Viral

Viral
119. Hari-hari sebagai orangtua.


__ADS_3

...Tidak ada teori pasti...


...menjadi orangtua...


...yang kami lakukan...


...terus belajar dan berusaha...


...memberikan yang terbaik...


Foto kelahiran dan aqiqah telah terpasang di feed sosial media tapi wajah putra mereka. Belum terlihat. Wajahnya perpaduan Bian dan Anggrek, Gemuk dan menggemaskan.


******


Setelah diskusi dengan keluarga akhirnya diputuskan melahirkan di Jakarta, Pertimbangan di ambil agar bisa lebih dekat dengan Bian.


Aku menyerahkan pekerjaan ke semua team Miepa, dan memeriksa laporan yang dikirimkan oleh mereka setiap hari. Untuk butik bersama Meidina, Produk butik A&N berjalan normal. Aku tidak perlu khawatir mengenai ini.


Bian telah menyiapkan diri sebagai suami siaga. Seperti pagi ini, Bian menghampiri ku di meja kerja dengan segelas susu di tangannya. Aku merindukan kopi tapi dia melarang meminumnya.


"Belum selesai, sayang?" tanya Bian sambil mencium lembut pipi ku.


"Sebentar lagi... Oh ya, Sayang nanti mama dan papa akan datang bersama Dewo. Dia sudah lulus SMA tahun ini,"


"Tidak terasa adik ku sudah tamat sekolah," ucap Bian.


"Sekutu mu," potong ku meralatnya. Dia terkekeh, Tentu saja Dewo mempunyai andil dalam hubungan kami. Bian 'memanjakan' melebihi perlakuan ku pada Dewo.


Aku bahkan harus merayu berkali-kali, agar membatalkan membeli motor sport untuk hadiah kelulusan. Aku tidak mau Dewo terbuai dengan kemudahan. "Kekhawatiran mu mengalah kan Danar," kata Bian.


"Hari ini kamu akan melakukan kegiatan apa?selama aku pergi kerja?" Bian bertanya sambil mengusap lembut rambut ku.


Dia memperhatikan laporan di layar laptop, "Jangan terlalu lelah, Sayang,"


"Yoga untuk ibu hamil dan mengikuti kelas laktasi, agar ASI lancar sepertinya materi hari ini mengenai pijitan untuk memperlancar ASI."


"Bukan kah aku sering melakukannya? kenapa berbeda? Butuh seperti apa... Haha," jawab Bian yang ku balas dengan cubitan, Menyebalkan. Dia justru menggoda ku.


"Kamu gemesin waktu hamil, Nanti gak usah KB saja ya. Biar cepet punya dedek lagi,"


"Sayang....!" Bian tertawa, Ah dia selalu membuat ku jatuh cinta dengan tawa, diam dan iseng. Semuanya yang ada di dirinya adalah kesukaan ku.


"Sudah sayang, Aku mau siap-siap dulu untuk berangkat mengikuti kelas yoga dan laktasasi,"


"Kiss dulu sama suami mu," Dia menyodorkan pipi putih kemerahan miliknya, yang ku gigit dengan gemas.


...____-----___------_____...


Ternyata tidak semua ibu setelah melahirkan, Langsung mengeluarkan ASI yang banyak. Ada beberapa yang mendapatkan kendala pada proses pengeluaran ASI. Hari ini juga ada pengetahuan mengenai baby blues serta perawatan setelah melahirkan.


Aku mengangguk mendengar semua penjelasan, Kelas ini di sarankan Natasha. Aku mengutarakan ke mama Lusy yang sigap mencarikan informasi, mengenai kelas Laktasi di Jakarta. Sebenarnya ada di internet tapi mertua ku ingin andil dalam menyambut calon cucunya.

__ADS_1


"Tahu enggak? Selama ini aku berpikir setelah melahirkan ASI kita akan muncrat keluar karena saudara ku. ASI-nya sangat banyak, sampai dia harus membeli kulkas khusus," kata Nanie, Teman satu kelas yoga dan laktasi.


