Viral

Viral
Part tambahan (POV Cahya)


__ADS_3

Aku mencengkram benda pipih di tangan. Buku jari memerah akibat tekanan emosi yang tersalurkan ke genggaman. Pemberitaan ini membuat emosi ku memuncak.


Berita tentang Anggrek dan Bian memenuhi laman media. Tayangan di televisi pun memberitakan hal yang sama, Apakah negara ini kehilangan hal penting untuk dijadikan tajuk berita?


Kalau tidak ingat kemarahan Adiwarna jika handphone rusak karena sengaja, Benda ini sudah pasti terlempar ke dinding. Jatuh ke lantai, Tercerai-berai seperti perasaan ku saat ini.


"Huh, Bian bodoh! atau Anggrek menggunakan pelet," aku bicara sendiri di depan cermin.


Pantulan cermin memperlihatkan wajah yang tampak kusam. Akhir-akhir ini keuangan kami tidak pernah dalam posisi baik, Aku kesulitan merawat penampilan diri.


Anggrek... Sahabat ku dari TK, Entahlah apa bisa di sebut begitu. Dulu saat kecil aku memang suka bermain dengan Anggrek. Kami pernah menjadi tetangga, Sebelum keluarga ku pindah dari kompleks Anggrek.


Setelah SMP, Aku mempunyai beberapa teman. Kami membentuk gank, Aku tetap menjalin persahabatan dengan Anggrek. Karena dia tak pernah menolak jika ku minta melakukan apapun.


Ya... dia memang tak sadar, Tipikal yang sukar menolak. Kelemahan yang membuat ku senang berteman dengan dia.


Aku bisa meminta Anggrek melakukan apapun tanpa pernah ada penolakan dari dia. Anggrek tak banyak teman, Dia sering dijadikan bahan olokan di sekolah. Doni lah yang sering membela, Aku sih cari aman saja.


Sama sekali diluar dugaan dia bisa sukses seperti sekarang ini, Penampilannya berubah. Kepribadian pun sekarang tak sepolos dulu.


"Aku tidak menyukai hal itu!"


Aku membantingkan diri ke ranjang. Bermalas-malasan tak perduli sindiran mertua, "Menikah dengan anaknya saja sudah membuat hidup ku merana, Mengapa aku harus repot bangun pagi dan mengurusi rumah?!!"


Pikiranku masih enggan bergeser dari Anggrek. Melintas seperti film yang sedang tayang. Aku merasa hidup jadi tak berharga melihat kehidupan Anggrek sekarang.


Emosi pun menjadi sulit dikendalikan. Tahu begini tak sudi aku menerima Adi, Harusnya dia tetap bersama Anggrek.


Ya... Pemberitaan Anggrek ini membuat ku meradang. Di luar dugaan, Awalnya aku berpikir dia hanya menjalankan usaha milik orang lain. Sama seperti ketika dia bersama Adiwarna.


Adiwarna yang ku pikir bakal tajir dan sukses selamanya, Ternyata aku salah. Otak di balik kesuksesan Adi adalah Anggrek.


Tanpa 'otak', Usaha Adi kehilangan hal penting. Aku enggan membantu, Apa kata teman-teman sosialita ku jika harus turun ke bazar, atau menawarkan ke sana kemari.


Adiwarna bermaksud menarik Anggrek kembali bergabung, Kali ini akan memperkerjakan dia. Kami akan menempatkan Anggrek sebagai manager dengan bayaran yang bisa ditekan.

__ADS_1


Aku dan Adi, sama sekali tak menyangka, Anggrek berapa kali menolak. Aku pikir Adiwarna terlalu bodoh melakukan negoisasi dengan Anggrek. Akhirnya aku turun tangan. Ternyata Anggrek menolak tanpa basa-basi.


Aku tersulut emosi dan terhina. Dia begitu percaya diri sekarang. Tentu saja aku tak tinggal diam. Sebagai mantan sahabatnya aku tahu. Anggrek tak bisa mengendalikan emosi karena bodyshamming.


Aku membalas penolakan Anggrek, Dengan fake akun. Mengeluarkan komentar pedas mengenai penampilannya. Provokasi ku berhasil, beberapa follower melakukan hal yang sama.


Ah mudahnya, Memprovokasi orang dengan menertawakan kelemahan orang lain. Jelas saja aku tertawa ketika mendengar kabar Anggrek harus bedrest karena diet sembarangan yang dia lakukan.


Semakin menambah panas, Iseng saja ketika aku mengirimkan pesan berantai dengan nomor palsu. Bahwa Anggrek OTG dan beberapa karyawannya terkena covid 19 tapi tidak isolasi. Seperti jamur musim hujan, Berita beredar luas.


Aku mendengar Miepa sepi, Rasanya hati ini puas bisa membalas penolakan Anggrek untuk bekerja bersama kami.


Terlena karena berhasil membalas Anggrek. Aku tak menggubris lagi kehidupan dia, Menjalankan hidup sendiri. Tapi Adiwarna semakin pelit, Dia mengeluh gaya hidup ku. Dengan terpaksa aku menekan belanjaan.


Mamaku justru memarahi aku, Kami salah memperhitungkan ternyata Adi tak sekaya perkiraan kami.


Mamaku menyuruh ku mendekati Anggrek dengan lembut, Agar dia tersentuh dan mau membantu tapi bodohnya setiap melihat Anggrek justru aku emosi. Boro-boro menegur dengan ramah, Aku justru mencari masalah.


