
Kita hanya perlu melangkah
untuk melihat bahwa banyak hal menarik
diluar sana
Caption yang melengkapi foto satu buah kelapa dengan dua sedotan.
*******
Jemari ku segera mencari kontak nama Kira, Dua kali panggilan telpon baru di jawab oleh Kira.
"Maaf kak Anggrek tadi sedang ke toilet, Gimana kak dengan video yang ku kirimkan?"
"Dia mengirimkan ke nomor telpon admin di sosial media atau menggunakan akun pribadi?"
"Akun pribadi kak dan satu-satunya postingan di akun tersebut cuma video ucapan ulang tahun,"
"Blokir ya Kira sekalian lapor spam saja akunnya,"
"Ehhmm, Kak Bian yang mengucapkannya ya?"
"Kamu tahu darimana?"
"Dari arloji yang sama karena Kira pernah melihat kak Bian menggunakannya dan pengambilan foto dilakukan di daerah kita lalu ada gambar bunga Anggrek. Sepertinya menggambarkan kak Anggrek disitu,"
"Ya kamu benar. Tolong lakukan yang aku minta ya Kira,"
"Baik, Kak."
Aku memilih menjawab jujur pertanyaan Kira, Dia cerdas pasti dengan mudah menebak siapa pengirimnya.
Bagaimana aku bisa begitu apes, Saat berniat menyingkirkan barang pemberian Bian. Justru kembali lagi kepada dia.
Disini bahkan dia tahu aku menjual barang pemberiannya. Menawarkan dengan harga tertinggi, Itu sama saja dia memberikan aku uang. Satu hal yang tak akan pernah ku lakukan saat kami masih sepasang kekasih.
Aku menarik napas dan menghembuskan sekuat-kuatnya, Menghilangkan rasa menggumpal di dalam dada. Aku tak habis pikir hal ini akan terjadi.
Semakin ingin ku singkirkan Bian dari Kehidupan, Justru Bian memberi pertanda bahwa dia masih ada di dekat ku.
Kembali potongan bait when you're gone tergiang. Aarrgh tapi dia milik wanita lain. Aku mengusap wajah berkali-kali mencoba menyadarkan diri akan kenyataan.
...I always needed time on my own...
...I never thought I'd...
...Need you there when I cry...
...And the days feel like years when I'm alone...
...Dulu aku membutuhkan waktu untuk sendirian...
...Tak pernah terpikirkan aku akan...
...Membutuhkanmu saat aku menangis...
...Dan hari-hari terasa seperti bertahun-tahun saat aku sendirian...
Bait demi bait kembali terdengar seakan suara itu memang disampaikan oleh dia yang sekarang terikat dengan gadis lain.
...When you walk away...
...I count the steps that you take...
...Do you see how much I need you right now?...
...Ketika kau berjalan menjauh...
...Aku menghitung setiap langkah yang kau ambil...
__ADS_1
...Tahukah kau aku sangat membutuhkan mu saat ini...
Aku mengetuk kening berkali-kali. Di satu sisi terasa desiran mengetuk hati ku, Lagu kerinduan yang terkandung dalam bait demi bait lirik Avril Lavigne membuat wajah ku memerah. Apakah dia merindukan ku?
"Kamu kenapa, Nggrek. Kesurupan?"
Aku kembali tersadar ke dunia nyata ketika colekan Dion membuyarkan semuanya. Dia tergelak ketika melihat ku menatapnya protes.
"Untung kamu cepat sadar, Baru saja aku mau sembur pakai air," Dion menarik kursi di samping ku lalu meletakkan botol jus lemon di meja.
"Darimana?" Aku melihat dia hari ini berpenampilan biasa hanya kaos, jeans, topi dan sandal jepit. Biasanya Dion selalu stylish walau mau jualan frozen food.
"Baru mau pergi bersenang-senang. Kamu mau ikut enggak daripada kesurupan ntar?"
"Kemana?"