"Itulah, Bahkan pengetahuan seperti ini kita dapatkan saat sudah menikah," sahut ku yang di iyakan beberapa ibu hamil lainnya.


Kami membeli kembali peralatan untuk rumah dj Jakarta. Termasuk boks bayi, Khusus di sini Bian lebih teliti. Dia mau mengikuti konsep rumahnya , Aku lalu memeriksa kembali perlengkapan yang akan di bawah ke rumah sakit.


Diandra sudah memberikan rekomendasi rumah sakit terbaik. Begitu pula Tasya, Dia datang dengan segabrek peralatan bayi. Kakek Danny dan Denny, menyempatkan diri untuk datang ke rumah.


Dua hari lagi keluarga ku akan datang, sedangkan Kakek dan nenek rencananya datang setelah aku melahirkan. Luar biasa fisik kakek dan nenek yang masih kuat, Bahkan akan bertemu cicit mereka.


Aku meminta mbak di rumah untuk menyiapkan keperluan keluarga ku, Bian menambahkan dua art dan tambahan baby sitter untuk melahirkan. Walau aku tahu, Sebanyak apapun asisten di rumah, mama pasti tetap akan bersih-bersih. Itu seakan sudah naluri dalam diri mama.


Benar saja ketika mama, papa dan Dewo datang. Setelah makan siang, Mama harus rebutan mencuci piring. Ya ampun, Naluri banget kalau lihat sesuatu yang berantakan. Sedangkan Dewo sudah berenang di kolam renang bersama abang kesayangannya.


Keluarga Bian datang berkunjung, dan mereka saling berebutan dengan keluarga ku. Memberikan nama pada bayi kami. Akhirnya setelah diskusi alot diputuskan. Nama anak kami akan di serahkan kepada aku dan Bian.


...___-----___-----___...


Kondisi kehamilan dan posisi bayi sudah siap, Hari prediksi lahir semakin dekat. Foto hasil USG selama kontrol di masa kehamilan, sudah tersusun rapi. Bian menata foto menjadi susunan yang memiliki nilai seni.


Hasil foto 5D putra kami memiliki kemiripan dengan papanya, Iya akhirnya Bian memutuskan menggunakan panggilan 'papa'.


Sekarang tinggal menunggu hari bertemu baby boy kami. Aku di prediksi bisa menjalankan kelahiran normal.


Bian sudah menyiapkan birth photography, Fotografer yang akan mendokumentasikan proses kelahiran ku. Namanya Wulan, Dia termasuk team studio Bian.


Pihak rumah sakit dan dokter yang menangani kami telah memberikan izin, Mendokumentasikan proses kelahiran.


Bian segera meminta sopir membawa mobil, Dia terlalu lemas untuk menyetir. Bahkan mama berkali-kali harus mengingatkan Bian agar jangan panik. Samar aku masih mendengar dia menghubungi Wulan untuk ke rumah sakit.


Jam demi jam menguji semua anggota tubuh ku, Rasa sakit yang teramat mulai bertambah semakin waktu. Sampai akhirnya pembukaan sempurna, pembukaan 10.


Semua team medis mulai bersiap dengan alatnya, Instruksi untuk mengejan terdengar di ruangan. . Pada saat mentari keluar dari peraduan, Tidak lama kemudian tangis pertama putra kami menggema di di ruangan.


...Deniz Bumi Prasetya...


Deniz berasal dari bahasa Turki artinya lautan. Seperti makna 'laut' yang sering kami umpamakan dalam hubungan aku dan Bian.


"Aku sudah katakan, Bayinya cowok dan seganteng om-nya," ujar Dewo bangga.


......___-----__----____......


Jika kalian membayangkan ibu menyusui tersenyum seperti papan reklame, Kita sama. Tenyata itu tidak berlaku pada ku. Saat memberikan ASI pertama, Aku meringis kesakitan.


