
...Kamu tidak boleh kemana-mana tetap lah di samping ku, Aku harus selalu di hatimu. Ada segudang alasan untuk itu....
Ah Anggrek melupakan satu hal, Dia berhadapan dengan 'satu buku' yang belum tuntas untuk dibaca.
*******
Aku melangkah mundur melihat sosok di depan ku, Bian. Sudah berapa lama aku tidak melihat dirinya, Seakan ini hanya mimpi yang hadir sekejap lalu akan menghilang.
Bian masih berdiri menunggu ku menghampirinya. Dia tersenyum dengan lesung pipit itu. Tubuhnya kembali menyender di daun pintu.
"Anggrek, Apakah aku harus menjemput mu dari tempat berdiri?" suara itu, Ya Tuhan aku merindukannya.
Bibir ku memaksa tersenyum, Canggung. Aku menyeret langkah ke arah pintu memasuki ruangan dengan nuansa hitam putih. Aroma wewangian maskulin khas Danar menguar dari ruangan.
Tubuh seakan melayang ketika duduk di sofa hitam Danar. Tangan ku meraih bantal sofa dengan motif garis vertikal.
Tubuh terasa bergetar aku menyamarkan dengan memeluk bantal dan menyender di tangan sofa. Bian duduk di stool sofa di sebelah ku.
"Aku baik saja, Apa kabarmu?" suara ku seakan tersangkut di tenggorokan berbanding terbalik ketika menjawab Danar.
"Kabarmu baik, Anggrek? Apakah ini yang membuat mu baik?" Bian meraih tangan ku dan memainkan jarinya di cincin pemberian Kenzo. Netranya menatap tajam ke manik mata ku.
Dia menambahkan "Sekarang kabar ku sedang tidak baik saja, Anggrek"
Aku menarik tangan ku tapi Bian justru mengenggamnya erat.
"Bian lepaskan kamu sudah bertunangan bahkan sudah melamar gadis lain" jika menurut kata hati maka aku ingin Bian mengenggam tangan ku untuk saat ini. Hanya logika ku menolak melakukan itu.
Aku merasa ini sebuah kesalahan. Bian milik Tasya dan aku masih memiliki komitmen dengan Kenzo. Logika ku tidak menerima hal ini. Melawan hati yang meronta menginginkan tetap disini.
"Kamu yang sudah bertunangan bukan aku!"
Mataku menyipit mendengar penuturan Bian. Kenzo baru melamar ku secara personal. Belum secara resmi karena kondisi orangtuanya yang belum memungkinkan untuk melakukan lamaran.
"Maksud mu? bukankah kamu sudah bertunangan, Aku melihat foto pertunangan kalian di sosial media Diandra!" aku memalingkan wajah ketika mengatakan itu. Tak ingin Bian membaca betapa remuknya hati ini ketika teringat foto tersebut.
"Sudah berapa lama kamu melihat foto itu? Kamu tak mau tahu kan apa yang terjadi setelahnya? kamu memblokir semua nomor telpon ku, sosial media bahkan tidak pernah membalas semua pertanda yang ku berikan,"
"Tidak perlu lagi komunikasi di antara kita. Semua sudah jelas, Kalau pun kamu mau bicara mengapa kamu tidak mencari cara saja? Bukankah bisa membeli nomor lain. Aku biasa mengangkat nomor tidak dikenal,"
"Benarkah? apakah kamu mau bicara ketika aku menelponmu? mengapa video ucapan ulang tahun dari ku tidak mendapat respon? bahkan akunnya menghilang karena ada laporan sebagai spam. Semua pertanda ku tidak pernah kamu gubris apalagi sekedar menghubungi ku untuk menanyakan alasan kenapa aku lakukan."
Mata ku berkedip berkali-kali. Aku tahu tidak bisa mengelak, Jika dia menelpon ku jelas tak akan pernah ku angkat. Pesannya pun tak akan pernah dibaca oleh ku karena aku takut melihatnya menikah.
"Kamu tidak mau berbicara dengan ku lagi, Anggrek. Selama di sana aku mengupayakan semua hal. Aku tahu selama ini melakukan kesalahan. Menjadi pengecut yang lari dari masalah tapi ketika tiba di Jakarta aku memperbaiki semuanya,"
"Ya,"
"Ya apa? kamu tidak tahu apapun!"
