Viral

Viral
12. Masa Lalu


__ADS_3

Ada masa ketika kita sudah merasa meninggalkan masa lalu. Seseorang dari masa itu hadir membuat langkah kita berhenti bimbang apakah mulai melangkah dari titik yang sudah kita tinggalkan atau tetap melangkah meninggalkan semua yang sudah berlalu.


Caption dalam instagram Anggrek Maharani


*********


Ada keterkejutan di netra Ibu Adiwarna. Wajah dan postur tubuh ku memang tidak mengalami perubahan signifikan karena wajah ku masih 'original' belum berubah menjadi Maudy Ayunda. Aku menjalani berbagai treatment kecantikan sehingga menghasilkan kulit bersih dan cerah dan merawat wajah dengan skincare kekinian.


Tubuh Ku pun lebih padat berisi berkat rutin olahraga. Gaya berpakaian sekarang lebih modis karena sebagai pemilik butik aku lebih memperhatikan penampilan. Jika dia membayangkan penampilan saat bersama Adiwarna jelas sudah berubah walau tidak berubah seperti Nia Ramadani tapi sesuatu yang dirawat atau tidak pasti berbeda.


"Anggrek makin cantik". Suara lembut wanita itu masih sama. Begitu penuh perhatian.


"Makasih Tante". Ada pandangan sendu ketika dia menatap ku.


"Kamu sudah banyak perubahan Anggrek kadang Tante merindukan kehadiran mu".


"Tentu saja itu tidak bisa dilakukan, Bu". Mama menjawab ketus sepertinya dia masih menyimpan emosi kekesalan yang belum tuntas.


"Iya, Saya juga mengerti dan memahami perasaan, Ibu. Saya datang kesini pun mengumpulkan keberanian dan rasa malu yang ada. Saya minta maaf atas semua yang terjadi. Ini diluar kuasa saya sebagai Ibu Adi, Masih diterima sebagai tamu sudah kebahagiaan bagi Saya". Aku dan Mama saling menatap ketika netra wanita di hadapan kami mulai berkaca-kaca.


Aku membatin dalam hati. Bukan Adi atau Cahya yang meminta maaf tetapi Ibu Adiwarna.


"Cahya jarang sekali mengunjungi saya. Hanya Adi dan cucu saya yang sering berkunjung ke rumah. Sesekali saya yang mengunjungi mereka tapi ya itulah". Kami hanya diam menyimak apa yang disampaikan Ibu Adiwarna.


Bukan ranah kami mencampuri urusan intern keluarga mereka. Aku juga tahu apa yang dilakukan Ibu Adi hanya mencurahkan isi hatinya. Mungkin dengan menyampaikan apa yang terpendam di hatinya perasaan Ibu Adi merasa lebih lega.


"Sekarang usaha Adi tidak semaju dulu Anggrek karena Saya sudah mengingatkan Adi. Usaha yang dijalankan kemarin ada campur tangan Anggrek. Seharusnya dia memberi kewajiban akan jasa mu membantunya selama ini"


"Ah,enggak juga kok Tante. Adi juga bekerja keras untuk memajukan usahanya".


"Iya, dia memang pekerja keras dari kecil tapi pemikiran dan ide usaha banyak berasal dari mu Anggrek. Adi tidak seperti kamu yang pandai mengatasi masalah dengan ide kreatif yang tidak terpikir kan oleh orang lain"


"Tentu saja,Bu kalau itu tidak usah diragukan. Anggrek sekarang juga sudah jadi influencer, selebgram bahkan sudah memiliki butik dan usaha kecil lainnya".


Aku segera mencolek kaki Mama. Aku tidak menginginkan pujian norak seperti ini karena kalau dibandingkan sama pencapaian orang lain jelas masih jauh. Aku masih harus belajar untuk meningkatkan apa yang ku raih saat ini.


"Sekarang pademi,Tante bukan usaha Adi saja yang surut hampir semua juga mengalami. Usaha Saya juga sama, Kita saja yang harus menyiasati keadaan. Seperti penjualan butik kami, produk yang laris saat ini masker dengan desain menarik dan homedress kekinian."


"Inilah yang tante sukai darimu, Anggrek. Selalu optimis dan bisa melihat peluang walau terjepit oleh keadaan. Dari dulu kamu bisa mengatasi setiap masalah".


