
...Sanggupkah mengorbankan satu orang...
...demi masa depan?...
...Bagaimana jika dia...
...bagian dari masa depan...
*********
Jemari kami masih bertautan mengalirkan rasa nyaman yang menenangkan tapi rasa itu berubah menguap ketika Bian bertanya.
"Sayang, Kamu sebelum aku kesini sedang mengerjakan apa?"
"Memangnya kenapa?"
"Kamu bau asem," Dia menggoda ku tapi tak urung aku tersadar belum mandi setelah bergulat dengan adonan, minyak dan semua bahan mie ayam saat kursus.
Wajah ku memerah, Refleks aku menarik tangan karena baru menyadarinya.
"Sayang, Aku bercanda," Bian tampak kaget karena melihat ku langsung berdiri dan bergegas menghindar dari dia.
"Aku mandi dulu ya!" Segera kaki ku melangkah menuju kamar mandi. Siapa mengira Bian akan datang tanpa memberitahu. Aku mandi lebih cepat dari biasanya agar Bian tidak perlu menunggu lama.
Ketika keluar menemui Bian, Aku membawa dua cangkir kopi hitam dan brownies yang dibuat mama tadi pagi.
"Aku tadi bercanda, Jangan ngambek ya," Bian mengulurkan tangan ke arah ku. Dia menarik kembali duduk disebelahnya.
"Eh..," Aku langsung terduduk di sampingnya.
"Heheee, Aku gemas lihat kamu malu,"
"Huhhhh,"
"Aku kangen sudah berapa hari tidak ketemu,"
"Aku juga, Kak Bian. Apakah kamu mau cerita mengapa terjadi pertengkaran dengan papamu?"
Bian tidak langsung menjawab dia mengambil cangkir kopi, Menyesap perlahan lalu menghembus napas berat.
"Ada Tasya di sana dalam pertemuan keluarga kami,"
"Kenapa ada Tasya? Apa yang terjadi?"
Bian memalingkan pandangannya ke arah ku, Netranya menatap mata ku yang masih penasaran dengan penuturannya.
"Ada pertengkaran di sana,"
"Iya pertengkaran apa? kamu membuat ku penasaran."
"Anggrek benarkah kamu ingin mengetahuinya saat ini juga?" Aku mengangguk cepat menjawab pertanyaan Bian.
"Kamu tidak menghubungi ku selama tiga hari, Menjawab singkat semua pesan yang ku kirimkan. Hari ini dengan tak sabar aku ingin bertemu dengan mu justru kamu sama sekali tidak menanyakan kabar ku. Kamu begitu jeli melihat layar handphone ku yang retak tapi tidak bisa melihat hati ku yang terluka."
Bibir ku terbuka lalu terkatup kembali. Semua rangkaian kata yang ingin ku keluar tercekat di tenggorokan. Semua kata-kata Bian menghujam tepat. Untuk pertama kali dia berbicara panjang lebar mengenai apa yang dirasakan
"Iya aku tahu layar handphone bisa dilihat langsung dengan mata tetapi tidak dengan hati hanya perasaan yang tulus bisa merasakannya. Apakah kamu tulus mencintai ku atau masih ada yang lain?"
Aku hanya bisa menatap kali ini, Ya berapa hari Bian di Jakarta yang aku lakukan adalah mengamankan usaha ku dari tekanan Setya. Menyusun langkah dan rencana kedepannya. Sama sekali tidak ada tempat untuk memikirkan keadaan Bian di sana.
__ADS_1
Mata ku berkedip dengan bibir yang tak mampu mengelak. Apa yang harus ku katakan? kenyataan yang adalah aku memikirkan langkah untuk diriku sendiri.
Mengetahui apa yang terjadi akan mempermudah bagaimana menghadapi seorang Setya Prasetya. Disini aku melupakan penyebab kenapa Setya bertindak. Semua karena ada Bian putranya yang mempertahankan ku.
"Maafkan aku tidak seharusnya menanyakan ketulusan cintamu karena ketika kamu tahu siapa yang membuat usahamu terdepak bahkan kamu tidak marah pada ku."
Bian meminta maaf, Apakah aku terlalu egois dalam hubungan ini.
"Iya sayang, Maafkan aku. Apa kabar mu sekarang, kak Bian?"
Bian tersenyum lebar, Dia memeluk ku erat, mendekap seakan mencari kekuatan dan berbisik perlahan.
"Tanggal pertunangan ku sudah ditentukan."
