
Menghindar masalah hanya menunda waktu untuk menyelesaikannya semakin ditunda justru masalah bisa semakin membesar. Lebih baik hadapi saja apapun resikonya
***********
Rian sudah tiba di Miepa untuk keperluan pengambilan video. Masalah isu karyawan OTG yang tidak melakukan isolasi mandiri menyebabkan keraguan pada standar prosedur kesehatan di Miepa. Hal ini berimbas pada sepinya pembeli.
Aku harus mengambil tindakan segera untuk mengatasinya. Terkadang ada rasa lelah dengan keadaan. Usaha yang ada saat ini belum bisa dikatakan besar tetapi menyedot energi ku.
Membaca kesuksesan orang lain sehingga bisa membangun raksasa bisnis terlihat mudah. Kenyataan yang ada tidak semudah saat membaca buku biografi mereka. Andaikata terlahir tajir dari bayi. Ceritanya mungkin bisa berbeda.
Seharian aku, Rian dan semua team Miepa melakukan proses pengambilan video. Kami menunjukkan bagaimana proses pembuatan menu di Miepa dilakukan. Dapur yang bersih, peralatan yang digunakan, standar prokes yang diberlakukan untuk karyawan Miepa.
Kami juga mengadakan give away berupa voucher makan gratis sebanyak sepuluh kali di Miepa bagi lima orang beruntung yang membagikan postingan video dan tag tiga orang temannya.
Selain itu Aku juga mengeluarkan varian baru berupa keripik singkong pedas. Keripik ini dibeli dari Ari dan Riko yang berjualan singkong waktu lalu. Aku berencana memberikan penghasilan tetap pada orang tua Ari dan Riko. Untuk proses pembuatan keripik ini, Andi telah datang ke rumah Riko dan Ari untuk memastikan kebersihan proses pembuatan keripik.
Aku juga terus menerus mempromosikan video youtube Natasha tentang edukasi mengenai diet yang baik. Hal ini ku lakukan untuk menepis kabar bohong yang mengatakan bahwa aku OTG yang tidak melakukan isolasi mandiri lalu mengalami kritis selama seminggu.
Siapa sih yang tega menyebarkan rumor seperti ini. Aku bukan OTG hanya seorang wanita yang terkapar karena diet asal-asalan demi mendapatkan tubuh ramping ala Lisa BLACKPINK.
Seketika pikiran ku membayangkan problem perusahaan besar, baru jualan mie ayam seperti ini saja sudah membuat ku pusing. Kedepannya aku berencana mengikuti seminar wirausaha agar mendapatkan pengetahuan mengembangkan usaha.
******
Apa yang kami lakukan untuk menunjukkan bahwa proses di Miepa sesuai standar kesehatan dan dilakukan dengan menjunjung tinggi kebersihan mendapatkan respon positif. Begitu juga untuk give away voucher makan. Hasil share postingan video prokes di Miepa menjangkau lebih banyak orang mengenal Miepa. Pengunjung kembali ramai seperti harapan kami.
Keripik pedas yang ku kemas dengan kemasan menarik juga laris manis diboyong para pembeli. Rasa bahagia dan haru menyeruak di hati ketika ibu Ari dan Riko datang ke Miepa untuk mengucapkan terimakasih karena membantu mereka berjualan.
Akhirnya satu masalah bisa diselesaikan dengan baik untuk sementara Aku bisa bernapas lega.
Hari ini ketika mengawasi karyawan dan pembeli yang datang. Sesosok familiar datang, Danar. Aku segera berlari ke arah belakang dapur Miepa sebelum dia melihat ku.
Rasanya enggan bertemu dengan Danar karena dia tidak menyukai ku. Aku pun tidak mempunyai alasan untuk menyukai Danar. Hukum timbal balik yang ku karang sendiri.
__ADS_1
"Bu Anggrek ada yang mencari?". Andi menghampiri di dapur.
"Cowok jangkung yang menggunakan hoodie warna hitam ya?". Aku menyebutkan ciri Danar kepada Andi.
"Betul, Bu".
"Katakan sama dia kalau aku enggak ada". Andi kelihatan bingung karena tidak biasanya menolak orang yang mau menemui ku tapi dia tidak membantah dan mengikuti apa yang di perintah.
Tidak lama kemudian Andi kembali datang dengan ekspresi bingung yang terpancar dari matanya.
"Bu, dia tadi sudah melihat ibu dan dia juga tahu kalau ibu masuk kedalam ketika melihat dia".
"Lho dari mana dia tahu?".
"Dari mata yang dia punya, Bu". Walaupun menggunakan masker dari pancaran matanya Aku tahu Andi tersenyum geli.
