Viral

Viral
POV (Danar)


__ADS_3

Aku dan Diandra saling berpandangan, Terkadang tanpa berkata. Kami memiliki pemikiran yang sama. Kami baru saja menyelesaikan makan siang bersama yang di hadiri Anggrek.


Sambil memperhatikan keduanya yang berjalan menuju ke arah garasi, Netra ku menangkap interaksi keduanya. Bian tampak sedikit posesif terhadap Anggrek.


"Kamu mengambil pacar orang," tuding ku. Tudingan itu terlontar sebelum dia mengutarakan akan mengajak Anggrek makan siang di rumah.


"Dia sudah putus dan aku tak akan memberikan kesempatan mereka balik," Bian menjawab tegas. Aku mengernyitkan kening.


Mau bilang tak setuju tapi Bian, si bungsu keras kepala. Lebih baik mengikuti arusnya dan mengarahkan dia ke jalan yang benar.


Setelah penekanan sebelumnya pada Bian, Akhirnya keluarga memutuskan mengalah. Dia benar-benar tertarik pada gadis itu. Bukan sekedar tertarik tapi menggila.


"Papa mengatakan apa?" tanya ku ke arah Diandra yang menyenderkan diri di daun pintu. Adikku itu menoleh, Sudut bibir satu lagi ke atas. Dia tersenyum kecut.


"Lepaskan atau kita akan kehilangan, Dia tetap akan menikahi gadis itu. Apapun yang terjadi," jawabnya sambil mengedikkan bahu.


"Di restui?"


Diandra memalingkan wajah, "Bian membutuhkan pendamping yang cerdas, Gadis itu mempunyai 'kelebihan' dia bisa memperkuat keluarga Prasetya,"


"Jadi?" desak ku tak perduli Diandra yang mulai tak bersahabat.


Diandra mengatupkan gerahamnya tampak kesal, "Anggrek akan masuk ke keluarga kita, Gadis itu tampak cerdas. Dia bisa membalas ku dengan baik tadi. Kita akan mendukung usahanya, Memperkuat posisi keluarga Prasetya,"


Tentu saja saat makan siang bersama, Berapa kali Diandra menyudutkan Anggrek, Tetapi dia bisa membalas Diandra dengan baik.


"Itu keputusan papa?" tanya ku membuat wajah yang serupa ini menatap jengkel.


"Kamu memancing ku bicara, lalu menyampaikan ke Bian, Ular kepala dua! Mengapa tak kamu tanyakan sendiri sama papa,"


"Haha... Aku bukan ular kepala dua tapi berusaha netral. Kalian tidak melihat kelakuan Bian ketika gadis itu berhubungan dengan pria lain. Dia menggila,"


"Apa sih yang menarik dari Anggrek?" tanya Diandra lebih menyerupai dengusan kesal.


"Jatuh cinta pada pandangan pertama mungkin, Entahlah aku tak percaya cinta. Hahaa....," tawa ku, Selama ini aku mendapatkan semua wanita yang ku inginkan karena aku kaya tentunya.


"Kamu hanya percaya wanita cantik, Bahkan jika mereka tak memiliki otak!"


"Kasar sekali!"

__ADS_1


"Kasar? itu paling manis yang ku punya," cibir Diandra.


"Jadi kamu sekarang pasrah pada adik kita?"


"Ya... biarlah, Kakek Denny juga menyukai Anggrek. Ikuti arus saja, Toh bukan aku yang menjalankan tapi Bian. Dia bukan seorang 'Anugrah', Tidak ada beban dalam hidupnya untuk menjaga trah keluarga,"


Aku memperhatikan Diandra, Penolakan Tasya dengan perjodohan kemarin. Membuat dia tidak terlalu menekan Bian lagi, walau tadi kembaran ku ini masih menguji Anggrek.


Dia memang tak mau memberi kemudahan dengan cuma-cuma. Diandra bak pinang di belah dua dengan papa. Cerdas seperti mama kami. Atensi ku teralihkan ke arah Bian dan Anggrek.


Aku memperhatikan Bian dan Anggrek, Melihat Bian yang menempel dengan gadis itu. Menandakan tak akan pernah bisa memisahkannya lagi, Anggrek seperti 'oksigen' bagi Bian.


Dia membutuhkan Anggrek untuk bisa menjalankan kehidupan. Aku masih ingat ketika Bian harus ke Jakarta menjalankan perjodohan. Dia masih konsentrasi mengurusi permasalahan dalam keluarga kami.


Di sisi lain karena ulah papa yang mengacaukan usaha Anggrek, Membuat Bian merasa harus bertanggungjawab membereskannya.


"Aku menyukainya, Cara dia menjalankan hidup, pada semangat yang ada, Ketulusan dan kebaikan. Menurut ku Anggrek menarik," jawab Bian ketika aku meminta jawaban mengapa harus membantu Anggrek.


