
...Badai yang ganas di laut juga berasal dari laut yang tenang....
*****
H-2
Minggu pagi, Aku mampir ke butik dan bertemu Natasha. Tania belum masuk kerja tentunya, Honeymoon dong pengantin baru.
"Anggrek, Makan dulu yuk. Tadi aku buru-buru keluar mumpung baby ku masih tidur,"
"Boleh, Sarapan di mana?"
"Bubur ayam pengkolan aja yang di alun-alun,"
Kami melaju bersama mobil Natasha, Sepanjang jalan banyak hal yang kami ceritakan. Termasuk rencana lamaran keluarga Kenzo.
"Jadi keluarga Kenzo sudah melamar mu?" tanya Natasha histeris.
"Keluarganya belum melamar baru lamaran personal, Nat," jawab ku. Sepertinya Natasha sedikit tidak fokus dengan penjelasan ku.
"Kenzo itu ganteng banget lho, Aku baru tahu Ken anak tante Melinda. Saat konsultasi di sana dan bertemu Kenzo. Pesta mu bakalan ramai, Nggrek. Keluarga mereka dikenal luas dalam masyarakat kita," jelas Natasha panjang lebar.
Aku mengerutkan kening, Entah kenapa jarang terpikirkan mengenai ini. Penilaian ku terhadap Ken hanya pribadi dia saja.
Mobil Natasha memasuki pelataran parkir warung bubur ayam pengkolan. Minggu pagi ternyata ramai dengan pengunjung. Zona hijau daerah kami membuat aktivitas lebih longgar.
"Siapa MUA kamu, Nggrek? dan kebaya lamaran sudah siap?" Natasha menulis menu dan aku memesan sama dengan Natasha.
Mata gadis itu membola ketika aku menggeleng "Ya ampun, Anggrek. Kamu belum menyiapkan apa pun?"
"Aku menyiapkan mental dulu, Nat,"
"Ckckckck, Kamu menggunakan desainer ku saja. Dia di Jakarta, Bisa pesan cepat dengan biaya lebih tinggi tapi desain gak bisa ribet kalau mau lebih cepat,"
"Jauh Nat, Memangnya gak ada yang disini?" tanya ku. Keberatan dengan saran Natasha karena kerjaan belum tuntas.
"Ada tapi aku menagih janji, Kapan kamu bisa bertemu bu Tari? supplier kain kita di Jakarta. Aku pun sudah mendapatkan desainer yang bisa mendesain untuk butik kita,"
"Ya ampun, Nat. Aku lupa... Maaf ya, Dalam waktu dekat ini aku usahakan," ucap ku merasa bersalah kepada Natasha.
"Sekalian kamu menjahit kan kebaya di tempat ku kemarin, Alamatnya tidak jauh dari bu Tari,"
__ADS_1
"Baik Nat akan segera ku kerjakan," jawab ku meyakinkan Natasha. Senyum lebar menghias wajar cantiknya.
"Sosial media mu di pegang Kira ya?" Natasha bertanya sambil mengambil handphonenya.
"Iya, Sibuk mengukuhkan usaha menjadi PT dan persiapan restoran menyita waktu ku. Jadi aku serahkan ke Kira untuk sementara waktu. Memangnya ada apa?"
"Lihat dong teman kita," Natasha menunjukkan layar handphone, Akun sosial media milik Dion Andreas. Beberapa feed di sosial media membuat ku spontan memekik. Beberapa pasang mata menoleh ke arah kami.
"Astaga dia bersama Arga Danurmaya," aku menutup mulut tak percaya. Foto keakraban Dion dan Arga terpampang jelas.
Tangan ku segera meraih handphone "Aku harus menelpon Dion,"
Berapa kali sambungan tidak terangkat. Pada nada panggilan terakhir suara riang khas Dion terdengar.
"Pagi, Anggrek. Tumben menelpon ku!"
"Dion, Selamat ya kamu sudah promo film terbarunya. Dion sudah syuting sama Arga ya?"
"Sudah Anggrek sama idola mu,"
"Dion kalau kamu lagi santai sama dia, Video call dong,"
"Gak berani, Nggrek video call sama kamu,"
"Bukan sombong Nggrek tapii...."
"Tapi apa?"
"Aku takut di tendang sama produser eksekutif kami ketika menelpon mu, Haha,"
Sesaat kemudian aku terdiam. Sekian menit lalu aku sempat merasa Dion berubah. Tidak ada panggilan 'mantan terindah dan calon biniku'.
Aku baru tersadar produser eksekutif mereka adalah Bian. Dion sudah tahu ini dan dia sungkan melakukan panggilan konyol itu.
"Anggrek.. Anggrek, Kamu masih ada?"
