
24 jam bersama
semua yang tersimpan
akhirnya terbuka
Kita baru tahu apa yang ada dalam pasangan
Persamaan, Membangun hubungan selaras
Perbedaan, Untuk saling melengkapi
********
Pagi mulai menampakkan diri, Sinar matahari dan hembusan angin terasa di balkon. Satu titik di tubuh ku masih terasa ngilu, Sepertinya Bian benar-benar menuntaskan malam tadi.
"Sayang, Kamu dimana?"
"Di balkon, Kak.... Sini, yuk,"
"Dia keluar mengenakan kaos biru langit, Wajahnya tampak cerah. Aku selalu terpesona pada paras tampannya.
"Aku menunggu mu di jacuzzi, Taunya di sini," Bian duduk di samping ku, Kursi santai ini memang cukup lebar tapi tetap sempit untuk dua orang dewasa.
"Ya ampun berasa mungil banget, Sempit tau, kak," Bian mengangkat tubuh ku dan memangkunya.
"Ketusnya, Istri ku... Sekarang cukup berdua kan? masih sakit?" tanyanya membuat ku menjadi malu.
"Maaf Kak Bian habis kamu suka iseng, Kak kita posisi gini nanti dilihat orang,"
"Kita kan memilih semi private,"
"Iya tapi aku gak enak aja ah...," jawab ku sedikit gusar.
"Kalau gitu berendam di jacuzzi aja. View-nya tetap kelihatan kan," Bian mempererat pelukan.
"Kak... kamu mau lagi?"
"Kalau kamu mengizinkan, Sayang," aku mencium pipinya tanda setuju. Sekali lagi Bian menggendong menuju jacuzzi.
Berendam bersama, Sambil menikmati pemandangan dari jendela kaca mirror glass. Ternyata bisa menyenangkan seperti ini.
Setelah puas berendam, Kami menikmati apa yang telah menjadi hak sebagai suami istri. Rasanya enggan untuk keluar seharian tapi pemandangan pantai sayang untuk dilewatkan.
Aku dan Bian akhirnya menyusuri garis pantai, Bian membawa kamera dan mengambil beberapa foto diriku.
"Sayang, Sebelum ke Jakarta. Kita ke rumah di bukit asri ya, Kamu bisa memikirkan interior seperti apa yang kamu inginkan,"
"Semua boleh sesuai selera ku?"
"Iya sayang, Aku menyerahkan pada mu,"
"Makasih, Kak Bian tapi nanti aku meminta pendapat mu juga ya,"
Bian mengangguk sambil menatap ku dengan pandangan mesra. Setelah sekian lama kami menjalin hubungan, Kali ini terasa lepas tanpa beban.
Dua hari melewati honey moon di resort, Kami bersiap pulang menuju rumah baru dan menyiapkan diri untuk keberangkatan ke Jakarta. Resepsi kedua akan dilangsungkan dengan mengundang kolega dan relasi keluarga Prasetya dan Anugrah.
Aku rasa media online terlalu melebihkan-lebihkan berita. Mereka terus menerus membeberkan kekayaan keluarga Bian. Seakan aku Cinderella yang beruntung, Seharusnya mereka tahu cerita awal aku dan Bian.
Ah, Aku tak mau merepotkan diri menjelaskan kepada khalayak. Setidaknya orang-orang yang pernah meremehkan di masa sekolah dulu. Sekarang mengangguk hormat, Mila mengatakan di grup SMA semua heboh menceritakan tentang diriku.
Saling memperebutkan kedekatan dengan seorang Anggrek di masa sekolah. Rasanya ingin tertawa ketika mereka mengatakan itu. Seorang siswi di masa sekolah yang sering di anggap seperti kerikil di kelas, Keberadaannya antara ada dan tiada.
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan siswi populer di kelas tidak mengundang ku di acara ulang tahun mereka. Alasannya sama, Lupa.
Dunia! terlalu sering hanya di ukur dengan harta dan tahta. Sekarang mereka mengatakan memiliki kedekatan.
Padahal sudah lama aku tidak bergabung di grup pesan hijau SMA karena lelah menjawab pertanyaan. Anggrek mana ya? pernah sekelas? yang mana sih. Oh, Gak tahu, gak ingat...
Jemari ku bermain lincah di atas layar. Beberapa teman SMA yang dulu tidak pernah menyapa. Sekarang memanggil akrab dan tanpa sungkan menandai di foto satu kelas ketika kami SMA dulu.