********
"Apaaaa!! Lepaskan Biaaan!"
"Tidaak." Bian semakin erat memeluk ku "Tidak akan,"
Aku mendorong Bian sekuatnya. Sejak aku mengetahui Setya ada dibalik usaha ku. Alarm waspada perlahan mulai menunjukkan diri dalam diri ku.
Bian tidak bergeser sedikit pun. Aku pernah mengatakan bahwa tak ingin tersakiti kedua kalinya.
"Anggrek, Aku mohon. Tenangkan dirimu." Bian mengatakan perlahan, Suaranya menenangkan ku.
...Aku harus berjuang untuk satu orang...
...dengan taruhan masa depan,...
...Pantas kah?...
Bian melihat respon ku yang hanya diam. Dia melepaskan perlahan.
"Aku tadi tidak ingin mengatakannya tapi kamu lebih tertarik mengetahui apa yang terjadi walau memang cepat atau lambat memang kamu harus mengetahuinya."
"Jadi kapan pertunangan itu dilangsungkan?"
"Tiga bulan lagi,"
Tubuh ku sedikit bergetar mendengarkan penuturan Bian. Mengapa kisah cinta ku memuakkan. Disisi lain aku ingin berlari dari kenyataan yang ada tapi di sisi lain aku tetap ingin bertahan.
"Seharusnya kami akan menikah tapi mama memberikan usulan untuk pertunangan agar memberi ruang pada ku menyelesaikan yang belum selesai,"
"Baiklah kita akan selesaikan saja,"
"Mengapa kamu menjadi sekeras ini, Anggrek. Kamu tahu aku akan hancur kalo hubungan kita tidak berlanjut,"
"Aku pernah tersakiti dan tak ingin kembali lagi merasakan yang sama,"
"Tidak akan aku memastikan itu."
"Ini tidak semudah mengucapkan kata. Bahkan tanpa perlu hadir disini. Papa mu bisa melakukan apa yang dia mau,"
"Sayang berikan kesempatan,"
Aku mengambil secangkir kopi yang langsung ku minum tandas. Sebuah kebiasaan ketika berada dalam posisi yang menguras pikiran.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
__ADS_1
"Sayang, Sebaiknya semua foto kita dalam sosial media dihapus karena dari sana mereka melihat kita. Sekarang hanya itu langkah pertama kita,"
"Baiklah, Bian pulang lah dulu. Beri aku waktu untuk menenangkan diri,"
"Tidak aku tak akan pulang sampai kamu berjanji tak akan meninggalkan ku,"
"Iya,"
"Iya apa?"
"Aku berjanji tak akan meninggalkan mu," Kalimat itu keluar begitu saja seakan alam sadar ku memastikan bahwa itulah sebenarnya yang ku inginkan.
"Terimakasih sayang, Aku mencintaimu."
"Terimakasih atas cintamu,"
"Aku ingin balasannya," Bian mengenggam kedua tangan ku.
"Aku mencintaimu, Bian Prasetya."
**********
Sayap-sayap patah dari Kahlil Gibran menggema di hati ku. Saat aku SMA, Seorang teman membacakan karya Kahlil Gibran ini dengan menjiwai.
Aku yang masih remaja ceria dan belum pernah tersakiti karena cinta hanya menganggap untaian kata demi kata, Kenapa harus menyiksa diri dalam cinta yang berliku.
Siapa yang akan menduga berapa tahun kemudian aku lah yang berada dalam perjalanan cinta berliku.
Aku harus bertindak, Tidak ada yang bisa menekan seorang Anggrek Maharani. Cukup sudah kali ini mereka menguji kesabaran ku. Terus menerus berada dalam kegamangan akan membuat ku menggila. Aku akan memulai rencana lain untuk mengatasi semua yang terjadi.
Sayap-sayap patah dari Kahlil Gibran terdengar perlahan kembali dalam relung hati.
...Apabila cinta memanggilmu,...
...Ikutilah dia walau jalannya berliku-liku.....
...Apabila sayapnya merangkummu pasrahlah serta menyerah,...
...Walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.....
...Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui...
...Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan di pisahkan diujung bumi,...
...Jangan menangis kekasihku, janganlah menangis dan berbahagialah,...
...Karena kita diikat bersama dalam cinta ,...
...Hanya cinta yg indah, kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan,...
...Pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan....
...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,...
...Seperti kata yang tak sempat dikatakan kayu kepada api yang menjadikannya abu,...
...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,...
...Seperti isyarat yang dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada....
__ADS_1
************