Viral

Viral
114. Hari pertama Tuan dan Ny. Bian (21+)


__ADS_3

...Warning 21+...


...Dari bab awal sampai sekarang. Bab inilah yang membuat otor nulis sambil mikir dan ngikik...


...(untung gak ada yang ikutan ngikik😌)...


...Ya ampun 'muter' deh mencari kata-kata untuk menggambarkan malam,...


...sebagai suami istri...


...jadi ya gitulah part malam mereka, haha......


...❤❤*******❤❤...


Masih ingat gadis viral yang menangis


karena patah hati dan makan indomie?


begini nasibnya sekarang...


Dia telah menemukan cinta sejatinya,


Menikah dengan seorang produser eksekutif, tampan berasal dari keluarga crazy rich....


Video dan foto pernikahan kami menjadi viral. Berita Kehidupan cinta ku kembali berada urutan atas. Trending sosial media hari ini, FYP di tiktok, Kolaborasi dari pengguna sosial media lainnya.


Menjadi headline dan tajuk berita media online. Foto ku dan Bian beredar luas.


Aku menunjukkan pada Bian. Kening suami ku berkerut, Membuat alis indah bertaut menawan.


"Kenapa sayang?"


"Apakah hanya itu yang mereka tahu tentang ku?"


*****


Braakkk...


Aku kaget mendengar suara pintu kamar yang terbuka lalu tertutup dengan wajah merah padam Bian, Dia tampak seperti mr.crab.


"Ada apa, Sayang?" tanya ku mengalihkan atensi dari layar handphone ke wajah Bian.


"Aku baru tahu kamar mandi mu diluar kamar, Sayang? semua keluarga menggoda ku. Keluar dengan rambut basah padahal kita semalaman tidak melakukan apapun," jelas Bian lalu duduk di pinggiran ranjang dengan mata menerawang.


Memang setelah makan malam, Kakek, nenek berserta om, tante ima, para sepupu, ditambah mama, papa. Justru mengajak kami mengobrol sampai larut malam.


Mereka menceritakan masa awal berkenalan. menikah dan menjalani suka duka pernikahan. Dari kakek yang mendekati nenek saat menonton layar tancap, Sampai om dan tante ima saat bioskop sudah ada. Ketika perbincangan usai, Kami masuk kamar dengan kantuk tak tertahan lalu terlelap.


"Aku sudah bilang mandi lebih awal, Saat semua masih di teras belakang," suara ketukan dan panggilan mama untuk sarapan membuat kami menoleh, "Ayo, sayang... Kita sarapan, Setelah itu mama dan papa harus mengantar kakek serta nenek pulang. Om dan tante Ima pun pulang pagi ini,"


"Baik, Sayang," jawab Bian tapi ketika aku berjalan di depannya dari kursi meja rias. Bian menarik tangan ku, Memeluk dalam dekapan dengan posisi di pinggiran ranjang.


"Kak, kamu mengagetkan,"


"Berikan 'sarapan' sayang pada suami mu ini," bisiknya mesra.


Bian mendekati wajahnya, Sentuhan bibir Bian terasa menyentuh lembut bibir. Dia membuka mulut ku perlahan. Aku memejamkan mata menikmati rasa yang ada.


"Kak Bian, Kak Anggrek... Sarapan yookk! haha," tawa Dewo dan sepupu ku dari balik pintu kamar. Memang masih ada dua anak om dan tante ima di rumah.


Bian menghela napas panjang, "Oh, ya ampun,"


Aku mencoba menahan tawa melihat ekspresinya, "Sarapan aja dulu yuk, kan mau ke hotel juga nanti. Keluarga mu pulang hari ini kan?"


"Iya sayang," jawabnya lirih. Dia masih menahan diri untuk kembali bersabar.


Kami sudah berada dalam meja makan. Kali ini tidak ada perbincangan yang menggoda kami. Sepertinya kehadiran Dewo dan dua putra tante Ima lah tidak ada pembicaraan yang menyerempet


"Anggrek pagi tadi kami sudah sarapan di hotel Citra Nusa. Kalian sarapan berdua saja ya," kata mama.


"Iya, Anggrek... Ada undangan Setya untuk sarapan bersama selagi kalian masih di kamar," tambah papa.


"Oh iya, Pa. Maaf tidak bisa menemani," sahut Bian karena memang pagi sekali mereka pergi ke sana.


Keluarga ku lalu pergi ke teras belakang, Tinggal kami berdua. Aku menyiapkan sarapan Bian.


