
...Cantik atau tidak bukan segalanya tapi jiwa yang kuat dan hati yang bahagia adalah kunci menjalani kehidupan...
Nasehat Mama saat Anggrek mulai beranjak remaja. Sebuah nasehat yang bertahan maknanya dalam hidup Anggrek sampai saat ini.
******
Lantunan musik klasik terdengar merdu di ruangan Rosemary. Aku bergandengan dengan Kenzo melewati acara kecil yang dihadiri Cahya.
Dia masih melihat aku dan Kenzo dengan mata berkilat. Sungguh perilaku tidak pantas bagi wanita yang telah bersuami. Menatap tidak rela mantan kekasihnya bersama dengan wanita lain.
Langkah kami terhenti ketika seorang pria berusia 30an berdiri di hadapan aku dan Kenzo.
"Malam, Ken. Sudah lama tidak mampir kemari," Pria itu melirik ku.
"Malam juga, Bim. Hari ini aku mampir kan, Anggrek perkenalkan ini teman ku, Bima pemilik Rosemary,"
"Lengkap sekali kamu memperkenalkan ku, Ken!'
"Tidak begitu lengkap karena aku tidak menyertakan gelar mu yang panjang itu,"
"Haha, Kau pandai menggoda orang lebih tua. Nikmati saja ya malam ini, Aku permisi dulu."
Bima berlalu dari hadapan kami, Waitress mengarahkan ke meja yang telah dipesan kan oleh Kenzo. Tidak terlalu jauh dengan meja saat bersama Bian.
Aduh, Kembali aku mengingat sosok Bian. Seandainya ada tombol delete di otakku ingin ku hapus segera nama tersebut dalam ingatan.
Kenzo menarik kursi ku dan dia melakukan hal yang sama untuk dirinya. Setelah memesan menu yang ada kami melanjutkan dengan obrolan.
"Anggrek, Aku mengajakmu kesini untuk membicarakan mengenai rencana pengajuan kamu sebagai pemudi inspiratif kota kita,"
"Waduh, Aku merasa belum segitunya, Ken. Masih banyak yang lebih kompeten,"
Senyum Kenzo melebar mendengar tanggapan ku. Berada bersama Kenzo seakan menjadikan diri ini, Sebuah buku yang mudah dibaca. Kenzo mengetahui kisah dengan Adiwarna. Bahkan justru dari Kenzo lah aku mengetahui ihwal jalinan kasih mereka.
"Kamu pernah gak sih menganggap dirimu itu benar-benar bernilai? kamu keren, Anggrek. Memulai usaha dari nol kemudian di masa seperti ini, Usaha mu tetap berjalan lancar."
"Masih banyak yang lebih pantas kok, Ken."
Wajah ku kembali merona, Kenzo memuji ku dua kali malam ini. Aku bahkan menghitung setiap pujian Kenzo.
"Diajukan dulu nanti ada team yang akan mengevaluasi, apakah bisa menerima penghargaan atau tidak. Bukan kamu kan yang mengajukan tapi aku,"
"Aku jadi malu, tahu!"
"Aku juga jadi, tempe."
__ADS_1
Kami menertawakan joke garing itu. Akhirnya kecanggungan malam ini terpecahkan. Rasanya agak beda ketika biasa berjalan dengan seorang teman. Tiba-tiba harus melewati dinner yang romantis bersama dia.
Setidaknya bagi ku makan malam yang ditawarkan Kenzo mempunyai suasana romantis. Pembicaraan kami terhenti sesaat karena waitress menyajikan pesanan.
Kenzo mengomentari setiap makanan yang kami pesan. Sepertinya karena dia juga memiliki restoran, Lidahnya lebih sensitif terhadap rasa. Berbeda dengan Bian yang lebih banyak diam dan menikmati saat makan.
Ah lagi dan lagi. Otak ku seakan tidak mau kompromi untuk tidak menyebutkan satu nama itu malam ini.
"Jadi bagaimana Anggrek mengenai usulan ku ini, Bisa membawa prestise juga untuk usaha mu?"
"Aku mengikuti saja Kenzo kalau memang menurut mu layak, Tidak ada salahnya juga untuk mencoba."
"Nah gitu lah. Mesti percaya diri,"
"Oh ya Anggrek, Aku akan membuka restoran baru nantinya. Kamu datang juga ya untuk peresmiannya,"
"Kapan dan dimana?"
"Masih rahasia nanti aku kabari ya,"
"Iya kalau tidak ada acara lain. Aku usahakan datang,"
Malam mulai menanjak membuat kami memutuskan untuk pulang. Aku permisi ke toilet dulu untuk menuntaskan panggilan alam.
*****
"Kamu berganti pria dalam sekejap, Merasa cantik sekarang?" Dia mendengus dan menatap dengan pandangan meremehkan.
Aku mengacuhkan Cahya tetap melanjutkan aktivitas sambil bersenandung. Seakan dia hanya nyamuk yang berdenging.