Oh tidak..., Aku tidak bisa tersenyum seperti iklan. Apalagi saat keduanya mengeras dan Deniz masih tidur, Itu saatnya aku memompa ASI.


Layanan home Care yang kami ambil untuk perawatan pasca melahirkan, Memberikan pengarahan. Akhirnya Deniz mengisap ASI dengan lahap setelah posisinya benar.


Nenek terheran-heran melihat dua bidan membantu ku memberikan pengarahan. Di tambah babysitter yang berdiri diantara kami.


"Jaman nenek dulu, Bayi yang lahir langsung ngemut ASI," katanya heran. Ya... aku juga sama herannya.

__ADS_1


Selain itu aku juga harus rutin memompa selama tiga jam, Deniz yang belum terbiasa dengan pola tidur membuat kami terjaga semalaman. Kelelahan pada siang hari. Begitu 'nikmatnya' menjadi orangtua, Mata ku pun saingan dengan panda.


Mama Lusi berserta mama sudah menyiapkan acara aqiqah Deniz. Acara aqiqah berlangsung. Membuat suasana haru menyeruak di hati ku. Akhirnya aku dan Bian resmi menjadi orangtua.


...___-----____-----____...


Hari-hari bersama Deniz yang mulai terbiasa dengan pola tidur. Mama dan papa yang telah pulang ke rumah, Dewo yang sibuk menyiapkan diri untuk ujian. Bian yang kembali bekerja.


Membuat ku jadi lebih sensitif, Pernah suatu hari aku terisak sendirian di kamar mandi. Bian yang mendengar isak tangis ku, Segera memeluk.


"Ada apa, Nggrek? apa ada yang sakit?" tanya Bian khawatir. Aku menggeleng-gelengkan kepala.


"Aku khawatir tidak bisa menjadi orangtua baik bagi Deniz, Seharian ia menangis,"


"Ini kan masih proses Deniz mulai merasakan indera-nya, Bersabar ya sayang," Dia memeluk ku erat. Membuat penciuman ku menghirup aroma menenangkan miliknya. Aku kembali tenang dalam dekapan Bian.


......____----___----___......


Kami baru tiba dari kontrol ulang ke dokter, Deniz yang telah tertidur diambil alih oleh babysitter dan dibawa ke kamar. Aku baru mengikuti keduanya ketika Bian menarik tangan ku dan mengarahkan untuk mengikutinya.


"Ada apa sayang?" tanya ku heran.


Bian menatap netra ku, "Aku kangen sayang, Kita sudah jarang berdua,"


"Ih papa Deniz, Sudah lama tidak di manja ya," aku mengelitik pinggangnya.


"Iya... Ini sudah bisa kan?" harap Bian dengan mata bocah polos meminta sesuatu.


Aku tidak menjawab tapi memberi ciuman hangat dan intens pada bibir Bian. Sepasang netra bening itu berbinar bahagia.


"Jadi sekarang sudah bisa ya, Sayang? mumpung Deniz sedang tidur."


"Tunggu kunjungan berikutnya ya? kan kita belum pasang KB,"


"Kenapa kamu mencium ku tadi?" tanyanya dengan bibir melongo.


"Itu 'down payment', Sisa selanjutnya setelah KB ya sayang," aku berlari sambil tertawa hendak menuju kamar.


"Aku bukan cicilan! Tunggu, Kamu pikir bisa lolos dengan mudah," dia menarik tangan ku dan menggendong ke ranjang. Kali ini Bian tertawa penuh kemenangan.


"Udah ah sayang, Kita sudah jadi orangtua,"


"Tapi bukan bearti sudah tua kan?"


Bian baru hendak mencium ku, Ketika baby monitor dari kamar Deniz menandakan dia telah terbangun dan menangis.


"Sabar papa Deniz waktunya mengalah,"


"Kan ada mbaknya,"


"Deniz membutuhkan mamanya," Aku tergelak melihat wajah Bian. Papa muda yang gemesin.

__ADS_1


***


__ADS_2