Viral

Viral
33. Sadarkah Kamu Aku Begitu Menyukaimu


__ADS_3

Tekat tak semudah melafalkannya. Bertekad pergi menjauhi seseorang tetapi ketika dia berada di hadapan.


Jiwa ini ingin mendekat, enggan menjauh hanya raga yang mencoba tetap membulatkan tekad. Pertempuran jiwa dan raga dalam satu tubuh ini mulai membuat ku lemah


Sebuah caption yang tak jadi ku tulis di sosial media sebelum menjadi tanya lalu gosip. Jadi ku simpan saja sebagai pengingat diri


******


"Masuk ke dalam rumah dulu yuk." Aku melangkah mendahului Bian. Tubuh ku bergidik kedinginan merasakan hembusan angin sore hari yang mendung ditambah pandangan menuntut Bian.


"Bian menjadikan mu pelampiasan sakit hati karena wanita yang dicintai memilihku." Danar.


"Dia menolak perjodohan dengan melarikan diri di kota ini. Sengaja memilih wanita yang jelas akan ditolak oleh keluarga kami sekedar untuk membuat kami marah." Diandra.


Kekasih Danar yang dicintai Bian merupakan wanita cantik. Begitu pula jodoh Bian dia juga cantik menurut Diandra. Kata-kata kakak kembar Bian tergiang di telinga seiring setiap langkah memasuki rumah.


Jika Bian memilih wanita untuk menolak jodoh orangtuanya kenapa harus aku? Apakah karena aku tidak cantik dan bukan berasal dari keluarga kaya raya. Sebuah kesengajaan untuk membuat orangtuanya marah. Menunjukkan pemberontakan atas dikte pada hidup dirinya.


Apakah kalau Bian mempunyai kekasih yang sepadan, Perjodohan itu akan dibatalkan? Mengapa dia memilih wanita yang akan ditolak oleh keluarganya. Bukankah selagi masih ada waktu dia lebih baik memilih wanita yang sepadan dengan keluarganya?.


Apakah Bian hanya ingin memberontak merasa hidup terkekang. Diatur, di awasi sehingga dia menunjukkan jati dirinya bahwa dia pria dewasa yang bebas menentukan pilihan atau memang dia jatuh cinta dengan ku.


Cinta bagi sebagian orang bukan hal rumit tapi sebagian lainnya cinta menjadi sesuatu yang rumit seperti jalinan benang kusut yang meminta di luruskan.


Di jaman modern ini kita bisa melihat cinta Pangeran Charles kepada Camillla Bowles ketika dia lebih memilih Camilla dan menyingkirkan seorang istri dengan kecantikan duniawi yang masih memukau semua orang sampai saat ini.


Aku tersadar dari pergulatan pikiran sendiri ketika jaket hitam dengan arowa wangi menenangkan membungkus tubuh ku. Jaket Bian telah beralih ke tubuh ku.

__ADS_1


"Kamu kedinginan, Nggrek". Aku berhenti di pintu masuk rumah menoleh kebelakang. Wajah itu, Ada perasaan bersalah menyelusup hati. Mengabaikan dirinya untuk kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Perhatiannya sederhana tetapi membuat ku merasa berarti.


Bian duduk diruang tamu kami. Aku lalu menyajikan air mineral dan sepiring soes buah di meja. Rumah kami sedikit meniru konsep rumah kakek yang ruangan tidak memiliki sekat.


Ruang tamu kami bersatu dengan ruang serbaguna keluarga. Tempat Papa memajang koleksi aquascape dan tempat Aku dan Dewo menghabiskan hari dengan duduk di depan laptop diwaktu senggang. Hanya kabinet berukir yang membatasi ruangan. Dewo sekarang ada di ruangan serbaguna dengan headset dan laptopnya.


"Kamu sibuk apa Anggrek sampai tidak bisa membalas pesan dan menjawab telpon ku padahal di sosial media, kamu masih aktif." Suara kecewa itu membuat perasaan bersalah semakin menjadi.


"Ada yang harus aku selesaikan di Miepa karena kami menambah menu jualan dan di cabang lain aku mendapat laporan dari banyak konsumen mengenai rasa." Aku menjawab jujur untuk hal ini.


"Apa hubungannya dengan Doni. Mengapa dia menemui kamu di rumah"


"Dia pemasok ayam segar untuk bahan nugget jadi tadi mengantar ayam potong sebagai bahan nugget" Apaan ini aku bukan kekasihnya tapi kenapa menjadi seperti melakukan kesalahan.