"Makasih, Sayang. Sebahagia ini rupanya memiliki istri,"


"Iya Kak, Sebahagia ini rupanya memiliki suami, Baru di tuangkan minuman sudah bisa merayu," jawab ku membuat Bian tersenyum manis.


"Bian ini racikan om untuk kamu," tiba-tiba om ku menghampiri kami sambil memberi Bian segelas minuman.


"Apa ini om?" tanya Bian.


"Susu telor madu jahe, Biar tokcer malam ini. Membuat keponakan untuk om mu, Haha," tawa om yang sukses membuat wajah Bian kembali seperti mr.crab, Merah padam.


......__------___-----____......


Drama di keluarga ku sudah selesai sekarang tinggal menuju ke hotel citra nusa, Tempat keluarga Bian.


"Kalian masih menggunakan mobil ku?" pertanyaan Danar membuat aku menoleh ke arah Bian.


"Itu sebagai 'pelangkah" karena mendahului dia menikah, Menunggu kak Danar. Keburu calon ku menikah sama orang lain," jelas Bian kepada ku sambil memandang Danar.

__ADS_1


"Dia selalu meminta pelangkah, Barang yang kita sayang, Dek," sahut Diandra membuat Danar terkekeh senang. Aku baru tahu mobil antik Bian sekarang menjadi milik Danar.


"Danar kapan kamu menyusul kedua adikmu?" tanya kakek Denny.


"Ketika menemukan wanita yang tepat tentunya, Kek. Kalian hanya bertanya tapi tidak berniat mencarikan jodoh ku,"


"Aku malu mengenal teman ku pada mu, Playboy!" sentak Diandra pada kembarannya. Danar hanya mengangkat alis dan mengedikkan bahu.


"Anggrek... Minggu depan resepsi akan dilangsungkan kembali di Jakarta. Kapan kalian ke sana?" tanya mama Lusi. Perhatian kembali ke aku dan Bian.


"Seharusnya hari ini saja kalian pergi bersama kami, Kita menggunakan heavy jet," kata Setya.


"Rencananya sebelum tiga hari... Kami ke Jakarta, pa. Hari ini mau honeymoon dulu ke resort," jawab Bian lugas kepada keluarganya. Dia tak tahu bagaimana rupa wajah istrinya mendengar perkataan tersebut.


"Kamu seperti tidak pernah muda saja, Setya," celetuk kakek Danny yang di ikuti tawa kakek Denny. Papa Setya tersenyum mesem mendengarnya.


Papa Setya lalu menoleh ke arah Danar. Kak ipar ku mengambil sebuah kotak dari saku hoodie hitamnya. Hampir tiga tahun aku mengenalnya, Dia masih setia menggunakan jenis dan warna pakaian yang sama. Sungguh konsisten sekali hidup Danar.


"Selamat untuk kalian, Ini hadiah dari kami," Danar menyodorkan kotak kecil ke arah aku dan Bian.


Bian mengambil kotak kecil itu. Memandang ke semua anggota keluarga ketika mereka memberikan persetujuan. Bian membukanya, Dua buah kunci. Seperti kunci rumah dan mobil.


"Hadiah kecil dari kami, Sekali lagi selamat menempuh hidup baru buat Anggrek dan Bian," kata papa Setya yang di ikuti senyuman lembut mama Lusi.


"Rumahnya gak jauh dari rumah ku di perumahan bukit asri hijau, Nanti kalian salah alamat pula. Sekarang kita tetangga, Adik ipar,"


"Iya, Kak Danar," jawab ku santun, Berbanding terbalik dengan hati ku. Astaga ternyata sekarang aku bertetangga dengan Danar.


"Anggrek, Kami pamit dulu ya. Aku pasti kembali lagi kesini dan ini untukmu," kata Tasya sambil memeluk dan memberikan hadiah.


"Tante Anggrek, Sampai ketemu dj Jakarta ya," Aku memeluk kedua anak Diandra. Mereka bocah lucu yang santun dan periang.


Kami lalu mengantar kepergian mereka ke bandara. Hari sudah menjelang siang ketika kami pulang ke bandara dan mampir dulu di restoran untuk makan.


"Kita membutuhkan mengisi energi sayang untuk persiapan nanti." kata Bian. Aku hanya membalas dengan senyuman karena grogi sekali.


...__------____-----___...


Menjelang sore akhirnya aku dan Bian tiba di pantai kota, Beberapa petugas resort yang melihat kami, meminta foto bersama. Aku menoleh ke arah Bian melihat ekspresi apakah dia bersedia.


