
Hidup adalah perjalanan dengan kesempatan terbuka setiap harinya
Jangan menangisi yang telah berlalu dan tak akan pernah kembali
Sambutlah dia yang menawarkan asa baru untuk menemani perjalanan hidup
*******
Aku menyelesaikan urusan di Miepa dan butik lebih awal hari ini. Sesekali owner juga membutuhkan waktu untuk diri sendiri apalagi ini demi masa depan.
Langkah ku seperti melayang ketika memasuki rumah tetapi terhenti ketika melihat seorang bocah ABG sedang leyeh-leyeh menonton televisi. Dia harus dikondisikan terlebih dahulu.
"Dewo, Entar malam ada Bian kesini."
"Wah kebetulan aku mau menanyakan aplikasi edit foto. Dewo beli versi premium tapi masih bingung sama tools yang ada."
"Kali ini tidak bisa, Dewo. Kakak mau keluar sama Bian ada urusan."
"Kencan!!!!"
Aku membungkam mulut adik ku dengan tangan sebelum dia menyiarkan satu kampung.
"Jangan berisik ah. Pokoknya kamu tidak boleh menganggu deh."
"Siaaaapp!! Aku setuju kakak sama Kak Bian."
"Husstt belum Dewo. Sudah ya Kakak mau mandi dulu."
Aku mandi lebih lama sore ini. Ketika keluar dari kamar mandi, Mama sudah menghampiri ku.
"Kata Dewo kamu mau keluar sama Bian ya malam ini?"
"Iya, Ma jadi Anggrek makan diluar bersama Bian."
"Apa ada yang Mama lewatkan?". Mama bertanya menyelidik.
"Belum, Ma. Nanti Anggrek ceritakan setelah pulang ya."
"Mama akan siap mendengarnya."
"Makasih, Ma."
__ADS_1
**
Aku memoleskan primer, concealer, foundation, bedak dan menyapu kuas lalu dengan cekatan memoles eyeshadow dan blush on. Hasilnya flawless berkesan natural padahal prosesnya sama sekali tidak natural. Skill ini diajarkan oleh Natasha.
Aku bolak-balik menggantikan pakaian yang ku gunakan. Merasa serba salah takut berlebihan. Aku lalu menggunakan dress hitam dengan belt silver sederhana. Simple tetapi berkesan elegan.
Mama mengetuk pintu kamar ku ternyata Bian sudah tiba. Jantung ku berdetak lebih kencang. Bian yang biasanya santai menggunakan kaos, jaket dan jeans. Tampil rapi dengan kemeja dan celana hitam. Kali ini dia lebih dewasa daripada biasanya dan lebih tampan tentunya.
Sepanjang perjalanan kami terdiam dalam mobil antik yang melenggang menembus lalulintas malam.
"Anggrek."
"Ya, Bian." Keringat dingin mengalir di telapak tangan, Aku grogi.
"Kita sudah sampai. Kamu mau turun kan?". Astaga memalukan aku baru sadar mobil sudah lama berhenti dan sudah tiba di parkiran restoran 'Rosemary'.Restoran dengan konsep klasik dan menyajikan masakan western.
Setelah selesai memesan makanan. Kami terdiam untuk berapa saat menikmati sajian musik live. Bian menatap pergelangan ku yang menggunakan arloji pemberiannya.
"Anggrek, Kamu tahu tidak arloji yang ku berikan pada mu sebenarnya merupakan arloji couple?" Aku tahu Bian karena Doni yang memberitahukannya tapi tentu saja itu hanya dalam hati ku.
"Arloji kita sama." Aku menunjuk ke arah pergelangan Bian.
"Orangtua mu tinggal disana?"
"Iya, Anggrek. Malam ini ada yang ingin ku sampaikan mungkin belum seluruhnya tetapi aku utamakan inti dari semuanya. Kamu mau mendengarkannya, Anggrek?"
"Tentu Bian." Pria di hadapan ku menarik napas, Terdiam berapa saat sepertinya dia masih memilah mana yang mau disampaikan.
"Orangtua ku mendadak menyuruh kembali ke Jakarta terkait perjodohan aku dengan putri kerabat keluarga kami. Nama gadis itu Tasya dan dia adalah teman masa kecil ku. Aku dari awal menolak perjodohan ini karena tidak memiliki perasaan dengan Tasya". Doni kembali terdiam
Dia lalu melanjutkan lagi "Aku meminta jawabanmu malam ini karena ketika tiba di Jakarta nanti aku mau menyampaikan kepada orangtua ku kalau sudah memiliki pilihan sendiri yaitu kamu Anggrek."
