
...Optimisme adalah kepercayaan yang mengarah pada pencapaian. Tidak ada yang bisa dilakukan tanpa harapan dan keyakinan;” – Hellen Keller...
Hari ini caption Anggrek dalam foto dirinya dengan secangkir kopi menutupi wajah. Pose favorit yang paling sering tampil di sosial media miliknya.
********************
Hari ini aku melihat di e-commerce produk yang dijual. Awalnya aku mencari hiasan untuk dinding ruangan ku, Sampai netra menangkap beberapa produk bakso, cuanki dan jajanan tradisional lainnya dijual dalam kemasan.
Mereka melebarkan penjualan, Tidak terpaku pada pembeli yang berada dalam kota yang sama. Aku menyenderkan diri di kursi mencoba kembali berpikir.
Hal yang mudah dilakukan saat mempunyai penghasilan dari video viral tahun lalu adalah memulai usaha yang bisa ku lakukan.
Tidak mungkin juga kan aku membuka gerai jam atau tas mewah, Jika itu Danar atau Diandra. Besar kemungkinan mereka bisa melakukannya karena dana dan akses untuk meraihnya, Ada di genggaman tapi tidak dengan ku.
Aku segera memanggil bang Ipul, Ada yang ingin ku tanyakan. Bang Ipul melihat layar handphone yang menampilkan produk makanan tradisional dalam kemasan lalu sesekali dia mengangguk.
"Jadi ada kemungkinan untuk dibuatkan kemasan seperti ini gak, Bang?"
"Bu, Maaf. Saya belum mengerti mengelolanya karena tidak pernah makan kemasan seperti ini, kalau mie instan saya sering makan. Mungkin jika saya mencobanya baru paham bisa atau tidak ya."
"Oke ntar aku coba pesan dulu."
"Bu.."
"Iya ada apa, Bang?"
"Berapa bulan lalu ketika saya pulang kerja. Ada bapak-bapak menawarkan saya bekerja dengan dia."
"Seperti apa orangnya, Pak?" Aku berusaha tetap tenang mendengar penuturan bang Ipul padahal hati bergemuruh.
"Perawakan tidak terlalu tinggi, plontos dan berkemeja biru."
Ciri-ciri yang disebutkan bang Ipul sangat mudah ditemukan di tempat umum. Pasaran sekali dan bisa-bisanya dia ingat warna kemeja bukan ciri khas khusus lainnya.
"Spesifik atau ciri jelasnya, Bang?"
"Kalau saya lihat orangnya atau foto masih bisa mengenalinya."
"Baiklah tapi bagaimana dengan tanggapan bang Ipul sama tawaran dari dia? Apakah dia meninggalkan nomor telpon?"
"Aku sudah kerasan disini, Bu. Terlebih jasa bu Anggrek mempercayai saya sebagai juru masak disini. Saat penjualan mie ayam saya nyaris tidak ada karena pademi. Berkat ibu, Saya mempunyai penghasilan. Bapak itu tidak meninggalkan nomor handphone."
"Oh iya terimakasih, Bang. Masih betah berkerjasama dengan saya."
"Sama-sama, Bu. Semoga ibu juga betah memperkerjakan saya."
Bang Ipul berlalu dari ruangan meninggalkan ku sendirian dengan kegusaran melanda. Pikiran ku langsung merujuk pada orang suruhan Setya.
Dia mau membuka usaha di blok yang sama dengan ku dan menggunakan pekerja yang sama. Jelas dia mau mempunyai rasa sama dengan Miepa.
Astaga betapa niatnya pengusaha kaya sampai harus menyingkirkan pedagang kecil hanya menunjukkan dia punya kuasa Jika pun aku menikah dengan Bian, Aku bukan seorang cinderella yang menikahi pangeran lalu menjadi ratu.
Bian jika diibaratkan pangeran, Dia pangeran yang disingkirkan. Aku berani taruhan saat ini tanpa bantuan finansial dari orangtuanya. Aku lebih memiliki harta daripada Bian karena dia pun bukan fotografer profesional dengan jam terbang tinggi.
