Viral

Viral
108. Kembali bersama


__ADS_3

...Sesuatu yang pernah hilang...


...kembali lagi kepada ku...


...Apakah boleh aku...


...menyebutnya takdir?...


****"


Setelah berpamitan dengan Tasya, Kakek Danny dan Denny. Bian mengantar ku kembali ke hotel, Besok aku pulang dengan pesawat siang. Kali ini, Aku sudah mengingatkan Bian untuk tidak pulang bersama.


Pikiran dan hati terasa penuh, Ada waktu dalam diri meminta ruang untuk sendiri dulu. Orangtua ku pasti akan terkejut dengan kabar ini.


Pukul 10:45 wib


Pesawat landing di bandara, Baru saja keluar untuk memesan taksi online. Notifikasi Kenzo masuk, Mengabarkan malam dia akan ke rumah. Membicarakan mengenai lamaran yang batal.


Hati ku terasa di remas, Ada ketakutan papa dan mama akan marah. Mereka sudah menceritakan ke keluarga besar kami bahwa putrinya akan dilamar. Apalagi jika mereka tahu apa yang terjadi di Jakarta.


Mama bisa marah besar, Aku memenuhi undangan Kenzo tanpa memberitahu mama. Beliau sudah kecewa apalagi jika tahu memenuhi undangan keluarga Bian. Dimana ada kakek dan sepupu Bian hadir dan status aku datang sebagai calon menantu.


Bukan kah tindakan kemarin cukup lancang tanpa sepengetahuan papa dan mama. Menjadi dewasa terkadang melupakan petuah orangtua. Merasa diri sudah mandiri, Berdiri sendiri dengan pikiran merdeka atas semua nasihat di masa lampau. Padahal nyatanya aku masih berada dalam tanggung jawab mereka.


Mama menyambut ku dengan antusias. Dia senang karena mama tahu aku ke Jakarta selain untuk keperluan butik, Juga memesan kebaya keluarga.


Hati ku semakin ngilu, Dalam usia dewasa ku. Kembali aku merasakan takut dimarah oleh orangtua. Aku baru tersadar keberhasilan memajukan usaha membuat perasaan terlena.


Kami makan siang berdua karena Dewo belum pulang sekolah dan papa masih di kantor.


"Ma, Ada yang mau Anggrek sampaikan," ucap ku memulai pembicaraan.


"Iya, Nak tentang apa?" tanya mama sambil menghabiskan suapan terakhir.


"Kenzo memutuskan hubungan, Ma,"


"Apa! kenapa bisa, Nak? ini sudah ketiga kalinya kamu gagal!" mama tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Karena menurut Kenzo, Anggrek terlalu sibuk bekerja. Jadi dia berpikir ke depannya rumah tangga kami tidak akan seimbang. Keduanya terlalu fokus dengan karier," ujar ku perlahan karena melihat wajah mama dipenuhi emosi.


"Mama dan papa sudah memperingati mu, Anggrek. Bahkan kamu menolak Doni, Sekarang dia sudah menikah. Usia mu sebentar lagi 27 tahun kalau sudah ketiga kali gagal, Kamu yang harus introspeksi diri!"


"Tapi ma kan tidak semua kesalahan Anggrek, Adiwarna memanfaatkan Anggrek dan selingkuh dengan Cahya, Bian tidak mendapat restu orang tua, Kenzo tidak mendukung karier Anggrek," bela ku.


"Berarti kamu kurang tegas, Seandainya dari awal kamu tegas menolak keinginan Adiwarna pasti dia tidak akan berani memperalat mu, Jika kamu tegas pada Bian karena terkendala restu orangtua lalu memilih Doni. Ini tidak akan terjadi, Jika kamu bisa menahan ego dengan mengikut saran Ken mengurangi porsi bekerja. Hubungan kalian akan langgeng," cecar mama, Beliau tampak emosi.


"Iya, Ma. Maaf, Anggrek sudah mengecewakan mama kembali disini,"


Apakah aku tidak tegas dalam hubungan? apakah ego terlalu tinggi. Aku pandai dalam hal menyangkut logika dan berpikir. Bahkan ketika masih di kantor, Kinerja ku selalu mendapat apresiasi dari atasan dan perusahaan tapi masalah hati, Itu seperti misteri.