"Apa maksud mu mendekati Kenzo? mau balas dendam karena Adiwarna memilih ku? Ambil saja Adiwarna untukmu sekarang. Aku bahkan tak perduli jika kamu menginginkan dia lagi,"
Ada tawa yang ingin ku sampaikan kepada Cahya. Jika kejadian di baby shop benar bearti Adiwarna sudah berselingkuh dibelakang istrinya. Sekarang Cahya berpura-pura seakan tidak membutuhkan Adi.
"Kenzo tidak menginginkan wanita tidak menarik sepertimu. Dia ha-n-ya akan mempermainkan mu,"
Aku meletakkan lipstik ku di dalam tas, Merapikan rambut sambil bersenandung melenggang di samping Cahya. Dia hanya nyamuk yang tak perlu tepukan, Biarkan saja dia mendengung sampai lelah.
Baru saja aku keluar selangkah dari pintu toilet menuju ke meja kami. Cahya menarik tangan lalu membalikkan tubuh ku berhadapan dengan dirinya.
"Kamu dengar aku, Anggrek Maharani!!" Nada geram terdengar dalam intonasi suara Cahya.
"Kamu mau membalas dendam dengan menjadi pacar Kenzo dan memamerkan kepada ku?!"
Aku terperangah tidak percaya, Cahya sudah menikah dan kelakuannya tidak masuk akal sehat. Apakah Cahya sudah kehilangan akal warasnya. Dia benar-benar seperti orang yang kehilangan kendali akan akal sehatnya.
__ADS_1
"Cahya kamu sudah menikah! Jangan gila," Aku bergegas berlari dari hadapan Cahya. Dia sengaja memancing emosi ku mencari alasan untuk bertengkar.
Apakah dia masih wanita yang sama. Seseorang yang pernah menjadi sahabat ku. Cahya seakan cemburu aku bersama Kenzo.
"Kamu yang gila, Anggrek Maharani!" Tangan Cahya sudah melayang di udara tapi tertahan oleh tangan Kenzo.
"Jangan pernah menyentuh, Anggrek. Cahya!"
"Kenzo! Dia yang memulai,"
"Sudah lah hentikan bersikap murahan ini," Kenzo menghardik Cahya membuat kedua mata indah dengan bulu mata lentik itu berkaca-kaca. Meminta belas kasihan, Aku merinding melihatnya. Sepertinya Cahya ingin mengambil hati Kenzo lagi.
Aku mendekati Cahya, Untuk pertama kalinya kesabaran ku habis.
"Cahya ini terakhir kali aku berurusan dengan mu. Aku memiliki kehidupan sendiri. Begitu pula kamu, Urus saja rumah tanggamu. Ingat Cahya kita sudah dewasa untuk memperdebatkan hal ini. Jaga martabat dan harga dirimu!"
"Lihat Kenzo, Dia merendahkan ku," Aku hanya menggelengkan kepala. Dia bersikap seakan menjadi korban.
"Aku akan melaporkan kelakuan mu ke sekuriti. Lihat saja CCTV dibelakang mu. Di saat Adiwarna sedang mendekati koleganya. Istrinya bersikap rendahan dan kampungan. Kamu mau aku melaporkan ke Bima untuk melarang kamu ke sini selamanya!"
Cahya mendengus wajahnya yang memelas sebelumnya kembali membara. Dia menegakkan tubuh ramping dalam balutan dress yang menarik. Berjalan menjauh dari kami dengan tangan terkepal
menahan emosi tak tersalurkan.
Aku menyayangkan dengan anugrah fisik yang menawan seperti itu. Cahya tidak bisa menggunakan dengan baik benda di dalam tempurung kepalanya. Apakah otaknya masih berfungsi?
"Kamu tidak apa-apa, Anggrek?"
"Tidak, Aku hanya shock khawatir tadinya Cahya akan berulah kampungan. Berkelahi di depan umum saling jambak seperti yang ku lihat di video yang beredar. kalau itu terjadi sangat memalukan."
"Iya benar. Aku sudah curiga ketika kamu berlalu dari meja, Aku melihat Cahya melakukan hal yang sama. Hanya sedikit terlambat karena tadi aku menyelesaikan pembayaran,"
"Kenapa dia berubah Kenzo? Mengapa sekarang Cahya seperti kehilangan akal warasnya?"
"Sudah lah tidak usah dipikirkan, Sebaiknya kita pulang,"
Aku mengikuti langkah Kenzo berjalan bersisian di sampingnya. Ketika melihat Cahya, Senyum ku pun terbit. Aku kembali melingkari tangan di lengan Kenzo. Seperti mengerti maksud ku, Kenzo menepuk lembut punggung tangan ku.
Cahya menatap ku dengan pandangan berapi. Aku tertawa kecil, Sayang sekali fisik yang menawan tidak ditunjang kecerdasan.
Seharusnya kamu bisa menjadi wiraswasta sukses dengan membantu usaha Adiwarna tapi pilihan hidup mu memang beda.
Aku bahkan tak perlu menggunakan kedua tangan ku untuk menepuk 'nyamuk' sepertimu. Cukup dengan sebelah tangan di lengan Kenzo, Kamu sudah menggila.
*********
__ADS_1
🤗🤗🤗
Selamat beraktivitas hari ini semuanya. Semoga selalu berbahagia 😘