__ADS_1
"Apa yang harus aku ketahui, Bian?"
"Kamu harus mengetahui kalau aku menepati semua janji yang pernah ku ucapkan"
"Ehmm, Janji? apa yang kamu tepati! tidak ada! Aku disini berjuang sendirian. Maaf Bian, Semua sudah terlambat. Janji mu hanya kekosongan seperti selembar kertas tanpa tulisan!"
Aku berdiri dari sofa, Ada amarah ketika dia mengatakan menepati janji. Dia berjanji memperjuangkan ku, Memulihkan usaha ketika Setya mengacaukannya, Dia yang berkata akan melindungi ku selalu. Ah nyatanya hanya kebohongan.
...--...
"Anggrek, Kamu mau kemana?"
"Semua sudah usai Bian, Berhentilah karena tidak ada yang kamu lakukan untuk menepati janji mu!"
"Benarkah? tidak ada yang aku lakukan?"
"Iya, Tidak ada!"
Aku menatap balik ke manik mata Bian. Tanpa dia ketenangan telah ku dapatkan, Sekarang dia akan kembali datang. Berapa saat lalu aku sempat terkalahkan oleh perasaan sekarang logika ku mengambil alih.
Baru saja tangan ku meraih handle pintu ketika suara Bian terdengar berbeda.
"Asisten saya mengatakan anda telah setuju untuk menyewa properti kami di jalan Sudirman. Dimana akan digunakan untuk keperluan restoran anda. Bukan kah sudah ada kesepakatan menyewa dalam dua tahun ke depan,"
Seketika aku membeku, Tangan ku tak mampu menggerakkan handle pintu. Asisten? otak ku mengolah kata tersebut. Aku merasa kesulitan bernapas mendengar kenyataan ini.
"Saya tidak keberatan untuk memberikan keringanan biaya sewa dengan pembayaran melalui cicilan, Melakukan renovasi sesuai keinginan anda. Apakah anda akan membatalkan perjanjian yang telah disepakati melalui asisten saya?"
Cleo yang datang hampir bersamaan dengan kepergian Bian ke Jakarta untuk menghadiri perjodohan. Dia yang menawarkan blok ruko ketika kami hampir putus asa belum mendapatkan ruko yang baru.
Cleo lah yang mengajarkan tentang kemitraan dan menawarkan relasi untuk menjalin kemitraan dengan Miepa. Dia pula lah yang mempermudah mencari pembelian mesin produksi mie dan frozen food, Cleo juga yang membantu negoisasi harga sehingga mendapatkan harga lebih murah.
Dari Cleo lah yang membantu memberi arahan untuk mengkoordinir manajemen Miepa. Cleo adalah pemilik ruko tetapi hampir setiap hari dia datang mengunjungi Miepa. Untuk apa? aku bahkan tidak pernah berpikir apapun mengenai ini.
Kembali bayangan gadis hitam manis dengan rambut sebahu itu melintas. Cleo adalah orang yang melihat kondisi ku sedang tidak sehat dan saat itu juga Bian mengirimkan vitamin.
Aku menutup mulut ku dengan sebelah tangan, Sukar bagi ku untuk mempercayai kenyataan ini.
Cleo lah yang menanyakan apakah Dion kekasih ku karena sering melihat kami bersama. Dia menatap penuh arti ke arah Dion. Saat itu aku berpikir dia menyukai Dion, Ternyata aku salah.
Cleo lah yang melihat cincin di jari ku dan mendesak menanyakan apakah aku telah bertunangan. Aku mengatakan kalau dilamar oleh Kenzo. Dia juga yang menanyakan kapan akan dilangsungkan lamarannya.
Kemarin, Ya kemarin. Cleo mengatakan bahwa pemilik eks restoran yang telah ku setujui untuk di sewa Miepa akan datang. Dia akan menemui ku dan ternyata pemilik bangunan eks restoran itu adalah Bian.
Aku tersadar ruko di jalan Sudirman adalah milik Bian berdiri di tanah warisan mamanya. Ternyata dia juga memiliki properti lain di jalan Sudirman.
