidupan yang dijalaninya.
Ada apa Ibu Adiwarna mengunjungi Ku?
__ADS_1
******
Hmmm ada apa.. ada apa 😌