Percakapan kami pun berlangsung sampai menjelang senja. Mama Adiwarna berpamitan dan Aku memesan Taksi online dengan alamat yang sama. Ternyata Ibu Adiwarna masih mendiami rumah lama mereka. Ibunya pun membawa Keripik pedas yang selalu menjadi favorit Ku kala berkunjung di rumah Adiwarna.


*****************************************


"Huh, mungkin Adiwarna berpikir lepas dari mu kehidupannya makin sukses. Dia lupa siapa yang mendampingi dirinya sampai bisa seperti sekarang"


"Sudah lupakan saja, Ma". Aku tidak berminat untuk membahas hal ini.


"Mama heran kamu masih bisa santai atas perlakuan dia".

__ADS_1


"Cowok kan enggak cuma dia doang di dunia ini, Ma". Aku mengambil sebotol air lemon di dalam kulkas.


"Iya Mama tahu di luaran sana banyak pria lain tapi yang jadi akan menjadi jodoh kamu masih rahasia yang di atas. Eh ad pria baru deketin kamu?"


"Mama masih ingat Doni teman SMP Ku dulu ?"


"Doni yang ganteng itu?"


"Dih, Mama tumben ingat"


"Mama ingat lah karena Doni itu anaknya sudah ganteng, berprestasi pula".


"Bagus deh ingatan Mama kali ini. Ma, Anggrek ketemu sama dia"


"Terus.. terus"


" Belum ada kelanjutan"


"Yaelah". Mama menggerutu mungkin dia kesal karena hubungan Ku dengan beberapa pria belum menunjukkan titik cerah yang mengagumkan.


"Anggrek, Kamu enggak menanyakan sama Ibu Adi kapan beliau melamar Cahya dan sejak kapan mereka merajut kasih?". Ibu menatap ku dengan rasa ingin tahu.


"Kenapa bukan Mama saja yang menanyakan Anggrek tidak tertarik membahas semua hal yang sudah terjadi. Tidak akan merubah apapun".


"Tadi sudah di ujung lidah mau menanyakan tapi sepertinya Ibu Adi menanggung beban dari sorot matanya. Jadi Mama tidak tega menanyakannya".


"Sepertinya begitu ada kesedihan dalam sorot matanya." Aku mengiyakan pendapat Mama.


"Kali ini tidak usah berpacaran ya Anggrek. Berdoa saja agar dipertemukan dengan pria baik. Aku tersenyum mendengar perkataan Mama. Iya hubungan lima tahun tidak menjamin agar berakhir di pelaminan. Bahkan kandas begitu saja.


********


Sebenarnya agak ngenes juga sih hubungan asmara ku tapi jujur saja setahun ini setelah viral video tersebut. Aku seperti menemukan arti kehidupan, teman baru,lingkungan baru, penghasilan baru dan bisa mengenal berbagai macam tipe pria yang mendekati.


Aku menikmati kesendirian ini walau tidak menampik kehadiran seorang pria tapi pengalaman hubungan bersama Adiwarna membuat ku tidak terburu- buru menjalin hubungan dengan pria lain.


Dulu tujuan hidup ku adalah membahagiakan orang-orang di sekeliling Ku termasuk Adiwarna. Saat itu ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat Adiwarna bahagia atas kemajuan usahanya.


Sekarang aku harus membahagiakan diriku dulu agar bisa menikmati kehidupan tanpa beban harus menyenangkan semua orang.


Semua ku lakukan tanpa pamrih dan itulah yang mungkin membuat Adiwarna tidak menghargai perjuangan ku. Dia merasa hal itu biasa bukan keistimewaan ketika aku pergi dalam kehidupan dia sepertinya Adiwarna baru merasa bahwa aku bukan sekedar sebagai kekasih.


******************************************


Akhir bulan yang mendebarkan bagi Natasha dan Gege. Aku sudah membelikan Natasha gelang berlian cantik yang diterima dengan mata berkaca-kaca. Natasha tidak menyangka hadiah dari ku untuk pernikahannya. Sedang kan Gege Aku berikan hadiah PS 5. Betapa heboh Dewo ketika tahu hadiah untuk Gege.


Hadiah tersebut memang cukup mahal untuk kantong ku tapi perjalanan setahun ini begitu indah karena kehadiran mereka berdua maka dalam hari pernikahan Natasha dan Gege, Aku memberikan hadiah yang selama ini di idamkan oleh keduanya


Ketika memasuki pernikahan dan mulai membangun rumah tangga. Aku tahu keinginan akan dikalahkan kebutuhan. Lebih baik membelikan satu set meja makan daripada gelang cantik walau ada yang tetap mementingkan penampilan luar tapi Natasha dan Gege bukan orang seperti itu.