...Jadi besok dia akan datang ya, Cleo?"...
..."Iya, Benar,"...
__ADS_1
..."Jam berapa? tumben akhirnya dia mau datang biasanya melalui kamu,"...
..."Ada hal yang penting yang ingin dia lakukan,"...
Percakapan dengan Cleo kembali tergiang. Satu hari setelah Cleo mengetahui aku dilamar oleh Kenzo. Bian datang hari ini.
Bukan kah berkali-kali aku selalu mengatakan beruntung bisa bertemu Cleo. Berkat Cleo memberi banyak masukan dalam mengembangkan usaha ku.
Cleo adalah asisten Bian. Kenyataan ini memukul telak diriku. Menggunakan Cleo sebagai pihak yang membantu ku, Menyamarkan peran Bian. Terlalu beresiko jika Bian turun langsung membantu karena Setya tidak akan diam.
Sedangkan mengatakan kepada ku dari awal kalau Cleo adalah asisten Bian. Dia tahu akan ada penolakan dari ku. Sejak pertunangan Tasya dan Bian, Aku sudah menutup semua komunikasi dengan Bian. Apalagi menerima bantuannya.
Bian lah dibalik berkembang usaha ku, Dia menepati janji yang telah diucapkan.
"Bagaimana masih anda akan pergi dari ruangan ini? saya tahu anda tidak akan mengingkari perjanjian yang telah disetujui melalui asisten saya."
Aku menarik kembali tangan ku dari handle pintu lalu memutar balik tubuh memandang Bian. Dia berdiri sambil menyenderkan diri di meja kerja di tengah ruangan Danar.
Tangan kanannya memainkan map, Tangan satu lagi di senderkan ke meja. Aku mundur dan menahan tubuh dengan pintu, Menjaga agar tidak terjatuh mendapatkan kenyataan ini.
Bian berjalan ke meja nakas panjang yang diletakkan di bawah jendela ruangan. Dia menuju mesin kopi elektrik di atas nakas, mengambil dua buah cangkir, tangannya membuka laci dan mengambil dua kapsul kopi.
Selanjutnya mesin kopi elektrik itu menunaikan tugasnya. Dua cangkir kopi dengan uap tipis telah dipegang oleh Bian dengan mengapit map ditangannya. Dia meletakkan dua cangkir kopi tersebut di meja kerja.
"Saya harap segelas kopi bisa menenangkan pikiran."
Dia menyungging senyum penuh arti. Bian menarik kursi dan mempersilakan aku duduk. Dia berjalan menuju kursi dibelakang meja.
"Mari kita mulai melakukan perjanjian sewa ini. Awalnya rencana saya akan menitipkan perjanjian ini ke asisten saya yaitu Cleo. Hanya saja dengan nama yang tertera di perjanjian adalah Bian Prasetya. Lebih baik saya sendiri yang melakukannya. Terlebih ada hal penting lainnya yang harus saya lakukan."
Aku tidak tahu seberapa pias wajah ku saat ini ketika berjalan dan duduk di kursi yang berada depan Bian. Kami dibatasin meja kerja dengan surat perjanjian sewa dan dua cangkir kopi diatasnya.
"Sebaiknya kita memulai perjanjian dengan meminum segelas kopi. Saya tidak nyaman melihat calon penyewa saya tampak gemetar dan begitu pias,"
Aku meraih cangkir kopi ketika menyeruput perlahan. Bian memajukan tubuhnya di meja dan dia membisikkan kata secara perlahan satu persatu.
"Anggrek, Kamu tidak boleh kemana-mana tetaplah di samping ku. Aku harus selalu di hatimu. Ada segudang alasan untuk itu,"
Bian kembali memajukan tubuh jangkungnya, Dia semakin mendekat.
"Satu lagi panggil aku 'Kak Bian', Aku sudah pernah mengatakan alasannya dan kamu pasti masih ingat."
Aku melupakan satu hal kali ini. Bian adalah satu buku yang belum tuntas ku baca. Terlalu banyak hal dalam diri seorang Bian Prasetya.
******************
Happy Reading
Like, Vote dan komen kalian jangan lupa datang juga ya 🤩
__ADS_1
Syukur2 kalian mau share novel perdana otor ini 🤣