"Ya Dion, Oh ya tidak apa-apa kalau tidak bisa video call. Berapa hari ke depan aku akan ke Jakarta. Bisa gak ikutan kamu syuting,"
"Nanti aku kabarin ya untuk ini!"
"Oke, Dion. Eh ada Natasha bisa ngobrol sama dia kan?"
__ADS_1
"Mana mama muda kesayangan aku, Sini,"
Aku menyerahkan handphone ke Natasha yang sudah tidak sabar. Perbincangan mereka lebih akrab dan berkali-kali Natasha tertawa mendengar cerita konyol Dion.
Dion begitu kaku dengan ku tapi tetap bersikap biasa dengan Natasha. Aku harus membujuk Dion agar bisa bertemu Arga.
Seharian aku habiskan di butik, Melihat perkembangan traffic penjualan online. Menyusun rencana ke depannya. Setelah Miepa kelar, Project lanjutan adalah mengerjakan produk butik bersama dengan Natasha.
...____------_____-------_____...
H-1
Senin pagi, Aku hanya sempat sarapan mie instan dan kopi sachet. Bersama team panitia, Kami sudah tiba di restoran untuk melakukan pemeriksaan.
Listrik, susunan ruangan, stok bahan makanan dan semua hal yang mendukung pelaksanaan besok pagi. Nando sudah menghubungi wartawan lokal untuk liputan.
Tidak terasa hari menjelang siang ketika Kenzo tiba-tiba datang. Jika kemarin Ken hanya menjemput di parkiran kali ini dia langsung masuk dalam restoran. Nando memberi tahu kedatangan Kenzo.
"Sayang, Kamu tidak menelpon ku dulu?" sambut ku riang. Suasana hati ku sedang dalam kondisi baik karena persiapan acara sudah selesai 99 persen.
"Sudah," jawab Ken sambil menunjukan layar handphone yang menampilkan, 20 panggilan tak terjawab. Aku gelagapan dan tersadar tas ku letakkan di laci meja dalam ruangan.
"Maaf sayang, Gak pegang handphone, Kamu gak marah kan?" mohon ku kali ini. Mencoba melunakkan hati Kenzo.
"Iya gak apa-apa. Aku paham, Kamu sudah makan belum?" tanya Ken, Ketika aku menggeleng. Dia tersenyum dan menambahkan "Makan siang dulu yuk," ajak Ken. Dia memang paling suka mengajak ku makan.
Aku mengambil tas dan segera mengekori Kenzo. Kami tiba di restoran Ken yang berada dalam pusat perbelanjaan. Tidak jauh dari air mancur, Tempat aku dan Natasha bertemu Kenzo. Ketika dia bercerita tentang Adi dan Cahya.
Tidak seperti biasanya Kenzo memilih makanan diantar di ruangannya. Aku memindai ruangan dominasi putih Kenzo, Dia menggunakan furniture warna putih dengan sedikit ornamen warna kayu dan hitam.
Lapisan kayu yang menutup dinding di belakang meja kerja. Membuat ruangan tak terlalu monoton, Ditambah spot lukisan berwarna cerah menjadi spot ruangan Kenzo. Aku sedikit khawatir mengotori sofa putih polos Kenzo, Ketika makan nanti.
Ken meletakkan handphone di atas meja. Dia menghampiri ku di sofa, Duduk berdekatan, Sebelah tangannya menyelinap di sela sofa dan pinggang. Dia setengah memelukku.
"Anggrek, Kemarin kami ke luar kota. Teman ku menyukai mie ayam kalian, Jadi kami mampir di outlet Miepa. Awalnya aku mengira pak Rudi yang menyambut kami adalah pemilik outlet dan aku baru tahu. Mereka bekerja untuk Bian, Mantan mu adalah mitra kalian," Kata Kenzo, Dia semakin merapat.
"Iya, Ken memang dia merupakan mitra kami. Semua diluar sepengetahuan ku karena Cleo, Asisten Bian yang mengatur," jelas ku pasrah, Aku tidak tahu lagi harus bagaimana saat ini.
"Cleo? sudah lama aku tidak melihatnya. Dia asisten Bian?" tanya Kenzo, Aku mengangguk. Kenzo membelai lembut rambut ku. Dia merapikan anak rambut dan menyalip sebagian rambut ke telinga ku.
"Kamu akan menjadi istri ku, Nggrek. Aku akan menangani Bian, Dia terlalu berani memasuki wilayah ku," bisik Ken "Dia harus tahu, Aku tak suka milikku di ganggu!"
__ADS_1
Kali ini aku memilih diam, Tidak ingin semakin menyulut emosi Kenzo. Walau intonasinya pelan dan berbisik, Wajah putih Ken yang memerah cukup untuk memberi tahu ku bahwa dia sedang marah.
*********