
Laut yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut tangguh,
Badai yang ganas di laut juga berasal dari laut yang tenang.
Anggrek mengerutkan kening ketika membacanya. Sudah dari dulu dia membaca dua kalimat di atas, Hanya saja kali ini kalimat tersebut seakan mengambarkan tentang dua orang yang berbeda dalam hidupnya.
*****
Siang ini setelah hujan selesai membasahi bumi. Aku ke butik, Natasha memegang jari manis ku lalu bibir merahnya tersenyum lebar.
"Cincin yang cantik. Aku tidak menyangka Ken melamar mu secepat ini,"
"Iya awalnya dia mengatakan untuk saling mengenal sebelum komitmen dijalankan. Nyatanya itu tidak berlangsung lama, Malam tadi dia melamar ku,"
"Rasanya baru saja kita bertemu di restoran saat aku hamil dan bercerita tentang Adiwarna dan Cahya. Berapa bulan kemudian kalian justru bersama,"
"Iya siapa yang menyangka. Natasha ada yang mau aku tanyakan,"
"Tentang apa?"
"Perjanjian pra nikah, Apa kamu dan Gege menggunakannya?"
Aku tahu Natasha dan Gege membawa harta masing-masing sebelum menikah. Natasha dengan berapa minimarketnya dan Gege dari perusahaan yang diberikan oleh papanya.
"Kami menggunakannya atas desakan kedua belah pihak dari keluarga. Akhirnya kita sepakat melakukan perjanjian pra nikah, Kenapa?"
"Kenzo mau melakukan perjanjian pra nikah,"
"Tidak masalah asalkan kalian berdua sepakat. Dilakukan di notaris nantinya, Kamu juga memiliki harta kan sekarang,"
"Iya juga sih,"
"Eh nanti prewedding menggunakan jasa studio Rian ya?"
"Ih enggaklah! Kamu tahu kan studio Rian itu kerjasama dengan Bian,"
Natasha tiba-tiba tersenyum seperti menahan tawa yang mau keluar.
"Ada apa sih Natasha?"
"Aku membayangkan jika fotografernya Bian pas adegan kalian foto mesra. Bukannya di ambil foto tapi kameranya dilempar ke muka Kenzo, Hahaaaa,"
"Ah kamu, Nat,"
"Tahu kan wajah Bian gimana juteknya, Haha... Ya ampun lucunya jika sampai kejadian. Apalagi saat resepsi kalau Bian menjadi fotografer pas akad. Kepala Kenzo di getokin pakai kamera, Hahaaa"
"Natashaaa!! harusnya kamu married ma Dion dah, Biar sama kalian berdua,"
"Beuuhh aku yang ikutan gila jika sama Dion, Hahaa,"
Aku lalu kembali ke Miepa ketika menerima panggilan Cleo. Dia mengabarkan bahwa besok pemilik eks restoran yang aku sewa akan datang.
"Jadi besok dia akan datang ya, Cleo?"
"Iya, Benar,"
"Jam berapa? tumben akhirnya dia mau datang biasanya melalui kamu,"
"Ada hal yang penting yang ingin dia lakukan,"
"Kalau gitu kabarin saja jamnya ya?"
"Iya, Anggrek,"
__ADS_1
"Pacarmu datang," Cleo menunjuk ke arah parkiran mobil ketika Kenzo baru turun dari mobilnya.
Aku segera mengembalikan cincin dari jari telunjuk ke jari manis.
"Hai, Honey. Sudah makan siang belum?"
"Sudah barengan Cleo," aku menunjuk ke arah Cleo yang memperhatikan Kenzo dengan seksama.
"Kamu sudah makan, Sayang?"
"Belum,"
"Mau makan disini?"
"Iya tapi kamu yang buatkan ya, Hon"
"Siap, ditunggu ya,"
Aku berlalu meninggalkan Kenzo dan Cleo. Tidak lama kemudian aku melihat Cleo beranjak meninggalkan Kenzo.
Kenzo adalah ketenangan yang baru aku rasakan dalam dua tahun terakhir.
Tidak ada yang salah dari Kenzo semua begitu sempurna. Keluarganya menerima ku dengan terbuka, Teman-temannya semua baik begitu pula Kenzo yang melamar ku tanpa janji kosong.
Apakah aku tidak tahu diri jika masih meragu?
Hari ini aku lebih banyak menghabiskan waktu di Miepa karena hujan kembali mengguyur bumi. Membuat pengunjung lebih sepi dari biasanya.
Aku memutuskan menutup Miepa lebih awal. Menyediakan waktu untuk beristirahat malam ini.
****************
Pagi ini aku sedang di butik bersama Natasha, Membahas rencana keberangkatan ku ke Jakarta. Pertemuan dengan supplier kain dan team penjahitnya sudah tertunda berapa minggu.
"Kak, Tolong antar Dewo ke kafe Black and White dong, kak,"
"Tumben, Mau ngapain di sana? Terus kamu ke sini naik apa?" aku heran tidak biasanya dia meminta diantar sampai harus menyusul di butik.
"Mau ketemu teman, Tadi kesini naik ojek online kak. Dewo gak ada duit mau makan di sana jadi mau minta sama kakak,"
"Haha, Kasih Anggrek. Kasih sama adikmu. Tenang Dewo, Kakak mu banyak money," Natasha menepuk pundak Dewo yang hanya mengenakan kaos, celana pendek dan sandal jepit. Apa dia begitu terburunya pergi sampai hanya mengenakan sandal jepit.