"Ikut saja tapi naik motor ku ya karena lewat jalan kecil. Terus gak usah bawa tas takut dijambret naik motor bawa tas sandang gitu,"
"Beritahu dulu kemana?" aku menatap curiga.
"Entar juga tahu,"
Setelah mempertimbangkan tawaran Dion. Akhirnya aku memilih ikut, Aku segera meletakkan tas ke ruangan pribadi ku di lantai dua lalu menghampiri Dion di parkiran motor.
"Aduh motormu kecil banget, Dion." Aku melihat motor matic yang ukurannya kecil apalagi jika aku di boncengan Dion.
"Bawel, Naik saja." Tanpa aba-aba Dion memasang helm di kepala membuat ku kaget.
"Asem kamu Dion. Helm sapa ini?"
"Punya Rika tadi aku sempat meminjaminya."
*******
Sudah lama aku tidak boncengan dengan motor. Angin segar yang bertiup membuat perasaan ku nyaman, Pandangan yang tak terhalang jendela membantu pandangan leluasa menikmati kota.
"Anggrek kamu pernah jajan cilok di sekolahan dulu, Kangen gak?" Dion mengeraskan suaranya yang terbawa angin.
Tak disangka Dion menghentikan motornya di sekolahan dasar. Beberapa anak SD sedang mengerumuni abang cilok yang meracik pesanan mereka.
"Beli cilok yuk"
Aku mengikuti Dion, Tampak penjualnya yang sudah lanjut usia berbinar-binar melihat Dion.
"Andreas sama siapa, Pacar ya?"
"Belum pacar bang, Bentar lagi iya. Pesan semuanya seperti biasa."
"Makasih Andreas, Ayo adik-adik semua sudah dibayarkan om ganteng ini."
"Makasih om ganteng," Semua anak-anak SD heboh dan rebutan memesan cilok si abang yang sudah dibayarkan Dion.
"Andreas? kamu beli semuanya? Namamu Andreas?"
"Iya, Nama lengkap ku Dion Andreas."
Dion memberikan sebungkus cilok kepada ku lalu kami duduk lesehan di bawah pohon bersama anak SD yang riuh menyoraki aku dan Dion Andreas.
"Kamu kenal tukang ciloknya?"
"Kenal dia berjualan dari aku SD, Bapak Yusuf tidak mempunyai anak jadi beliau berjualan walau sudah tua. Istrinya sakit jadi tidak bisa membantunya. Semua bahan ciloknya bersih dan terjamin. Aku pernah kerumahnya."
"Awal kenal bang Yusuf darimana?"
"Dulu saat aku SD ketika tidak mempunyai uang jajan. Bang Yusuf sering memberikan secara cuma-cuma ciloknya, Ketika aku sudah dewasa bertemu dia kembali. Aku mencari tahu kehidupannya dan mengusahakan selalu membantunya saat ada rejeki."
Aku menatap Dion tak percaya dia bisa melakukan hal ini. Berikutnya kami membeli balon karakter di sudut jalan yang dijual oleh orang yang menggunakan kostum Mickey Mouse.
"Dia seusia dengan kita, Nggrek tetapi kakinya cacat. Ketika kerja di pabrik, Dia mengalami kecelakaan kerja. Istrinya meninggalkannya. Sekarang sendirian di kota kita."
__ADS_1
"Kamu tahu juga?"
"Aku mencari tahu,"
Dion membeli semua balon karakter dan memberikan kepada ku. Dengan kewalahan aku memegang balon karakter di atas motor. Dion memborong semuanya jadi pengendara lain akan melihat kami yang boncengan sambil membawa berbagai macam balon karakter.
Perhentian kami berikutnya minimarket. Dion belanja banyak makanan ringan sedangkan aku menunggu di parkiran dengan balon di tangan.
Kemudian dilanjutkan menuju pemukiman sederhana dengan anak-anak usia sekolah dasar yang sedang duduk di atas tikar lusuh dibawah pohon. Mereka sedang belajar, Dua orang gadis tampak mengajari mereka membaca.
