Viral

Viral
116. Nyonya Bian Prasetya


__ADS_3

...Ingin tahu sifat asli seseorang?...


...tunggu sampai dia sukses...


...dan memiliki banyak hal...


...Jika dia tetap rendah hati...


...saat berada di tangga kesuksesan...


...itulah sifat aslinya...


*****


Aku melirik jam dinding, Pukul 15:45. Masih menggunakan bathrope mencari koper. Dimana Bian meletakkannya? jatah tidur ku memang berkurang karena selama dua hari dengan 'aktivitas malam'. Membuat begitu lelap di mobil.


Sampai tidak sadar dipindahkan ke kamar dan barang-barang ku diletakkan entah kemana.


"Kamu menggoda ku lagi dengan bathrope ya sayang?" Bian memeluk dari belakang.


"Aku mencari koper dimana kamu letakkan, Kak?"


"Di walking closet, Sudah dirapikan. Aku sudah meminta Cleo memesan pakaian juga untukmu disini. Semoga suka ya?"


"Eh, Iya. Sudah lama aku tidak melihat Cleo,"


"Tugasnya sudah selesai jadi sekarang dia akan kembali lagi disini, Cepetan ganti baju gih atau....,"


"Iya... Ini juga mau ganti tapi di tahan," sahut ku sambil menunjuk tangan Bian yang masih betah melinggar di pinggang. Dia segera melepaskan, Baru berjalan berapa langkah Bian menarik pinggang ku lalu merapat kembali.


"Selamat datang di rumah kita nyonya Bian," kembali dia memberi ciuman lembut.


...___---___----____...


Kami keluar kamar, Aku melihat suasana rumah yang ditempati. Lantai dua memiliki akses terbuka sehingga ruangan di lantai satu bisa terlihat, Bian memilih lantai granit. Dia menyukai furnitur berwarna gelap.


Beberapa asisten rumah tangga menatap ku seksama. Ya, Sekarang Bian sudah memiliki istri. Aku tersenyum ramah pada sambutan mereka.


"Perkenalkan ini istri ku, Anggrek,"


Aku menyalami mereka, "Ada Tiga laki-laki dan Tiga perempuan. Enam orang untuk melayani satu orang yang jarang di rumah," batin ku.


Bian mengajak mengelilingi rumahnya. Termasuk besar untuk di huni oleh seorang lajang. Dari sebanyak ruangan yang menarik atensi ku adalah ruangan kerja merangkap perpustakaan milik Bian.


Di dinding belakang meja kerja Bian. Deretan bingkai foto berjajar rapi, Semuanya foto diri ku. Dia mengambil diam-diam.


Deretan foto itu mengingatkan kembali pertemuan kami. Dari prewedding Natasha dan Gege ketika kami bertemu pertama kali, Sampai foto aku di pernikahan Nadia dan pemotongan pita grand opening restoran Miepa. Benar tenyata dia memang mengambil foto diriku.


"Mereka bertugas untuk apa, Sayang? tanya ku sambil menghampiri Bian di kursi malas. Dia merentangkan tangan dan mendekap ku.


"Tiga pria, Satu sebagai tukang kebun yang biasa datang seminggu tiga kali. Dua satpam yang bergiliran jaga. Tiga perempuan, Dua bertugas untuk membereskan rumah. Satu perempuan yang lebih tua untuk mengawasi semuanya, Aku tidak mungkin meninggalkan mereka tanpa pengawasan," jelas Bian.


"Oh begitu, Rumah mu termasuk besar untuk ditempati sendirian. Kenapa tidak tinggal bersama papa Setya dan mama Lusi?"


"Lebih dekat dari tempat usaha ku," jawab Bian sambil memainkan rambut ku, "Malam ini mau makan di sini atau kita keluar makan diluar?"


"Disini saja, Sayang. Tasya sudah menjadwalkan perawatan full untuk pernikahan lalu dilanjutkan menggunakan henna, Aku membutuhkan istirahat,"


"Perawatan untuk pernikahan? bukankah kamu sudah akad, menikah dan hemmmmm... hemmm," dia berbisik sambil mendekatkan wajah tampannya ke arah leher ku.


"Pssttt... masa disini sayang. Asisten mu nanti lewat dan kedengaran gimana?"