Doni yang sudah menjadi suami Tania, Ikut terbawa namanya karena emosi mama.


"Introspeksi diri, Anggrek. Minta maaf sama Kenzo katakan bahwa kamu akan mengikuti dia, Tante mu dan keluarga kita sudah tahu tidak lama lagi kamu akan lamaran,"


"Maaf, Ma tidak bisa. Kenzo akan datang malam.ini untuk membicarakannya,"


"Anggrek, Mama kecewa kali ini dengan mu. Kenzo itu baik, sopan, keluarganya rendah hati walau mereka memiliki kedudukan. Saat bicara dengan mama, Melinda sangat ramah. Seharusnya kamu bisa menempatkan diri sesuai nasihat, Mama!"


"Iya, Ma,"


Mama meninggalkan ku di meja makan. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka tahu apa yang terjadi kemarin. Ada perasaan bersalah karena mengecewakan mama.


...____---____-----____...


Malam ini Kenzo datang, Dia tampan, sopan dan gentlemen. Perlahan menjelaskan kepada kedua orangtua ku, Menempatkan diri bahwa semua kesalahan murni dari dirinya.


Dia melindungi ketika mama terang-terangan memarahi ku karena di anggap lalai.

__ADS_1


"Maaf, Tante semua murni kesalahan Kenzo. Sebelum mengenal Anggrek dia sudah berada dalam dunianya. Saya justru akan menghentikan semua mimpi Anggrek jika memaksa ia berhenti, Semua kerja kerasnya akan hilang. Disini dengan besar hati, Saya meminta maaf tolong hargai keputusan yang saya ambil," mohon Kenzo. Ketulusan tampak jelas dari nada dan pancaran matanya.


"Baik Nak Kenzo, Semua sudah terjadi. Dari sini om sudah bisa mengambil kesimpulan. Kalian belum matang secara emosi menyiapkan pernikahan. Masalah yang bisa diatasi justru berpotensi menjadi konflik di kemudian hari. Om pun berbesar hati menerima permintaan maaf mu," jawab papa yang membuat mama terdiam. Terpaksa patuh pada kepala keluarga ini.


Tidak lama kemudian Kenzo pamit, Aku mengantar Kenzo. Di teras rumah kami tiba-tiba Kenzo berhenti.


"Anggrek kamu bisa bantu aku, Tolong hubungin mama dan papa. Kondisi papa drop, Beliau terbebani dengan masalah ini. Ada malu karena merasa mempermainkan keluarga kalian,"


"Baik, Ken kapan orangtua mu ada waktu senggang untuk menerima telpon,"


"Bisa sekarang, Nggrek? mereka tahu kalau aku menemui keluarga kalian,"


Malam ini di teras rumah setelah pembicaraan mama dan papa berakhir. Aku menghubungi kedua orangtua Kenzo.


Tiga hari lalu kami adalah sepasang kekasih tentang impian rumah tangga. Sekarang kami hanya dua orang yang tidak memiliki hubungan lagi.


Tante Melinda dan papa Ken meminta maaf, Bahkan papa Ken meminta nomor papa untuk menjelaskan semuanya. Mereka memang keluarga yang menjunjung kesantunan dan menghargai orang lain.


Posisi terpandang justru menempatkan mereka untuk menjaga tingkah laku tetap terhormat. Kenzo adalah pria dengan keteraturan dan kesopanan. Didikan keras dan tuntutan kesempurnaan menghasilkan seorang putra dengan perilaku terpuji.


Wanita beruntung yang akan memiliki Kenzo, Sayang hati ku justru berpihak pada sebuah buku yang belum tuntas. Dia yang penuh gejolak, Seseorang yang menawarkan kata cinta dan selalu menunggu sampai detik ini.


Kenzo berpamitan, Aku memandang punggungnya, Melihat mobilnya berlalu. Semua akan menjadi asing antara aku dan dia. Ini akan menjadi hari terakhir dia mengunjungi rumah kami.


Kenzo adalah laut yang tenang tapi badai juga berasal dari laut tenang. Siapa menyangka dia akan mengakhiri hubungan kami karena aku tidak memenuhi kriteria yang di idamkan.


