
Apakah rupa yang sama menjamin hati yang sama. Bisakah kita mengendalikan hati seperti mengendalikan pikiran?
***********
Pria jangkung dengan hoodie hitam itu datang lagi. Setiap melihat kedatangan Danar di saat itulah rasanya aku ingin melarikan diri. Pertemuan dengan Danar hanya menciptakan rasa tidak nyaman terlebih perkataan pedasnya yang selalu dia utarakan ketika bertemu.
Hari ini aku tidak bisa menghindari Danar ketika sedang memeriksa kerjaan Nando di booth pentol dekat pelataran minimarket, Aku bertemu dia kembali. Danar baru usai belanja di minimarket. Posisi booth kami yang berada di pelataran minimarket membuat aku tampak jelas ketika berdiri di samping Nando.
"Ini punya mu juga?." Pandangan Danar menelisik keseluruhan booth. Aku mengangguk mengiyakan sambil melirik ke arah plastik belanja Danar yang berisi kopi kemasan kaleng. Apa dia memang suka mencicipi segala bentuk dan jenis kopi?.
"Mau pesan apa, pak?." Pandangan Danar tampak tidak bersahabat ketika Nando menyapanya.
"Pentol pedas mozarella". Dia menjawab ketus. Aku segera pergi menjauh dari Danar ternyata dia mengikuti ku.
"Ada apa lagi?." Aku bertanya dengan wajah enggan menunjukkan bahwa aku terganggu dengan kehadiran Danar.
"Pertama katakan pada karyawan mu tampang ku bukan seperti bapak-bapak. Kedua Pembicaraan kemarin belum selesai karena Nadia datang". Aku mengernyitkan kening, satu hal lagi yang membuat ku heran kemarin. Darimana Danar tahu dengan Natasha dan Nadia.
"Kamu kenal Nadia dan Natasha?"
"Aku tidak mengenal secara personal tapi aku memang mencari tahu lingkaran pertemanan Bian." Aku menatap ngeri pria dihadapan ku. Dia abang yang protektif sama adiknya. Bian bukan anak dibawah umur yang membutuhkan pengawasan orang dewasa.
"Seharusnya kamu tahu kalau aku tidak memiliki hubungan istimewa dengan Bian. Apa yang terjalin selama ini hanya hubungan profesional." Aku berkata jujur bukankah selama ini aku menggunakan jasa Bian dan membayar dia secara profesional sesuai biaya jasa yang dikenakan oleh Bian.
"Ya aku tahu tapi aku mengenal Bian dari kecil. Cara dia memperlakukan mu berbeda."
"Kapan kamu melihat dia memperlakukan ku berbeda." Mendadak aku jadi merinding melihat Danar. Apakah dia sengaja membuntuti ku.
"Hei, kamu jangan berpikir macam-macam." Danar seakan membaca pikiran ku mungkin dia melihat perubahan diraut wajahku.
"Kamu berlebihan dan terlalu tinggi menilai perhatian Bian. Semuanya biasa saja tidak ada yang istimewa."
__ADS_1
"Dengar ya pertama saat makan di warung seafood ketika kita bertemu. Bian berinisiatif mengantarmu pulang, dia bukan tipe pria yang biasa mengantar wanita apalagi kalian baru kenal. Bian pun tak marah ketika pintu mobilnya rusak karena ulah mu."
Danar berhenti sesaat lalu dia kembali berujar "Jika aku yang melakukannya dia bisa membunuh ku."
Aku terkekeh mendengar kalimat terakhir. Mempunyai abang protektif seperti Danar jelas menyulut emosi apalagi kalau barang kesayangan di rusak. Aku baru mengetahui saking kerasnya menutup pintu mobil kemarin sampai rusak jadinya.
"Itu bukan sesuatu yang lucu karena mobil antik itu kesayangan Bian. Kedua ketika mendengar kabar kamu sakit betapa paniknya Bian. Itu sungguh menggelikan."
"Dua hal itu tidak bisa menggambarkan kalau dia menyukai ku". Ada perasaan bersalah di hati ketika mengetahui pintu mobil antik kesayangan Bian rusak oleh ulah ku.
"Aku mengenal Bian untuk hal ini sudah merupakan tanda kamu istimewa dimatanya. Kamu juga harus tahu orangtua kami mengutus ku untuk memastikan perjodohan Bian dengan anak teman mama berjalan lancar."
"Apa maksud mu?" Aku tergagap mendengar hal ini. Bian akan dijodohkan dan Danar menganggap ku sebagai penghalang. Masalahnya aku hanya teman Bian bukan kekasihnya.