__ADS_1


Hotel tempat dilangsungkan pernikahan Natasha dan Gege sudah dihiasi dekorasi yang cantik. Undangan terbatas selama pademi memungkinkan membuat pernikahan mewah dengan biaya tidak sebesar sebelum pademi.


Untuk keluarga Gege dan Nat mengadakan pesta mewah bukan halangan karena mereka berasal dari keluarga berkecukupan tetapi Nat dan Gege tetap saja memanasi ku dengan mengatakan anggaran resepsi selama pademi terjangkau.


"Kalau mau nikah sekarang ini, Nggrek kalau normalnya mana ada undangan tidak mencapai 150 orang."


"Iya terus gak bakalan ada yang ngambek kalau tidak diundang. Diberikan undangan juga kadang mereka ragu datang."Natasha ikutan memanasi.


"Calon saja belum nongol, masa aku duduk sendirian di pelaminan."


"Apanya yang nongol, Nggrek?". Gege menyambar langsung.


"Dasar kamu ya."


Pasangan tengil yang biasa senang menggoda ku saat ini duduk di pelaminan dengan anggun. Kecantikan Natasha terpancar sempurna dihari bahagianya sedangkan Gege tampak gagah. Tidak sia-sia dia menguras tabungan memesan jas pengantin mahal dari desainer ngetop setidaknya bisa bersanding baik dengan Natasha di pelaminan.


Aku mengabadikan acara hari ini dengan ponsel. Tidak banyak undangan hadir membuat ku leluasa mengambil angle terbaik. Selesai acara aku pun berbincang akrab dengan pengantin dan keluarganya. Mama Natasha memang sudah mengenal ku.


Hari sudah menjelang siang ketika acara selesai. Aku keluar dari aula tempat acara dilangsungkan. Beberapa kali memesan taksi online tapi selalu gagal mendapatkan driver. Hari ini aku memang tidak membawa kendaraan.Entah kenapa mobil mendadak tidak mau menyala akhirnya Papa memesan montir panggilan ke rumah dan sampai Aku pergi ke pernikahan Nat dan Gege. Perbaikan mobil belum selesai.


Ketika menelpon Dewo, Bian menghampiri ku. Park Bo Gum KW yang biasanya dingin itu menyapa ku.


"Belum pulang?." Aku menggeleng menjawab pertanyaannya karena panggilan telpon telah tersambung ke Dewo tapi bocah itu belum mengangkatnya.


"Nunggu jemputan?"


"Baru minta dijemput?"


"Sama siapa?." Aku mengernyit kening mendengar pertanyaan Bian. Tumben dia menyapa dan bicara banyak.


"Sama adikku sih tapi dia belum mengangkat telpon"


"Ya udah, Aku anterin"


"Lah kamu kan masih kerja"


"Acara dokumentasi fotonya sudah selesai untuk sementara bisa dihandle teman. Sedangkan Nat dan Gege beserta keluarga istirahat, mereka sedang makan siang. Aku kan hanya antar kamu pulang. Gak makan waktu lama". Bian berjalan mendahului ku. Dia berhenti menoleh ke belakang ketika aku masih terdiam.


"Cepatan aku mesti kerja bentar lagi".


Aku masih bengong ketika mengekori langkah Bian. Keajaiban apa ini si cowok cool mengantar ku pulang dan ketika tiba di parkiran. Aku melongo takjub sama mobil antik Bian ternyata dia penggemar mobil antik tua yang tidak ku ketahui jenisnya.


Bian membuka pintu mempersilakan masuk. Ah gak ngotak ini kata anak tiktok. Hati ku hari ini berbunga-bunga seperti musim bunga yang digandrungi emak-emak saat ini.


BRAAAKKKK


"Aduh maaf ya Bian, Aku gak sengaja". Saking girangnya aku menutup pintu terlalu kencang.


"Tidak apa-apa. Gak bisa juga diulang menutup pintunya ".

__ADS_1


Aku tersenyum malu. Bian juga sih masih cuma membuka pintu kenapa tidak sekalian menutup pintu saat Aku masuk. Dasar antik nih anak sama dengan selera mobilnya.


Mobil Bian pun melaju di jalanan diiringi musik lawas. Benar-benar seperti kembali ke suasana tempo dulu.


__ADS_2