
...Jodoh adalah cerminan diri...
...apakah dia merupakan...
...pantulan diri dalam cermin?...
*****
Pukul 06:45
Jumat pagi, aku sudah berada dalam pesawat menuju Jakarta, Netra ku menatap keluar jendela, Melihat jalan, gedung, kendaraan semakin mengecil. Membawa terbang tinggi dan mengembalikan ingatan pada malam sebelum berangkat.
Aku kembali mengunjungi Kenzo, Dia masih marah karena menolak mendengar pendapatnya. Aku ingin memperbaiki semua dengan Ken, Dia dan keluarganya sangat baik.
"Ken, Aku ke Jakarta sekalian untuk memesan kebaya yang akan digunakan saat lamaran. Mama juga sudah mencari informasi mengenai hotel yang pantas untuk menerima lamaran kalian," jelas ku memulai pembicaraan. Memberitahu Ken bahwa kami mulai menyiapkan diri untuk lamaran.
"Rencana paling cepat dua minggu lagi keluarga kami datang, tapi bukan kah kamu baru memulai proyek baru, Anggrek,"
Ken menatap ku dari balik meja kerja. Tumpukan berkas di meja, laptop yang terbuka menandakan dia masih bekerja bahkan ketika malam tiba.
Aku memang mengunjungi Kenzo di showroom mobil papanya. Sejak kondisi kesehatan papa Ken menurun, Dia mengambil alih showroom.
"Kamu juga memiliki banyak pekerjaan tapi aku tidak pernah protes, Bahkan malam ini masih di sini dengan tumpukan berkas," sanggah ku. Setidaknya Ken tidak menuding ku selalu.
"Aku akan menjadi suami, Anggrek. Kepala keluarga, Kamu akan menjadi tanggung jawab ku. Begitu juga jika kita mempunyai anak. Raisa dan Riska yang belum menikah, juga akan menjadi tanggung jawab seorang anak laki-laki dalam keluarga," jelas Ken sambil menyusun tumpukan berkas menjadi susunan rapi.
Dia membuka kacamatanya "Tanggung jawab seorang pria dalam keluarga secara materi menurut ku lebih besar, Kamu harus memahami itu Anggrek. Jangan mensejajari atau berlomba dengan ku untuk mencari nafkah. Kamu mempunyai porsi tanggung jawab sendiri,"
"Aku akan menjalani setelah menikah, Ken. Untuk sekarang berikan kepercayaan karena project ini sudah lama kami rencanakan,"
Netra Ken tanpa kacamata berkilat sesaat mendengar jawaban yang diberikan. Dia berdiri dan berjalan menghampiri ku, Ken membungkukkan tubuhnya.
Dia mencium bibir ku dengan lembut. Sedikit mengejutkan Ken melakukannya, lalu dia membelai pipi dengan punggung tangannya.
"Lakukan apa yang menurutmu baik. Aku tak bisa melarang untuk saat ini,"
...Bapak dan Ibu yang terhormat, sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta. Waktu setempat sekarang menunjukkan pukul 07 lewat 50 menit di pagi hari.....
Announcement membuyarkan lintasan kejadian malam tadi, Aku menghela napas. Hubungan ku dan Ken adalah hubungan yang mulai mengenal satu sama lain setelah kami berjanji dengan komitmen.
Kami hanya mengenal sebatas teman kuliah, Setelah Ken melamar ku. Barulah kami mengetahui semua sikap, perilaku, kebiasaan dan pekerjaan yang sedang aku dan Ken jalankan.
Aku mencoba berdamai dengan sikap keteraturan Ken tapi mengapa dia tidak memahami apa yang ku lakukan. Siapa disini yang egois?
__ADS_1
Tarikan napas membuat sopir taksi menoleh tapi dia mengabaikan. Netra ku menatap gedung pencakar langit di Jakarta. Tempat dimana keluarga Bian berada tapi entah di belahan jakarta mana, Mereka tinggal. Secara langsung tak banyak yang aku tahu tentang kehidupan keluarga Bian.
Taksi mengantarkan ke hotel yang telah ku pesan di e-commerce. Hotel terdekat dengan lokasi bu Tari dan butik tempat desainer rekomendasi Natasha. Setelah menyelesaikan administrasi dengan resepsionis, Aku segera menuju kamar.
Setelah meletakkan koper kecil, Tangan ku mengambil handphone.
"Hai, Sayang. Aku sudah tiba di hotel,"
"Iya, Nggrek di hotel mana?"
Aku membalas pesan Ken sambil mengaduk kopi. Aroma kopi selalu menenangkan ku.
