Viral

Viral
91. Hari itu akan datang


__ADS_3

...Jika aku bisa mengendalikan kehidupan...


...aku memilih untuk saling mencintai...


...tapi jika itu bukan takdir ku...


...aku memilih untuk dicintai...


...karena aku akan belajar membalas rasa itu...


...karena ada suatu masa aku begitu mencintai seseorang...


...nyatanya hanya sakit yang ku dapat...


Anggrek memantapkan hati, Dia tahu siapa pemilik cintanya. Masih orang yang sama, Pria yang mengikuti kemana pun dia pergi.


Hanya begitu banyak rintangan untuk bersama, Sekali lagi dia harus memilih, Memaksa untuk melangkah ke depan. Menempatkan seseorang di masa lalu dan menggandeng seseorang ke masa depan.


******


Matahari enggan muncul pagi ini, Dia masih betah bersembunyi di balik awan tebal yang menggantung di langit. Pukul 08:00, Aku dan Nando sudah dalam perjalanan menuju ke kota G.


"Pagi sayang, Hati-hati di jalan ya! bilang sama Nando jangan ngebut nyetirnya,"


"Pagi juga, Sayang. Selamat beraktivitas untukmu ya,"


"Makasih, Sayangku,"


"Sama-sama, Sayang."


Aku senyum-senyum sendiri usai menerima telpon, Sedikit mengelak dengan pesan dari Kenzo. Andai Ken tahu siapa yang menyetir dan kendaraan apa yang kami bawa. Aku yakin dia bisa histeris.


Pagi ini mobil ku mendadak mogok di Miepa. Kebiasaan jarang merawat mobil akhirnya terkena imbas hari ini. Papa selalu mengingatkan untuk melakukan service dan perawatan rutinnya, Hanya aku sering lengah.


Beliau sempat mengomel, Ketika meminta bantuannya memanggil montir panggilan langganan papa. Alhasil tinggal mobil operasional Miepa yang bisa ku gunakan. Sebuah mobil pickup hitam dan ini belum berakhir bagi ku, Nando ternyata tidak bisa menyetir mobil.


Dia sempat berpikir bahwa aku akan meminta sopir Miepa untuk ke kota G. Ide yang ku tolak karena ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan bersama Nando selama di perjalanan.


Tiga jam perjalanan ke kota G bukan masalah besar. Selama ini akulah yang sering diandalkan teman-teman untuk menyetir, Ketika kami menempuh perjalanan jauh.


"Nando, Ada yang mau aku sampaikan," ucapku memulai pembicaraan sambil tetap fokus menyetir.


"Tentang apa, Kak?"


"Bian,"


"Iya, Aku tahu dia mantan kak Anggrek. Semua kemarin membicarakannya ketika dia tiba-tiba naik ke lantai atas menyusul kakak,"


"Kalian membicarakan aku?" tanya ku dengan intonasi heran. Astaga kerjaan karyawan malah membicarakan ownernya.


"Eh, Maaf. Tentang apa kak?" Nando tampak salah tingkah. Dia mengalihkan pembicaraan dengan cepat.


"Dasar!! Tiga mitra kita yang dikenalkan oleh Cleo merupakan 'orang' Bian. Jadi Bian itu merupakan mitra kita, Dia memerintah orang untuk mengerjakannya,"


"Kok, Kakak gak pernah bilang?" tanya Nando. Ada keheranan di suaranya.


"Ceritanya panjang."


"Sebenarnya bukan karena panjang ceritanya tapi karena begitu ajaib yang dilakukan oleh Bian" batin ku dalam hati.


"Jadi memang lebih baik perjanjian kerja sama yang jelas ya, Kak. Hal seperti ini tidak membuat kita bingung ke depannya," jawab Nando.


"Betul, Jadi besok kamu cari tahu pengajuan usaha kecil menjadi PT atau cari jasa yang bisa membantu untuk membuatnya. Pastinya yang bisa dipercaya, Jangan lewat Cleo,"


"Baik, Kak. Besok Nando mulai kerjakan."

__ADS_1


Meminta Nando melakukan tugas ini, Aku melakukan dua hal sekaligus. Menghilangkan ketergantungan dengan Cleo dan Bian. Di sisi lain mengikuti saran Kenzo untuk mulai mendelegasikan tugas pada Nando.


Di tengah perjalanan hujan turun sangat lebat, Jarak pandang menjadi pendek. Di beberapa titik genangan air tampak di depan mata.


"Gak ada sinyal, Kak," ucap Nando yang berhasil membuat sport jantung.


"Serius, Nando?"


"Iya, Kak,"


"Kamu masih ingat gak jalannya?" tanya ku penuh harap. Kalau GPS tidak bisa diandalkan setidaknya ingatan Nando semoga bisa diharapkan.