"Kakak berikan sekarang ya,"
Dewo menggeleng lalu tertawa canggung. Dia bersikeras minta diantarkan ke kafe Black and White. Aku merasa sedikit aneh tapi daripada dia merengek seperti bocah akhirnya aku menyanggupi.
Mobil ku melaju bersama Dewo dan tiba di parkiran kafe.
"Kamu tidak sekolah,"
"Hari ini libur karena guru sedang rapat ke dinas,"
"Oh gitu,"
"Masuk, Kak!" Dewo meminta ku masuk ke dalam kafe.
"Kenapa kakak mesti masuk? kan teman mu,"
"Kakak ikutan aja ya, Kan uangnya belum di berikan,"
"Sini aku berikan atau mau transfer saja nanti bayarnya di kasir menggunakan debet,"
"Berikan di dalam kafe saja, Kak"
__ADS_1
"Memangnya siapa sih teman mu?"
"Masuk aja dulu, Nanti bisa tahu juga."
Aku mengernyitkan kening dengan tingkah Dewo. Kesambet atau apa ya? jangan-jangan dia mau memperkenalkan dengan calon adik ipar.
Mendapatkan pemikiran itu aku senyum sendiri lalu mengikuti Dewo, Eh tapi kenapa Dewo hanya menggunakan sandal jepit. Nih bocah mesti diajarin penampilan mau ketemu gebetan. Mana pakai acara mengajak kakaknya untuk bayarin.
Tingkah Dewo semakin aneh ketika kami di meja dan baru melihat menu. Dia tampak menunggu seseorang lalu tidak lama permisi ke toilet. Akhirnya aku meminta waitress untuk pergi dulu sampai Dewo kembali lagi.
Sambil menunggu Dewo datang, Aku membuka layar handphone tapi netra ku menangkap sosok jangkung berhoodie hitam, Danar. Sudah sekian lama aku tidak berjumpa. Mengapa kali ini mesti ketemu dia.
Danar menghampiri tanpa permisi dia duduk di kursi depan ku.
"Adik ku ingin mengetahui kabarmu," Danar berkata datar tanpa basa-basi menimbulkan gelombang kuat dalam diriku.
"Aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat, Sudah tahu kan kabar ku? tidak ada yang perlu dikatakan lagi,"
"Masih ada" Danar menatap netra ku seakan ada ribuan kata yang ingin disampaikan.
"Sayangnya aku tidak ada waktu untuk itu" aku berdiri bergegas hendak pergi ke meja lain tapi Danar mengikuti ku.
"Kamu tidak usah ikut!!" aku memerintah dengan kesal terlebih batang hidung Dewo sama sekali belum ada. Danar mengacuhkan, Dia tetap mengikuti.
Akhirnya ku putuskan akan keluar melalui pintu samping Black and White. Keluar melalui pintu ini membuat ku berjalan sedikit jauh menuju parkiran tapi sepadan daripada harus berurusan dengan Danar.
Aku akan menghubungi Dewo saja supaya dia menyusul ke dalam mobil.
"Anggrek tunggu," Aku semakin kesal ketika Danar mengikuti dan sudah tiba terlebih dahulu di pintu samping. Dia sengaja menghalangi langkah ku. Aku terlalu malas berbicara dengan Danar karena menganggu kestabilan emosi ku saja.
Aku memilih berbalik arah dan menuju sebuah koridor yang akan berakhir di toilet. Danar tak mungkin mengikuti sampai toilet wanita. Sebelum memasuki koridor ada pintu, Setahu ku merupakan ruang pemilik kafe.
Aku melangkahkan kaki menuju ke arah toilet, Benar Danar tidak mengikuti sampai sini. Kaki ku baru melangkah memasuki koridor dan melewati pintu ketika ada suara yang amat ku kenal memanggil.
"Anggrek, Apa kabar?"
Tanpa melihat aku tahu siapa pemilik suara ini. Sekian menit aku mematung lalu akhirnya memaksa menoleh. Sepasang netra ku menangkap wajah familiar yang sangat ku kenal.
"Bian!" dengan berat bibir ku melafalkan nama yang enggan ku sebutkan.
Mata ku menelusuri sosok dengan sorot mata tajam, Bibir terkatup rapat dengan jaket hitam dan kaos turtle neck berwarna senada. Tangannya bersidekap di dada sambil menyender di tiang koridor menatap ku.
"Sudah ku bilang masih ada yang mau ku bicarakan. Kamu main lari saja, Nggrek. Padahal aku mau kasih tahu, Adikku mau bertemu,"
"Kita bicara di dalam sini aja ya, Nggrek." Bian beranjak dari posisinya lalu membuka pintu ruangan pemilik kafe. Aku tersadar black and white seperti warna favorit Danar. Kafe dan coffe shop ini juga milik Danar.
Semua di luar dugaan akan terjadi Dewo dan Danar sengaja mempertemukan aku dan Bian. Tanpa mereka sadari aku sedang berjuang melupakan rasa yang pernah ada dengan sosok di hadapan ku saat ini.
Rasa yang selalu ku ingkari, Sebuah rasa yang sebenarnya sampai saat ini menolak untuk pergi.
*********
Haiii aku hadir lagi ππ
Semangatin otor ya. Gak perlu pake yel-yel cukup like, komentar dan vote. ππ
Dari kemarin yang nanyain Bian mana? ππ
Memang bakal ada part untuk Bian. Kalian jangan bilang otor melupakan Bianπ€«
Tidak semudah itu aku di lupakan kata Bian π€£
sekalian otor kasih visualnya ya ππ..
__ADS_1