Viral

Viral
27. Pendekatan Bian


__ADS_3

Menolak hal yang sebenarnya ingin kita terima ternyata merupakan hal yang berat


*******


Setengah perjalanan Bukit Asri bisa di capai menggunakan kendaraan. Selanjutnya semua kendaraan harus berhenti di tempat parkir yang di sediakan. Semua pengunjung harus melanjutkan perjalanan ke atas bukit dengan berjalan kaki.


Ada juga pengunjung menggunakan sepeda atau berlari dari bawah bukit hanya saja karena tujuan kami bukan berolahraga maka menggunakan mobil.


Apalagi aku ketika sudah di parkiran yang dicari adalah warung makan yang berjejer tidak jauh dari tempat parkir.


"Kak mau kemana?." Dewo bertanya heran karena aku mengambil arah yang berbeda dengan mereka.


"Kalian pergi dulu aku mau sarapan karena terburu buru kita belum sempat sarapan ntar aku nyusul ke atas"


"Ih gak mungkin nyusul, kakak pasti nunggu disini"


"Anggrek benar Dewo, kita sarapan dulu. Kakak mu kan masih dalam pemulihan juga." Bian menghampiri ku. Aku menghela napas padahal tidak menawarkan dia untuk sarapan. Keinginan ku sebenarnya menghindari Bian bukan enggan berjalan ke atas.


"Pemulihan apanya dia sudah makan banyak lagi"


"Makan teratur tepatnya." Aku menarik Dewo agar dia berjalan di samping ku. Diluar dugaan ternyata Bian bukan berjalan di samping Dewo tetapi di samping ku. Jadilah aku paling bulat diantara dua jangkung ini.


Kami memilih warung bubur ayam. Bian membantu ku membuka tutup teh botol.


"Ala.. Biasanya Kak Anggrek buka pakai gigi kok kak Bian". Aku mendelik ke arah Dewo yang tanpa merasa bersalah kembali melanjutkan sarapan bubur ayamnya.


Aku dan Bian menghabiskan bubur ayam dalam diam. Kali ini Bian duduk berhadapan dengan ku, dia bersebelahan dengan Dewo karena posisi ini aku makan perlahan.


"Tumben makannya anggun biasanya hap.. hap." Dewo kembali dengan celetukan menyebalkan.


"Kamu mau ikutan pulang naik mobil kakak atau ntar kakak tinggalin disini." Aku pura-pura mengancam Dewo.


"Kakak sengaja ya biar bisa pulang berdua sama Kak Bian?." Dewo tertawa ngakak dengan celotehannya sendiri. Aku mencuri pandang ke Bian yang senyum-senyum membuat jantung ku memacu cepat.


"Kamu punya adik nggak, Bian? Kalau belum punya ambil saja adikku ini." Aku melempar Dewo dengan tisu yang ditangkap bocah itu dengan gaya aksi.


"Kak, aku haus mau ambil minuman lagi. Kalian mau?". Aku menggeleng begitu pula Bian. Dewo meninggalkan kami menuju ke cooler minuman di sebelah kasir.


"Aku anak bungsu dan tidak keberatan kalau Dewo jadi adikku tapi supaya dia jadi adikku berarti kakaknya harus jadi istriku". Aku terbatuk-batuk mendengarkan perkataan Bian. Bubur ayam yang halus berasa seperti gumpalan di kerongkongan.

__ADS_1


"Ih aku sudah menduga kakak butuh minum, nih minum biar tidak tersedak kan sudah dibilangin makan pelan-pelan." Dewo sudah kembali dari cooler minuman segera ku ambil minuman dari tangan Dewo. Dalam sekejap minuman itu tandas.


Aku berdiri dari tempat duduk bergegas hendak membayar sekalian kabur dari hadapan Bian. Sebenarnya memalukan satu kalimat saja membuat aku kentara grogi. Tanpa ku duga satu langkah saja dari Bian sudah menghalangi ku.


