
Keputusan telah ku ambil
mundur dari keputusan tanpa alasan kuat
bukan lah sesuatu yang bijak
maka maju dan bertanggung jawab
itu lah yang ku pilih
******
Aku menyelesaikan sarapan dengan tergesa-gesa. Berapa hari lalu ada telpon dari Pak Sayudi mengenai kejelasan penjualan rumah dan kesepakatan harga. Aku meminta tenggang waktu lagi.
Rumah ku harus terjual dulu kepada Doni agar mendapatkan pencairan uang baru bisa membeli rumah Pak Sayudi. Setelah berembuk dan menyusun janji dengan notaris. Hari akad jual beli dapat dilakukan hari ini.
"Anggrek makan jangan berdiri. Ayo duduk kembali."
Suara tegas papa memaksa ku kembali duduk. Mama memandang dengan mata mendelik pertanda dia tidak menyukai sikap ku.
"Ma, Anggrek ada janji dengan Doni di kantor Notaris pukul 10.00."
"Sekarang baru pukul 07:00. Habiskan dulu nasi uduk mu."
Aku memilih segera menghabiskan nasi uduk di hadapan ku sebelum mendengar omelan Mama lagi. Bagaimana pun dewasanya usia ku sekarang, Dimata mereka aku tetaplah seorang anak.
Setelah drama nasi uduk pagi ini aku akhirnya bertemu Doni dan mamanya di kantor Notaris. Proses berjalan lancar dan setelah selesai mama Doni mengajak pergi untuk makan siang di restoran tidak jauh dari kantor Notaris dan PPAT.
Kali ini aku memberitahu Bian untuk mencegah kesalahpahaman kembali. Kami sudah tiba di restoran dan memesan makanan. Mama Doni ijin ke toilet sembari menunggu pesanan datang.
"Anggrek maaf ya aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Ya, Doni"
"Kamu memiliki hubungan dengan Bian sekarang? Sebelumnya kamu mengatakan hanya teman."
"Iya, Doni. Benar sekali sekarang Bian adalah seorang yang istimewa bagi ku. Dia bukan teman lagi."
"Selamat ya, Anggrek walau kita tidak tahu apa yang akan terjadi.."
"Maksud mu."
"Bukan apa-apa, Anggrek." Doni tersenyum kecil.
Jangan bilang kamu menyumpahi hubungan ini ya, Don. Aku menggerutu dalam hati merasa kalau itu yang dimaksud dari penggalan perkataan Doni.
"Belum datang juga ya." Mama Doni baru tiba dari toilet.
__ADS_1
"Iya, Tante karena mereka mengusung fresh from the kitchen jadi semua masakan baru dimasak setelah kita pesan." Aku menjelaskan sistem restoran yang kami pesan.
"Mending ke warung padang aja tadi, Don. Kamu sih langsung tunjuk kesini." Aku tertawa melihat Doni di omel mamanya. Padahal tadi mama Doni lah yang meminta untuk pergi ke restoran yang dekat dengan kantor notarisnya.
"Doni ini menggunakan tabungan tante dan om untuk membeli rumah mu, Anggrek" Aku mengangguk mendengar penjelasan mama Doni. Wajah Doni tampak merah sepertinya dia malu.
"Mama, Doni kan akan membayar kembali setelah urusan di Bandung selesai."
"Rumahnya di Bandung sudah akan dijual tapi belum ada pembelinya. Anggrek sekarang sudah punya pacar?" Aku bisa melihat ekspresi terkejut di wajah Doni atas pertanyaan mamanya.
"Kebetulan sudah, Tante." Aku menjawab malu-malu.
"Kok punya pacar kebetulan Anggrek. Sayang sekali ya Doni terlambat padahal waktu SMP, Dia menyukai kamu Anggrek. Sampai foto kamu di pajang di dalam kamar."
Kali ini Doni tidak bisa menahan malunya. Dia keluar dengan alasan mau merokok.
Aku tertawa geli dalam hati. Aku baru mengetahui ada sisi mama yang mirip dengan mama Doni. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka menjadi bisan tapi pikiran itu segera membuat ku malu. Bisan? itu artinya aku dan Doni. Ah, Bagaimana pikiran ku menjadi liar seperti ini.
Untunglah pembicaraan kami terhenti karena pesanan yang datang. Aku pun menjadi jengah sendiri dengan pikiran yang melintas barusan.
*******
Minggu-minggu ini aku disibukkan dengan urusan akad jual beli rumah dengan Doni dan Pak Sayudi. Bolak balik ke kantor Notaris dan PPAT mengurus semuanya.
Bagaimana pun aku bukan Danar dan Diandra yang telah disiapkan perusahaan oleh keluarganya. Masa depan mereka terjamin. Aku juga bukan Cahya Kumala yang berwajah rupawan sehingga bisa mendapatkan pria mapan walau pria itu milik orang lain. Aku juga bukan Natasha dan Gege yang sudah diwariskan usaha dari orangtuanya.
Hari ini PLN mati dan genset pun mogok tidak mau menyala. Dapur Miepa terasa panas, Wajah ku berminyak karena keringat tak berhenti. Aku sedang berdiri mencari angin di luar Miepa ketika mobil jeep dengan penumpang berhoodie hitam turun.
Danar menatap ku dari atas ke bawah dengan pandangan yang menyebalkan. Pasti dia heran bagaimana bisa Bian menyukai seorang gadis dengan wajah berminyak dan rambut lepek di hadapannya saat ini.
