Viral

Viral
40. Rencana Usaha Anggrek


__ADS_3

Maksimalkan kemampuan


selagi umur kita masih muda


kerja keras dan manfaatkan masa muda


sehingga ketika hari tua kita tinggal


menikmati


Caption Anggrek sore ini


******


Aku menaiki taksi online dari bandara menuju ke salah satu cabang Miepa yang lain. Jujur saja melihat bandara tadi aku baru teringat sudah lama tidak liburan ke luar kota. Terakhir aku ke luar kota ketika masuk acara reality show saat video viral ku meledak.


Taksi online telah tiba di cabang Miepa yang lain. Aku hanya menyewa toko satu tingkat untuk cabang terakhir Miepa ini. Terletak tidak jauh dari daerah perkantoran sehingga harga sewa disini relatif mahal.


Agus salah satu pegawai Miepa menyambut ku. Dia memiliki penampilan dan cara kerja yang rapi. Masker, apron, sepatu selalu mengkilat. Bahkan Agus selalu menggunakan kemeja dengan lengan digulung rapi.


Agus, Seorang yang cekatan. Bisa menjadi waitress sekaligus membantu meracik mie karena Miepa cabang ketiga ini hanya jual mie ayam dan pentol.


"Gimana, Gus disini. Lancar hari ini?".


"Biasa saja,Bu tidak terlalu ramai hari ini. Sebagian perkantoran masih 'work from home' sehingga tidak banyak pegawai yang masuk."


Aku mengangguk terasa juga efek dari pemberlakuan WFH ini bagi pedagang seperti kami. Tak lama kemudian ada beberapa remaja memasuki warung. Aku membantu agus menyiapkan pesanan mereka.


"Kak Anggrek ya yang kemarin viral? Foto dong, Kak." Aku melongo untuk pertama kalinya sejak mempunyai sosial media dengan follower yang banyak, Ada yang mengajak foto bareng.


"Boleh ini kakak letakkan dulu ya pesanan kalian." Anak-anak itu riuh membantu ku menyusun mie ayam. Bahagianya di masa mereka, Aku pun dulu demikian. Bahagia untuk hal yang kecil.


Setelah itu aku kembali ke belakang dapur Miepa. Agus mengikuti ku karena warung sudah dijaga oleh Toto.


"Bu, Ada rencana mau beli rumah?"


"Sekarang juga aku sedang bikin rumah. Memangnya kamu mau jual rumah?". Aku teringat tentang tawaran Doni. Seandainya rumah yang ditawarkan agus sesuai kriteria ku mungkin bisa menjadi pertimbangan.


"Rumah teman, Bu. Dia cerai sama istrinya jadi rumah mereka dijual untuk pembagian harta gono gini. Lokasinya bagus, rumahnya pun bersih." Standar bersih bagi orang yang terbiasa bersih dan rapi patut diperhitungkan juga.


"Kita bisa ke sana sekarang?"


"Tapi naik apa, Bu ke sana? Agus tidak membawa motor." Aku menepuk kening, Iya aku juga tidak membawa mobil tapi ketika melihat dihalaman ada pickup Miepa yang sedang parkir. Aku langsung menunjuk Agus ke arah pickup.

__ADS_1


"Kita naik pickup saja, Gus. Aku yang nyetir." Toto terkekeh melihat aku membawa pickup Miepa yang biasa digunakan untuk membawa bahan dagangan dari Miepa cabang.


Lokasi rumah yang Agus tawarkan tidak terlalu jauh dari Miepa Cabang dan rumah ku. Pertengahan tepatnya. Berada di jalan pintas yang biasa dilewati orang. Jalan pun bisa dilewati satu mobil. Halaman rumah menyisakan tempat yang bisa digunakan untuk memarkir dua mobil.


Bangunan rumah tersebut mungil karena di huni pasangan muda yang entah kenapa pernikahan mereka gagal. Dalam hati ku menyayangkan kenapa perceraian harus terjadi tetapi siapa yang akan tahu nasib suatu pernikahan.


"Agus, Aku suka lokasi rumahnya nanti kamu bisa mempertemukan aku dengan pemiliknya?"


"Aku akan memberikan nomor telponnya, Bu tapi tolong beritahu kalau mendapatkan informasi dari aku, ya?"


"Iya, Gus." Aku tahu pasti ada komisi untuk Agus jika dia berhasil membawa pembeli untuk rumah ini.


Hari mulai menjelang malam ketika kami kembali lagi ke Miepa. Baru saja aku berpisah dengan Bian tadi sore tidak terasa malam akan datang. Satu hari terlewati kembali.