Aku mendelik pura-pura marah kearah Andi. Dia memang karyawan yang termasuk berani mengeluarkan guyonan tetapi aku jarang memarahinya karena Andi masih memiliki sopan santun dan tahu kapan waktunya berkelakar.
"Kenapa kamu menghindar. Aku hanya mau berkunjung mencoba kopi yang kata Bian enak?". Danar bertanya tanpa basa basi. Dihadapannya kopi hitam mengebul.
Aku membalas dengan senyuman kecil karena kopi Miepa bukan dibuat oleh barista tetapi hanya karyawan biasa. Aku tidak mengkhususkan diri berjualan kopi tapi sebagai varian minuman saja. Untuk seseorang yang memiliki kafe dengan menu utama kopi mereka jelas tahu kualitas kopi yang kami sediakan di Miepa.
"Bian sampai berkali-kali datang kesini untuk membeli kopi dan mie ayam. Membuat ku pemasaran ternyata rasanya tidak istimewa". Kalimat terakhir Danar mencuri atensi ku.
"Untuk harga mie ayam serta kopi yang kami jual bisa dikatakan rasa yang ada serta kualitas yang didapat memuaskan. Kami mendapatkan respon yang baik dari pembeli".
Seharusnya Danar tahu harga yang ada menyasar ke pembeli dengan kelas menengah pada umumnya.Rasa yang ada juga mendapatkan respon baik terbukti dari banyak pelanggan setia Miepa.
"Menurut ku biasa saja". Danar tersenyum sinis sambil meletakkan gelas kopi yang telah tandas diminumnya.
"Iya karena harga lima gelas kopi ku hanya setara dengan harga segelas kopi di tempat mu".
Aku mengangkat dagu kearah Danar. Tentu saja kopi yang dia jual bisa memiliki rasa yang lebih enak. Harga jual yang lebih tinggi memungkinkan Danar membeli biji kopi berkualitas lebih baik dari yang kami jual dan kopi Danar pun diracik oleh seorang barista.
__ADS_1
"Aku tidak bicara kopi tapi mie ayam". Danar menatap ku tajam.
"Aku belum melihat mu makan mie ayam tapi baru minum kopi". Aku menjawab sengit dan menunjukkan mie ayam yang masih utuh.
"Aku sudah mencoba mie ayam yang sering dibawa Bian. Rasanya biasa tidak istimewa sampai Aku heran mengapa Bian menyukainya".
"Selera mu tidak mewakili selera semua orang. yang menurut mu tidak enak belum tentu sama bagi orang lain". Aku mengedarkan pandangan kearah seluruh pengunjung yang sudah ramai di Miepa untuk menunjukkan kepada Danar bahwa banyak yang menyukai mie ayam di Miepa.
"Aku tahu apa yang disukai Bian disini. Bukan mie ayam, kopi atau boba tetapi Bian menyukai pemilik Miepa. Sangat mengherankan kenapa dia menurunkan kualitas selera tehadap pasangannya".
"Heeeiii". Aku memekik kaget atas kelancangan perkataan Danar. Dia menghina ku secara terang-terangan walau disisi lain jantung ini berdegup kencang mendengarkan perkataan Bian menyukai ku.
"Kenapa kamu marah bukankah aku berkata jujur, masa harus mengatakan kamu cantik. Kasihan sekali hanya karena patah hati membuat buta hati".
"Patah hati tidak membuat ku buta hati". Aku tidak berusaha untuk menyembunyikan ketidaksukaan ku pada Danar kali ini. Sungguh keterlaluan dia menuding ku karena patah hati menjadi buta hati.
"Aku mengatakan Bian yang buta hati bukan kamu".
"Bian?". Kening ku berkerut mendengar perkataan Danar.
"Iya, Bian. Dia memang pernah patah hati yang dalam sehingga dia menjadi buta hati dan kehilangan selera tinggi terhadap wanita saat ini. Sebelum kamu melangkah lebih jauh untuk menjalin hubungan dengan Bian. Aku peringatkan kalau Aku dan orangtua kami jelas tidak akan menyetujui hubungan kalian. Camkan itu".
Aku mengatupkan bibir rapat-rapat. Berbagai pertanyaan melintas di pikiran. Siapa yang membuat Bian patah hati, benarkah dia menyukai ku tapi jika itu benar belum melangkah pun aku sudah diancam.
"Ingat baik-baik ya Anggrek". Danar berdiri melangkah hendak pulang.
"Tunggu". Aku memanggil Danar sebelum dia berlalu dari Miepa.
"Ada apa lagi". Danar memandang ku tajam menampilkan wajah enggan untuk berbicara lagi.
"Kamu belum bayar". Aku menunjukkan kepada Danar arah kasir berada.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, Saking emosinya sampai lupa dengan kewajiban setelah makan ditempat makan.
__ADS_1