Segera ku tepiskan selintas pikiran yang lewat tadi. Bian tidak salah, Dia bahkan tidak berdaya dengan keras hati papanya. Aku terlalu larut dalam emosi karena mendengar penuturan bang Ipul.
__ADS_1
Aku tidak menyukai cara yang dilakukan Setya. Apa yang dilakukan hanya untuk menekan Bian agar mengikuti ambisinya. Dia bahkan tidak puas menempatkan Danar dan Diandra di DAC tetapi harus melengkapi dengan Bian.
Putra bungsunya yang lebih suka menjalani kehidupan dengan caranya sendiri.
Kopi hitam di genggaman ku hanya menyisakan ampas. Aku mencoba menghirup kembali sisa yang tertinggal tetapi justru ampas yang kurasakan.
Satu yang ku pelajari dari bapak plontos dan kemeja biru. Selama ini aku tergantung dengan Bang Ipul walaupun dia memberikan resep kepada ku tapi rasa khas pada Miepa adalah milik bang Ipul bukan milikku.
Aku terlalu terlena sampai lupa untuk meningkatkan ilmu. Aku harus belajar memasak dan meracik sendiri mie ayam buatan ku agar bang Ipul tidak menjadi pilar penyangga utama Miepa. Harus aku yang menjadi pilar utama.
Senyum ku terbit, Anggaplah ini tantangan setelah berapa hari lalu aku gusar dengan peringatan Setya.
**********
Seharian aku mencari informasi mengenai kursus online. Terlanjur bergerak dalam usaha ini sekalian aku harus maksimal.
Aku melihat promo kursus online dengan menitikberatkan pada beberapa aspek yang terkandung dalam semangkok mie ayam. Bahasa iklan promonya ribet amat, Saat ini memang yang ku lakukan mencari resep mie ayam yang enak dan otentik.
Memang usaha ku sederhana tapi bukankan sudah banyak makanan tradisional yang justru gerainya tersebar luas di tanah air. Justru karena rasa lokal yang tidak asing dengan seluruh kalangan memudahkan untuk diterima dalam masyarakat.
Aku tertarik dengan kursus online yang mengajarkan cara membuat mie mentah dengan bahan-bahan yang berkualitas, Cara Pembuatan topping mie ayam, Membuat minyak untuk mie ayam, Cara membuat pangsit. Penyajian mie ayam lengkap dengan topping dan sayurnya.
"Jadi kamu dua hari ini mau belajar sendiri cara membuat mie ayam?"
Aku izin dulu dengan Natasha, Dua hari ini tidak bisa ke butik.
"Iya, Nat benar sekali kalau boba dan kopi serta jus lemon bisa dikatakan pelengkap. Berbeda dengan mie ayam yang merupakan menu utama."
"Tenang saja, Nggrek kalau cuma dua hari. Masih bisa ku handle asalkan kamu tenang meningkatkan kemampuan."
"Makasih, Nat."
"Di kursus online ada interaksi dengan pengajarnya jadi ketika aku tidak bisa memahami proses. Bisa langsung menanyakan."
"Iya, Kamu benar." Nat mengangguk setuju.
"Iya aku baru sadar ketika ada yang menawari bang Ipul bekerja dengan mereka. Aku sedikit salah, Lokasi strategis bukan poin utama masih ada poin lebih utama yaitu bang Ipul."
"Siapa ya yang mau merekrut bang Ipul? Berperawakan sedang, plontos dan kemeja biru."
"Mungkin plankton yang ganti haluan dari mencuri resep krappy patty ke mie ayam." Celetuk Dion yang duduk dibelakang kami.
"Plankton bukannya hijau?" Tania menimpali.
"Heii kenapa dia masih ada?"
"Untuk memberi masukan model pakaian pria kita, Nggrek. Kamu sibuk akhir-akhir ini. Aku kan butuh pendapat juga terlebih ide awal sebenarnya dari Dion."