********


"Pagi, Sayang selamat beraktivitas. Jangan lupa makan. Miss you."


"Miss you too. Kamu juga moga lancar hari ini urusan keluarganya."


"Makasih, Bye Anggrek sayang."


"Bye"


Aku menutup gawai dengan perasaan tak menentu. Apa yang terjadi dalam keluarga Bian suatu saat nanti akan mempengaruhi kehidupan ku. Untuk saat ini aku belum memikirkan apa yang akan aku lakukan karena belum tahu pasti duduk masalahnya.


Hari ini aku berencana bertemu pemilik rumah yang ditawarkan Agus. Rencananya jika harga rumah tersebut sesuai dengan kemampuan keuangan ku maka rumah yang sedang dibangun akan ku tawarkan kepada Doni.


Tadi malam aku memikirkan lokasi rumah tersebut lebih strategis dibandingkan rumah yang sedang aku bangun. Aku pun bisa mempercepat membuka usaha lain dengan merenovasi untuk dapur Miepa.


Jari tangan ku menekan nomor telpon 'Sayudi' pemilik rumah yang merupakan teman Agus.


"Pak, Saya Anggrek teman Agus. Saya mendapatkan informasi mengenai rumah bapak yang akan dijual. Apakah kita bisa bertemu?"


"Oh bisa, Bu Anggrek. Nanti langsung bertemu di lokasi ya."


"Iya Pak. Bagaimana kalau pukul 11.00?"


"Bisa, Bu."


Pukul 11:00 wib kami meluncur bersama Agus ke lokasi rumah tersebut. Setelah melewati negoisasi harga. Pak Sayudi meminta tenggang waktu satu minggu untuk berembuk dengan mantan istrinya. Aku mengiyakan karena akan ada waktu untuk membicarakan hal ini dengan Doni.


Aku kembali ke cabang ketiga Miepa ketika ada panggilan video call dari Bian. Dengan tergesa-gesa aku menyeka wajah dengan kertas minyak lalu memoles kembali bedak dan lipstik.

__ADS_1


Tentu saja aku harus tampil cantik di layar gawai karena tidak ada filter yang membantu penampilan diri saat video call. Notifikasi pesan dari Bian karena panggilan telpon keburu mati.


"Sibuk ya, Anggrek?


"Aku baru mau mengangkat video call dari mu tadi tapi keburu mati."


"Aku telpon lagi ya, Sayang."


"Siap, Sayang."


Aku menutup gawai sambil nyengir. Padahal tadi aku memperbaiki penampilan diri. Persiapan sebelum muncul di layar.


"Halo, Sayang."


Wajah tampan kekasih ku muncul di layar. Dia sedang berada dalam mobil.


"Halo juga sayang mau kemana?".


"Baru kelar menjemput Danar."


Bian mengarahkan ke Danar yang dengan cepat melengos ke jendela. Ih kayak aku niat banget lihat wajahnya. Bibir ku mencibir ke arah kamera tanpa memperdulikan respon Bian. Ah biarin saja kesal lihat gaya kakak kembarnya.


"Anggrek ini mama ku, Mama ini Anggrek."


Jantung ku hampir lepas dari tempatnya. Bibirku yang sedang mencibir otomatis membentuk senyuman semanis mungkin yang bisa ku lakukan.


"Pagi.. lohaa. Halo tante."


Aku grogi parah apalagi Mama Bian begitu cantik elegan dengan kulit wajah yang mulus terawat. Beliau berusia sekitar pertengahan 50an.


"Salam kenal Anggrek."


"Iya, Tante."


"Udah dulu ya, Sayang. Kami sudah mau tiba di rumah. Jangan lupa makan."


"Makasih, Sayang."


Aku menutup telpon dengan nyawa yang hilang separuh. Apa-apaan ini, Bukan kah ini begitu mudah untuk semua kesulitan yang ku bangun dalam pikiran tentang pertentangan dari keluarga Bian yang akan ku jalankan.


Berhari-hari ku habiskan tentang pertentangan yang akan ku hadapi. Nyatanya semua begitu mudah atau ini hanya awalan saja seperti saat mengenal Diandra. Hangat dan ramah seakan penyeimbang Bian dan Danar.


Kenyataannya dia adalah pemilik kata-kata kasar yang bersembunyi dibalik keanggunan senyum menawannya. Ah begitu membingungkan menebak perasaan orang

__ADS_1


Memang dalamnya hati manusia tidak ada yang tahu. Aku hanya harus bersiap menghadapinya.


******


__ADS_2