"Begitu kah?." Dia memandang wajah ku lekat mencari kebohongan terpendam.


"Iya." Susah payah ku balas tatapan dari mata bening bernaung alis tebal yang indah.


"Iya, Bian." Aku mulai merasa suara ini akan mengarahkan ke sesuatu. Tangan ku merapatkan jaket Bian yang masih ku gunakan. Jaket besar yang membuat tubuh ku tenggelam dalam kehangatan.


"Sadar kah kamu Nggrek aku begitu menyukai mu. Kenapa kamu selalu menghindar."


Aku gelagapan mendengar perkataan Bian. Tebakan kakak kembarnya benar adanya. Dia menyukai ku.


"Iya Bian." Hanya itu yang keluar dari mulut ku.


"Aku tidak mengharapkan kamu menjawab saat ini Nggrek, Aku hanya ingin kamu tahu yang ku rasakan selama ini tapi aku berharap perasaan ini mendapat balasan."

__ADS_1


"Kenapa harus aku yang kamu sukai Bian. Aku tidak cantik dan tidak menarik."


"Itu alasan penolakan? Kamu bercanda Anggrek? Aku menyukai mu sifat mu Nggrek. Pada keuletan yang ada dalam dirimu, Sosok pengasih pada sahabat dan keluarga, seseorang yang selalu bersemangat dan membawa aura positif pada setiap orang termasuk aku. Kamu menarik dengan cara sendiri, Anggrek."


"Tapi aku belum mengenal kamu secara keseluruhan. Siapa keluarga mu, masa lalu mu bahkan usia mu. Jangan-jangan kamu seusia Dewo."Bian tertawa ketika mendengar pernyataan ku


"Apakah aku tampak begitu muda sehingga sama dengan Dewo? Aku 26 tahun Anggrek. Tiga tahun lalu menamatkan pendidikan strata satu. Orangtua ku tinggal diluar kota sini. Begitu pula Danar dan Diandra, Untuk Kak Danar dia kemungkinan akan sering ke sini mengurus usahanya. Kak Diandra sekedar berkunjung."


Ada yang belum dia cerita mengenai perjodohan itu. Dia masih merahasiakan. Mulut ku baru akan membuka ketika Dewo tiba-tiba muncul.


"Kak Bian kok tidak kasih kabar mau datang. Ada yang mau ku tanyakan mengenai kurva warna untuk foto ini." Dewo menyeret paksa Bian ke depan laptopnya. Sepertinya dia baru sadar ada orang lain diruangan ini.


Aku bisa melihat Bian tidak keberatan dengan sikap Dewo. Mereka bisa seakrab ini dalam waktu dekat. Berbeda dengan Adiwarna yang sudah lima tahun bersama tetapi Dewo tak pernah dekat dengannya.


Sampai Bian pamit pulang, Dia masih dikuasai Dewo. Aku tidak bisa bertanya tentang perjodohan itu. Ketika mengantar Bian ke mobil antiknya. Aku melepaskan jaket dan memberikan ke Bian.


"Pakai saja Nggrek jaketnya. Udara begitu dingin. Aku juga ada kado kecil untukmu gunakan ya jadi setiap melihat waktu, kamu ingat aku. Aku selalu menunggu jawaban mu Nggrek baik itu jawaban baik atau yang akan mengecewakan ku." Bian mengabaikan dirinya yang cuma menggunakan kaos oblong di dinginnya sore ini.


"Aku masih membutuhkan waktu Bian. Aku belum mengenalmu sepenuhnya."


"Kamu tidak akan mengenal ku jika selalu menghindar. Aku tidak tahu kesalahan ku tapi perasaan ku mengatakan kamu ingin menjauh dari ku. Kalau itu menyangkut kisah lama mu. Yakinlah hidup tidak terpaku pada masa lalu."


Lidah ku kelu ingin ku sampaikan apa yang dikatakan Danar dan Diandra tetapi kata-kata itu berat terucap.


Bian menyodorkan kotak mungil yang sepertinya berisi arloji seperti perkataannya tadi. Aku mengucapkan terimakasih dengan suara tercekat. Mobil antik itu pun berlalu dari hadapan ku tapi getaran yang ditinggalkan empu yang punya masih menetap.


Mendung yang mengantung sedari tadi akhirnya menurunkan hujan seakan menghilangkan beban yang dibawanya. Aku berlari memasuki rumah sambil kembali merapatkan jaket merasakan aroma wangi dan kehangatan Bian.

__ADS_1


****


like dan komen ya readers 😘😘


__ADS_2