Viral

Viral
36. Jangan Pernah Takut Sebelum Melangkah


__ADS_3

Apakah kamu masih begitu takut melangkah sehingga berakhir di satu tempat saja??


********


Diantara dua pilihan manakah yang akan ku ambil?. Bian datang ketika luka hati ku baru pulih. Sedangkan Doni datang membangkitkan kenangan masa lalu.


Setelah sekian lama memikirkan ini sendirian akhirnya aku meminta saran dari Natasha. Aku tidak bisa bergelut dengan diri sendiri. Bertanya dan menjawab semuanya sendiri dalam pikiran.


Pagi ini ketika ada waktu senggang di butik, Aku menceritakan semuanya dengan Natasha dari awal pendekatan Bian dan Doni. Berakhir pada saat bersamaan ketika mereka mengungkapkan perasaan.


"Kamu menyukai Bian, Anggrek sedangkan Doni hanya masa lalu mu". Natasha menepuk pundak ku yang menyender di kursi.


"Iya, Aku menyukai cara Bian menunjukkan perhatian. Ketika dia mengantar ku pulang dari pesta mu, Cara dia mendekati Dewo dan perhatian kecil lainnya."


"Kenapa kamu tidak mengiyakan saja. Tunggu apalagi Anggrek." Natasha bertanya gemas.


"Danar dan Diandra? Kamu melupakan poin utama penolakan ku, Nat." Aku mengeluhkan Natasha yang sepertinya tidak menyimak cerita ku.


"Memangnya apa yang mau dilakukan mereka jika kalian berhubungan. Mau getokin kamu? Hahaa."


"Itu gak lucu Natasha."


"Menurut ku lucu, Kamu takut pada kata-kata mereka. Ingat kata-kata bukan tindakan. Mereka bahkan belum bertindak!"


Aku menghembuskan napas. Menelaah setiap kata Natasha.


"Percayalah pada ku, Bian sudah dewasa jika dia berani menolak perjodohan yang dilakukan orangtua nya lalu pindah ke kota ini dengan memulai usaha secara mandiri. Besar kemungkinan dia akan memperjuangkan hubungan kalian."


"Aku takut ketika hubungan kami sudah serius tetapi keluarga Bian tetap menolak kehadiran ku, Nat. Aku tidak bisa tersakiti lagi untuk kedua kalinya."


"Anggrek kamu bahkan belum bertemu orangtua Bian. Semua perkataan yang disampaikan Danar dan Diandra belum tentu mewakili suara orang tua mereka."


"Kamu tidak pernah berada pada posisi ku Natasha! Kamu cantik, kaya, menarik, semua orang menginginkan menjadi sahabat, kekasih mu. Kamu lahir dengan keberuntungan dan privilege. Kamu tidak pernah ditolak dalam lingkungan." Aku menatap tajam Natasha. Membuat wajah putih mulus Natasha memerah.


"Aku tidak melihat Anggrek yang tangguh, pandai memperjuangkan keinginan disini. Kamu masih trauma karena Adiwarna. Kamu belum menjalankan hubungan ini. Sudah berkhayal dan berimajinasi jika hubungan ini akan gagal."


"Aku.. Aku hanya takut Nat. Aku takut kecewa lagi."


"Jika kamu masih takut melanjutkan hubungan dengan laki-laki yang baik maka kamu akan melajang selamanya atau kamu bisa menikah dengan pria yang tidak kamu cintai."

__ADS_1


"Nat.. Aku tidak tahu harus bagaimana."


"Kamu tahu harus melakukan apa. Terima lah Bian, Mulai lah dengan kehidupan cinta yang baru. Jangan cari uang saja pintar."


"Cari uang menggunakan pikiran bukan menggunakan hati. Aku bisa mengendalikan pikiran ku tapi susah jika menyangkut hati" Aku menunjuk kening lalu menunjukkan ke arah dada.


"Siapkan mental mu. Lupakan masa lalu mu. Bian tidak melihat fisik seseorang berbeda dengan kakak kembarnya. Aku heran di jaman sekarang masih ada yang memiliki pandangan seperti kakak kembar Bian. Mereka mencari ipar atau top Model untuk adiknya. Mengada-ada saja."


Tak urung aku tertawa juga mendengar perkataan Natasha. Aku melihat ke luar jendela memperhatikan lalu lintas di depan butik. Membayangkan seseorang dengan mobil antik dan kamera ditangannya.


"Anggrek, Aku mengatakan ini karena Tante ku melajang sampai hari tuanya karena pernah disakiti oleh kekasihnya. Itu pilihan hidupnya mungkin dia bahagia dengan pilihannya tapi mantan kekasihnya hidup berbahagia dengan istri, anak dan cucunya. Itu tidak adil menurut ku."