Berapa kali mobil masuk lubang yang tidak terlalu dalam. Efek yang ditimbulkan membuat kami kaget.


"Masalahnya hujan lebat, Aku jadi agak bingung sama jalannya. Biasanya Toto dari cabang ke tiga yang nyetir,"


"Kamu pasti molor jadi gak hapal jalan,"


"Aku suka ngantuk di mobil, Hehee."


Perjalanan ke kota G yang penuh drama, Hujan lebat ditambah petir dan guntur. Berapa kali kami nyasar akhirnya ketemu dengan outlet Miepa pak Andre. Warna dan standar yang sama sesuai dengan ketentuan Miepa.


Aku memarkirkan mobil sedekat mungkin dengan outlet, Hujan deras walau menggunakan payung. Masih terkena tempias hujan.


Pak Andre sepertinya suka bertanam. Di depan Miepa aneka miana menghiasi halaman, Pot gantung di sisi pagar menjuntai asri, Cantik sekali.


Pria bertubuh tambun dengan kumis lebat itu menyambut kami. Senyum sumringah menghias wajahnya. Aku dan Nando berpandangan, Apakah dia memang tidak mengetahui maksud kedatangan kami?


"Bu Anggrek dan pak Nando, Kenapa tidak mengabarkan mau datang? saya bisa meminta istri untuk menyiapkan makan siang istimewa."


Aku terbatuk pada sambutan ramah dari pak Andre. Di luar dugaan kami, Dia akan menyambut dengan tangan terbuka. Baru saja kami duduk di kursi, Dengan senyum lebar menghias wajahnya. Pak Andre memberitahu mengenai dua mitra yang dia tawarkan melalui dirinya.


"Perkembangan Miepa disini luar biasa, Sejak kran wisata dibuka. Animo masyarakat membludak, Pengunjung yang melihat keindahan air terjun kampung kami, Mereka akan mampir di outlet Miepa milik saya. Menyerbu tempat kami,"


Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan "Kehidupan ekonomi keluarga saya menanjak, Menjadikan keluarga kami role model untuk ditiru oleh warga dan saudara. Mereka lalu memiliki minat untuk membuka Miepa. Jadi saya persilakan mereka membuka Miepa juga, Maka bu Anggrek bisa melihat penambahan permintaan saya, bukan?" tanya pak Andre dengan senyum lebar yang menambah panjang kumisnya.


Sebuah ketidaksengajaan karena komunikasi yang tidak terjalin dengan baik. Pak Andre bermaksud baik, Dia sama sekali tidak merasakan akan ada persaingan dengan saudara dan mitranya. Aku memutar otak menyusun kata.


"Sebelumnya saya ucapkan selamat ya, Pak. Selaku owner ada kebanggaan sendiri ketika kita bisa maju bersama. Apalagi keberadaan kami menyumbang kontribusi buat keluarga bapak, Hanya saja ada sedikit yang perlu saya tambahkan disini,"


"Apa, Bu Anggrek?"


"Ke depannya Miepa akan berbentuk PT dan akan ada penerapan aturan untuk standar outlet. Seperti jarak minimal antar outlet di satu kota, Interior yang digunakan, Pengarahan pada mitra dan penggunaan nama Miepa itu sendiri,"


"Kenapa harus dibuat serumit itu, Bu!" suara pak Andre meninggi. Senyumnya menghilang ditambah petir dan guntur semakin menambah horor suasana.


"Pak jika tidak dibuatkan aturan itu, Tetangga pak Andre yang dekat air terjun membuka cabang. Menurut pak Andre pengunjung akan memilih di tempat pak Andre atau yang lebih dekat?" tanya Nando.


"Kalau saya pasti memilih yang dekat. Apalagi perut sudah lapar," tambah ku.


"Saya tidak terpikirkan," ucap pak Andre. Wajahnya mulai ada kekhawatiran.


"Jadi kita akan perbaiki hal ini. Kami akan memberi tahu ke mitra yang ditawarkan pak Andre. Kedepannya akan ada perjanjian hitam di atas putih,"


"Baik, Saya setuju bu Anggrek." Senyum pak Andre kembali melebar.


Setelah perbincangan panjang lebar dan makan siang di rumah pak Andre. Aku dan Nando pun berpamitan pulang. Di bak mobil rambutan, Jambu serta sayur mayur sudah di letakkan oleh pak Andre.


Drama perjalanan ini berakhir memuaskan tanpa perlu bersitegang. Aku bernapas lega karena berhasil menyelesaikannya.


Aku memeriksa handphone sebelum menyetir untuk pulang. Ada pesan dengan nomor tidak dikenal.


