Viral

Viral
69. Kesalahan kedua kali


__ADS_3

Keledai bahkan tidak terjatuh


dalam lubang yang sama


atau


Hanya keledai yang akan jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali


Mana yang benar dari peribahasa di atas? Anggrek tertawa sendiri. Apa pedulinya? dia berkata sinis, Kamu tidak sendiri keledai karena aku juga melakukan hal yang sama.


***********


Hari ini, Di gerai frozen food.


Dion mengambil handphone yang ku lempar sembarangan. Ekspresi terkejut jelas tidak ditutupi oleh Dion. Sudah seminggu aku menahan, Mencoba bertahan dari tangisan dan rasa sakit.


Pertahanan runtuh ketika keingintahuan ku dengan kabar pertunangan Bian dalam sosial media Diandra, Justru menjadi boomerang.


Aku berharap mendapatkan kabar bahwa pertunangan itu batal. Ternyata hanya harapan kosong, Hati ku sangat hancur melihat foto kebersamaan mereka dalam akun Diandra.


"Pacarmu tunangan dengan Tasya?" Dion mengambil handphone ku dan dia tanpa sengaja melihat layar yang ternyata masih menyala.


"Iya," Aku terisak menjawabnya.


"Bukan kah dia kekasih Arga?"


"Mereka sudah lama pisah, Dion."


Sejurus kemudian aku baru tersadar dan menatap Dion, Tunggu dari mana dia tahu? Bukankah kehidupan pribadi Arga tertutup, Tidak ada yang tahu kisah cinta Arga.


Tasya juga bukan seorang selebritis atau selebgram bahkan akun sosial media miliknya pun di private.


"Kamu tahu dari mana Tasya pacar Arga?"


"Saat promo deodoran dulu. Setiap acara yang disponsori oleh merk deodoran yang kami bintangi. Aku hadir karena ketek ku punya peran di sana. Tasya selalu mendampingi Arga tapi luput dari wartawan."


"Oh iya kamu di iklan juga sebagai mahasiswa kan perannya, Dion?"


"Iya, Lho pacar mu kok bisa tunangan dengan Tasya ya? Tasya tajir lho."


"Iya, Bian juga keluarganya tajir. Selain itu Bian teman baik Arga,"


"Aneh sekali," Dion menatap ku heran.


"Aneh dimana?"


"Kenapa Bian tunangan dengan mantan pacar teman baiknya?"


"Hmmm, Bukan kah itu tidak aneh,"


"Entahlah,"

__ADS_1


Dion mengedikkan bahunya sambil berlalu dari hadapan ku.


******


Aku masih berada di kursi yang sama tanpa ada niat untuk berpindah. Foto Bian dan Tasya melintas selalu dalam ingatan ku. Semakin kuat aku menepis rasa yang ada, Semakin jelas foto itu di ingatan.


"Nggrek," Aku menoleh ke arah Dion yang kembali menghampiri ku.


"Kamu mau aku mengambil video mu gak? Biar viral lagi."


"Dion!"


"Patah hati kok sampai dua kali, Nggrek. Ketiga kalinya dapat give away,"


Aku beranjak pergi dari hadapan Dion tapi tangan pria itu menahan ku.


"Menertawakan kesengsaraan hidup terkadang membantu meringankan masalah yang menghadang,"


"Aku bukan kamu dan tidak cukup gila untuk melakukan itu!" Aku menepis tangan Dion.


Aku si keledai bodoh yang kembali melakukan hal yang sama.


**************


Kelahiran buah hati Natasha dan Gege sedikit membantu ku melewati masa ini. Kesibukan di butik tanpa Natasha membuat tak ada waktu menangisi pertunangan Bian dan Tasya.


Cleo pemilik ruko Miepa yang baru juga turut andil memberikan kemajuan pada Miepa. Tiga rekan Cleo sudah menawarkan kemitraan untuk membuka cabang di kota mereka.


Sesuatu yang tampak kuat diluar hanya menyembunyikan kerapuhan didalamnya


Semua kenangan ku dan Bian mengalir tanpa pernah dicegah seperti reka ulang yang memaksa penonton melihatnya sampai habis.


******


Aku dan Tania sedang berada dalam perjalanan kembali ke butik, Setelah makan siang di warung makan.


"Anggrek, Mainan monyet di dashboard lucu sekali," Tania memainkan dengan jarinya.


"Ambil saja!"


