
Jangan meratapi dan menangisi
kehilangan cinta seseorang yang menolak hadirmu
karena justru di masa depan
bisa jadi kamu mensyukurinya
Anggrek menatap pintu pagar dengan tulisan biru dengan background putih' Rumah ini dijual hubungi....'
*******
Satu bulan
Persiapan resepsi di kota ku sudah hampir selesai. Aku dan Bian baru selesai melakukan foto prewedding. Kami menggunakan konsep perjalanan hubungan. Di pantai, di mobil antik Bian sampai bermain jetski.
Untuk pertama kali aku melihat Bian cermat sekali mengerjakan tugas. Tentu saja karena dia sangat memahami hal ini. Teman ku pernah mengatakan, Paling ribet menangani orang dengan bidang yang sama. Apalagi jika dia ahli dalam bidangnya.
Besoknya, Kami baru dari tempat Lika si wedding planner. Memeriksa kesiapan Vendor, Bian lalu mengajak minum kopi di tempat Danar.
"Anggrek, Kamu bisa menghubungi Kira gak sekarang?" tanya Bian dengan wajah yang tampak kesal.
"Iya, Ada apa?"
"Suruh hapusin semua komen mu di sosial instagram Arga, Dia meledek ku!"
"Oh, Iya..., Baik kak," aku salah tingkah. Sebuah keisengan belaka mengomentari foto Arga. Siapa mengira keajaiban terjadi di dunia modern. Aku akan menikah dengan sahabat Arga.
"Sayang, Kamu mengenalkan Tasya dengan Kenzo ya?"
"Sebenarnya kebetulan bertemu saat Ken mengajak Miepa masuk ke organisasi mereka. Ada Tasya saat itu, Memangnya kenapa?"
"Hmmm... Om Reinald heran dia keranjingan datang ke kota kita. Jadi om Reinald meminta Tasya menggunakan bodyguard. Tasya enggan, Dia mau bebas berjalan-jalan dan meniru ku, Menyembunyikan jati diri. Kamu tahu kan dia 'tuan putri' yang harus dituruti kemauannya,"
"Menyembunyikan jati diri? maksud mu kamu membohongi ku?"
"Bukan begitu, Nggrek. Aku hanya kamu mau menilai diri ku, Sebagai Bian. Bukan sebagai putra Prasetya atau kerabat Anugrah. Tasya mau seperti itu, Dia menginginkan Kenzo mengenalnya sebagai Tasya saja, Membawa pengawal pribadi terlalu mencolok," jelas Bian.
"Dia menyukai Ken ya, Sayang?" bisik ku dengan senyum tertahan.
"Sepertinya tapi dari cerita Tasya. Kenzo tidak merespon jadi Tasya penasaran,"
"Dia memang terkenal susah menjalin kasih dengan perempuan lain. Pemilih jadi...,"
"Jadi... jadi... jadi kamu anggap apa aku, Sayang? Aku sudah lama menanti mu, Pemilih juga lho! udah jangan bahas, Ken,"
"Tadi yang ngajak bahas kan kamu, Sayang," kata ku manyun malah kena semprot deh.
"Iya, Maaf..." Dia tersenyum, "Sayang, Kita honeymoon. Dalam atau ke luar negeri?"
"Di sini saja sayang, Jangankan ke luar negeri. Beberapa destinasi wisata Indonesia saja cuma jadi wallpaper," jawab ku polos.
"Kamu itu menggemaskan deh, Nggrek. Jujur banget, Kamu tahu impian ku? keliling Indonesia menggunakan camper van bersama istri ku. Aku akan mengajak mu keliling Indonesia bukan sekedar wallpaper tapi bisa menjadi foto untuk kenangan ketika tua nanti," jelas Bian dengan mata berpendar indah.
"Sayang, Camper van itu apa?"
"Camper van itu kadang-kadang disebut orang sebagai mobil kemping,karavan atau rumah motor. Intinya merupakan kendaraan self-propelled. Di desain khusus dengan kelengkapan yang dibutuhkan untuk kita nyaman berjalan jauh, Sayang. Di dalamnya Ada dapur mini, toilet portable, ruang duduk. Ya... katakan lah 'rumah mini',"
"Jadi kita honeymoon menggunakan camper van?"
"Eh jangan sayang, Impian itu bukan impian malam pertama ku. Aku gak bermimpi melakukan di camper van. Haha," tawa Bian yang sukses membuat wajah ku panas.
"Udah ah, Aku mau ngopi aja," balas ku mengalihkan pembicaraan dengan tawa tertahan Bian.
......___---___----_____......
Dua minggu lagi
Aku hari ini mengunjungi tante Melinda setelah beliau praktek. Seulas senyuman tipis di berikan pada ku ketika menerima undangan pernikahan.