"Kak Andreas datang," Gadis yang masih tampak seperti anak kuliahan itu menghampiri Dion Andreas. Anak-anak yang sedang belajar begitu antusias melihat balon dan makanan yang di bawa Dion.
Air mata terasa mendesak ingin keluar tapi terhenti ketika Dion berbisik.
"Jangan menangis di depan mereka. Hidup mereka jauh lebih keras darimu tapi hal kecil pun sudah berhasil menghapusnya dan membuat mereka bahagia,"
Aku baru tahu Dion sering membantu anak-anak yang kurang beruntung. Berpacu dengan keengganan orangtua mereka anak-anaknya belajar. Orangtuanya ingin anak mereka bekerja dan membantu ekonomi keluarga.
Dalamnya lautan bisa diselami, Dalamnya hati manusia siapa yang tahu. Bahkan Aku tidak tahu dibalik sifat narsis, gokil dan pecinta mode. Dion bahkan memiliki sisi dermawannya.
******
Menjelang sore Dion mengajak ku pulang. Aku merasa bahagia ikut Dion berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Terasa beban yang kemarin ada lebih ringan. Aku tidak bisa ikut berbagi karena tas berikut dompet masih di Miepa.
Ada yang menanggung kesusahan hidup dan terhapus dengan hal sederhana. Mereka tidak peduli barang mahal seperti yang ku beli kemarin. Cukup bisa makan hari ini sudah anugrah bagi mereka.
Tiba-tiba motor kami terasa oleng. Dion meminggirkan motornya di jalan.
"Anggrek, Bannya kempes."
Aku ikutan jongkok dan melihat ban motor yang kempes dan tampak seperti bocor. Kiri dan kanan jalan hanya tanah kosong yang di tutup seng.
"Nggrek kita jalan ya cari tambal ban,"
"Apa aku gak naik saja di atas motor?"
"Asem, Kamu pikir bocah kecil naik di motor dan aku yang mendorong. Berat tahu!"
Aku terkekeh geli, Sekian lama berjalan netra ku menangkap seorang penjual kelapa pinggir jalan.
"Dion traktir aku beli air kelapa,"
"Oke, Aku juga haus."
Kami menuju abang penjual kelapa di pinggir jalan. Sepertinya karena di balik tanah kosong yang di tutup ada proyek yang sedang dikerjakan sehingga banyak pekerja. Si abang membuka lapak tepat di sebelah pintu masuk proyek.
"Nggrek duit ku tinggal lima puluh ribu, Kita beli kelapanya satu saja ya? Nanti gak cukup buat tambal ban." Dion berbisik di telinga ku.
"Iya tapi aku duluan yang minum, Entar ludah mu masuk."
"Enak saja, Aku duluan kan aku yang traktir," Dion ngotot tidak mau mengalah.
"Minta gelas saja deh sama si abang atau plastik saja. Gak usah dari buahnya langsung."
"Abang gak punya, mbak. Maklum baru buka lapak sejam lalu. Istri abang sedang mengambil dari rumah. Agak jauh dari sini."
Alhasil kami duduk di pinggir jalan sambil menikmati satu buah kelapa berdua. Menggunakan dua sedotan yang tampak romantis dari pinggir jalan.
Padahal aku dan Dion adu cepat menyeruput air kelapa sambil saling mendorong menggeser posisi satu sama lain.
Ternyata nikmat sekali ketika haus mendera ada aliran air membasahi tenggorokan. Dion benar saat kita berada dalam posisi membutuhkan, Hal sederhana pun bisa menghapusnya dan membuat bahagia.
Kami masih harus berjalan untuk mencari tambal ban tapi kali ini langkah ku lebih ringan.
**********
❤❤❤❤❤❤
Sudah pada dapat THR belum ya?
__ADS_1
Kalau otor cukup like,Vote dan komen dari kalian sudah THR paling indah. 😍😍