Bian adalah laut yang bergejolak, Dia selalu hadir dengan gejolak yang ada tapi seperti yang pernah dia katakan dalam pesan. Setiap hari pasang surut air laut terjadi tapi tidak mengubah rasanya.


Hubungan ku dan Bian mengalami pasang surut tapi dia senantiasa menanti ku.


Ingatan ku melemparkan kembali pada lamaran Kenzo dimana dia tidak bertanya apa kah aku bersedia atau tidak. Kenzo merasa aku pasti menerima dia, Mama benar bahkan aku tidak tegas saat itu. Aku justru menerima karena dia mencintai ku.


Sedangkan Bian harus menunggu sampai hati ku terbuka karena saat itu trauma pada Adiwarna masih membekas. Dia pun menunggu ketika aku bersama Kenzo.


Sekarang dia kembali harus menunggu karena aku harus menata hubungan dengan keluarga dan menjaga perasaan Kenzo.


Hari kembali berjalan dengan kesibukan aku, Natasha, Meidina dan Tania dengan project baru kami. Miepa sudah stabil, Kemitraan kami semakin bertambah. Outlet Miepa telah merambah ke kota lain.


Hari dan minggu-minggu yang harus ku jalani dengan mendengar sindiran mama sesekali, Mengenai kesibukan ku. Beliau takut putrinya yang berusia 26 tahun menjelang 27 tahun terlena pada dunia kerja.


Sedangkan papa bersikap lebih bijak. Dia mengatakan jodoh bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Bagi papa pernikahan menyatukan dua kepala dalam satu atap untuk sekali seumur hidup. Lebih bijaksana mendapatkan orang yang tepat untuk 'teman' seumur hidup.


Tentu saja aku menyimpan rapat hubungan dengan Bian. Diluar pekerjaan kami menjaga jarak, Tidak ada pertemuan. Komunikasi terjalin melalui handphone.


Hanya Dewo yang tahu, Sumber informasi Bian. Dewo juga penyebab Bian memaksa aku menemui keluarganya. Dia mengetahui aku akan lamaran dengan Ken dari Dewo.


Saat itu Bian sempat merasakan tidak ada harapan. Ketika dia mendengar kami putus. Melalui Tasya dan Tante Lusi, Bian segera mengatur pertemuan dengan keluarganya.


"Maaf Anggrek pada saat itu aku sedikit menggila karena memaksa mu bertemu dengan keluarga ku,"


"Ya, Andai bukan di rumah Tasya saat itu. Aku pun akan memesan taksi walau harus repot berjalan dari rumah Tasya ke gerbang,"


...________--___--______...


Dalam persiapan produk kami. Bian lah yang menyarankan aku dan Natasha menggunakan jasa artis untuk endorse dan mengundang mereka pada acara launching.


Awalnya aku dan Natasha keberatan tapi bagi Bian, Ikan besar menggunakan umpan besar. Tidak mungkin memancing ikan tenggiri dengan cacing.


Jika dulu aku memulai Miepa belum memiliki modal, Pada launching seasons butik kami dengan merek A&N. Keuangan ku dan Natasha dalam posisi baik.


Akhirnya kami ber-spekulasi dengan mengundang seorang artis. Tasya mengenali kami dengan Irene Laisaa, Selebgram sekaligus artis FTV. Dia bukan artis papan atas tapi cukup terkenal karena digadang-gadang menjadi next artis masa depan. Terpenting kami mampu membayarnya karena semakin terkenal maka semakin mahal.


Aku juga meminta Dion hadir pada saat launching. Dia tidak mampu menolak, Memaksa 'menyempilkan' agenda untuk hadir. Demi calon bini produser eksekutif begitulah dia menyebut ku.


Bian ber-inisiatif menyediakan gedung di perumahan bukit asri hijau. Dia selalu mendukung project A&N, Keterlibatan Bian di belakang layar dalam dunia entertainment membantu memberikan ide mengemas acara.


Bian bersama team studio Rian juga yang melakukan pemotretan. Dikarenakan lelah aku cemburu ketika Bian mengarahkan model cantik menawan produk pakaian kami.

__ADS_1


"Apakah aku harus memotret model setiap hari agar kamu cemburu, Sayang? Bian justru menggoda ku.


Film Dion yang sebentar lagi tayang membuat namanya terkenal. Begitu bangga daerah kami, Seorang putra daerahnya menjadi aktor.