"Tante masih memahami ketika kalian gagal menikah," ujar tante Melinda sambil memegang kartu undangan, "Hanya kamu cepat memutuskan menikah dengan pria lain hanya berselang enam bulan dari keputusan Ken. Mengagetkan kami, Anggrek,"
"Maaf tante jika undangan ini mengejutkan dari pihak keluarga Kenzo, Di sini Anggrek tidak memaksa semua orang menghargai keputusan Anggrek. Calon suami saya adalah mantan sebelum berhubung dengan Kenzo. Kami tidak perlu waktu saling mengenal yang dilakukan menyatukan tali yang pernah putus,"
"Tante mencoba menghargai keputusan mu menikah dengan pria lain, Disini Kenzo lah yang memutuskan hubungan. Kamu dan tante memiliki kemiripan dalam hal mengejar karier. Pengalaman masa kecil Ken, Membentuk keinginan istri yang selalu hadir untuknya tapi apakah bijak, Jika kamu meminta Ken terlibat dalam acara pernikahan kamu? menyewa catering dia?" tanya mama Ken.
"Catering Kenzo mendominasi daerah kita tante, Di rekomendasi oleh wedding planner kami. Maaf, Jika kami memilih tempat lain khawatir tidak sesuai ekspetasi kami,"
"Andai kamu menempatkan diri pada posisi Ken saat ini, Anggrek," ujar tante Melinda.
"Tante disini yang memutuskan hubungan kami adalah Kenzo bukan Anggrek,"
"Dan dia menyesal! tante mendorong Kenzo untuk memperbaiki semuanya. Dia mengikuti saran tante, Dia datang ke tempat mu, Beralasan mencoba mengajak bergabung dengan organisasi. Padahal hal itu bisa diwakilkan, Tapi apa yang di dapat justru kabar kamu akan menikah,"
__ADS_1
Tante Melinda menghela napas panjang, "Bahkan meminta Ken terlibat dalam acara mu. Kamu sungguh tidak bijaksana, Anggrek,"
Aku menunduk tak kuasa membalas tatapan tante Melinda. Maksud untuk mengenal dan mendekatkan dengan Tasya. Justru malah menjadi boomerang, Ya... Aku berpikir selain mendapatkan catering yang baik juga bisa mengenalkan Ken dan Tasya.
Sama sekali di luar dugaan ku, Kedatangan Ken bermaksud merajut kasih kembali bersama ku. Bukan kan dia yang memutuskan hubungan? Dia juga yang menolak ketika aku meminta kesempatan untuk merubah kesibukan.
Ken, Jika aku menuruti mau mu. Melepaskan semua yang ku lakukan saat ini. Apakah kamu mau menerima?"
"Kita berjalan sendiri sekarang, Anggrek. Kita tidak bisa bersama. Dua kutub magnet yang sama tidak akan pernah bersatu,"
Bukan kah Ken yang menolak ketika itu. Aku berpikir memang tidak ada kesempatan lagi. Di saat yang sama kehadiran Bian, Menarik rasa yang selalu ku ingkari.
Rasa yang masih kuat dan ketika dia datang. Semua perasaan itu keluar dan merengkuh kuat menunjukkan eksistensi keberadaan yang memang belum hilang.
"Maafkan Anggrek, Tante. Aku hanya menginginkan silaturahmi tetap terjaga. Aku pamitan dulu ya, Tante,"
"Iya Anggrek, Papa Ken sudah mengingatkan tante bahwa kalian memang belum berjodoh. Jika memang bukan jodoh Ken, Selalu ada cara untuk pisah tapi sebagai seorang ibu. Ada perasaan yang berbeda memandang masalah ini,"
"Iya, Tante. Anggrek mengerti perasaan tante,"
Aku berlalu dari ruangan tante Melinda. Ketika di parkiran, Kenzo baru keluar dari mobil. Sepertinya dia bermaksud menjemput Tante Melinda.
"Sendirian, Nggrek? sudah malam ini," tanya Ken khawatir. Ah, Andai aku tak mendengar cerita tante Melinda. Mungkin saat ini aku menanggapi biasa saja tapi karena aku tahu sisi lain hati Ken. Aku tahu kekhawatiran itu murni dari hatinya.
"Iya Ken, Makanya buru-buru mau pulang," jawab ku sebenarnya lebih bermaksud melarikan diri dari Kenzo. Dia menceritakan isi hatinya pada tante Melinda.
"Anggrek,"
"Ya, Ken,"
"Aku tahu maksud tujuan mu mengenalkan ku dengan Tasya tapi aku bisa mengatasi sendiri perasaan ku...," Ken menatap mata ku. Membuat perasaan bersalah hadir di dalam hati.
"Iya, Ken..." Aku pamit dulu.
"Anggrek!" aku menghentikan langkah dan menatap manik coklat dihadapan ku.