Mereka lupa bahwa aku sama sekali tidak ada difoto tersebut. Jatuh dari pohon dan dirawat di rumah sakit tanpa ada yang membesuk.
Bian menghampiri membuat kembali ke masa sekarang. Mama benar lebih baik memaksimalkan potensi diri daripada merenung perlakuan tidak adil yang diterima. Sekarang aku memanjatkan syukur atas apa yang telah diterima dalam kehidupan.
"Eh tunggu bentar. Kakak pasang tripod dulu," aku tersenyum geli sekarang Bian menggantikan 'aku' dengan 'kakak'.
"Iya, Kak Bian," aku mengulurkan tangan menyambut suami ku.
......__----___----___......
Kami memasuki rumah baru tempat dimana kehidupan akan dimulai. Seperti konsep perumahan bukit asri hijau minimalis. Desain rumah kami pun sama, Masih kosong.
Bian sedang di dalam toilet ketika aku menuju lantai atas. Membuka jendela dan pemandangan bukit memanjakan mata. Ruangan ini akan ku pergunakan sebagai ruang kerja atau perpustakaan kami.
Aku menyender diri di daun jendela. Ketika Bian memeluk dari belakang.
"Setelah resepsi dari Jakarta, Kita akan honeymoon lagi ya sayang,"
"Kemana kak?" Aku sedikit mendongak ketika bicara dengan posisi berdiri seperti ini. Tubuh ku seakan tenggelam dalam dekapan hangat Bian.
"Belum tahu, Kak Diandra hanya mengatakan akan memberikan hadiah honeymoon untuk kita,"
"Kemana pun asal bersama mu, Aku siap kak Bian,"
Bian mendekatkan wajahnya, Matanya menatap ke arah bibir. Aku tahu apa yang dia mau, Segera menyiapkan diri dan merasakan kelembutan yang lembab dari bibir suami ku.
"Aku mencintaimu, Anggrek. Akhirnya bisa memiliki dan bersama mu,"
"Anggrek, Nanti kita akan tinggal menetap disini atau Jakarta?" tanya Bian membuat aku menoleh heran.
"Di sini sayang, Bukankah pekerjaan kita di sini?"
"Kamu lupa Anggrek tujuan awal kakak disini?"
Aku memutar kembali ingatan, Teringat awal perkenalan. Bian mengatakan melarikan diri ke kota kami. Menghindar perjodohan dan dikte keluarganya.
Dia lalu kembali ke Jakarta untuk mematuhi perjodohan yang diatur pihak keluarganya. Saat itu rupanya digunakan Bian untuk memulihkan psikologis Tasya, Memperbaiki hubungan keluarga, Memulihkan kondisi keuangan pribadinya, Mengutus Cleo untuk membantu ku.
Setelah perjodohan batal. Dia datang lagi untuk meminta ku kembali. Lalu memilih menunggu kesempatan untuk kami merajut hubungan kembali.
Ya... Bian telah menuntaskan semuanya. Aku baru tersadar, Bian bukan Danar yang menjalankan proyek keluarga disini. Sekarang Bian tidak memiliki alasan menetap. Kecuali jika aku lah alasannya.
Aku melihat pantulan diri pada netra bening yang memandang ku, Menunggu jawaban.
"Kak, Jadi kita tinggal dimana?"
"Kalau kamu mau disini, Tidak masalah. Jarak hanya satu jam. Aku bisa bolak-balik Jakarta ke sini. Selama ini juga itu yang aku lakukan,"
"Memangnya pekerjaan mu yang lain apa, Sayang?"
"Kalau saat ini masih fokus pada film Arga dan Dion yang akan diputar perdana. Kita bisa menontonnya, Aku berharap animo masyarakat baik, Tapi ingat ya... Jangan genit sama Arga. Jangan memandang dia, Tidak boleh melihat Arga. Gak boleh bercanda dengan Dion. Kamu harus di samping ku selalu. Jangan dekat mereka berdua apalagi berjalan bersama Dion. Kamu istri ku, Jangan ya, Sayang,"
"Ya ampun sayang, Panjang banget syaratnya. Aku tahu batasan sekarang kan jadi istri mu," sahut ku sambil memeluk Bian lebih erat. Dia membalas pelukan dan membelai rambut ku.
"Nanti di Jakarta, Kamu akan tahu juga kehidupan ku, Sayang...,"
__ADS_1
Aku menjauh sedikit dan menatap Bian, "kehidupan mu? memangnya apa lagi yang harus aku ketahui?"
