Viral

Viral
46. Aku dan Dia sekarang menjadi kita


__ADS_3

Ada yang mudah


tapi aku memilih yang sulit


apakah aku menyukai


tantangan?


Caption Anggrek hari ini.


********


Pipi Natasha membulat seiring dengan perutnya yang tampak membesar. Aku sedang di butik dan meminta Bian menjemput di sini karena Natasha kemarin mau menunggu Bian untuk foto maternity.


Aku pun menceritakan tentang keluarga Bian kepada Natasha. Bukankah dia yang mendorong ku menerima Bian dan berakhir seperti ini.


"Jadi Danar dan Diandra itu kakak beda ibu ya? Terus Papa mereka mau Bian menerima perjodohan dengan kerabat kakek Danny agar Bian dan mamanya di terima sepenuhnya oleh kakek Danny atau kakeknya Danar dan Diandra?"


"Iya benar sekali, Nat"


"Bian tidak mau karena dia sendiri tidak tertarik dengan kekayaan kakek Danny Anugrah dan keluarganya? Dia lebih baik memulai usahanya sendiri dari nol. Begitu kah yang kamu maksud?"


"Betul, Nat"


"Tidak serumit yang aku duga" Natasha berkata santai seperti ciri khasnya.


"Bagaimana tidak rumit. Papanya dan Kakek Danny tidak menyukai hubungan kami, Natasha!"


"Palingan entar Bian dicoret dari kartu keluarga. Ya sudah buat kartu keluarga baru saja dengan kamu, Eeeaaak"


"Nat!!"


Natasha terkekeh sambil mencomot brownies di hadapannya dengan lahap.


Aku terkadang ingin meminjam hati dan pikiran Natasha. Dia memandang dunia dengan segala kepraktisannya. Apa yang terjadi hari ini nikmati saja dan untuk kesulitan yang belum terjadi tidak perlu dipikirkan. Prinsip Nat mengapa merepotkan pikiran dengan hal yang baru berupa dugaan.


Berbeda dengan diriku yang selalu memandang suatu masalah lalu merunut dan memprediksi sendiri kesulitan yang akan dihadapi nanti agar bisa menyiapkan diri saat terjadi.


"Nah itu orangnya muncul sepertinya telinga Bian panas. Dia tahu kalau lagi di ghibah" Natasha melambai tangannya ke Bian yang sedang berdiri di pintu masuk mencari keberadaan ku.

__ADS_1


"Bian nanti aku pesan untuk foto maternity lagi ya tapi tunggu weekend pas suami ku lagi libur."


"Boleh nanti hubungi aku kalau sudah siap ya. Sekarang aku 'pinjam' Anggrek dulu ya?"


"Pinjam aja, Gak usah dibalikin juga enggak apa-apa. Repot mengurus Anggrek, Makannya banyak" Aku mencubit pipi gembul Natasha lalu meraih tas mengajak Bian keluar secepatnya dari butik dengan sorak pegawai yang menggoda.


"Pegawai kamu di butik lebih berani ya?". Wajah Bian masih memerah ketika di dalam mobil karena godaan di butik tadi.


"Semua pegawainya pilihan Natasha makanya 11-12 sama Nat. Memang kalau di butik harus mencari yang aktif karena pembeli terkadang meminta pendapat pakaian yang akan dibeli. Berbeda dengan Miepa, Semua datang hanya untuk makan."


"Aku kangen, Nggrek." Bian berkata lirih, Aku nyaris tidak mendengarnya.


"Kamu bilang apa, sayang?" Aku menanyakan untuk memastikan yang dibicarakan tadi.


"Bukan apa-apa. Jadi dimana rumah mu yang baru".


"Kita jemput Dewo dulu tadi aku sudah memberitahu dia. Itu rumah kosong dan dekat dengan rumah warga. Kalau pergi berdua nanti kita digerebek warga pula."


"Baiklah" Bian menyalakan mobil antiknya dan kami pun melaju di jalanan kota.


"Anggrek kita ke kopi "Tentang Jiwa dulu ya"


"Iya tadi mama menghubungi aku. Beliau mau mengenali mu walau hanya lewat video call. Mau ya?"