Jawaban melantur dari orang sedang mabuk cinta. Aku bertanya mengapa harus membantu Anggrek, Bukan mengapa dia jatuh cinta pada Anggrek.


Sudahlah, Hidup jangan dibuat ribet. Turuti saja adik tiri ku, Apa susahnya. Sudah berapa tahun dalam kehidupannya. Dia tidak pernah memperoleh hal yang sama seperti Aku dan Diandra.


"Kirimkan asisten pribadi saja untuk membantu Anggrek. Aku khawatir jika membantu Anggrek, dia akan jatuh cinta pada ku nanti," sahut ku santai yang justru membuat wajah Bian mengeras emosi.


"Wait... Aku bercanda, Dek. Anggrek bukan tipe ku, haha," tawa ku ketika melihat respon Bian. Dia kehilangan selera humor jika mengenai Anggrek.


Tentu saja alasan utama ku, Karena membantu usaha Anggrek akan berdampak pada hubungan ku dengan papa dan Diandra. Aku tak mau terlibat langsung, Lebih baik melalui perantara orang lain. Anggrek pun belum tentu mau di bantu.


Kami mengutus Cleo, Dia merupakan asisten pribadiku selama di Jakarta. Kemudian setelah mendiskusikan ke Cleo, Ke depannya akan menjadi asisten pribadi Bian yang membantu calon istrinya di kota lain, Cleo menyetujui.


Tentu saja karena Bian sudah membayarkan kompensasi awal. Sebuah ruko, Dengan tugas ringan. Membantu calon istrinya, Begitulah Bian menyebut Anggrek.


Sebutan yang selalu membuat merinding geli. Bahkan mereka tak memiliki hubungan apapun saat itu. Jelas saja dia kebakaran jenggot ketika Anggrek justru sudah di lamar Kenzo.


Pria yang membuat ku terserang emosi. Ketika dia mempersulit pasokan bahan baku ke kafe dan coffe shop miliki ku. Sungguh merepotkan percintaan Bian.


Lika-liku percintaan Bian justru berakhir Bahagia sekarang. Mereka memiliki putra lucu bernama Deniz.


Tiittttt... tiittttt... tiittt

__ADS_1


Aku terlonjak kaget mendengar suara klakson mobil tanpa henti Suara yang 'mengantarkan' kembali ke masa sekarang.


Dari spion terlihat mobil sedan mungil membunyikan klakson tak sabar.


Memikirkan kejadian lalu tentang Bian dan Anggrek, Membuat pikiran bercabang. Aku berbelok ke arah coffe shop 'Tentang Jiwa'.


Selain menggarap proyek keluarga di kota ini. Aku membuka dua usaha pribadi yang terlepas dari usaha keluarga.


Aku memarkirkan mobil, Begitu pula sedan mungil di belakang ku tadi. Empat orang gadis turun dari mobil. Mereka berkisar di 20an awal. Tampak masih seperti anak kuliahan.


Mereka melirik ke arah ku yang turun dengan masam. Menyisakan kesal karena klakson dari mereka masih menyisakan jantung ku 'breakdance'.


Netra ku teralihkan ke seorang gadis yang menggunakan hoodie warna pink. Dia berkulit putih, Berambut pendek dengan poni menutup sebagian wajahnya.


Tinggi sedang dengan bibir kemerahan Menatap ku sambil memberi cengiran. Tampak lucu, Jiwa jomblo ku saat ini terketuk.


Gadis itu tampak menarik tapi mengingatkan ku pada seseorang. Siapa ya? aku mencoba mengingatnya.


Mereka memasuki kafe dari pintu depan, Aku mengikuti dari belakang. Walau sedikit lebih jauh menuju ruangan, Tak mengapa. Ada yang menarik hati ku di rombongan itu.


Aku berdiri di samping barista. Memeriksa pesanan yang masuk. Gadis berhoodie pink memesan 'cold brew coffe'.


Alul, Si Barista melihat ku yang tak lepas menatap gadis ber-hoodie pink.


"Cantik ya, pak?" Alul tersenyum seakan tahu apa yang ku pikirkan.


"Iya... tapi aku masih mengingat dia mirip siapa?"


"Mirip siapa, Pak? mantan?"


"Bukan," jawab ku gondok. Sepertinya Alul tahu kebiasaan gonta ganti pacar. Aku bukan berganti pasangan tapi sedang memilih pasangan, tapi bisa-bisanya cap playboy melekat


"Namanya Riska, Pak. Dia mahasiswi. Mamanya dokter, Namanya dokter Melinda yang mempunyai klinik kecantikan di jalan Thamrin,"


"Tahu saja kamu,"


"Ya... tahu, Pak. Keluarga mereka terkenal kok disini,"


Aku mengangguk oh namanya Riska. Dia anak seorang dokter. Gadis itu menarik sekali tapi sayang masih terlalu muda untuk ku.

__ADS_1


__ADS_2