
...Cinta itu seperti angin...
...kau tak bisa melihatnya...
...tapi bisa merasakannya...
Nicholas Sparks
Anggrek memandang punggung lelaki yang menghilang pergi menjauh, Ketika mereka saling beradu argumen.
Apakah dia merasakan angin seperti kutipan Nicholas Sparks?
*****************************
Mobilku meninggalkan hotel Citra Nusa dengan hati lega. Terbayang perbincangan dari hati ke hati dengan tante Melinda. Apakah beliau tetap akan menyenangkan ketika menjadi mertua?
Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Saat ini harus berdamai dengan gejolak di hati. Kenzo tidak sempurna, Begitu pula aku. Kami hanya perlu saling menerima.
Hari-hari semakin padat, Semua pekerjaan seakan berlomba meminta dikerjakan. Nando sudah melakukan pengurusan Miepa menjadi Perusahaan Terbatas untuk usaha kecil. Sekarang Miepa dan frozen food akan dibawah perusahaan terbatas (PT).
Aku pun sudah menugaskan Rika dan Mila memberi informasi kepada team mereka, Mengenai hal ini.
Aku dan Nando pun menginformasikan ke pemasok bahan produksi Miepa, Dalam waktu dekat akan ada penambahan permintaan untuk stok kami. Sebagai persiapan untuk pembukaan restoran.
Gedung restoran pun tinggal tahap finishing. Cikal bakal restoran Miepa pertama, Aku sudah ada rencana untuk mengemas paket ulang tahun, paket ekonomis juga paket sejenis, Khusus diberlakukan di restoran.
PT. Maharani Cemerlang nama yang dipilih untuk perusahaan terbatas milik ku. Sebuah tanggung jawab menanti. Agenda aku dan Nando bertambah, Salah satunya menyusun perjanjian kerja. Kami menghabiskan sebagian waktu untuk konsultasi dengan notaris.
Sekarang usaha ini memiliki struktur organisasi. Aku menyewa ruko sebelah gerai frozen food sebagai kantor. Bersebelahan dengan lembaga bimbingan belajar.
Ada team administrasi yang mengurus semua laporan dan pengupahan karyawan. 5 cabang dan 5 mitra dengan beberapa list permintaan kemitraan yang masih kami tunda kerjasama, Menunggu kepastian draft perjanjian. Itu semua belum termasuk frozen food dengan agen dan reseller aktif
Sistem manual yang selama ini diterapkan mulai terasa tidak praktis, Maka sekarang mulai dialihkan ke sistem komputer. Perlahan aku mulai mencoba membangun usaha lebih terorganisir dan terkomputerisasi.
Bian semakin mempercepat pembangunan restoran, Dia menyarankan menggunakan jasa interior untuk mendesain Miepa. Tanpa meninggalkan ciri khasnya yaitu mural wajah ku.
Ya, Bian tetap di sini. Mengawasi dalam diam, Ada jarak yang dia ciptakan tetapi aku merasa jarak itu tetap terjaga stabil. Dia mulai menghormati hubungan ku dengan Kenzo.
"Kak, Kamu bisa minggir dikit gak sih? aku mau foto keseluruhan restoran," aku agak greget ketika sedang di restoran bersama Rika. Rupanya Bian juga sedang berada di sana. Dia sengaja menghalangi mengambil foto.
"Kenapa tidak menggunakan high heel kemarin, Nggrek?" sindir Bian, Dia menaikkan alis dan sudut bibirnya terangkat sedikit. Aku tahu dia menahan senyum teringat ketika aku mengunjungi restoran dengan stiletto.
"Jarak kita hanya 20cm kok, Kak. Jangan meledek tinggi ku,"
"180 cm dan 160 cm, Hanya selisih 20 cm. Hmmm.. Kamu sebahu, Nggrek." Bian memegang kepala ku seperti bocah, Dia mulai iseng.
__ADS_1
"Kak Bian! kamu aja deh yang ambil foto,"
Dia tertawa begitu pula Rika. Aku masuk segera ke dalam restoran. Entah kapan Bian kembali ke Jakarta. Keberadaannya membuat ku harus bekerja keras menyelaraskan logika dan hati.
...____-------_____-----____...
Hari-hari padat yang membutuhkan energi dan menguras pikiran. Terbalaskan dengan pekerjaan yang selesai satu persatu.
Termasuk restoran Miepa yang hampir selesai keseluruhan, Tinggal titik spot untuk foto instagramable. Di jaman sekarang, Poin spot ini menjadi penting. Selanjutnya tinggal pelaksanaan grand opening.