"Ya, Ken. Ada apa?"
"Kamu masih ingat? terakhir kita berjumpa di Jakarta. Aku memang berkata akan menawarkan bantuan pada mu, Jika kamu membutuhkan tapi sama sekali aku tidak menduga akan secepat ini dan justru kamu meminta bantuan yang tak pernah ku duga,"
Ken memalingkan wajah. Berkali-kali dia mengedipkan matanya, "Aku hanya memenuhi janji ku pada mu, Jadi jangan berharap pada apapun tentang Tasya,"
"Iya Ken terimakasih bantuannya,"
Kalimat terakhir Kenzo ketika kami berpisah kembali teringat, Dia memenuhi janjinya.
Tanpa sadar aku melukai perasaan orang lain disini. Aku bukan manusia sempurna tanpa salah, tanpa celah.
"Percayalah Ken, Aku pernah lebih terpuruk dari mu tapi waktu menyembuhkan luka hati. Mengantarkan pada seorang yang tulus mencintai ku" suara hati ku berkata perlahan.
**********
1 Minggu lagi
Semua undangan hampir selesai kami bagikan. Ada satu undangan yang membuat ku memperlakukan secara 'istimewa', Sangat istimewa. Sehingga pakaian dan make-up terbaik di kenakan khusus mengantarnya.
Undangan bernuansa gold dengan emboss bunga Anggrek di tangan ku. Tampak indah dengan tulisan nama penerima. 'Bapak Adiwarna sekeluarga', Ya aku tentu saja mengundang mereka sekeluarga termasuk ibu Adiwarna.
"Rumahnya di jual, Sayang," kata Bian dengan alis bertaut. Kami tiba di rumah Adiwarna dengan tulisan dijual berwarna biru dengan background putih.
Kami berdiri di pintu gerbang mengintip dari celah pintu pagar.
"Ada mamanya, Sayang," aku menunjuk pintu rumah yang terbuka tanpa menunggu jawaban Bian, Aku mengucapkan salam dengan intonasi sedikit keras.
"Satu RT bisa mendengar mu, Nggrek,"
"Cahya sudah lama menanti undangan kita, Dia sudah pernah menanyakan," jawaban ku yang hanya dibalas senyuman oleh Bian. Mungkin dia heran dengan kelakuan ku tapi Bian kan tidak tahu bagaimana Cahya.
Pintu pagar terbuka, Ibu Adiwarna tampak kaget melihat ku.
"Anggrek sudah lama tidak melihatmu, Kamu langsing sekarang. Cantiknya," kata ibu Adiwarna sambil memeluk ku. Dia melihat ke arah Bian yang menyalaminya.
Tanpa di duga Adiwarna keluar dari rumah, Mungkin dia mau melihat tamu yang datang. Aku menelisik Adiwarna, Dia tampak lebih tua dari usianya. Kelihatan lebih kurus dengan wajah kuyu.
"Anggrek," kata Adiwarna canggung.
Kami di persilakan duduk oleh ibu Adi, Adiwarna duduk di samping ibunya.
"Tante apa kabar?" kata ku tulus.
"Baik, Anggrek," jawab ibu Adi.
"Syukurlah tante, Anggrek kesini bermaksud mengundang tante sekeluarga ke pernikahan kami. Oh ya, Cahya mana?"
__ADS_1
"Ada, tunggu bentar," Adi permisi sebentar lalu keluar bersama Cahya. Alis ku bertaut dengan penampilan Cahya. Rambutnya di kuncir asal, Wajahnya masih menyisakan kecantikan tapi tampak kusam.
"Ada apa sih manggil ke sini?" dia bertanya ketus pada Adiwarna tapi ketika melihat ku dan Bian. Cahya terdiam.
"Kok sama dia, Bukan Kenzo. Terlalu tajir ya Ken buat mu," celetuk Cahya.
Aku menaikkan lengan kemeja dan mengibaskan krah baju lalu menyibakkan rambut. Memperlihatkan telinga indah ku, eh anting indah ku.
"Aduh panas ya ruangan ini," mata Cahya melirik ke arah jam tangan, leher dan anting ku. Mata jelinya memindai seksama, Dia tahu yang ku gunakan asli.
"Kesibukan kalian berdua apa sekarang?" tanya ku membuat mereka berdua saling memandang.
Tanpa kata, Cahya masuk ke dalam ruangan dan tidak mau bergabung.
"Cahya sedang fokus dengan anaknya, Nggrek. Adiwarna masih menjalankan usahanya yang jatuh karena pademi," jelas ibu Adi.