Aku mengangguk teringat wanita cantik yang pernah menyapa ku sebentar saat Bian di Jakarta. Kami sudah tiba di "Tentang Jiwa". Bian mengajak ku ke ruangan kerja Danar di kafe dengan dominasi hitam dan putih. Sepertinya interior dominan hitam dan putih merupakan favorit Danar.


"Kalian mau pacaran di ruang kerja ku? Oh yang benar saja" Danar berkata ketus dari balik mejanya. Disaat aku baru menaruh pantat di sofa dalam ruangan.


"Mau menelpon mama tadi beliau mau bicara sama Anggrek sebentar saja" Bian menjawab tenang sambil menekan nomor di gawainya. Tidak lama ada sambungan dari seberang dan layar sudah menampakkan seraut wajah cantik di usia 50an.


"Bian sedang bersama Anggrek, Ma"


Aku mengucapkan salam kepada mama Bian lalu dia menyerahkan gawainya untuk ku pegang.


"Anggrek sedang di kafe Danar ya?"


"Iya, Tante"


"Suatu hari nanti tante juga mau berkunjung ke kafe Danar dan melihat usaha Bian di sana. Kita akan bertemu ya Anggrek."

__ADS_1


"Iya tante, Anggrek akan menunggu kedatangan tante dengan senang hati"


"Terimakasih ya, Anggrek"


Selanjutnya kami berbincang biasa. Aku belum bisa bicara lepas dengan mama Bian karena percakapan ini pertama kali dilakukan. Tidak lama kemudian kami mengakhiri pembicaraan.


"Mama ku baik kan, Anggrek?"


"Iya, Betul dan dia wanita yang cantik"


"Oh yah, sayang. Aku ingin menanyakannya apa maksud caption mu ini. Siapa yang mudah? Apakah Doni?"


"Aku keluar dulu" Danar buru-buru keluar dari ruangan memberi kesempatan aku dan Bian bicara. Antara dia jengah kami 'meminjam' ruangan tampa memberitahu atau tenyata dia tahu diri juga.


"Tidak bermaksud apa-apa, Bian" Aku menggeleng cepat tidak menyangka kalau Bian memantau sosial media ku.


"Apakah hubungan ini hanya tantangan bagi mu atau terlalu rumit untuk dijalankan?"


"Bian hubungan ini mendapat pertentangan dari papamu dan kakek Danny. Bagaimana pun walau dia bukan kakek kandung mu, Selama ini beliau lah membantu keluarga kalian"


"Saling membantu tepatnya. Anggrek percaya lah pada ku. Aku bisa mengatasi ini tapi berikan kesempatan dan waktu untukku. Jangan biarkan pikiran apapun menganggu mu, yah sayang"


"Iya Bian aku mempercayai kamu"


"Jadi kapan kamu mengakui aku sebagai pacar mu di sosial media? Follower mu banyak aku tidak mau ada 'Doni' lain"


Aku memandang Bian tak percaya dia akan bertingkah seperti ini. Dia masih menyimpan kecemburuan kepada Doni. Sungguh menggemaskan mengingat betapa dinginnya dia awal pertama aku mengenal Bian.


"Aku tidak mau ada saingan Anggrek". Sepertinya dia tau apa yang aku pikirkan. Bian keluar ruangan memanggil Danar untuk mengambil foto kami. Wajah tampan si jangkung berhoodie ini sangat tak nyaman dilihat.


"Sudah cepat mau foto dimana. Aku eneg lama-lama lihat kalian berdua". Dia berkata dengan nada jengkel. Benar-benar pengarah gaya foto yang tidak ada baik-baiknya si Danar ini.


Hari ini aku memasang foto bersama Bian di sosial media. 'Aku dan Dia menjadi 'kita'. Komentar positif dan like memenuhi foto kami berdua. Foto bersama dia yang ku pilih.


Jika ada benang kusut maka aku akan mengurai satu persatu. Sekali lagi Natasha benar aku tidak perlu 'meminjam' Kesulitan yang belum terjadi. Sekarang aku menikmati dulu kebersamaan yang ada bersama dia.


******


Pagi untuk semua ya.. Semoga berbahagia selalu 🤗😘

__ADS_1


__ADS_2