Siang ini kami baru menyelesaikan pertemuan dengan mitra dan perwakilan cabang. Setelah mengantar Bu Lina, Notaris yang bekerjasama dengan kami ke parkiran. Aku mengambil segelas air mineral dari dispenser di pantry.
"Kak Anggrek, Mau kopi? tapi aku keluar bentar untuk belikan," tanya Nando.
"Iya, Boleh lah." kantor Miepa dominan dengan pegawai wanita. Mereka sepertinya tidak menyukai kopi karena teh celup yang selalu ada di pantry.
Aku kembali sendirian di pantry, Karyawan lain sudah menyelesaikan makan siang dan kembali bekerja. Terdengar derap langkah terburu-buru mendekati pintu, Awalnya aku pikir Nando ternyata Kenzo.
"Hai, Sayang," sapa ku sedikit terkejut dengan kedatangan Kenzo.
"Kamu tidak mengangkat telpon dan membalas pesan ku, Nggrek," dia tidak menjawab sapaan ku. Justru dengan ekspresi kesal Kenzo menghampiri, Berdiri di samping ku sambil menyender di meja.
"Maaf, Sayang baru menyelesaikan sosialiasi perjanjian kerjasama yang baru dan makan siang bersama notaris, mitra dan cabang," aku pun baru tersadar handphone masih di laci meja.
"Sekarang kamu sedang santai tapi masih tidak menghubungi ku....?" kembali dia menanyakan dengan nada menuntut.
"Aku baru saja santai, kok. Ada apa sayang?" jawabku berusaha menjaga nada bicara agar tidak terpancing dengan emosi Kenzo.
"Aku kan sudah mengatakan kepada mu, Ken. Kali ini mempercayai pilihan mu untuk WO." pungkas ku menjawab Kenzo.
Kali ini WO ke tujuh yang akan kami datangi, Kenzo begitu teliti. Berapa kali aku memberi masukan. Kalau mau sesuai pilihan pribadi. Pilih lah vendor sesuai keinginan. Diskusikan dengan pihak WO yang dipilih. Percayakan mereka mengaturnya, Karena saling percaya salah satu kunci ketika menyerahkan urusan ke pihak lain.
"Kamu sebenarnya perduli gak sih, Nggrek dengan pernikahan kita. Keluarga ku sudah menyiapkan lamaran tapi kamu sepertinya lepas tangan untuk persiapan pernikahan,"
Aku menghela napas, "Ken, Sebelumnya aku sudah menemani ke enam WO, Beberapa dari mereka sudah memiliki kredibilitas yang baik. Hanya saja kamu selalu merasa ada kekurangan. Baik dari pihak wedding planner atau personal dari WO,"
"Apa salahnya sih mencari yang terbaik. Kita bisa compare satu sama lain lalu memutuskan mana yang sebaiknya kita gunakan," jawab Ken.
Jika sebagian besar pasangan lain mencari wedding organizer menyesuaikan dengan budget. Dalam kasus ku, Budget bukan masalah utama tapi masalahnya pada selera dan keinginan Kenzo.
Aku mengetahui rencana Ken, Dia sudah menyiapkan acara lamaran. Seserahan sudah dibelikan, Seragam keluarga mereka pun sudah dipesan ke desainer langganan tante Melinda. Kondisi papanya semakin membaik, Menurut ken karena tahap ini tinggal dilaksanakan. Selanjutnya Ken menyusun rencana untuk acara pernikahan.
"Ken, Kapan rencananya keluargamu datang melamar? setidaknya keluarga kami perlu menyiapkan kebutuhan lamaran," Aku mengalihkan pembicaraan.
"Satu bulan lagi. Kontrol terakhir hasilnya baik karena tidak ada keluhan pasca operasi, Sekarang sedang latihan ringan untuk beraktivitas normal kembali" Kenzo merapatkan bibirnya. Matanya menatap lurus ke depan.
"Iya, Ken,"
"Anggrek, Kamu akhir-akhir ini begitu sibuk,"
__ADS_1
"Ken, Ini tidak akan lama lagi. Mengurus miepa menjadi PT dan persiapan membuka restoran memang menyita waktu ku. Sekarang semua sudah hampir selesai. Ketika semua sudah teroganisir maka beban kerja, Mulai terbagi ke semua anggota team," jelas ku berharap Kenzo memahami kondisi saat ini.
"Kamu tidak akan pernah puas, Anggrek. Satu restoran akan menyusul restoran lainnya,"
"Bukankah sama dengan mu? sudah berapa banyak restoran yang kamu buka, Ken? belum usaha yang lain. Showroom papamu juga sekarang kamu yang ambil alih kan?" sanggah ku kepada Kenzo.