"Oh iya, Moga lancar ya. Tante dan Adi datang ya,"
"Iya Anggrek, Tante usahakan datang," lirih suara ibu Adiwarna. Dia melirik Adi yang hanya diam, Pandangan kosong tampak terlihat ketika dia memandang undangan kami. Lalu beralih ke Bian
"Ketemu kembali ya," sela Bian mengagetkan ku, Kapan Bian bertemu Adiwarna? Bahkan Bian tidak mengenalnya. Apakah tahu dari sosial media Cahya tapi Bian hanya pengguna sosial media tanpa ber-interaksi di dalamnya.
"Aku bertemu Adiwarna saat mengunjungi kak Danar di kantor proyek baru dia. Baru melamar kerja saat itu ya?" tanya Bian. Dijawab Adiwarna dengan anggukan kecil.
Tak banyak percakapan lagi. Kami pun tak ada alasan untuk lebih lama disini. Aku dan Bian lalu pulang.
"Apakah Kak Danar menerimanya?" tanya ku ketika dalam mobil.
"Tidak Nggrek karena manager yang diterima bukan dia. Aku berpapasan ketika Adi keluar dari ruangan Danar. Waktu itu ada interview untuk posisi manager operasional,"
"Baguslah," jawab ku singkat.
"Sudah lah itu masa lalu sekarang ada aku untuk masa kini dan masa depan mu,"
Aku tersenyum ke arah Bian, Ya itu hanya kenangan tapi ada kalanya kenangan mengungkit luka. Ada sebuah kepuasan ketika melihat ekspresi Adiwarna dam Cahya melihat ku.
Tentu saja aku hanya manusia yang masih memiliki nafsu, Tidak selalu bisa bersikap baik. Ada saatnya nafsu negatif menguasai. Seperti tadi dengan terang aku memamerkan perhiasan berlian dan apa yang ku dapat saat ini.
Ah tapi bagaimana pun, Apa yang mereka lakukan lebih dari itu. Sudahlah calon suami ku benar, Masa kini dan masa depan lebih berharga daripada potongan masa lalu.
******
3 Hari sebelum hari-H
Tasya mendatangi rumah ku, Memasuki kamar mungil yang sudah di dekorasi. Dia awalnya tampak heran melihat rumah kami lalu ekspresi itu berubah biasa.
"Kalian honeymoon dimana? tanya Tasya sambil duduk perlahan di kursi meja rias.
Tasya memang datang lebih awal dari keluarga lainnya. Dia membawa pengawal pribadi dan seorang personal asisten. Melayani segala keperluan Tasya
"Rencana di Indonesia tapi kak Diandra memberikan kami hadiah paket 'honeymoon'," Jadi aku dan Bian akan menggunakan hadiah dari kak Diandra.
"Oh iya dan kalian berangkat honeymoon setelah dua resepsi di langsungkan ya kan, Nggrek?"
"Iya benar, Tasya,"
"Nggrek aku sebal ma Ken, Dia tidak pernah memperdulikan ku. Justru selalu karyawannya yang berhubungan saat urusan katering," dengus Tasya kesal.
"Sabar, Tasya. Ken tidak mau terburu-buru. Dia tipikal cowok yang teratur," saran ku.
"Huh... Aku baru tahu dari Bian. Kamu mantannya, Kenapa aku bisa menyukai pria yang menyukai mu ya?"
"Entahlah,"
"Terus dulunya siapa yang mendekati mu, Ken atau kamu yang mendekati dia,"
"Ken yang mendekati ku,"
Aku memandang Tasya, Harus bagaimana mengatakan. Kenzo sudah biasa di dekati wanita, Pada acara 'yourtea' ketika banyak perempuan mengelilinginya. Kenzo meninggalkan mereka dan memilih bersama ku.
Dia mengabaikan Nindi yang menghampiri sekarang Tasya. Dia malas meladeni mereka terlebih perkataan tante Melinda kemarin. Masih ada aku di hati Ken.
Begitu pula, Tidak mungkin crazy rich secantik Tasya tidak mempunyai penggemar. Apakah mereka lagi-lagi sama. Menyukai sesuatu yang membutuhkan usaha untuk mendapatkannya.
Apakah akhirnya Kenzo akan bertekuk lutut pada crazy rich satu ini? Aku tak bisa menjawab mengingat kriteria calon istri Kenzo.
Aku menghela napas, Kisah cinta ku juga harus melalui pasang surut. Sebaiknya aku fokus pada pernikahan yang tinggal menghitung hari.
Jantung ku berdebar sebentar lagi. Kami akan tinggal dalam satu atap, Berbagi semua hal. Menyatukan dua jiwa raga dalam ikatan suci pernikahan.
Merubah status dan kehidupan kami. Tanggung jawab masing-masing akan bertambah. Tidak lama lagi aku dan kamu akan menjadi kita.
Semua kata cinta akan terikat erat dalam satu barisan ucapan ijab kabul.
__ADS_1
Aku tak sabar menanti saat itu