Viral

Viral
30. Tiga Beradik yang Menawan


__ADS_3

Suara hati ingin bersikap seperti dua magnet berbeda kutub. Saling mendekat tak ingin menjauh tapi apa daya keinginan hati tak selamanya bisa terpenuhi.


******


Bian memandang ku dengan mata bening yang menampakkan wajah kecewa. Membuat ku semakin bersalah. Tampang sok imut ku ternyata tidak berhasil sepertinya trik itu hanya ampuh di praktekkan oleh Cahya.


"Maaf ya Bian, Aku pikir orang lain yang memanggil ku." Aku tidak mengatakan ada Adiwarna. Bian memang tidak mengetahui Adiwarna kecuali kalau tahun lalu dia mengikuti video viral ku mungkin dia akan tahu karena akun gosip nasional sempat memberitakan terus menerus sampai ada kejadian lain. Video itu pun tenggelam.


Bian tidak mencerminkan pria yang suka mantengin akun gosip kelas nasional. Kalau kelas lokal cukup mulut tetangga saja tetapi ini biasanya hanya berupa bisikan demi bisikan. Sedikit berani berupa sindiran.


"Memangnya siapa yang membuat mu begitu kesal sampai membentak?"


"Bukan sesuatu yang penting untuk dibahas. Mungkin aku kecapean saja jadi lebih sensitif"


Bian hanya diam lalu aku mengarahkan dia untuk duduk di pinggir dinding dengan mural karakter wajah ku. Itu Andi yang punya ide katanya biar warung Miepa ku punya ciri khas.


"Tunggu ya aku buatkan mie ayam khusus untukmu." Ku lihat ekspresi Bian tampak tidak yakin cuma dia memilih diam. Sepertinya dia masih shock mendengar ku membentaknya.


Aku merasa bersalah pada Bian. Pertama aku merusak pintu mobil antik kesayangannya, kedua karena Mama kemarin yang meminta untuk mengantarkan Doni pulang dan ketiga hari ini aku membentaknya.


Kesalahan kedua dan ketiga aku berani untuk meminta maaf tetapi kesalahan pertama aku tidak melakukannya karena itu akan membuat Bian mengorek darimana aku tahu informasi itu. Aku tidak ingin dia tahu aku pernah ketemu Danar.


Bian tidak pernah menceritakan pintu mobilnya rusak karena ulah ku.Tentu saja dia akan heran jika aku tahu mengenai hal ini dan pasti mendesak siapa yang memberitahu ku.


Mengingat ini aku jadi teringat Danar tentang peringatan yang disampaikan juga mengenai perjodohan Bian. Siapakah perempuan yang akan dijodohkan dengan Bian? seperti apakah dia. Dunia sudah memasuki 2021 masih ada saja yang menjalani perjodohan rupanya.


Hubungan dengan Bian berpotensi menimbulkan konflik. Hati ku belum siap, luka akan pengkhianatan Cahya dan Adi masih belum menutup sempurna. Aku takut ketika ada gesekan sedikit tajam saja akan melukai kembali.


Melihat kondisi dan potensi yang ada, Aku memilih mengikuti saran Danar. Menjauh dari Bian sebelum luka yang baru pulih kembali terkuak. Sebelum getaran yang mulai terasa menjadi sebuah rasa yang menimbulkan asa.


Jika itu terjadi aku takut tak punya tenaga lagi untuk melangkah pergi mengobati sakit yang tak terlihat dari luar.


Aku tersenyum puas melihat semangkok mie ayam yang ku tata dengan cantik. Segelas kopi pun sudah ku siapkan untuk Bian.


Biarlah sajian yang ku buat dari hati ini sebagai permintaan maaf tulus untuk dirinya. Perlahan aku akan menghindar lalu menjauh dari sosok ini. Suatu langkah yang tak mudah karena aku melangkah menjauhi dirinya tetapi dia menjaga agar jarak kami semakin dekat.