"Istirahat lah, Nggrek. Semoga lancar apa yang mau kamu kerjakan,"
"Iya makasih, Ken,"
"Daah, Sayang,"
"Dah, Ken"
"Tidak ada waktu istirahat Ken, Aku harus memesan taksi online untuk menuju tempat bu Tari. Kemudian melanjutkan ke Raflesia butik, Tempat Agnes desainer kebaya Natasha," batin ku.
Dua tempat dalam satu waktu di Jakarta. Bukan perkara mudah, Aku beruntung saja karena pilihan Natasha saling berdekatan.
Aku telah tiba di kediaman bu Tari. Wanita separuh abad yang tampak serius. Beliau mengantarkan ku ke gudang, Memberikan masukan tentang bahan kain, Kemudian memberikan price list untuk harga kain.
"Ini contoh bahan kain yang di minta Meidina, Dia menghubungi ku berapa hari lalu. Kami juga bisa mencetak motif sesuai pesanan, Sehingga produk kalian akan memiliki ciri khusus," jelas bu Tari sambil memberikan sample beberapa kain.
"Baik bu, Saya lebih tertarik untuk mencetak sesuai motif yang kami inginkan agar produk ekslusif, Serta bisa menjadi ciri butik kami,"
"Boleh nanti bisa berikan motif yang di inginkan,"
Selanjutnya kami membahas mengenai perjanjian kerjasama yang tidak terikat, Sebenarnya bisa dilakukan melalui telpon tapi bu Tari pernah tertipu. Jadi dia lebih berhati-hati sekarang.
Aku juga memesan bahan kain untuk dikirimkan ke alamat rumah. Rencananya akan disiapkan untuk seragam keluarga saat lamaran atau jika terlalu mepet. Bisa untuk seragam keluarga saat menikah.
Setelah dari bu Tari, Aku ke raflesia butik. Agnes sang desainer berpenampilan unik tapi tetap menarik, Telah menunggu.
"Natasha sudah memberitahu ku kalau temannya akan datang memesan kebaya, Dia sudah wanta-wanti supaya memberikan desain kebaya terbaik," tutur Agnes ketika aku baru menaruh pantat di sofa butik.
"Tidak salah Nat merekomendasikan kamu, Nes. Apakah dua minggu ini kelar untuk kebayanya? aku juga memesan untuk mama. Dia sudah memberikan ukurannya,"
"Natasha kan teman ku, Hehe... Dua minggu bisa ku selesaikan dengan kebaya simple tapi tetap elegan. Untuk yang ribet maaf angkat tangan, Ini juga dua minggu karena kamu sahabat Natasha. Kalau yang lain akan aku tolak,"
__ADS_1
"Wah makasih ya, Nes. Aku baru tahu kamu teman Natasha,"
"Iya, Kita satu kost saat kuliah dulu."
Agnes mengukur kebaya dengan warna dusty yang ku pesan. Sama dengan warna pakaian keluarga yang akan kami kenakan.
Aku tiba kembali di hotel ketika malam telah menyapa. Betapa cepat waktu di Jakarta, Aku menguap dan merasa lelah tapi mengingat tujuan ke Jakarta selesai. Ada kelegaan terasa janji dengan Nat tak menjadi beban lagi.
Selanjutnya besok akan ku gunakan untuk jalan-jalan sambil menunggu kabar dari Dion. Bertemu Arga Danumarya.
Trttttttt...trrttttt
Dering telpon dari Kenzo membuat ku mengurungkan niat untuk mandi.
"Halo, Sayang,"
"Iya Nggrek, Besok kamu mau kemana?"
"Belum tahu rencana pastinya, Ada apa?"
"Aku sekarang sudah di bandara Soetta,"
"Hah! kamu menyusul ku?"
"Kurang lebih begitu, Nggrek. Kebetulan aku juga ada kerjaan mendadak. Besok aku akan ke hotel tempat mu ya?
"Baik Ken,"
"Sampai ketemu besok, Nggrek,"
"Iya, Ken. Take care ya,"
"Thanks Anggrek,"
Aku menutup telpon dengan surmringah tapi senyum ku menghilang ketika ada pesan dari Dion.
Anggrek malam minggu aku dan Arga ada waktu luang nongkrong bentar di coffe shop, Tidak jauh dari hotel mu. Kalau mau ketemu aku bisa jemput pukul 19:00
Tangan ku memijat kening, Besok Ken akan datang. Alamat akan gagal ketemu idola ku. Disisi lain aku sedikit penasaran mengapa Kenzo menyusul.
Apa dia mau mengajak jalan-jalan karena sulit melakukannya di kota kami, Ya kami butuh refreshing karena sibuk mengejar impian.
*******
__ADS_1