"Iya dia melajang karena takut untuk membuka hati pada lelaki lain seperti aku saat ini." Aku berkata lirih.


"Kamu bisa Anggrek, Yakinlah."


Natasha benar justru aku sendiri yang bermain dengan pikiran. Membayangkan kegagalan yang belum tentu terjadi lalu memilih untuk tidak melangkah.


****


Aku melewati hari dengan kesibukan di butik bersama Natasha dan Tania. Beberapa contoh pakaian yang datang dari jasa penjahit telah tiba di butik. Kami memilah lalu memutuskan menggunakan dua jasa penjahit.


Penjualan memang tidak seperti yang kami harapkan tetapi masih mendatangkan sedikit keuntungan. Aku sedang bersama karyawan di lantai dua, Mengontrol packing pesanan pelanggan online ketika Natasha menghampiri ku.


"Suruh tunggu bentar. Aku mau dandan dulu, Masih kucel nih." Aku menyisir rambut dengan tangan.


"Terlambat aku sudah menyuruh dia ke atas."


"Kenapa kamu gak bilang dari tadi."


"Karena dia sudah dibelakang mu! Hai Bian ini Anggrek. Masuk saja, Sorry ya ruangannya rada berantakan. Kamu duduk dimana saja terserah. Gak duduk juga gak apa-apa. Aku pamit dulu ya."


Dengan kepercayaan diri yang tersisa aku menoleh. Mata ku bertubrukan dengan sepasang mata bening milik Bian.


"Maaf menganggu ya Anggrek, Kamu kelihatan sedang sibuk. Aku hanya mampir sebentar tadi mau menitipkan sama Natasha tapi dia memaksa ke sini."


"Iya gak apa-apa." Aku melirik ke arah pegawai yang masih mengepak barang, Mereka pura-pura acuh tapi aku tidak yakin begitu karena berapa kali mata Mina dan Tania melirik Bian.


"Aku mau memberikan vitamin ini ke kamu, Nggrek. Kamu selalu sibuk bekerja tapi jangan lupa jaga kesehatan. Nanti tolong baca pesan ku ya. Aku pamit dulu, Kamu gak perlu mengantar ku lanjutkan saja kerjaan mu."

__ADS_1


"Makasih ya Bian."


Bian menyodorkan sebungkus kecil plastik berlabel apotik. Sebuah perhatian sederhana yang membuat ku terharu.


Ketika Bian menghilang dari pintu masuk. Sorak pegawai riuh dan wajah Natasha muncul dari balik pintu.


"Ciee.. ciee.. Vitamin C ya? Vitamin cinta."


"Kita-kita ini tadi cuma dianggap debu-debu selotip buat bungkus paket. Dunia cuma milik mereka." Tania menambah gaduh suasana. Wajah ku terasa panas oleh ulah mereka.


Aku mencubit lengan Natasha gemas dengan inisiatif dirinya karena dia lah yang memaksa Bian menemui ku.


"Aku tak akan berhenti menjadi pendukung Bian. Dia pria baik, ganteng lagi. Semua akan ku lakukan sampai kalian bersatu." Natasha menepuk dadanya. Aku cuma mencibir.


Aku segera menepi ke ruangan lain membuka pesan hijau dari Bian.


"Anggrek tadi aku swab. Berapa hari ke depan ada rencana ke Jakarta. Malam kamu ada waktu untuk keluar?"


"Boleh Bian, Jam berapa?"


"Kamu bisanya jam berapa karena akhir-akhir ini kamu sibuk banget kata Dewo."


"Jam tujuh malam, Bian. Oh ya makasih vitaminnya."


"Sama-sama, Nggrek. Maaf Nggrek aku melanggar apa yang pernah ku katakan. Aku tidak bisa menunggu jawaban mu untuk waktu yang tidak pasti."


"Kamu meminta kepastiannya, Bian?"


"Iya Anggrek tapi tidak dalam bentuk pesan. Aku ingin mendengar langsung dari mu."


"Iya Bian."


"Sampai ketemu malam ini ya Anggrek. Apapun keputusan mu akan aku terima."


"Baik Bian, Daah."


"Daah Anggrek."


Aku menutup gawai. Iya Natasha benar, Bukan kah lebih baik gagal tapi telah berusaha daripada mundur dan kalah sebelum berusaha..

__ADS_1


********


Anggrek galau lagi.. Ratu galau ya dia? Like dan komentar ya readers sayang 🤭🤭


__ADS_2