"Aku bukan bocah kecil yang kamu bayarin makan terus, Nggrek." Bian mendahului ke kasir membuat ku menatap punggung Bian. Kata-kata Bian membangkitkan sebuah kenangan yang menyeret ku ke masa lalu.


Ketika aku bersama Adiwarna selama di bangku kuliah aku lah yang sering membayar makan. Kebiasaan itu berjalan sampai usaha Adiwarna mulai menunjukkan hasil dan keadaan ekonomi dia membaik. Sejak saat itu kami bergantian membayar setiap makan.


"Anggrek kamu melamun ya?." Bayangan Adiwarna berganti wajah rupawan Bian. Aku gelagapan melihat Bian yang sudah berdiri di hadapan ku.


"Eh iya, Dewo mana?." Aku mengalihkan perhatian Bian. Dia menunjuk ke arah luar warung makan. Dewo sudah siap dengan gawai mengambil video keadaan sekitarnya.


"Yuk Kakak cepetan mumpung masih pagi ntar keburu rame." Dewo melambaikan tangan ke arah kami.


Pemandangan di atas Bukit Asri sangat indah. Liukan air mengalir dari atas lalu memecah di bebatuan membentuk aliran air terjun kecil. Sayang aku tidak membawa baju ganti jadi hanya bisa mencelupkan kaki di dalam air.


Ikan-ikan kecil mengitari kaki ku. Aku menunggu Bian dan Dewo yang sedang mengambil foto di pinggiran air terjun.


Kakiku bergerak menimbulkan gemericik air. Keadaan ini mengalirkan perasaan tenang yang menyelusup dalam hati, udara yang sejuk, suara air, desiran angin dan seorang pria berwajah tampan. Wajah tampan??.


Aku terhenyak kaget ketika Bian sudah di samping ku. Di sebelah Bian, Dewo masih sibuk dengan kamera barunya. Dia tidak berhenti bertanya, Aku merasa lega Dewo tidak pernah berada jauh dengan ku sehingga bisa menjaga jarak dengan Bian.


Menjelang siang kami memutuskan untuk pulang karena Bukit Asri mulai tampak ramai. Kali ini Bian menawarkan diri untuk menyetir mobil. Tawaran yang jelas tidak ku tolak daripada sendirian di kursi depan lebih baik aku sendirian di kursi belakang.


"Kak, bangun. Cepat banget molornya padahal cita-citanya punya bodi ramping kayak lisa Blackpink." Suara Dewo mengagetkan ku. Aku segera tersadar ketika melihat keluar jendela ternyata kami berhenti di warung seafood yang lalu.


"Makan dulu yuk sudah hampir jam dua belas siang". Tanpa menunggu jawaban dari ku. Mereka berdua sudah turun dari mobil. Aku mengekor langkah dua jangkung dengan tergesa. Mereka tidak menyadari kaki panjang itu mempunyai langkah lebar.


Aku menghempas diri di kursi tidak terlalu lama menunggu, Pesanan kami sudah tiba di meja.


"Aku sedang mengurangi porsi makan." Aku menunjuk ke arah piring sebelum Dewo menggoda ku ketika melihat porsi yang lebih sedikit dari biasanya.


Kali ini Dewo menyelamatkan ku. Dia tidak hentinya menanyakan hasil foto mana yang paling bagus. Aku tidak berani menatap Bian yang berada di hadapan ku.


Sampai kami selesai makan di warung seafood. Tidak banyak percakapan antara aku dan Bian.


Aku mengucapkan terimakasih atas traktiran Bian. Awalnya Bian berencana memesan taksi online. Dia tidak enak untuk diantar pulang karena untuk kembali ke rumah Bian kami harus memutar balik.


Hanya saja Dewo begitu ngotot mau mengantar Bian pulang. Sebenarnya aku enggan khawatir ketemu Danar di rumah mereka tapi aku pikir bukan kah kami tadi menjemput Bian di gerbang perumahan jadi dia pasti berhenti di gerbangnya saja.