Apalagi dia berteman baik dengan Natasha dan Nadia. Dua gadis populer di jaman kami sekolah. Keluarga mereka berasal dari keluarga terpandang di kota ini.


Jika ku lakukan, Keluarga Natasha dan Gege akan mencari pelakunya dan menyeret ke penjara. Jelas cara menanggapi mereka berbeda dengan Anggrek.


Semakin bertambah usia, Aura cerdas dan berani tampak dalam diri Anggrek. Setiap hinaan yang ku lontarkan dengan sengaja, Tidak dibalas dengan emosi. Dia menghadapi dengan tenang. Seakan aku hanya lalat tak penting, Berdengung.


"Haha... pacar Anggrek!" aku menunjuk ke arah Adiwarna. Kami pernah ketemu Anggrek dengan Bian. Dengan sengaja menunggu mereka ketika dia memasuki minimarket.


Aku tahu nama pria itu Bian, Pernah ketemu di Miepa. Ganteng sih tapi mobilnya butut. Dia kerja di studio suami Nadia, Palingan nebeng harta Anggrek. Morotin doang, Anggrek kan bego juga. Di kadalin aja dia gak paham. Walau dia sudah berbeda sekarang tapi ku rasa untuk urusan cinta tidak berbeda saat bersama dengan Adi.


Itulah pikiran Ku dan Adi saat itu. Siapa sih yang berpikir bakalan ada orang tajir yang iseng menjadi orang biasa.


Tak terbayangkan ketika aku bertemu Anggrek dengan Kenzo. Tangan ku sangat gatal ketika Kenzo dan Anggrek berjalan bergandengan di depan ku. Dia melakukan dengan sengaja, Ken adalah mantan terindah.


Dia memutuskan ku, Awalnya Aku bermaksud membalas dengan menerima Adiwarna. Siapa sangka perhatian Adi dengan barang mahal dan pemberian mobil, membuat ku justru merasa nyaman menjalankan hubungan.


Kami sering menginap di hotel dan bersenang-senang liburan. Ketika mama Adi tahu hubungan kami diluar batas, Dengan terpaksa dia menyetujui pernikahan kami.

__ADS_1


Pernikahan yang ku pikir bakal membuat aku sebagai ratu. Nyatanya kehidupan sebagai ratu tak bertahan lama, Babysitter pun terpaksa kami berhentikan. Usaha Adi yang baru bersinar tak bisa berkembang, Mampu bertahan pun cukup bagus. Ada beberapa yang tutup.


Aku memaki Adiwarna, ketika Kartu Kredit over limit. Kartu debet hanya mampu membeli barang drugstore. Sumpah... ini diluar perkiraan. Aku menghamburkan kartu tak berguna itu ke wajah Adi. Biar dia tahu, Harus bekerja lebih keras lagi.


Adiwarna marah dengan penghinaan ku. Dia berselingkuh dengan karyawannya. Jelas membuat ku terhina, Aku bermaksud membalasnya.


Berselingkuh dengan seorang direktur sebuah perusahaan yang ku kenal dalam sebuah pesta. Aku sengaja membalas Adiwarna. Menunjukkan aku mampu mendapatkan yang lebih dari Adi


Ternyata dia memiliki istri di kota lain, Dia melabrak dan memaki ku pelakor. Membanjiri sosial media ku dengan komentar bahwa aku pelakor. Menyebalkan, Sejak itu kolom komentar ku batasin.


Pagi ini aku masih di atas ranjang dengan pikiran yang mengembara, Ke masa dulu ketika bersama Anggrek. Melintas tentang pertemuan bersama dia.


Aku iri pada kesuksesan Anggrek, Iri pada suami tampan dan kaya. Iri pada kehidupan Anggrek. Seharusnya aku yang berada di posisi Anggrek.


"Anggrek ini jelek, Kok bisa selalu dapat pacar dan suami ganteng dan kaya, Apa pria kaya pada buta," dengus ku penuh kebencian melihat dia bersama Bian di atas jet pribadi, melewati honeymoon di luar negeri.


"Kamu pikir modal cantik saja cukup? banci saja bisa cantik jaman sekarang!" sindir mertua ku.


Dia kembali menegaskan, "Anggrek itu tak bosan dipandang, Dia manis dan menyenangkan,"


Aku menghela napas panjang. Lelah dengan pikiran tentang Anggrek. Akhirnya aku bangun dari tempat tidur, Mendapatkan suami ku yang sedang menyimak berita Anggrek.


"Aku rasa Anggrek itu menggunakan pelet," kata ku sambil membanting diri di samping Adi.


"Pelet?"


"Iya, Tidak masuk akal seorang Bian tertarik pada Anggrek, Seharusnya aku tidak menikah dengan mu! dan memilih pria mapan seperti itu," jawab ku kembali emosi.


"Seharusnya, Aku mengirimkan mu ke rumah sakit jiwa, Cahya Kumala!" maki Adiwarna sambil meninggalkan ku.


Dia yang dulu mengejar ku sekarang mengucapkan hal itu. Segala sumpah serapah ku layangkan. Membuat mama segera melarikan putri kami ke halaman.


Aku terdiam melihat putri kami yang tampak ketakutan melihat aku dan Adi, Dengan gontai aku mendekati dia dan mendekap lembut anak kami.


"Maafkan mama, Nak," lirih aku berkata. Samar aku mendengar mama berkata pada Adi.

__ADS_1


"Jaga istrimu dengan baik, Di. Emosinya semakin tak stabil. Mama khawatir,"


__ADS_2