"Siang, Anggrek. Apakah besok pagi ada waktu senggang? kalau ada, Bagaimana kita ketemu untuk sarapan di restoran hotel Citra Nusa. Tante ada seminar di sana, Tempatnya nyaman untuk berbincang,"


"Baik, Tante. Besok saya akan ke sana menemui tante."

__ADS_1


Ternyata tante Melinda, Belum ada balasan. Aku melanjutkan perjalanan. Pulang dari rumah pak Andre panas menyengat. Pick up tanpa AC ini membuat gerah.


Aku membuka jendela dan membiarkan angin menerpa wajah. Kami cukup lega ternyata masalah hanya salah paham.


Hari menjelang sore ketika tiba kembali di Miepa. Tubuh ku terasa pegal dan lengket. Mobil sudah selesai diperbaiki, Andi memberikan kunci mobil sambil menunjuk ke arah belakang. Kenzo datang dan memandang ku dari atas ke bawah.


"Kamu naek pickup dan nyetir sendiri, Anggrek?" tanya Kenzo dengan pandang tak suka diarahkan ke Nando.


"Iya, Ken. Kita bicara di ruangan ku saja ya. Aku baru tiba juga disini,"


Kami baru saja menginjak kaki di ruangan. Kenzo sudah mencecar ku.


"Anggrek kenapa tidak beritahu mobilmu mogok, Kamu nyetir menggunakan pick up. Apa gunanya Nando, Ada keperluan apa di kota G sampai harus kamu sendiri yang pergi?"


"Ada kendala dengan mitra kami. Sudah diatasi kok, Sayang,"


"Seharusnya Nando saja yang pergi, Mengapa harus kamu? tadi pagi kamu tidak mengatakan apapun ketika aku menelpon. Setidaknya kalau aku tahu akan ku kirimkan sopir. Emmpphhhhhhh,"


Aku tahu sedang bau karena keringat, Rambutku berantakan, Muka berminyak. Tak perduli pada aroma yang ada, Aku membungkam kekasih ku dengan ciuman mengunci mulutnya mengeluarkan aksara.


Dia kaget, Aku juga kaget sebuah refleks diluar kendali. Setelah tersadar tindakan tidak pantas yang ku lakukan. Aku segera mundur teratur.


"Maaf sayang, Aku lelah dan kamu cerewet sekali," ujar ku dengan wajah memanas. Kenzo tersenyum lebar. Dia menahan punggung ku untuk mundur.


"Kamu bau sekali tapi aku suka," ujar Kenzo semakin mendekat, Aku tahu harus melakukan apa.


"Duduk dulu yuk, Kamu datang tak memberitahu ku" aku menarik tangan Kenzo ke sofa.


"Iya karena seharian ini berapa kali lewat Miepa, Aku melihat mobilmu. Mencoba menelpon tapi tidak ada jaringan. Jadi sore ini aku mampir malah melihatmu pulang naik pick up,"


"Aku sudah biasa, Ken mengerjakan banyak hal sendirian. Selagi bisa dilakukan akan ku kerjakan,"


"Jangan merasa serba bisa! Kamu perempuan,"


"Kalau aku laki-laki tidak mungkin juga kamu memilih ku, Ken" batin ku dalam hati.


"Oh ya, Sayang. Besok aku ditemani Raisa dan Riska akan membeli seserahan karena papa sudah mulai bisa berjalan walau tertatih. Bantu doa ya agar papa lekas sehat dan lamaran dilakukan. Sebentar lagi kamu akan menjadi istri ku,"


"Iya sayang, Syukurlah papa mu semakin membaik," jawab ku sambil memikirkan pesan dari tante Melinda. Pantasan dia mau bertemu karena 'hari' itu semakin dekat, Besok anak-anaknya akan belanja untuk persiapan lamaran.


Entah apa yang akan dibicarakan tante Melinda. Aku tak bisa menebaknya.


"Anggrek,"


"Ya, Ken,"


"Lain kali kalau kamu mau melakukannya, Kasih tahu aku dulu ya. Aku tidak siap tadi, Semua hal harus ada persiapan. Sekarang aku sudah siap. Apakah kamu mau mengulang kembali,"


"Ah, Tidak Ken. Tidak..."


******************


Selamat membaca kesayangan semua ❤❤


Minal Aidin Walfaidzin


Mohon maaf lahir batin


jika ada salah kata, canda otor ya


Selamat hari raya Idul Fitri 1442 H


Selamat merayakan hari kemenangan 🤗


Semangat yang lagi masak yaa.. Hmmm semua aroma masakan lebaran pasti memenuhi rumah

__ADS_1


🤗🤗


13-15 Mei ini semua pasukan Viral libur 😁. Sampai ketemu tanggal 16 dan update gak subuh lagi ya 😂🤣


__ADS_2