Setelah tiga bulan berjalan dengan drama kesibukan. Akhirnya hari ini A&N launching, Aku mengundang Dian istri Bima bersama teman sosialitanya, Tante Melinda dan putrinya, Laura serta kenalan influencer, Istri walikota dan tamu dari relasi Natasha. Tidak lupa juga teman kantor ku dulu.


Team yang menyiapkan acara berhasil membuat acara berjalan lancar dan sesuai target kami. Produk kami sold out dalam sekejap. Tania dan Kira sibuk dengan permintaan reseller di sosial media.


Kedatangan Dion dan Irene menambah minat khalayak akan acara kami. Liputan wartawan lokal membantu memperluas berita pembukaan butik A&N dengan produk barunya.


Malam ini kami merayakan keberhasilan di Cafe Black and White. Malam semakin merambat naik, Semua rekan telah pulang. Tertinggal aku, Bian dan Dewo yang sedang bermain game online bersama Danar. Bian mengajak duduk terpisah dengan mereka berdua.


"Anggrek, Selamat ya atas keberhasilan kalian hari ini,"


"Semua juga karena bantuan mu, Kak Bian,"


"Iya berkat kerja keras semua team kalian juga, Anggrek aku mau bertanya mengenai hubungan kita,"


Bian mengeluarkan sesuatu dalam tasnya, Sebuah arloji, "Bisakah aku sekarang mengembalikan lagi pada pemiliknya?"


Aku tersenyum malu-malu mengingat sejarah arloji yang ku jual di e-commerce, "Ya Kak Bian terimakasih sudah mengembalikan arlojinya,"


"Kenapa wajah mu merah, Anggrek?"


"Kamu kok bisa tahu aku menjual arloji ini,"


"Dari Cleo, Dia kan sering berburu barang preloved untuk produk high end," jawab Bian sambil memasang arloji di pergelangan tangan ku.


"Iya, Kak. Maaf ya sudah menjualnya,"


"Arloji ini masih takdir pemiliknya maka aku bisa membelinya. Bolehkan aku mengatakan sekarang kamu milik ku, Anggrek maharani? dari dulu aku mengatakan akan memperjuangkan mu.


Aku mengangguk, " Ya, Kak Bian,"


"Apakah kamu mau menikah dengan ku, Anggrek?"


Ya, Kakak. Aku mau terimakasih sudah menunggu selama ini,"


Bian tersenyum, Netra beningnya memancarkan kebahagiaan.


"Iya sayang, Kita ditakdirkan bersama. Kapan keluarga mu akan menerima kehadiran keluarga kami? mereka sudah menanyakan kepastian hari lamaran, Tidak bisa mendadak Anggrek. Semua harus mengosongkan jadwal pada hari lamaran,"


"Aku akan bicara dengan orangtua ku dulu ya Kak Bian,"


"Iya Anggrek, Kapan kamu mengenalkan ku kembali sebagai calon suami pada orangtuamu?"


"Setelah aku memberi penjelasan pada orangtua ku ya, Kak,"


"Baiklah, Setelah kamu berbicara dengan orangtua mu. Aku akan mendatangi mereka untuk membicarakan pertemuan dan acara lamaran,"


"Iya, Kak Bian,"


"Anggrek, Aku sudah tak sabar menanti saat kita bersama dalam ikatan pernikahan,"


"Aku juga, Kak,"


Lamaran Bian secara personal bukan dilakukan di tempat indah tapi di salah satu meja kafe. Kami sudah melewati pasang surut hubungan. Sekarang hanya penegasan tidak ada yang lagi yang menjadi rintangan.


Aku tahu tiga bulan masih terlalu cepat tapi persiapan lamaran dan pernikahan membutuhkan waktu lagi.


Dulu aku pernah mengkritik seorang public figure yang melakukan lamaran tapi batal. Lalu dia menikah dengan pria lain dalam waktu dekat.


Sekarang kejadian itu aku alami, Terlalu cepat menghakimi orang lain tanpa tahu masalahnya. Padahal tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Saat ini aku harus menyiapkan diri untuk memberitahu kedua orangtua ku. Mengembalikan kepercayaan mereka terhadap pilihan ku.


********

__ADS_1


__ADS_2