"Ingat jauhi Bian dan untuk sekarang cukup itu saja yang akan ku sampaikan." Danar mencomot pentol pedas. Detik kemudian dia tersedak dengan wajah memerah, tangannya bergerak sembarangan mencari sesuatu di meja.
"Kamu mencampur apa di pentol ini uhuuukk..huukk". Aku pura-pura sibuk mencari sedotan untuk memperlambat memberi segelas air mineral pada Danar. Rasain kamu ya.
"Lain kali kalau pesan pentol yang pedas sepaket sama minumannya ya".
*****
Pagi yang dingin aku menarik selimut menutup tubuh ketika teriakan Dewo kembali mengusik ketenangan ku. Dia memaksa meminta di temani ke bukit asri yang tidak jauh dari kota.
"Kamu kenapa tidak pergi dengan Rio?." Aku bersungut kesal karena Mama memaksa untuk menemani Dewo. Dia memang belum diperbolehkan membawa mobil.
"Rio sedang di rumah saudaranya. Orangtua Rio sedang menjalani isolasi mandiri di rumah mereka".
"Terkena covid 19?"
"Iya, kak ntar berhenti di gerbang perumahan bukit asri damai ya. Sekalian ada yang minta jemput, dia menunggu di pintu gerbang"
__ADS_1
"Itu termasuk perumahan yang harga cukup mahal karena tidak jauh dengan bukit asri. Konsep perumahan pun keren. Teman mu siapa?." Aku pernah masuk ke perumahan ini menemani Natasha mencari rumah tinggal. Ternyata ada teman Dewo yang tinggal disini.
"Bian teman kakak juga. Kemarin ketemu waktu mabar sama Rian. Jadi dia menawari aku hunting foto di bukit asri"
"Apa?? Kamu kok buat janji sama orang tanpa memberitahu kakak!." Aku menjerit histeris. Dewo melongo melihat reaksi ku. Aku tahu Dewo bisa berteman dengan Rian yang terpaut jauh dengan dirinya karena sering main game.
Rian masih sepupu Rio, sahabat Dewo. Mereka memiliki hobi sama main game tapi kenapa ada Bian?. Apa karena Bian sering bekerja sama dengan Rian di studio foto. Circle friend aku muter di tempat yang sama kalau begini.
"Dia kan teman kakak juga. Kita sudah pernah membuat konten foto vintage ala 80an kan?"
"Kakak membayar Bian, Dewo. Ini kan belum ada perjanjian dengan dia". Aku beralasan sedikit profesional.
"Jalan sebagai teman saja kok kak bukan buat konten"
"Setidaknya kamu kasih tahu kakak." Aku Menggerutu dalam hati. Kalau tahu ada Bian akan ikut bisa dipastikan aku akan menolak menemani Dewo hunting foto di bukit asri.
Nah berhenti itu sudah sampai di gerbang. Bian mana?"
Dewo memanjang lehernya mencari Bian. Ingin rasanya aku menjewer telinga Dewo. Dia sama sekali tidak memperdulikan perasaan kakaknya. Bagaimana nanti kalau aku ketemu dengan Danar.
Ketukan di sebelah jendela Dewo mengejutkan ku. Wajah Bian tampak segar sepertinya dia baru selesai mandi. Untung tadi aku sempat mandi di pagi dingin ini.
"Kak Bian aja yang nyetir ya. Tukaran sama Kak Anggrek?." Aku menggeleng sudah kadung jengkel sama Dewo membuat ku terlalu malas untuk pindah posisi.
"Biar kakak saja yang nyetir, Dewo. Bian sebagai penumpang saja ya?" Aku memperlakukan Bian seakan dia memang temannya Dewo.
"Ya udah aku manut aja namanya nebeng". Bian tersenyum memamerkan lesung pipit. Dia membuka pintu penumpang belakang. Aku terkejut ketika Dewo turun dari kursi depan dan mengikuti Bian duduk di kursi penumpang belakang.
"Haaaah, kok kamu duduk di belakang Dewo. Masa kakak jadi sopir kalian!"
"Kakak kan yang mau. Ada yang mau ku tanyakan sama kak Bian". Dengan santai Dewo mengeluarkan kamera barunya. Mereka asyik bicara berdua di kursi penumpang belakang.
__ADS_1
Aku menggaruk kepala.Ini benar-benar menyebalkan, mengapa Dewo tidak pergi berdua saja dengan Bian. Dari pantulan spion pandangan ku bertemu dengan Bian. Dia tersenyum seakan menahan tawa karena sesuatu yang lucu ketika pandangan kami bertemu di spion.
"Dasarrrrr Dewo"