
Mereka datang bersamaan menawarkan asa yang pernah hilang.
Diantara dua pilihan dimana kah aku harus berlabuh?
Pada dia yang selalu memperhatikan ku dengan membawa gejolak yang suatu saat akan datang
atau pada dia yang pernah hadir di masa remaja ku
Aku bimbang diantara dua pilihan
*******
Mobil ku melaju pelan membelah jalanan kota, Meninggalkan rumah ku yang belum selesai seperti kisah cinta yang masih belum tuntas.
Aku menghela napas ketika memasuki halaman rumah. Dari balik jendela mobil aku melihat dua wanita sedang berbincang di halaman. Satu kurus tinggi biasa ku sapa Tante Sri dan satu lagi lebih gemuk bernama Tante Rina.
Dua orang tetangga yang kesohor sebagai reporter 'lambe' perumahan. Menyesal juga aku langsung balik ke rumah. Jika tahu akan bersua dengan duo lambe ini lebih baik aku mampir ke Miepa terlebih dulu.
Benar saja ketika aku turun dari mobil, Tante Sri tampak sumringah dengan semangat 45 membara menyambut kedatangan ku.
"Aduh Anggrek panjang umur kamu. Baru saja diomongin langsung datang, Tante sudah diberitahu anak Tante kalau kamu sekarang jadi telegram." Aku berdehem mendengar Tante Sri menyebut 'Telegram'. Selebgram tante aku membenarkan ucapannya dalam hati
"Itu sama dengan inpulenzer kan." Tante Rina menimpali. Kenapa tidak sekalian saja influenza aku menyahut, Lagi-lagi hanya dalam hati.
"Iya Tante.. Mama mana?" Aku baru menyadari ketidakhadiran Mama di dekat mereka. Mata ku melihat masker Tante Rina yang sudah diletakkan di atas kepala. Maskernya nyambi jadi bando juga sepertinya.
"Mama kamu sedang ambil bibit tanaman di teras belakang. Tante tukeran bibit sama Mama mu."
"Anggrek kapan kamu mau mengundang?". Pertanyaan legendaris bagi para lajang ini akhirnya harus ku terima.
"Iya, Tante dengar pacarmu yang dulu sudah nikah ya sama teman mu yang cantik itu. Ya namanya juga tidak jodoh. Nasib ya Anggrek, Eh mereka masih sering ke rumah?." Tante Rina mulai memancing di air butek. Ada sakit terasa di hati ku menggores luka lama.
"Betul Tante itu memang jodoh mereka. Jodoh kan dari yang di atas. Kita menerima saja garis takdir." Aku sengaja memenangkan pendapat Tante Rina. Biar dia merasa jumawa. Benar saja hidungnya tampak kembang kempis.
Aku ingin melewati mereka berdua tetapi keduanya kompak berdiri menghalangi jalan masuk ke teras rumah.
"Anggrek ada pacar baru ya sekarang. Tukang ayam yang sering kesini naek mobil pickup?". Aku terbatuk-batuk mendengarkan pertanyaan Tante Sri.
"Eehhh batuk." Tante Rina menurunkan masker di kepala kembali ke hidungnya.
__ADS_1
Lalu dia melanjutkan pembicaraanya "Bukan itu Sri, Cowok yang suka naik mobil tua itu kan ya? Ganteng anaknya."
Entah darimana Tante Sri dan Tante Rina tahu Doni dan Bian. Apakah mereka menggunakan teropong dari rumahnya?. Perumahan Mama memang perumahan lama jadi tidak mengherankan ada yang seperti kedua tante ini. Berbeda dengan perumahan baru yang biasanya cenderung pasif
"Dua-duanya teman, Tante. Oh Itu Mama, Anggrek. Permisi dulu ya, Tan."
Hati ku bersorak gembira ketika Mama muncul dengan bibit tanaman di tangannya. Kedua wanita di hadapan ku menyerbu bibit tanaman yang dibawa Mama. Mereka sudah sibuk bicara tentang cara perawatan tanaman.
Aku bergegas menuju ke dalam rumah, samar-samar ku dengar suara Tante Sri mengomentari tubuh ku yang tampak lebih kurus. Dia prihatin melihat tubuh ku kurusan karena ditinggal kawin.
Oh andai kamu tahu Tante perjuangan ku demi mengurangi berat badan sampai pingsan dan bedrest berapa hari. Demi tubuh seperti Lisa Blackpink yang sampai pingsan pun tak berhasil ku dapatkan.
Mengingat itu aku teringat dengan Bian dan Doni ketika aku ambruk karena diet sembarangan yang ku jalankan. Mereka datang di saat bersamaan. Sama ketika mereka mengungkapkan perasaan. Keduanya hadir dalam waktu yang tidak berbeda jauh.