__ADS_1


Ternyata Aku salah karena kemudi ada ditangan Bian ternyata dia memasuki perumahan. Jantung ku berdegup lebih kencang. Kami sudah tiba di rumah Bian. Rumah minimalis dengan taman yang apik tanpa pagar rumah. Bian menawarkan untuk mampir yang segera ku tolak.


Aku pindah dari posisi penumpang belakang ke kursi depan secepat kilat. Setelah permisi ala kadarnya dengan Bian. Aku langsung tancap gas, Ngebut melarikan diri dari kakak Bian yang galak dan bermulut pedas.


******


Sejak dari Bukit Asri Bian sering mengirim pesan sekedar menanyakan kabar. Aku hanya membalas sesekali walau hati serasa ingin berontak untuk terus mengetikkan kata-kata kepada dia.


Perkataan Danar mengingatkan keadaan hubungan ini. Bian dalam perjodohan, apakah dia menolak perjodohan itu?. Aku sama sekali tidak tahu, Benarkah aku istimewa bagi Bian karena aku mulai merasakan sifat dingin Bian mencair ketika berada di dekat ku.


Suara ketukan pintu di ikuti Mama yang memasuki kamar menyadarkan ku dalam pergulatan batin membalas pesan dari Bian atau tidak.


"Nggrek, kamu bisa menemani Mama ke rumah Nenek?." Rumah nenek berjarak dua jam dari rumah kami.


"Kapan, Ma?"


"Rencana Mama besok Nggrek bersamaan dengan hari libur Miepa dan booth unyu. Papa sedang wfo sedangkan Dewo ada tugas dari sekolahnya. Kita pergi berdua selama tiga hari."


"Iya, Ma. Anggrek bisa nanti akan koordinasikan ke Nando, Bang Ipul, Rika sama Natasha untuk tiga hari ke depan"


"Makasih Nggrek. Mama mau siapin keperluan untuk keberangkatan besok"


Aku menyenderkan diri di kepala ranjang. Kami memang rutin mengunjungi Nenek biasanya dengan formasi lengkap tapi kali ini karena Papa dan Dewo berhalangan jadi hanya berdua dengan Mama.


Tiga hari ini setidaknya aku bisa menghindari Bian karena berapa kali dia hendak berkunjung selalu ku tolak. Aku khawatir Bian nekat datang dengan alasan menemui Dewo. Adikku yang satu ini memang supel bisa-bisanya dia berteman lintas usia.


*********


Suasana cerah membuat perjalanan bersama dengan Mama begitu menyenangkan. Sudah lama kami tidak menghabiskan waktu berdua. Berhenti di tempat makan atau di toko makanan membuat bawaan kami menjadi banyak.


Nenek dan Kakek sangat senang menyambut kedatangan kami berdua.


Aku menghempaskan diri di ranjang rumah Nenek dalam kamar Mama semasa gadis. Foto-foto Mama masih terpajang dikamar ini. Seraut wajah cantik dalam bentuk Dewo versi wanita.


Waktu begitu cepat berlalu sekarang kamar Mama hanya menyisakan ruang kosong ketika Mama kembali ke keluarganya.


Aku berdoa agar bisa menjalani hari seperti kakek dan nenek. Melewati masa tua berdua dalam keadaan sehat walau aku yakin mereka pasti merindukan masa-masa ketika suara ramai saat anak-anak masih kecil.


Hanya saja roda kehidupan terus berputar. Sebisa mungkin kami rutin mengunjungi Kakek dan Nenek karena saudara Mama yang lain diluar provinsi ini sehingga tidak bisa setiap bulan bertandang.

__ADS_1


Perjalanan dua jam membuat tubuh ku lelah dan mata mulai mengantuk. Aku terlelap dalam buaian mimpi indah tentang keluarga di masa depan.


***


__ADS_2