Kenzo menatap manik mataku, "Semua yang ku lakukan karena aku akan menjadi kepala keluarga, Anggrek,"
"Ya aku tahu, Ken. Aku tidak akan menyangkal itu,"
"Kamu akan menjadi ibu rumah tangga tapi melihat kesibukan mu dan ketidakpedulian akan persiapan pernikahan ini. Aku meragu apakah kamu akan menjadi ibu yang baik nantinya,"
"Ken, Kamu tidak bisa menuding ku seperti ini. Lamaran belum dilakukan apalagi pernikahan. Bukan kah saat ini aku belum terikat kewajiban apapun dengan mu, Suatu hal yang wajar jika aku masih fokus mengurus kehidupan pribadi," Kali ini suara ku meninggi.
"Maka dari itu seharusnya kamu sudah mulai belajar,"
"Belajar? belajar jadi apa? jadi istri atau jadi ibu? bagaimana cara belajarnya? berkhayal atau bermain peran," Aku mendengus kesal. Untuk pertama kali aku beradu argumen dengan Kenzo.
Dia menuding ku seakan kedepannya akan menjadi seorang istri dan ibu yang tidak becus. Jelas aku menolak tudingan yang dilemparkan Kenzo.
Aku dibesarkan dalam lingkungan keluarga harmonis yang saling mendukung. Mama mendidik kami untuk mandiri dan mempunyai jiwa yang besar.
Pondasi utama dalam tumbuh kembang anak adalah keluarga. Kehidupan keluarga kami membantu menciptakan gambaran, Bagaimana aku menjalankan keluarga nantinya. Tuduhan Kenzo jelas berdasarkan dugaan dia sendiri.
"Kamu!! ah, sudah lah sepertinya kamu terlalu lelah sehingga tidak bisa berpikir jernih, Aku lebih baik pulang," Kenzo semakin jelas menuding ku di sini.
"Kamu yang tidak bisa berpikir jernih, Ken,"
"Aku? dari awal yang memiliki inisiatif untuk mengatur semua hal adalah ide ku. Kamu hanya mengiyakan, Sekarang ketika aku menegur mu karena acuh dengan persiapan. Kamu malah menuduh ku tidak berpikir jernih,"
"Karena kamu selalu menolak ide ku, Kenzo Arta Saputra...! Sudah ku katakan sebaiknya pilih lah wedding organizer yang memiliki track record baik. Selanjutnya jika ada vendor yang kita inginkan, Ajukan opsi ke mereka. Sampaikan keinginan kita, Budget yang ada. Untuk apa sih sampai harus menghabiskan waktu untuk mencari WO?"
"Menghabiskan waktu katamu. Jadi menurutmu menghabiskan waktu saja menyiapkan pernikahan ini?!" Kenzo mendengus kesal mendengar jawaban ku.
Dia menginginkan semua berjalan sesuai keinginan dan kemauannya. Bagi Kenzo ide ku bukanlah kemauannya.
"Baiklah, Ken. Sekarang kita pergi saja," aku berdiri dari kursi, Berniat mengakhiri perdebatan. Teringat cerita yang disampaikan banyak orang. Menikah adalah ibadah, Banyak godaan ketika akan mewujudkannya.
"Tidak perlu, Kamu hanya terpaksa! aku lebih baik pulang saja," Ken lalu berjalan keluar dengan langkah lebar. Emosi ku kembali menaik.
"Ken, Kenzo. Tunggu!! awww, Aduh" aku berdiri dari kursi hendak menyusulnya tapi di pintu aku malah menabrak Nando. Netra ku melihat Kenzo yang menghilang di ujung koridor.
"Maaf, Bu. Baru pulang dari toko dan baru mau masuk pantry," Nando kelihatan salah tingkah, Ditangannya ada dua botol kopi dingin.
Aku menoleh ke arah Nando, Darah ku berdesir melihat siapa di samping Nando. Bian, Dia menatap ku dengan wajah datar lalu ia menggeleng perlahan sambil memandang ku.
Ah sebagai mitra ku, Bian ternyata datang juga walau setelah sosialisasi dia hadir, "Apakah Mereka mendengar perdebatan kami tadi?" batin ku.
Tangan ku meraih botol kopi dari tangan Nando, Lalu setengah berlari menyusul Kenzo. Tak ada pilihan daripada berada di depan Bian dan Nando. Lebih baik aku menyusul Kenzo saat ini juga.
__ADS_1
***********