"Ih aku kan naek motor masa tarok di stang motor,"


"Terserah mau kamu tarok dimana, Dibuang saja boleh." Aku mencoba tetap tersenyum ketika mengatakan kepada Tania walau aku yakin senyuman itu pasti tampak aneh.


Tania memandang respon yang ku berikan terhadap boneka monyet itu dengan heran. Entah apa yang dia pikirkan, Aku tak perduli.


Aku membenci mainan monyet itu teringat perkataan Bian, Dia yang akan memperjuangkan ku, Memulihkan usaha yang sempat tersendat karena ulah papanya, Dia yang akan menjaga dari orang seperti Cahya dan Adi, Memastikan bahwa itu tidak terulang kembali.


Ternyata dia pembohong.


********

__ADS_1


Hari ini aku menimang arloji pemberian Bian, Tante Lusi pernah mengatakan Bian membelinya di Swiss. Jika benar tentu saja arloji dengan brand internasional ini besar kemungkinan asli dan memiliki nilai jual yang bagus.


Setelah mengisi data dalam aplikasi jual beli khusus barang preloved untuk brand high end. Aku tinggal menunggu pemberitahuan mereka apakah arloji dari Bian layak untuk masuk ke dalam daftar penjualan.


Verifikasi keaslian mereka cukup ketat, Semua foto produk harus dikirimkan secara detail. Mereka juga memeriksa keaslian dari barcode barang.


Aku ingin menyingkirkan semua kenangan bersama Bian. Termasuk arloji yang membuat ku muak.


...Aku ingin wanita yang ku cintai mengenang ku dalam setiap waktunya...


Sekarang wanita itu tidak ingin mengenang kamu. Aku mendengus mencibir dengan segala omong kosong tentang cinta.


Aku memblokir semua nomor Bian, Akun sosial medianya. Apapun yang berhubungan dengan Bian Prasetya akan segera ku hilangkan dalam kehidupan.


Aku akan menggantikan mobil yang lama dengan baru karena di mobil itu ada kenangan dengan Bian. Aku cukup kaya untuk melakukan itu sekarang apalagi dengan menjual arloji pemberian dari Bian.


*********


Mata ku membulat melihat angka di buku rekening, Hasil penjualan dari arloji Bian mencapai 105 juta. Dikarenakan jam tersebut merupakan edisi terbatas, Aplikasi tersebut memasukkannya dalam lelang brand limited edition.


Aku tidak menyangka arloji couple yang biasa mengalami penurunan harga ketika dijual satuan Mendapat angka penjualan yang memuaskan. Pemenang lelang membeli dengan harga lebih tinggi dari yang ku tawarkan.


Ternyata lengan kiri yang terpasang arloji dari Bian bernilai 105 juta. Melampaui ekspetasi ku, Sekarang hasil penjualan arloji Bian bisa menambah uang untuk membeli mobil baru. Jadi aku tak perlu menguras tabungan lebih dalam lagi.


"Sayang sekali gelang dari tante Lusy tidak ada kotak dan sertifikatnya"


Aku ingat tante Lusy langsung mengambil dari dalam tas dan memasangnya di pergelangan tangan ku. Sebelum dia bertanya apakah aku mau meninggalkan Bian, Seharusnya saat itu ku iyakan saja.


Hanya saja lebih baik gagal setelah berusaha daripada mundur sebelum berusaha.


Aku menghabiskan uang dengan berbelanja, ke salon, Melakukan perawatan seluruh tubuh dan segala hal untuk menyenangkan diri.


Mama geleng-geleng kepala melihat price tag barang belanjaan yang berhamburan di kamar.


"Haruskah semahal ini Anggrek hanya untuk sebuah tas?"


"Anggrek sudah cukup bekerja keras, Ma. Anggrek mau memberikan reward pada diri sendiri. Mama juga Anggrek belikan, Cantik kan?"


Aku mengacungkan clutch cantik yang diterima mama dengan sumringah walau selanjutnya ada kalimat lanjutan. Ketika dia melihat price tag di clutch.


"Lain kali mama mentahnya saja, Nggrek,"


"Siap, Ma."


"Nggrek ada salam dari mama Doni," Aku tahu arah pembicaraan mama dan membalasnya dengan senyuman. Aku enggan merespon mama karena akan memperpanjang cerita.


Doni terlalu baik jika harus menerima ku yang sedang terluka karena hatiku masih tertutup untuk siapapun.


Biarlah saat ini aku menikmati kesendirian, Menikmati rasa mencintai diri sendiri yang ternyata menenangkan hati dan perasaan.


******

__ADS_1


__ADS_2