Bian bukan seseorang yang suka menampilkan diri tapi kali ini dia menyanggupinya, Setelah menyelesaikan administrasi kami segera ke kamar.


Aku kembali ke pantai yang sama, Tempat dimana berapa tahun lalu, Melepaskan kegundahan hati atas pengkhianatan Adiwarna. Di sini juga kami menikmati kebersamaan sebelum Bian pergi karena perjodohan yang diatur orangtuanya.


Sekarang Bian telah kembali menjadi suami ku. Ditempat ini, Aku datang bersama dia dengan kebahagiaan.


Keindahan pantai berpadu jajaran batu menjulang, hamparan pasir putih, langit biru cerah dengan gumpalan awan seperti kapas, resort yang memberi akses ke arah pantai, Sempurna.


"Sayang, Mau main jetski?" tanya Bian tiba-tiba dia sudah di samping ku. Ah, Satu lagi keindahan yang sekarang menjadi milik ku.


"Yuk sayang," seru ku riang. Teringat permainan jetski dulu bersama Bian.


Tidak lama kemudian, Kami sudah berada di bibir pantai dengan satu jetski.


"Kak Bian, Kamu menyewa hanya satu lagi. Aku kan mau naik sendirian," kata ku manyun. Sepertinya Bian tidak mengizinkan mengendarai sendiri lagi.


"Gak asyik sayang kalau masing-masing atau kamu mau boncengin aku?"


"Gak malu dilihatin orang?" tanya ku yang dibalas dengan senyuman dan gelengan kepalanya.


"Mumpung pantai sepi, Tidak banyak orang kok sayang," sahut Bian sambil melihat sekitaran pantai yang tampak lengang.


Awalnya aku mau pamer kemahiran mengendarai jetski. Bian berada di boncengan, Ketika sudah menjauh dari bibir pantai. Bian memeluk erat sambil berbisik dan menghembuskan napasnya di telinga.


"Aku berada dalam kendali mu, Sayang,"


"Kak, Jangan ah. Nanti dilihat orang tahu!"


"Bukan kah sudah jauh juga sayang, Kecuali mereka berniat menggunakan teropong melihat kita. Kamu mau aku bantuin mengendarai sama-sama?" tubuh jangkung Bian semakin merapat. Sekarang dia memegang kendali jetski dari belakang ku.


Ah, Aku merasakan kehangatan menjalar dari tubuh Bian. Langit mulai menampakkan semburat jingga ketika kami menyelesaikan permainan jetski, Sebelum kembali ke kamar. Kami membersihkan diri di kamar mandi bilas.


Bian mengenggam tangan ku erat ketika berjalan bersama. Kebiasaan yang memang sering dia lakukan. Beberapa pasang mata memperhatikan kebersamaan kami. Aku tidak tahu apakah mereka mengenali kami karena berita ku kembali viral.


Aku dan Bian telah tiba di kamar. Kecanggungan tiba-tiba melingkupi kami berdua. Bian sesekali menggaruk lehernya. Dia yang malam kemarin merayu ke sini secepatnya justru sekarang salah tingkah.


Aku meraih remote televisi dan memutar acara. Bukan bermaksud menonton tapi memecahkan keheningan di antara kami. Bian mengikuti ku naik ke atas ranjang.


"Sayang, Kamu sudah siap?" tanyanya setelah sekian lama kami memandang televisi tanpa tahu sebenarnya acara apa yang kami lihat.


"Sekarang?"


"Gak! tahun depan, Ya sekarang sayang kalau kamu sudah siap."


"Kak, Aku membersihkan diri dulu ya,"


"Iya, Aku tunggu."


Di dalam kamar mandi aku mematung di depan cermin. Aku memang sudah selesai membersihkan diri dan menggunakan bathrope? sekarang yang ku lakukan memandang hadiah dari Natasha dan Tasya. Mereka memberikan lingerie yang seksi.


Baiklah sekarang berat badan ku memang ideal tapi menggunakan lingerie, Lalu keluar kamar dengan pakaian ini. Apakah tidak tampak agresif? apakah tidak terlihat menggoda Bian? atau aku yang merasa terlalu malu.


Kriikkk....

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka. Aku terkesiap ketika Bian menatap ku dari atas ke bawah yang masih menggunakan bath rope.


"Sayang, Kamu lama sekali. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa. Dia berjalan mendekat dan melihat di area wastafel terdapat tiga lingerie berjejer rapi.