Aku merasa tidak enak dengan Natasha. Memang sejak mencari ruko, Fokus ku hanya tertuju pada Miepa.
"Iya, kamu tega banget sama mantan, Nggrek."
"Haaah, Mantan? Mantan kak Anggrek ganteng semua." Tania tampak takjub.
"Bukan mantan, Berisik ah kamu Diooon!!"
__ADS_1
********
Dua hari aku disibukkan dengan kursus mie ayam. Pendapat mama, papa dan Dewo rasanya enak tapi aku merasa tidak istimewa.
Selain itu juga aku mencari informasi mengenai cara mengemas masakan tradisional yang ku lihat di e-commerce.
Sibuk mengurusi dagangan membuat ku melupakan satu hal.
Mama menghampiri ku yang baru selesai kursus dua jam lalu ketika mama mengatakan ada Bian datang. Membuat aku sadar nyaris tidak pernah menghubungi Bian selama di Jakarta.
Aku menjumpai Bian yang sedang duduk di ruang tamu. Dia tersenyum melihat kearah ku lalu menepuk sofa di sampingnya meminta untuk duduk bersebelahan dengannya.
"Kamu tidak merindukan ku ya, Sayang? Tidak ada kabar darimu."
"Kamu juga tidak ada kabar." Aku mencoba memutar balikkan keadaan.
"Aku menanyakan kabar mu tapi selalu dibalas dengan jawaban singkat. Jadi aku menunggu kamu saja memberi kabar ketika senggang tapi justru tak ada kabar yang ku dapat."
"Kak Bian bukannya baru tiga hari ke sana." Aku mencoba mengalihkan dia menanyakan kesibukan ku.
"Kamu mau aku lebih lama. Tiga hari saja sudah menyiksa." Bian mengambil tangan ku, Memasukkan jemarinya dalam celah jari tangan ku lalu mengenggam erat.
"Apa yang terjadi?"
"Danar ditarik ke perusahaan di Jakarta. Sekarang orang kepercayaan papa yang memegang proyek disini."
"Jadi?"
"Agar mudah mengawasi ku, Papa tidak mempercayai kak Danar lagi sejak dia mengetahui dari Diandra kalau Danar tidak pernah melaporkan yang sebenarnya."
"Papamu kenapa tidak pernah melepas mu, Sayang. Berbeda dengan mama mu walau awalnya keberatan tapi akhirnya membebaskan kamu menjalankan pilihan."
"Papa menginginkan anak dari istri keduanya memiliki kehidupan yang sama layaknya dengan istri pertamanya. Hanya saja beliau tidak menyadari. Dia sebenarnya memenuhi ambisinya sendiri."
"Sayang boleh aku melihat foto orang suruhan papamu agar kalau bertemu dapat mengenalinya." Aku teringat dengan perkataan bang Ipul.
Bian mengambil handphonenya lalu jemarinya bermain di atas layar. Aku melihat layar handphone Bian tampak ada bagian retak.
"Sayang handphone mu terjatuh ya sampai retak?."
"Bukan tapi terbanting, Aku sudah membeli handphone baru hanya belum sempat mengganti simcard."
"Kenapa sampai terbanting?"
"Aku bertengkar dengan papa." Senyuman tipis Bian dengan mata yang menerawang membuat ku tersadar ada pertengkaran dalam pertemuan keluarga mereka.
Aku memeluk lengan Bian, Mengusap perlahan mencoba menenangkannya. Detik kemudian aku yang membutuhkan ketenangan.
"Ini orangnya, Sayang." Bian menunjukkan foto dirinya bersama seorang pria berperawakan sedang, Plontos hanya kali ini dia menggunakan kemeja hijau.
"Plankton sudah datang lagi dan sekarang menetap disini." Aku bergumam dalam hati.
*********
Bab lalu author kasih visual mainan dashboard.
__ADS_1
Sekarang visual yang cemburu sama mainan dashboard. Tahu kan sapa 😂