"Tidak jauh berbeda sayang, Kamu bisa meninggalkan usaha mu berapa lama?"
"Cukup untuk honeymoon dan bersenang-senang, Sudah lama aku tidak melakukannya, Nando, Mila, Kira dam Natasha bisa memegang kendali selama aku pergi" kata ku riang.
"Kamu selalu membuat ku gemas, Sayang rumah kita masih kosong. Apa sebaiknya pinjam rumah Danar?"
"Kak Bian, Nanti malam saja," seloroh ku. Membayangkan ekspresi Danar jika kami lakukan.
"Baiklah kakak akan menunggu," jawabnya sambil mengacak rambut ku.
......____-----___----___......
3 hari sebelum resepsi kembali.
Keluarga ku akan datang besok ke Jakarta. Kami pergi lebih awal, Papa masih bekerja sampai besok. Begitu pula Dewo, Dia masih sekolah. Setelah berpamitan ke mama, papa dan Dewo. Kami pun pergi ke Jakarta.
Sinar cerah matahari pagi, secerah senyuman ramah pramugari cantik yang tersenyum pada ku. Aku membalasnya akankah dia tahu betapa riangnya hati ini.
Pertama kali aku naik private jet, Berusaha menahan tangan ku yang gatal ingin memasang di sosial media. Supaya tetangga, Teman-teman, Adi dan Cahya tahu. Haiii... Kalian aku naik private jet lhoooo.
"Tahan, Nggrek. Tahan, Jangan Norak. Ingat pesan mama pandailah menempatkan diri dalam keluarga suami mu. Ini khusus karena pengantin baru maka Diandra mengirimkan buat kalian," batin ku bergumul antar mau pamer dan tetap rendah hati.
"Jangan seperti OKB, Sabar... Nggrek," kembali hati ku membatin.
"Kamu pusing, Sayang tanya Bian,"
"Eh tidak, Kak,"
Ya... Mau bagaimana lagi, bukannya norak. Ini kan baru pertama kali, tapi mulai sekarang aku harus menahan diri, Bian selalu menutupi latar belakang keluarganya. Aku harus menghormati prinsip suami ku.
Aku jadi ingat bukankan Bian memang mau menunjukkan kehidupannya pada ku. Kebiasaan dia yang memang tak pernah aku ketahui.
Seperti saat ini ketika kami sudah dalam mobil keluarga Bian, Bersama seorang sopir yang sudah menjemput.
Mobil mewah yang berhasil membuat mata mengantuk dan tertidur. Entah berapa lama aku terlelap ketika terbangun, Netra ku justru melihat Bian baru selesai mandi dan menggunakan handuk.
"Kakak, Pikir kamu pingsan, Sayang. Bangunin susah banget tadi, Sampai di gendong ke sini masih molor,"
"Iya, Kak," dia baru tahu kebiasaan ku ketika lelah dan tertidur. Butuh usaha membangunkannya, Jika mama maka sudah sedari tadi beliau memercikkan air.
Aku mengerjapkan mata, Memindai kamar yang didominasi warna coklat, abu dan hitam. Televisi menempel di jendela kaca yang mengakses halaman dengan tanaman hijau.
Ruangan kamar luas dan furniture yang ada menampilkan kelasnya. Kamarnya berkesan 'laki banget'. Aku merasa ini bukan kediaman Prasetya.
"Dimana sayang?"
"Di rumah kakak yang sekarang menjadi rumah kita, Sayang. Kita kesini dulu ya baru besok ke rumah mama dan papa,"
Bian berjalan menuju walking closet. Aku masih termangu. Dengan kamar yang lengkap, Wajar saja dia panik ketika tahu kamar mandi ku diluar kamar.
"Sayang mandi dulu, gih. Semua sudah di siapkan. Kalau sudah beres semua, Kita kenalan dulu sama pengurus rumah ya, Nyonya Bian sudah datang," jelas Bian yang tiba-tiba muncul dari walking closet.
"Baik, Kak," kata ku sambil berjalan.
"Kamu mau kemana sayang? disini kamar mandinya atau mau aku tunjukkan cara mandi yang benar?"
"Kak Bian...." aku memanyunkan bibir. Dia pandai menggoda sekarang.
Aku tahu hari-hari berikutnya kami akan saling mengenal satu sama lain. Sekarang baru di mulai
*****
__ADS_1
Mumpung orangnya lagi gak ada, jadi segera foto kamarnya.