__ADS_1


"Mereka di ruangan belakang, Biasanya nonton TV kalau tidak ada yang dikerjakan lagi, Memangnya sebesar apa sih suara mu sampai takut kedengaran?"


"Aisshh...,"


"Wajah mu merah, Sayang,"


Aku memanyunkan bibir lalu menatap Bian, "Sayang saat pindah ke kota ku dengan fasilitas keuangan yang di cabut, Lalu belajar mandiri. Kemudian menyiapkan kebutuhan sendirian memangnya tidak kaget?"


"Kaget banget," spontan Bian menjawab dengan kening berkerut.


"Dan kamu masih kekeuh mencoba bertahan?"


"Iya karena untuk pertama kalinya aku menjadi diri sendiri. Ternyata menyenangkan, Kamu masih ingat mantan Danar yang sempat ku taksir. Dia mencampakkan aku ketika tahu Danar lah cucu kandung Anugrah. Itu membuat ku berada pada titik, Orang melihat apa yang ada di balik diriku,"


"Walau tanpa kemampuan keuangan yang baik?" tanya ku penasaran karena baru sehari di Jakarta. Aku mulai mengenal kenyamanan fasilitas kehidupan Bian.


"Iya, Kamu masih ingat mentraktir ku makan di seafood. Untuk pertama kali aku di traktir perempuan, Haha... dan kedua kali di bukit asri hijau ketika kamu mau membayar kembali tapi aku menolak,"


"Ih kan wajar saja, Pertama kami menggunakan jasamu sebagai fotografer. Kedua karena aku menganggap mu sebagai teman Dewo kalian adalah sekutu,"


"Kamu kan yang menawarkan Dewo jadi adik ku. Sudah pernah ku katakan di bukit asri hijau. Jika Dewo jadi adik ku, Maka aku harus menikah dengan kakaknya,"


Kamu punya adik nggak, Bian? Kalau belum punya ambil saja adikku ini.


Aku anak bungsu dan tidak keberatan kalau Dewo jadi adikku, tapi supaya dia jadi adikku berarti kakaknya harus jadi istriku


Sebuah candaan yang menjadi kenyataan. Aku memeluk Bian, Siapa sangka pria yang selalu santai dengan mobil antiknya adalah jodoh ku. Bahkan kami bertemu dengan perkenalan tanpa di sengaja.


********


2 hari lagi


Sebelum perawatan dilakukan. Netra ku melirik mereka yang keluar masuk salon, Penampilan dan kulit terawat menggelitik keinginan ku memiliki yang mereka punya.


Pengunjung dengan penampilan modis dan berkelas keluar masuk salon. Mereka menggunakan tas dengan simbol huruf yang sanggup menguras kantong. Aku memiliki beberapa tas tersebut hadiah dari Kenzo dan seserahan dari Bian.


Seharusnya kemarin ku bawakan ke Jakarta. Ya... Hadiah karena aku merasa sayang menggunakan uang untuk membeli 'tas mahal'.


Pikiran ku selama perawatan penuh dengan penampilan pengunjung salon. Aku menyukai dan ingin berpenampilan menarik seperti mereka.


Jika pada saat Kenzo membelikan aku sempat menolak karena merasa sayang mengeluarkan uang untuk sebuah tas. Bahkan menggunakan aku enggan, Kali ini berbeda. Melihat penampilan pengunjung salon tadi. Aku kepincut meniru gaya mereka.


Selepas melakukan perawatan aku meminta Tasya menemani untuk berbelanja sepatu serta tas yang ku ingin kan. Ternyata bukan sekedar menguras kantong tapi menguras saldo. Padahal cuma satu tas dan sepatu yang ku beli.


Tangan ku kembali gatal hendak mengambil foto dan posting belanjaan disini, Tapi terasa sungkan karena Tasya pasti sudah biasa belanja disini.


Aku segera mengenakan dan menatap senang pantulan diri di cermin. Sebentar lagi Bian akan menjemput untuk bertemu keluarga ku yang menunggu di hotel. Tasya kembali pulang bersama sopirnya.


Kening Bian tampak berkerut ketika melihat penampilan hari ini.


"Jelek ya?" tanya ku ketika melihat responnya.


"Tidak sayang," dia mengelus rambut ku.


Kami segera menuju hotel dan bertemu keluarga ku. Mereka masih tampak lelah.


"Kita pesan kamar juga atau berangkat dari rumah ku?"


