Viral

Viral
17. Pertemuan lagi


__ADS_3

Teknologi kecantikan berkembang pesat seiring keinginan orang untuk berwajah rupawan, kenapa? karena duniamu seakan lebih mudah ketika menawan banyak orang.


Bukan berarti ketika wajahmu tidak sesuai dengan standar kecantikan maka hidup mu akan nelangsa. Tidak demikian sobat tapi bukan kah si cantik pandai memasak lebih mudah menarik orang daripada si biasa yang memiliki kemampuan pandai memasak juga?


**************************************


Danar menatap dari ujung meja. Dia menunggu Aku memberi respon. Sebenarnya Aku cukup heran kenapa mereka tidak langsung mencari meja sendiri sedangkan Aku terlalu enggan untuk menawarkan bergabung.


Aku hanya tersenyum tipis membalas tatapan Danar lalu meletakkan sendok di pinggiran kelapa. Untung saja mereka datang ketika sajian di meja makan telah habis sehingga Aku tidak perlu berlama-lama di dekat Danar dan kekasihnya. Aku pikir tidak perlu berbasa-basi juga dengan mereka, Aku tidak mengenal mereka.


Pandangan kekasih Danar sungguh tidak nyaman dilihat. Rasanya ingin Ku capit menggunakan capit kepiting tapi sayang bahkan capit kepiting pun sudah tandas Ku makan. Aku lalu berdiri bergegas ke meja kasir untuk meminta bill dan membayar semua pesanan.


"Permisi.. Aku mau ke kasir dulu". Aku melewati Danar dan kekasihnya. Pasangan yang aneh menatap orang seperti melihat alien saja.


"Kamu kenal dimana sama Abang Ku?". Bian menanyakan ketika kami telah tiba diparkiran. Dia membuka pintu mobil untuk Ku, awalnya Aku merasa tersanjung atas perhatiannya tapi rasa itu segera Ku tepis mengingat kejadian kemarin ketika pintu mobilnya Ku tutup dengan keras.


"Di Kafe 'Tentang Jiwa'."


"Dia menghampiri mu?". Bian bertanya heran. Aku menggerutu dalam hati kenapa tadi tidak naik mobil Rian saja sehingga tidak perlu menjawab pertanyaan Bian. Entah kenapa tadi Aku mengekori Bian bukan Dewo dan Rian, sepertinya akhir-akhir ini Aku sering kehilangan fokus.


"Anggrek!". Panggilan Bian membuat Ku tersentak.


"Aduh, Aku tuh malu menceritakannya jadi berapa hari lalu Aku sama Natasha sedang ngopi di kafe 'Tentang Jiwa'. Kebetulan bertemu dengan istri mantan Aku. Terjadilah kesalahpahaman yang membuat kami bertengkar dan hal itu membuat Abang mu kurang berkenan".


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Malu juga menceritakan keributan yang dimulai karena ulah Cahya.


"Oh". Aku memandang Bian greget dijelasin panjang lebar jawabnya cuma itu doang.


"Kenapa? kok jadi penasaran".


"Abang Ku tidak terlalu banyak kenal orang disini" . Bian menjawab singkat. Aku mengangguk-angguk kepala seperti burung pelatuk mendengar penjelasan Bian. Dua bersaudara dengan tampang menawan. Bagaimana rupa orang tuanya ya kalo dua putranya begitu tampan.


"Kamu mikir apa sih?".


"Eh, enggak apa-apa". Aku menjawab cepat seakan takut Bian bisa membaca pikiran Ku.


"Kamu sudah punya pacar,Anggrek?". Aku menoleh sedikit terkejut dengan pertanyaan terus terang Bian. Dia begitu aneh terlihat diam tapi tidak sungkan bertanya lugas.

__ADS_1


"Belum ada".


"Berarti bakal ada"


"Ya iyalah Bian masa Aku harus melajang sampai tua". Aku terkekeh merasa lucu dengan jawaban Ku sendiri sedangkan Bian kembali datar seperti biasanya.


"Siapa tahu mau melajang sampai tua".


"Ih ogah".


Kami lalu larut dalam pikiran masing-masing. Kenapa Bian tiba-tiba menanyakan pacar Ku. Pikiran Ku mengembara kemana membayangkan rada sakit karena ditinggal Adiwarna. Sejujurnya Ada perasaan tidak khawatir menjalankan hubungan dengan pria lain.


"Eh sudah sampai di rumah mu". Aku menoleh ke jendela. Tidak terasa sudah tiba di rumah kembali.


"Makasih ya Bian. Tidak mampir dulu?". Aku berbasa basi yang dijawab gelengan Bian.