"Bian sudah dijodohkan. Dia menjadikan mu pelampiasan sakit hati saja."
"Dia sengaja memilih wanita yang bukan standar keluarga kami hanya untuk membuat kemarahan keluarga kami"
Rangkaian kata-kata Danar dan Diandra tergiang di telinga ku. Selaras dengan pernyataan Bian malam ini. Dia menolak perjodohan karena telah memiliki pilihan sendiri yaitu aku. Dengan kata lain aku di gunakan sebagai alasan penolakan.
"Kamu hanya menjadikan aku sebagai alasan penolakan perjodohan mu saja kan Bian. Kamu sengaja memilih ku bukan? Supaya keluarga mu marah, Kamu hanya ingin memberontak saja atas dikte keluarga mu".
Aku berpikir pria di hadapan ku akan marah tapi dia hanya tersenyum.
__ADS_1
"Kak Danar dan Diandra sudah bertugas dengan baik. Aku sudah menduganya, Kamu pasti sudah termakan dengan kata-kata mereka ya Anggrek. Apakah kamu lebih mempercayai keduanya?". Aku memalingkan wajah enggan menjawab.
"Orangtua ku mengutus Kak Danar untuk mengurus usaha keluarga kami dikota ini karena aku menolak untuk mengelolanya. Sekalian mengawasi ku tentunya tapi Kak Diandra lah yang melaporkan kedekatan kita. Aku yakin ada yang disampaikan saat dirumah lalu. Benarkah Anggrek? Aku mohon jawab Anggrek."
"Iya dia mengatakan bahwa kamu sengaja mendekati ku hanya sekedar membuat keluarga mu marah karena aku bukan standar keluarga kalian. Jika boleh ku katakan, Kamu hanya menjadikan aku seperti 'alat' untuk menolak perjodohan."
"Kak Diandra sangat keterlaluan." Wajah Bian merah padam. Untuk pertama kalinya aku melihat wajah Bian menampakkan kemarahan.
"Apakah kamu tidak bisa menolak tanpa melibatkan orang lain, Bian. Ini urusan pribadi mu."
"Kamu pikir aku pergi ke kota ini buat apa? Jauh sebelum mengenalmu. Aku sudah menolak perjodohan dengan pindah ke kota ini. Menolak kemapanan dan usaha yang keluarga ku berikan. Aku lebih baik hidup sederhana dengan usaha ku sendiri."
Bian memandang ku lekat "Kalau bukan Kak Danar memaksa tinggal di perumahan itu. Aku hanya tinggal di kost biasa, Anggrek. Itu jauh sebelum mengenalmu."
Aku menggigit bibirku. Benar sekali dia sudah menolak dari awal sebelum mengenal ku.
"Apakah semua yang kau katakan itu benar, Bian."
"Aku bersumpah untuk itu, Anggrek. Aku menyukai mu dan tidak pernah menjadikan mu alasan penolakan. Bagaimana dengan mu Anggrek, Apakah kau bersedia menjadi pendamping ku. Memberikan kesempatan pada ku?".
Aku menatap Bian dan menemukan kejujuran dalam manik bening matanya.
"Baiklah Bian aku bersedia." Aku berkata sambil menganggukkan kepala. Ada binar-binar bahagia di netra pria dihadapan ku.
"Benarkah jadi sekarang kamu akan menjadi wanita ku. Milikku yang akan ku perjuangkan?".
"Iya Bian" Akhirnya aku menegaskan pernyataan Bian
"Terimakasih Anggrek kamu memang terbaik." Bian baru akan mengenggam tangan ku ketika waitress datang membawa menu yang kami pesan. Aku bisa menangkap raut kesal Bian.
Kami menikmati makan malam dalam diam dan saling mencuri pandang. Jantung ku berdegup kencang dengan binar bahagia membara di hati. Rasa ini kembali ku rasa. Sebuah kebahagiaan yang sempat ku pikir tak akan pernah ku rasakan lagi.
Bian menggandeng ku dari dalam restoran. Langit cerah penuh bintang seakan mendukung pertautan hati kami malam ini.
Hatiku bersenandung dalam riangnya kebahagiaan atas asa yang akan ku bangun. Atas dia yang akan menemani perjalanan kehidupan ke depan. Aku tahu ini tidak akan mudah akan ada gejolak yang akan kami hadapi.
Tapi malam ini aku hanya ingin menikmati kebahagiaan dan menyingkirkan kesulitan yang belum ku ketahui bersama dia yang ku pilih.
*******
Permisi author menyingkir dulu, Author ngontrak ini. Dunia milik mereka bedua pokoknya 😂😂
__ADS_1