"Aku mau bicara, Anggrek." Dia semakin menyebalkan dengan nada terdengar seperti memerintah. Aku menyeret langkah kaki ku menuju kursi untuk bicara dengan Danar.
"Ada apa, Kak Danar. Aku pesan kan dulu ya kopi sama mie ayamnya?" Aku berkata dengan suara dibuat lembut. Bagaimanapun kata Bian, Danar adalah pendukung hubungan kami.
"Terserah pesanan apa saja karena aku ke sini ada yang mau dibicarakan." Aku menatap Danar kesal apalagi dia datang ketika penampilan ku sedang kacau. Nilai ku semakin turun untuk plabyboy pemuja penampilan visual wanita ini.
"Rika tolong buatkan mie ayam dan kopi ya."
"Pentol dan jus lemon juga." Danar menambahkan menu yang sebelumnya dia bilang terserah.
"Anggrek kamu sibuk ya?".
"Iya, Aku ada urusan." Aku memang tidak bertemu Bian karena mengurus pembelian rumah . Ke kantor Notaris lalu ke rumah ku yang dibeli Doni terakhir ke rumah Pak Sayudi. Semuanya menguras waktu dan energi yang ada.
Hari ini aku bisa santai setelah semuanya sudah selesai. Itu pun aku harus mengurus dapur Miepa yang ku rencanakan dibuat di rumah yang baru ku beli dari Pak Sayudi.
"Kamu tidak terlihat sedang sibuk! Tiap hari aku sudah cukup lelah dengan ocehan Bian. Dia khawatir kamu berubah pikir setelah dia menceritakan masalah keluarga kami kepada mu, Anggrek."
__ADS_1
"Aku baru santai hari ini, Kak tapi tidak ada yang aneh dari percakapan aku dan Bian di chat dan telpon." Aku meragukan apa yang disampaikan Danar karena walaupun aku dan Bian tidak bertemu, Kami tiap hari berkomunikasi.
"Menurut mu hampir setiap hari kamu berurusan dengan Doni tidak mengkhawatirkan bagi Bian?"
Aku tercekat dengan perkataan Danar karena bermaksud menghindari kesalahpahaman dengan Bian. Aku selalu memberitahu dia jika hendak bertemu Doni.
"Bian menceritakan semuanya kepada kamu ya, Kak? Apakah Bian juga tahu kakak menemui ku sekarang?"
"Dia tidak tahu aku menemui mu hari ini tapi Anggrek sebagai kakak Bian yang memahami dia dari kecil. Aku menyarankan sesekali minta tolong lah kepada Bian agar dia merasa kamu membutuhkan dia."
Aku menatap mata Danar mencari kejujuran dimatanya. Benarkah Bian berpikir demikian. Apakah karena selalu melakukan hal sendiri. Bian merasa aku tidak membutuhkan peran dia dalam kehidupan ku.
Dari dulu aku terdidik mandiri dalam keluarga. Kami jarang menggunakan jasa art. Aku anak sulung perempuan yang terbiasa membantu mama mengurus Dewo.
Dalam hubungan dengan Adiwarna, Aku pun terbiasa mengerjakan semua hal sendiri bahkan mengerjakan apa yang seharusnya menjadi tugas Adi. Dikarenakan terbiasa mengerjakan semua kebutuhan sendiri, Mulut ku terasa berat untuk meminta bantuan orang lain.
"Baik nanti akan aku hubungi Bian." Akhirnya aku memutuskan untuk menemui Bian hari ini. Seharusnya aku berencana ke rumah pak Sayudi yang telah ku beli sendirian untuk merancang desain dapur ke depannya.
"Iya jangan biarkan dia seperti setrikaan di rumah memikirkan kamu yang bertemu Doni. Mengkhawatirkan kamu berubah pikiran setelah tahu masalah perjodohan dan keluarga kami."
"Benarkah semua yang kamu katakan?". Aku memastikan kembali apa yang dikatakan Danar.
"Aku bahkan merendahkan diri membuang gengsi, waktu dan energi berbincang denganmu sekarang hanya untuk mengatakan hal ini."
Kali ini aku berteriak memanggil Rika untuk memberikan pesanan Danar secepatnya sebelum aku emosi dengan si judes kakak Bian.
"Nggrek"
"Apalagi." Aku menjawab malas.
"Nanti mama mau bicara denganmu. Dia mau berkenalan dengan perempuan yang membuat anak kesayangannya jatuh cinta."
"Hah, Kapan?"
"Cari tahu sendiri. Aku sudah banyak membuang energi berbincang dengan mu. Aku mau makan". Danar menunjuk ke arah Rika yang berjalan tergopoh-gopoh mengantarkan pesanan.
Aku menghela napas, Sesak melihat kelakuan laki-laki di hadapan ku walaupun di sisi lain aku bersyukur karena dia pria jujur dengan segala sifat dan sikap yang dia punya.
Detik berikutnya aku segera menekan nama pria yang kami bicarakan tadi.
Pria yang akan banyak cerita dan kisah yang akan ku habiskan dengan dirinya. Aku telah memutuskan menerima dia karena apapun yang dihadapi oleh Bian adalah diluar kehendaknya.
Biarkan kami saat ini mencoba berusaha bersama untuk hubungan ini. pakah takdir akan berpihak pada kami atau bukan itu urusan nanti. Saat ini Aku memutuskan tidak akan mundur, Berusaha lah yang kami akan lakukan.
******
Pagi readers kesayangan author. sehat semua ya untuk kalian 🤗🤗❤
__ADS_1