"Aku tidak membawa pakaian ganti, Sayang,"


"Ya sudah besok pagi kita kembali ke sini tapi harus pagi sekali agar tidak terkena macet."

__ADS_1


"Iya sayang,"


Kami akhirnya memutuskan pulang dan berpamitan dengan keluarga besar yang mau istirahat. Sepanjang perjalanan aku kembali menahan diri untuk tidak mengambil foto dalam mobil sport Bian.


"Tahan, Nggrek... Bian tidak pernah menunjukkan apa yang dia punya selama ini," kembali aku membatin.


Foto sosial media ku masih tentang pernikahan. Semua dikerjakan Kira dengan persetujuan ku tentunya.


Aku jadi teringat percakapan dengan Kira ketika dia memberi saran untuk tidak menaikkan tarif endorse. Entah kenapa aku merasa nominal tersebut terasa kecil, Padahal ketika pendapatan Miepa sedang menurun penghasilan dari sana lah yang menutupinya.


Sudah lewat tengah malam ketika tiba di rumah. Netra ku memindai rumah kami. Permainan cahaya lampu dan penataan taman membuat tampilan rumah tampak artistik dari luar.


Ketika memasuki dalam rumah, Kembali permainan cahaya down light dan lampu gantung membuat kesan stylish. Ditambah penggunaan granit memberi kilau mewah, Berpadu dengan furniture mahal yang dilengkapi maha karya beberapa seniman. Bian memang memiliki selera yang baik.


Rasanya aku ingin berfoto depan dan dalam rumah dengan status 'my home' tapi sekali lagi, "Tahan Anggrek... Tahan, Jangan norak,"


Bian mengambil paper bag yang berisi tas dan sepatu lama karena isinya sudah ku gunakan. Aku mengikuti langkahnya.


"Kamu tampak lelah sayang," dia mengecup kening ku, "Istirahat aja ya atau masih mau menemani ku?"


"Besok kita harus bangun pagi sekali kak, Aku harus menggunakan henna juga,"


"Iya sayang, Oh ya tadi sepatu dan tas mu rusak ya? atau apa?" tanya Bian


"Memangnya kenapa?"


"Karena kamu langsung menggantikannya atau sekarang kamu menyukai brand tersebut, Besok kita belanja lagi,"


"Eh tidak, Kak. Kebetulan saja tadi iseng main ke sana," jawab ku yang disambut senyuman kecil Bian.


"Oh kalau kamu suka nanti kita belikan lagi karena aku jarang melihat mu berpenampilan seperti ini. Walau aku tahu kamu mampu membelinya, Aku pikir kamu gak suka, sayang. Pemberian ku lalu saja belum digunakan,"


"Oh tidak juga sayang, kebetulan saja karena modelnya lucu," alasan ku.


"Ya sudah ganti baju dulu, Kita istirahat ya untuk hari ini,"


"Iya sayang,"


Aku meletakkan tas di walking closet Bian dan mata ku membesar, Sesaat melihat banyak brand dan kemeja dari merek terkenal milik Bian. Kenapa dia jarang menggunakan?


Ah, aku baru ingat suami ku tidak terlalu suka menampilkan diri. Mungkin dia menggunakan pada momen tertentu. Sebagai prestise dalam pergaulan.


Tiba-tiba aku jadi malu sendiri dengan kelakuan hari ini. Baru sehari bergaul dengan Tasya dan ke tempat sosialita berada. Mendadak merubah pemikiran dalam sekejap.


Baru tiga hari jadi nyonya Bian, Aku nyaris bersikap norak. Tidak bisa ku bayangkan reaksi keluarga Bian jika aku memasang foto di sosial media dari saat naik jet pribadi sampai paper bag dan struk belanjaan.


...Ingin tahu sifat asli seseorang?...


...tunggu sampai dia sukses...


...dan memiliki banyak hal...


Aku menghembuskan napas dengan lintasan pikiran. Iya, Terkadang bersikap rendah hati ternyata tidak mudah juga.


"Sayang, Kamu sedang apa lama di sana. Di ranjang dingin, Temani,"


"Iya, Kak. Tunggu bentar sayang,"


Panggilan suami ku membuyarkan pemikiran barusan, Aku segera menghampirinya dari ekspresi yang ditampilkan sepertinya dia menginginkan sesuatu, dan aku tahu apa itu karena aku juga menginginkannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2