"Hmmm... kamu bingung mengenakan yang mana ya?" tanya Bian dengan kerlingan yang membuat ku gemas. Astaga, Memang pada kondisi ini naluri alamiah mengambil alih. Dia bahkan menatap dengan pandangan seperti itu.


"Iya," jawab ku tanpa tahu harus menjawab apa lagi.


"Kamu mau aku bantu memilih?"


"Boleh lah, Kak. Kakak suka yang warna apa? olive, dusty, hitam?"


"Ehmmm... nanti aku lihat dulu, Sepertinya warna transparan lebih baik dari ketiga warna tersebut," kata Bian sambil menarik tali bath rope dan meloloskan dari tubuh ku.


Aku terkejut ketika bath rope itu lolos dari tubuh, yang di hadapan ku tidak kalah kagetnya. Mata beningnya mengerjap.


Dia memandang tubuh polos ku. Detik kemudian aku mau mengambil bathrope yang telah terjatuh di lantai. Dalam sekali hentakan Bian mengangkat tubuh ku. Dia menggendong ala bridal style dari kamar mandi ke ranjang. Akhirnya kami melakukan bridal style juga.


Angin dingin dari pendingin udara membelai tubuh, Membuat ku bergidik dingin. Aku baru merasakan kehangatan ketika Bian meletakkan perlahan di atas ranjang dan menyelimuti tubuh polos ku.


"Dingin ya sayang? sini kakak hangatin," Bian melepaskan kaosnya. Aku refleks meneguk saliva, Iya... ternyata dari balik pakaiannya. Tersimpan perut sixpack yang membangkitkan naluri dalam tubuh ku. Bian hampir sama polosnya, Dia memasuki selimut ku.


"Ini pertama kali buat kita. I love you nyonya Bian,"


"I love you, too, Tuan Bian."


Dia mengungkung dan memberikan tatapan mesra. Bibir Bian menyapu lembut bibir ku, Mendorong untuk membuka mulut.


Tangannya perlahan membelai pipi lalu semakin turun ke bawah. Jemari Bian bermain di sana, Di beberapa tempat yang telah halal untuknya.


Aku merasakan sensasi pertama kali dalam hidup saat Jari jemari Bian menyelusuri semua tubuh ku. Memberikan ledakan yang selama ini terpendam. Napas ku mulai tak beraturan.


Bibir Bian beralih dari bibir ku berpindah ke bagian tubuh lain. Dia meninggalkan tanda, Suara Bian terdengar mulai berat seiring napas yang tak beraturan.


"Sudah siap sayang?" tanyanya sambil menyingkirkan rambut dan membelai pipi. Pertanyaan yang entah berapa kali keluar hari ini.


"Iya, Kak Bian," pelan suara ku menahan gejolak yang ada.


Bian membuka selimut dan memulainya, Saat ekspresi ku menunjukkan rasa sakit dan tidak nyaman, Ketika dia telah memasuki apa yang ku jaga selama ini. Bian mencium wajah dan bibir dengan intens.


Aliran mata otomatis keluar untuk sebuah rasa sakit yang lama kelamaan berangsur memudar. Berganti kenikmatan yang pertama kali aku rasakan.


Hari ini kami memulai apa yang menjadi keistimewaan bagi suami istri. Setelah berapa jam melakukannya, Akhirnya kami telah menyelesaikan.


Kelelahan yang membuat tubuh dan pikiran melayang untuk sebuah kenikmatan yang membahagiakan.


"Racikan om mu tokcer juga, Sayang. Boleh kamu tanya resepnya?" bisik Bian yang ku jawab dengan deheman dan memeluk erat tubuh hangat suami ku tanpa malu lagi. Dia pun membalas pelukan dan membelai rambut ku.


Kantuk mulai menghampiri. Samar aku mendengar lantunan merdu suara Bian melantun kan lagu John Mayer- waiting on the day.


...I'm waiting on the day....


...When my life on the run....


...Bleaches out in the sun,...


...And shows my age....


...Waiting on the day,...


...When that voice comes to say...


...That it's not wrong what you did for just a kid....


...When you'll be there for me baby....


...When you'll love me all the way....


...When you'll take my side in every little fire fight....


...When you'll hang your things and stay....


...I’m waiting on the day,...


...Waiting on the day,...


...When these words are in stone...


...When the kids are all grown,...


...And we go dancing....


...Oh, can you do it baby?...


...Can you love me all the way?...


...Will you tie me tight in little strands of paradise?...


...Will you walk with me before the morning fades?...


...I'm waiting on the day...


...Waiting on the day....

__ADS_1


__ADS_2