"Pesanan mu sudah siap, Bian." Aku meletakkan mie ayam dan kopi di hadapan pria rupawan berwajah dingin ini. Aku baru saja mau berbalik ketika Bian memegang tangan ku. Aku kaget dengan reaksi berani Bian.


"Maaf." Bian melepaskan tangannya. Aku tersenyum kaku, mataku melirik ke arah Adi yang rupanya sedari tadi belum beranjak dari tempat duduknya.


"Aku permisi dulu ya Bian harus melihat pegawai di dapur."


"Kamu bisa tetap disini, Nggrek? Jika terjadi sesuatu pada saat aku menyantap mie dan kopi ini. Aku mudah mencari pertanggungjawabannya." Mata itu meminta penuh harap, Aku meringis lalu duduk dihadapan Bian.


"Ayo cobain aku kan yang punya Miepa. Rasa setiap sajiannya merupakan pilihan ku dan kami sudah melewati test selera pasar." Aku berkata penuh keyakinan. Bian mulai memakan mie racikan ku, matanya memandang wajah ku. Aku menunduk dari dulu aku tidak percaya diri ketika orang menatap wajahku.


"Ternyata enak." Bian berkata tulus.


"Sudah ku katakan tadi pasti enak." Hidung ku kembang kempis senang ketika mendengar pujian Bian.

__ADS_1


"Bukan kamu yang masak tapi Bang Ipul, kamu cuma menuangkan ke mangkok. Dari dulu juga sudah enak."


"Tapi racikan ku sedikit beda kan." Aku nyengir gak mau kalah.


"Anggrek, Aku masih ingin tahu Siapa yang kamu kira memanggilmu tadi sampai kamu bisa membentak?". Tatapan itu menelisik wajah ku mencari kebenaran yang mungkin bisa dia temukan.


"Bukan siapa-siapa tetapi memang aku tak ingin membahasnya." Aku melirik dari bahu Bian, seorang pria manis dengan bibir membentuk senyuman seakan dia seseorang yang polos.


Aku lalu membuang wajah ke arah lain tak ingin Bian tahu aku sedang memperhatikan orang yang duduk dibelakang dirinya.


******


Aku menjerit kegirangan ketika berat badan ku turun. Tanpa diet ekstrim tidak dibantu obat pelangsing tetapi timbangan ku turun.


Kunci yang ku pegang.Mengatur pola makan, mengurangi porsi dan disiplin dengan jam makan membuat pencapaian berat badan ideal besar kemungkinan tercapai.


Kegiatan padat di Miepa, booth dan butik juga menyumbang penurunan ini. Hanya saja karena tidak dibarengi olahraga aku terkadang merasa lemas atau sering mengantuk.


"Dewo, besok kan libur. Olahraga pagi yuk." Aku menghempas diri di samping Dewo.


"Tumben biasanya harus dipaksa dan digedor pintu baru mau diajak olahraga pagi."


"Ah kamu, kakak mau rutin olahraga malah disindir."


"Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada kak Natasha, adik sendiri jadi. Pasti karena males yoga gak ada teman makanya kepepet mengajak ku."


"Ampun kak.. ampun. Canda kak"


"Gitu dong adik ku paling ganteng, terganteng"


"Giliran ada maunya bilang adik paling ganteng, terganteng"


"Lha kan adik kakak cuma satu kalo dua atau tiga belum tentu." Aku tergelak puas membalas pernyataan Dewo yang lalu. Dia pun manyun melihat aku yang kegirangan berhasil membalasnya.


*****


Aku menghirup udara pagi lalu menghembuskan perlahan. Terasa nyaman di dada, setelah melakukan streaching kami mulai mengitari alun-alun melewati jalan sudirman.


Di pengkolan jalan aku berhenti tergoda dengan aroma bubur ayam pengkolan. Dewo pun rupa berpikir sama. Kami melipir ke warung bubur ayam.