Setiap pilihan akan mendatangkan konsekuensi. Aku menarik napas lalu menghembuskan perlahan mencoba untuk memikirkan jernih setiap keputusan yang akan ku ambil.
Aku menuju dapur masih terdengar celotehan Tante Sri dan Tante Rina menanyakan kapan aku menikah. Sebentar lagi aku akan menerima pertanyaan Mama. Kebiasaan Mama kalau ada saudara atau tetangga menanyakan kapan mantu.
**
Aku baru selesai mandi dan berganti pakaian ketika ketukan dan panggilan Mama terdengar. Dugaan ku sepertinya benar. Tidak lama kemudian Mama masuk.
"Anggrek tadi Tante Sri dan Tante Rina menanyakan siapa pacarmu. Mama kesal mendengarnya."
"Ih kamu kalau di kasih tahu ya."
"Mama lebih baik mendoakan saja supaya jodoh Anggrek cepat datang."
"Setiap hari Mama berdoa tapi kalau kamu sibuk cari uang saja. Kapan Mama dapat menantu."
"Sembari menunggu lebih baik melakukan hal bermanfaat bagi banyak orang juga kan Ma." Aku senggayut di lengan Mama. Mencoba merayu Mama yang panas mendengar ocehan tetangga.
"Tian atau Doni itu gimana? Mama melihat mereka sepertinya menyukai mu." Insting seorang Ibu memang sering benar. Kalau kondisi Mama tidak emosi karena celotehan Tante Sri dan Tante Rina. Aku pasti sudah menceritakannya secara detail.
"Bian, Ma. Kok salah terus namanya."
"Iya dia kan agak pendiam. Beda sama Doni yang bisa mengobrol lama sama Mama jadi Mama susah ingat namanya."
"Kalau menurut Mama seandainya mereka menyukai Anggrek. Mama pilih mana?". Aku mencoba memancing pendapat Mama tanpa perlu menceritakan kalau keduanya memang benar menaruh hati kepada ku.
__ADS_1
Mama terdiam untuk sesaat sepertinya emosinya mulai mereda.
"Mama melihat baik Bian dan Doni anak baik. Anggrek lah yang menjalankan hubungan ini. Kamu bisa memilih diantara keduanya. Berdoa dan ikuti suara hati mu. Mama dengar dari kakek mu, Doni sudah pernah menikah."
"Iya Ma. Dia sudah memiliki anak satu orang. Sementara masih mengikuti mantan istrinya hanya saja besar kemungkinan putranya diasuh oleh Doni."
"Menjadi Ibu itu tidak mudah apalagi anak Doni masih di bawah lima tahun bearti kan? Karena menurut cerita kakek umur pernikahannya belum terlalu lama."
"Iya Ma." Aku menjawab singkat bersamaan dengan itu suara mobil Papa terdengar memasuki rumah.
"Nah itu Papamu sudah datang yang pasti Anggrek. Kamu pastikan dulu mereka berdua memang benar menyukai mu. Tahunya cuma menyuruh Mama saja berandai-andai. Mama pengen juga punya cucu."
"Siap Ma." Aku nyengir dan segera menutup pintu kamar.
Hati ku gundah memikirkan pilihan di depan mata. Ada konsekuensi dalam setiap pilihan. Baik Bian atau Doni.
Apakah aku siap berhadapan dengan keluarga Bian? atau siapkah aku menjadi ibu sambung dari putra Doni.
Semua memang tidak mudah tapi bagaimana jika aku gagal lagi seperti saat bersama Adiwarna. Kembali ketakutan yang ku kubur dalam-dalam itu menyeruak kembali. Lamunan ku buyar ketika layar gawai ku berkedip. Ada notifikasi pesan hijau dari Natasha.
"Anggrek besok ke butik gak ya."
"Iya Natasha nanti aku mampir ke butik. Aku langsung meluncur ke sana pagi besok ya."
"Oke, Anggrek."
"Sekalian ada yang mau ku ceritakan kepada mu, Nat."
"Tentang apa."
"Besok saja. Lebih enak kalau ketemu langsung."
"Aiihh kamu bikin bumil penasaran saja. Okelah Anggrek"
Aku menutup gawai. Ya semua kebimbangan dalam berapa hari terasa berat dalam pikiran. Aku membutuhkan berbagi pikiran dengan orang dekat yang bisa aku percayakan.
**********
Benar gak pendapat yang bilang salah satu paling mengesalkan ketika mengalami kejadian yang tidak mengenakkan adalah komentar dari orang-orang yang tidak tahu duduk masalahnyaðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
Kadang stressnya justru dengar komentar orang ya😂😂
Please like n comment ya readers, Thanks 😘