"Anggrek makasih traktiran tadi ya".


"Iya santai saja". Aku mengibaskan tangan seolah itu bukan apa-apa.


**************************************


"Kita zona merah lagi". Mama menghela napas berat ketika berkata sambil menuangkan nasi ke piring Papa.


"Iya berapa lama kemarin zona hijau sehingga membuat orang lengah. Zona hijau bukan berarti bebas melakukan apa saja". Papa merespon Mama sambil melirik ke arah kami berdua karena kami memang lebih sering keluar rumah dibandingkan Papa dan Mama.


"Iyalah Pa kemudian yang datang dari luar kota masih keluar masuk sampai sekarang. Beberapa yang terkena tertular dari mereka yang datang dari luar kota".


"Anggrek kamu hati-hati ya terapkan 3M dengan baik di butik dan Miepa. Karyawan mu juga, awasi mereka dengan baik".


" Iya Ma"


"Jangan lupa gunakan masker".


" Itu pasti Ma kan dagangan Anggrek juga".


"Sudah kita lanjutkan makan dulu". Papa menyudahi obrolan kami.

__ADS_1


Penjualan Miepa merosot drastis dibandingkan minggu lalu sepertinya daripada membeli segelas minuman yang lebih mahal dari sekilo beras. Orang lebih baik membeli kebutuhan pokok.


Beberapa hari ini Papa mendapatkan giliran WFH. Miepa dan butik sedang libur hari ini. Musim hujan menambah sepi pengunjung. Saat seperti ini otak Ku dan Dewo malah aktif membuat content.


Aku sedang edit foto untuk instagram walaupun endorse ikutan turun tapi lebih baik daripada sekedar rebahan ketika selesai upload foto di instagram ada pesan masuk dari Natasha.


"Bebs ikutan senam virtual yuk?"


"Senam? siapa instrukturnya"


"Teman Ku ntar Aku kirimkan linknya sudah Aku daftar n bayarin"


"Eh Aku gak enak ntar tak ganti deh"


"Gak usah ganti 20 ribu doang kalo 20 juta baru Aku minta ganti"


"Hahaaa.. oke bebs".


Hari ini dengan kondisi zona merah memaksa Ku mencari aktivitas di dalam rumah untuk mengisi hari tapi otak Ku terus berpikir bagaimana menghasilkan uang selama pademi ini.


Pademi ini entah kapan berakhir seperti status jomblo Ku yang juga tidak tahu kapan akan berakhir.


Beberapa bayangan masa lalu kembali muncul dalam pikiran Ku. Anggrek di masa sekolah adalah lelucon untuk 'pacar' seseorang. Teman-teman Ku biasanya sering menjadikan Aku sebagai orang yang tidak akan dijadikan pacar mereka.


"Budi pacar Anggrek" Lalu Budi pun akan marah karena dijodohkan dengan Anggrek. Tidak ada yang menyukai ide untuk menjadikan Anggrek pacar mereka di masa sekolah dan kuliah. Saat itulah Doni biasanya membela Ku. Ketika Adiwarna memasuki kehidupan maka hidup Ku begitu berwarna.


Saat Adiwarna meninggalkan Ku di ulang tahun lalu Aku memang sempat terpuruk tapi Aku pun bangkit karena usia Ku yang sudah dewasa. Melupakan Adiwarna dengan giat bekerja dan mengembangkan usaha serta menjalin lingkaran pertemanan lebih luas membuat Ku memikirkan banyak hal bukan sekedar hubungan.


Aku memang tetap Anggrek yang dulu hanya saja sekarang Aku lebih percaya diri akan kemampuan yang ada. Natasha banyak memberi masukan untuk penampilan dan mengajak lebih memperhatikan serta merawat diri sendiri. Hal-hal inilah yang membuat Aku menjadi percaya pada kemampuan Ku sehingga berapa orang di masa lalu ketika bertemu berkata bahwa Aku lebih menarik sekarang.


Jadi apakah sekarang Aku bisa mencoba membuka diri lagi sepertinya ketika Adiwarna hadir. Entahlah biarlah untuk sekarang menikmati hari-hari.


Aku segera mengambil bantal dan mengambil posisi siap rebahan lanjut tidur daripada memikirkan hal yang belum tahu kejelasannya lebih baik mengembalikan energi tubuh. Semoga pademi ini segera berakhir sekalian mengakhiri masa lajang Ku dan untuk sekarang Aku coba bermimpi dulu.


******


Ditulis saat pademi 🤗

__ADS_1


__ADS_2