"Gini kalo olahraga sama kak Anggrek pasti makan."


"Kamu juga tidak menolak. Kita kan sudah berlari cukup jauh butuh isi energi"


Beberapa orang melirik kami, pandangan yang biasa kami terima sejak sosial media aku dan Dewo mendapatkan banyak follower.


Aku baru mau menyantap ketika melihat Bian menghampiri. Dengan sudah payah bubur itu melewati kerongkongan.


"Kamu beritahu Bian, kita disini?"

__ADS_1


"Yoi, dia tadi kirim pesan menanyakan lagi dimana"


Semakin aku menghindar, semakin sering dia menemuiku


Bian mengenakan training, kaos, kets membuat tampilannya tampak lebih muda dari biasanya Entah berapa usia Bian, benarkah dia sebaya dengan ku?.


"Doyan bubur ayam ya kalian berdua?" Bian duduk di depan kami, tidak lama kemudian pesanan dia semangkok soto pun datang.


Bian dan Dewo bicara banyak hal ternyata walau baru saling mengenal mereka cocok satu sama lain. Seingat ku pertama bertemu ketika aku sakit, itu pun Dewo belum berbincang. Lalu mabar di rumah Rian selanjutnya saat di Bukit Asri dan ketika aku menginap di rumah nenek.


"Kakak makan apa melamun sih?" Suara Dewo mengagetkan ku.


"Menikmati tepatnya, makan tidak boleh bicara"


Pagi ini memang tidak mengizinkan aku untuk tenang. Pria jangkung dengan hoodie hitam dan celana putih datang. Entah berapa banyak hoodie hitam yang dia punya. Semua hampir mirip kecuali motif di bagian depan yang menandakan bahwa dia mengganti hoodienya.


"Kamu disini rupanya." Danar menepuk baju Bian lalu menatap ku tajam tetapi bukan dia yang membuat ku tertarik. Wanita cantik yang berdiri di samping Danar dan memiliki rupa hampir mirip dengannya.


"Kenapa kalian disini?" Ekspresi Bian tampak keberatan. Membuat Danar menatapnya jengkel.


"Mau makan juga sama dengan kamu"


"Bian tidak mengenalkan teman mu dengan kakak?". Wanita cantik itu berkata lembut, dia mengambil posisi di sebelah Bian yang duduk berhadapan dengan ku.


"Ini Anggrek dan adiknya, Dewo." Bian kelihatan acuh.


"Aku Diandra, kembaran Danar." Diandra tersenyum ke arah kami. Ternyata si judes mempunyai kembaran.


Tiga saudaranya yang memiliki wajah rupawan. Mereka mencerminkan sesuatu yang berbeda satu sama lain. Jika Bian tampak dingin, Danar ketus maka Diandra adalah penyeimbangnya. Dia hangat dan ramah.


Aku insecure berasa di dekat mereka. Kepercayaan diri ku menguap saat berdiri di samping Diandra. Dia tinggi, cantik, ramping dan ternyata sudah memiliki dua anak.


Cepat aku berpamitan dengan ketiganya usai makan. Aku tidak mau nanti harus mencari cangkang bersembunyi karena tidak percaya diri berada dekat tiga bersaudara dengan kecantikan dan ketampanan yang menarik.


"Eh tunggu." Bian menyusul kami.


"Kamu gak bareng kami pulangnya?" Wajah tidak suka Danar membuat ku tidak nyaman.


"Tidak" Bian menjawab singkat.


"Kenapa bareng kami, Bian. Kan gak enak sama kakakmu." Aku mengusir halus.


"Kami?? Aku bareng sama Dewo. Ya, bro." Bian merangkul bahu Dewo.


"Yoi".


Oh pagi yang tidak menenangkan. Jauh dari harapan. Aku menggerutu kesal mencoba berjalan lebih cepat agar tidak ketinggalan langkah lebar dua jangkung.


********

__ADS_1


__ADS_2